Why if I bitch

Why if I bitch
Bab 25



"It's not your bisnis, sebaiknya kamu pergi dari sini!"


Seketika Jojo menoleh ke arah George, "Shitt, apa masalahmu hah. Kenapa kau menyakiti ke dua wanita yang aku sayang?"


Jojo tak sadar kata-kata itu keluar dari mulutnya, "Wanita yang aku sayang? " George bertanya balik, dia menyinggungkan senyum licik nya.


"Dia wanitaku, dan kakakmu hanya benalu bagiku."


"Sial, kau memang bajingan George."


Baku hantam antara mereka tak bisa terelakan lagi, Cintya yang melihatnya hanya menghembuskan nafasnya kasar. Dia tak mau ambil pusing dengan kedua lelaki itu, Cintya lebih memilih masuk ke dalam apartemennya.


Cintya melanjutkan masaknya dan bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa, karena dia hanya ingin menyelesaikan pekerjaannya dan bertemu dengan Yuna.


"Mereka selalu bersikap seperti anak-anak, menyelesaikan masalah dengan berkelahi." gerutu Cintya, dia lelah mendengar pertengkaran kedua pria itu.


"Cintya, Cintya." teriak George dari luar.


Namun kali ini dia hanya menulikan kedua telinganya, dia tahu pasti jika George sedang marah.


"Bukankah sudah aku katakan, jangan pernah menemui Jojo tapi kenapa kau menemuinya?" George begitu sangat menggebu-gebu kecemburuannya sangat berlebihan.


"Sayang ada apa denganmu?" tanya Cintya yang kini berjalan menghampiri George.


"Percayalah padaku aku hanya mencintaimu, Jojo hanya masa lalu dan dia ayah dari putriku." Lanjut Cintya.


George mencoba menatap tajam ke arah manik mata Cintya, dia ingin tahu apakah wanita ini mengatakan yang sejujurnya, sampai dia sendiri pun tak menemukan kebohongan di ke dua mata Cintya.


"Kau tahu? aku sangat mencintaimu dan aku takut kau menghinatiku." Ujar George menggenggam erat tangan Cintya.


"Aku berjanji padamu, sayang." Cintya mencium pipi George, dia hanya ingin mengatakan jika George pria nya.


* * *


Namun di balik dinding seorang wanita justru terlihat sangat marah, dan mengepalkan kedua tangannya dengan erat, iya dia adalah Laurent.


"Apa istimewanya wanita itu, sehingga kedua pria itu memperebutkannya?"


Kini dia semakin yakin untuk menjalankan rencananya agar George dan Cintya berpisah, senyum evil terukir jelas di wajahnya.


"Hallo, Jalankan rencananya sekarang juga!" perintah wanita itu pada seseorang di seberang sana.


Laurent pergi menunggalkan pria itu, dia keluar dengan mengepalkan kedua tangannya. Laurent sangat merasa terluka, iya dia terluka hatinya karena terhina harus kalah saing dengan    Cintya si wanita gendut.


Fikirannya terus melayang membayangkan bagaimana jika rencana nya berhasil, berhasil membuat Cintya pisah dari  George.


Dia menuju sebuah rumah kecil di pinggiran kota, rumah yang terlihat hanya seperti bangunan tak berhuni.


"Nyonya saya sudah membawa nya," ucap salah satu orang bayaran Laurent.


"Bagus, apa kau sudah pastikan tak ada yang melihatmu?" Tanya Laurent dengan suara yang tegas.


"Tidak, semua aman sesuai rencana."


"Baik selanjutnya kerjakan rencana yang sudah kita susun,"


"Baik, Nyonya."


Laurent pun berjalan menghampiri nya, dia tersenyum lebar melihat sesosok tubuh yang menjadi sandranya.


"Maafkan aku harus menjadikanmu alat agar George berpisah dengannya.


Kring...


Dia segera mengangkat si penelepon itu, agar suara seringnya tak membangunkan sandranya.


"Iya Jo,"


"Ka bisakah kau ke kantor ku, aku merindukanmu kak." Ucap Jojo di seberang sana.


"Iya kakak akan ke sana,"


Klik.


Setelah menutup telepon nya Laurent segera pergi, "ingat setelah aku pergi hubungi mereka!" Perintah Laurent lagi.


