Why if I bitch

Why if I bitch
Bab 2



"Rendi bagaimana apa kau sudah menemukan tempat tinggal wanita itu?" George sangat penasaran, selama rapat tadi pun dia kurang konsentrasi, kata-kata wanita itu sangat meremehkan nya. Bahkan dia mengatakan 'ini percintaan pertama dan terakhir bagi mereka' bagaimana mungkin, dia pun bertanya-tanya? Di saat banyak wanita yang datang untuk menyerahkan tubuhnya secara sukarela, tapi wanita itu justru tidak ingin bertemu lagi.


Apakah mungkin bercinta dengannya membuat wanita itu tidak puas? Atau miliknya kurang memuaskan wanita itu.


"Sial, karena wanita gendut itu aku menjadi gila."


"Maaf Tuan George, namanya adalah Cintya Amanda, usia 24 tahun, dia tinggal di sebuah apartemen kecil, dulu dia hidup di panti asuhan, dan diadopsi pada usia 14 tahun. Tetapi sejak usianya 17 tahun, orang tua angkatnya menjual pada Bobby dengan seharga sebuah rumah. dan kini Nona Cintya hidup dengan seorang anak nya bernam Yuna Amanda."


"Apa?" George merasa sangat terkejut karena wanita itu, bahkan memiliki seorang anak. "Jadi dia single mother." George mengusap-usap rambut halus di dagunya, dan dia pun tersenyum seolah mendapatka lotre.


"Baik kirimkan uang ini langsung ke tangan wanita itu." George memberikan sebuah amplop coklat yang berisi banyak uang.


"Baik Tuan, saya akan menyampaikannya nanti," jawab Rendi. "Sekarang, antarkan uang itu sekarang juga dan harus sampai padanya." lanjut George, dan membuat Rendi pun tak bisa membantahnya lagi.


"Cintya Amanda, hm..nama yang bagus tapi sayang hidupmu sangat kotor." lirih George. "Akan aku jadikan kau budak sex ku, dan hanya milikku," lanjut nya.


* * *


Tok...tok...tok...


"Iya, tunggu sebentar ya."


Cintya yang masih mengenakan apron memghentikan acara memasak dengan princes cantik nya.


"Sayang, mamah buka pintu dulu ya!"


Cintya meninggalkan putri kecilnya dan berjalan untuk membuka pintu.


Ceklek.


Cintya merasa bingung tiba-tiba saja di depan apartemennya berdiri seorang pria, padahal selama ini tak ada satu pria pun yang datang ke apartemen miliknya.


"Maaf Tuan, anda mencari siapa ya?" tanya Cintya.


"Apakan anda Nona Cintya Amanda?"


"Iya benar," jawab Cintya.


Cintya menaikkan sebelah alisnya, meminta agar pria di hadapannya segera menyampaikan maksud kedatangannya.


"Maaf Nona, ada titipan dari Tuan George untuk nona." Rendi memberikan amplop coklat yang di berikan George.


Dengan cepat Cintya menerima amplop itu, dan membukanya. Dia tak terkejut melihat amplop yang berisi uang begitu banyak, karena memang bukan sekali ini saja. Cintya mengambil beberapa lembar uang yang merupakan memang hasil bayarannya.


"Ini aku kembalikan, tolong katakan pada Tuan George tak perlu repot-repot mengirim orang suruhannya ke rumahku, dan cukup berikan pada Bobby."ujar Cintya pada Rendi.


" Tapi Nona Cintya, Tuan memberikan ini semua untuk Nona,"jawab Rendy.


"Uang ini cukup untuk membayar jasaku," Brakk.


Cintya menutup pintunya kembali, dia tak ingin berurusan dengan pria seperti George. Pria yang memiliki kekayaan berlimpah hanya ingin menjadikannya budak nafsu mereka.


"Mamah, siapa yang datang?" tanya Yuna pada Cintya. "Hanya orang bertanya tentang alamat," jawab Cintya.


"Mah, Yuna lapar," puteri kecilnya itu memegang perutnya, dia merasa bersalah membuat putrinya kelaparan hanya karena orang suruhan George.


"Ayu cantik kita makan, mamah sudah masak brokoli saos tiram kesukaanmu,"Cintya menggendong Yuna, dan membawanya ke meja makan.


"Mamah, minggu depan sekolahku mengadakan acara hari orang tua. Apa mamah bisa datang?" Yuna menundukkan kepalanya, dia takut jika akan mengganggu pekerjaan mamah nya, tapi acara itu juga butuhkan sosok orang tua, bukan pengasuh.


"Pasti mamah usahakan datang ya, sayang."Cintya mencium puncak kepala Yuna, dia merasa bersalah karena tak memiliki banyak waktu luang untuk putrinya. Dia terlalu sibuk bekerja untuk bisa melepaskan dirinya dari Bobby.


" Mom, apa aku boleh ikut mom bekerja? Aku merasa kesepian," Yuna pun mengatakannya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Sayang, bukannya Yuna tidak boleh ikut Mamah. Tapi pekrjaan mamah malam hari, dan Yuna harus sekolah." Cintya berusaha membuat putri kecilnya mengerti akan keadaan mereka, walau dalam hati Cintya merasa sangat sakit, Cintya tau jika putrinya kekurangan kasih sayang darinya.


"Iya Mah," Yuna mencoba mengerti keadaan Mamahnya.


"Sudah habiskan makananmu, dan nanti kita jalan-jalan. Ok," ujar Cintya.


"Horee...hore..." Yuna sangat bahagia, dia terus saja melompat-lompat kegirangan. Cintya tersenyum renyah, Yuna lah penyemangat hidupnya saat rasa lelah nya menghadapi masalah hidup.