Hanya butuh waktu 30 menit Laurent sampai di kantor milik Jojo, dia segera masuk ke ruangan Jojo, Laurent tahu jika adiknya juga dalam keadaan tak baik.


"Jojo, apa yang kau lakukan minum-minum di siang hari." Ucap Laurent sudah menghampiri Jojo.


"Kakak aku mencintai nya, aku ingin hidup dengannya dan Yuna, tapi kenapa kak. Kenapa dia mencintai George?" Jojo terlihat sangat kacau kemeja yang sudah kusut dengan kancing yang sedikit terbuka, bahkan kedua matanya terlihat sangat sembab, rambutnya pun sangat berantakan.


Laurent sedih dia ingin menangis melihat keadaan adiknya, kini rasa benci nya pada Cintya semakin besar dan dia akan pastikan jika wanita itu akan menderita melebihi dirinya dan adiknya.


"Jo, dengar lupakan wanita itu Dia tak pantas untukmu." Ucap Laurent.


"Enggak kak, enggak aku ingin dia kak. Tolong pisahkan mereka kak aku mencintai nya," rengek Jojo, dia sangat mabuk hingga tak sadar dengan semua ucapannya, baginya kehilangan Cintya sama saja kehilangan separuh jiwanya.


Laurent menatap iba pada sang adik, karena dia tahu benar perasaan yang adiknya rasakan, marah, benci, dan juga cinta.


"Sayang pasti aku akan memisahkan mereka, jika kita tak bisa memiliki cinta kita, maka mereka tak akan bisa bersama." Janji Laurent Blanc pada adiknya, tangannya menggenggam erat kemeja Jojo. Dan matanya pun memperlihatkan kilatan emosi yang dalam.


"Halo, cepat telpon mereka sekarang!"


* * *


"Janji padaku kau tak akan meninggalkan ku, tidak untuk Jojo."


"Iya sayang aku janji, sekarang makanlah dan segera mandi kau harus bekerja." Lagi-lagi Cintya tersenyum, dia tahu jika pria nya ini ternyata sangat pencemburu.


Cintya tersenyum manis memperhatikan George yang sedang makan dengan lahap nya, dia selalu melihat sisi ini dalam diri George. George yang manis, manja, tampan, dan pencemburu.


"Ada apa?"George menaikkan sebelah alisnya karena melihat Cintya yang terus menatap nya, "Kenapa menatapku seperti itu, hah?" lanjur George.


"Hmm, aku hanya melihat ciptaan Tuhan yang sangat indah dan sempurna."


"Jangan menggodaku, nona." George mengenggam erat tangan Cintya dan menciumnya.


"Aku memang ingin menggodamu, Tuan George." Cintya mengedipkan sebelah matanya, dia menggigit bibir bawahnya mencoba menggoda George.


"Shit, kau benar-benar nakal. Ini akan jadi santapan penutupku," ucap George langsung menyerang Cintya.


George mencium bibir milik Cintya, melumatnya dengan lembut dan mesra. George mencoba menggigit bibir bawah Cintya hingga Cintya membuka sedikit bibirnya, membiarkan lidah George bermain-main dalam mulutnya. Sungguh ciuman George terasa selalu memabukkan, Cintya meremas kaos yang di pakai George. George menahan tangannya di pinggang Cintya dan menekan tengkuk lehernya.


Tangan nakal George mulai turun ke bagian sensitif Cintya, "argh, Geo."


"Hm..teruslah menyebut namaku sayang."


Tak berhenti disitu ciuman George mulai turun ke leher Cintya, dan tangannya masih saja bermain di area sensitif Cintya sehingga membuatnya sangat bergairah.


Kring..


Kring..


Kring...


Kring...


Kring...


Saat George sedang mencumbu Cintya, justru Cintya mengambil ponsel itu, dia menvoba menghentikan George sejenak aktivitasnya. tapi George tak perduli dengan terpaksa Cintya  mengangkatnya dalam keadaan yang bergairah.


"Hallo,"


"Apa ini Cintya?"


"Iya, maaf ada perlu a-a-apa?"


Tanya Cintya terbata akibat ulah George yang mencumbunya.


"Tinggalkan George, atau ku bunuh Yuna."


"Mamahhhh."


Klik.


"Halo, halo, Yuna, Yuna."


George menghentikan aktivitasnya sejenak dan menatap Cintya, "Geo, aku harus pergi Yuna di culik." setelah mengatakan itu Cintya pun mencoba bangun dari posisinya saat ini.


Namun tangannya pun di tahan oleh George, mau kemana kau menunggalkanku dengan keadaan seperti ini, kita selesaikan dahulu baru kau boleh pergi!" perintah George dengan tatapan yang dingin.


"Tapi Geo, Yuna sedang dalam bahaya Aku janji setelah mencari Yuna. aku akan memuaskanmu," ucap Cintya dengan air mata yang sudah menetes.


"Tidak kita selesaikan ini sayang, setelah itu kita akan mencarinya." George mencumbu Cintya dengan kasar dan paksaan, dia tak persuli dengan rontaan yang CIntya lakukan.


"Ku mohon Geo, ku mohon hentikan aku menghawatirkan Yuna." Cintya terus menvoba meronta dan menghindar dari cumbuan George, kali ini bukan kenikmatan yang dia dapat tapi kebencian.


Plakk..


"Diam dan turuti aku!" terlihat jelas kilatan amarah dan nafsu gairah di mata itu, sehungga membuatnya mengikuti permainan George, dia hanya diam batinya berkecambuk.


"Sayang tunggu sebentar mamah akan datang," batin Cintya.


Pria itu terus saja memaikan miliknya didalam milik Cintya, dia seakan menikmati kepedihan Cintya. Nafsu nya menutupi akal sehatnya sampai tak melihat derasnya air mata yang keluar dari mata Cintya.


Setelah George melepaskan miliknya,


Hingga. "Akhhhh..sayang, aku akan keluaarr." George mengerang nikmat setelah mencapai klimaks, 


* * *


Cintya sangat khawatir, dia benar-benar mengutuk perbuatan George kali ini, air matanya terus jatuh dia mencoba menghubungi Jojo berkali-kali namun tak ada jawaban.


"Shit, Jojo apa yang kau lakukan sampai kau membiarkan Yuna di culik." umpat Cintya.


"Arghhh, Yuna sabar sayang mama akan datang."


To. Jojo


"Jo, dimana kau Yuna diculik segera datang ke gudang tua di belakang bukit ."


Cintya berkali-kali memukul setir, dia sangat takut jika sesuatu terjadi pada Yuna.


Dia begitu cemas waktunya hanya tinggal 20 menit untuk sampai di gudang itu, "akh, sial sial kenapa macet."


Dia merasa sangat bingung, akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Jordy.


Tut...


Tut...


"Hallo."


"Jordy, Jordy, help me."


"Iya Cici ada apa? Katakan pelan-pelan dan jangan menangis."


"Jordy tolong aku, Yuna di culik datanglah ke gudang tua yang ada di balik bukit. Aku terjebak macet" Cintya masih saja menangis kencang.


"Baik, tenangkan dirimu aku akan kesana."


Klik..


Dia sedikit lega setidaknya ada seseorang yang bisa diandalkan, namun rasa khawatir terus menghantuinya.


Tin..


Tin..


Cintya membunyikan klakson agar bisa jalan, tapi rupanya macet sangat psnjang sehingga membuatnnya turun dan berlari menuju bukit itu.


Cintya berlati tanpa alas kaki, tak  perduli dengan rasa sakit di kakinya saat menginjak batu, baginya sekarang adalah bertemu Yuna dan melihatnya baik-baik saja.


"Sabar sayang, sebentar lagi, sebentar lagi mama datang." lirih Cintya.


Cintya mencoba menyemngati dirinya karena sebentar lagi dia akan sampai.


Kring..


Kring..


"Halo, halo Yuna."


" kau terlambat Nona, akan ku bunu dia."


"Jangannnn, aku sudah akan sampai tolong jangan sakiti anaku apa maumu?"


"Tinggalkan George, dan menghilanglah darinya. Dan maaf waktumu sudah habis,"


"Mamah, mamah Yuna takut mah."


Dorr


Dorr


"Yunaaaaa."


,hallo maaf aku baru bisa update, kematin aku habis kecelkaan jadi harus istirahat kangen banget sama cerita ini.


Tapi maaf jika ceritanya kurang menrik


Please voment nya y...