* * *


" Sial, wanita sombong. Dia pikir siapa dirinya, berani menolak pemberian George, George adalah seorang bilioneir terkenal dan memiliki banyak uang. Tapi wanita gendut dan sombong itu berani menolak pemberiannya. Tapi sialnya lagi dia sangat mengagumi tubuh wanita itu, setiap sentuhannya membutnya  merasa terpuaskan.


"Rendi, aku mau kau pastikan agar wanita itu tak bisa melayani pria lain Selain aku, dan hanya aku." ujar George dengan geram.


"Baik Tuan George, perintah anda akan saya laksanakan." ujar Rendi.


Tok...tok...tok..


"Maaf Tuan Hadvars, ini ada dokumen yang perlu anda tanda tangani." Irna memberikan dokumennya pada George.


"Apa ada lagi?" George menaikkan sebelah alisnya, dia menatap heran pada seketarisnya itu yang selalu memandangnya dengan tatapan lapar. Seakan George adalah daging empuk yang siap disantap.


"Emm..maaf Tuan, pukul 14.00 nanti anda ada metting dengan perusahaan Bern Company di restoran sushi Pondok Indah Mol." Irna yang sudah salah tingkah segera pergi dari ruangan George.


"Bern Company, Rendi siapa pemilik perusahaan itu bukankah putranya yang kini memimpinnya?" tanya George.


"Iya Tuan, dia putra tunggal dari johny Bern, yaitu jordi Bern."


George hanya menganggukkan kepalanya mendengar laporan Rendy, "Pergilah, aku akan menyelesaikan pekerjaanku dahulu." Rendy pun pergi meninggalkan ruangan George.


* * *


"Mamah Yuna ingin naik itu, boleh kan Yuna main mobil di Time zone."


Cintya sangat beruntung memiliki putri yang sangat pengertian, Yuna tak pernah meminta yang macam-macam. Apapun permintaannya dia selalu meminta persetujuan Cintya.


"Boleh sayang, hari ini kita bersenang-senang. Ok," Cintya mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda putri kecilnya.


"Mamah, kenapa aku sangat cantik, apa ayahku tampan mah?"


"Tentu saja, ayahmu tampan da mirip seperti mu sayang."


"Tapi mah, kenapa mamah gak cantik ya!!"


"Yunaaa...apa jadi mamah jelek gitu, ikhh Yuna jahat." Cintya pun mengelitiki Yuna hingga mereka tertawa bersama. "Hahahahaha.."


Cintya dan Yuna puterinya bermain di Time zone, hingga mereka lupa waktu. "Kriuk.." tiba-tiba menjadi hening. "Hahahaha....sayang kamu lapar kenapa gak bilang dari tadi."


* * *


"Semoga kerja sama kita berjalan lancar, Tuan Hardves." Jordy dan George saling berjabat tangan, Tapi George merasa terganggu di pojok restoran sushi dua meja dari tempatnya mengadakan rapat. Dia melihat Wanita yang sejak kemarin membuatnya marah.


Namun George melihat wanita itu terlihat sangat berbeda, Cintya terlihat lebih cantik. Dia merias wajahnya dengan make up natural, Cintya hanya mengenakan kemeja putih dan celana jeans terlihat santai.


Tetapi ada sedikit yang membuatnya tersenyum, ada sosok gadis kecil yang duduk di dekat Cintya, George yakin jika gadis kecil itu adalah putri dari Cintya. George terus memperhatikan mereka bagaimana mereka bercerita dan saling bercanda, "cantik,".


" Apa ? George memuji wanita gemuk yang berstatus wanita malam itu 'cantik', dia mengepalkan tangannya merutukki kebodohannya yang memuji wanita itu. Dengan angkuhnya George berjalan mendekati ke dua wanita itu.


" Ehem.." George sudah berdiri di samping Cintya.


Merasa terganggu Cintya dan Yuna melihat ke arah suara itu, Cintya menatap malas ke arah George dan mencoba mengabaikan kehadirannya,


"Hai Yuna Amanda," George  melambaikan tangannya pada gadis kecil itu.


"Hai om," Yuna yang diasapa itu pun membalas lambaian tangan George, berbeda dengan Cintya wanita itu tetap diam dan asik meminum minumannya. "Boleh aku bergabung di sini?" tanya George pada Cintya, "Boleh om," Yuna sangat antusias dengan adanya keberadaan George.


"Mah, kenapa diem aja si. Kan ini ada om tampan," ujar Yuna. Cintya yang mendengar putrinya menyebut kata tampan pun langsung menatap Yuna, sebenarnya Cintya tahu jika pria itu selalu mengawasinya sejak mereka datang ke restoran sushi. Tapi Cintya cukup malas untuk berbasa-basi.


"Yuna, makan saja makananmu!" perintah Cintya. "Iya mah," Yuna pun meneruskan memakan-makanannya  kembali. "Maaf Tuan George, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Cintya dengan nada yang datar.


"Hanya ingin melihat wanita yang sudah meninggalkan ku dihari itu," George mengedipkan matanya.


"Jaga ucapan anda," Cintya mengepalkan tangannya di bawah meja, dia sangat marah dengan pria ini. Cintya takut putrinya mengetahui pekerjaannya yang sebenarnya.


"Kenapa bukankah kamu memang jalang nakal yang memuaskan milikku," bisik George di telinga Cintya. Cintya yang mendengar penghinaan Itu ingin memakinya kembali, tapi dia berusaha mengendalikan dirinya karena Dia tak mau putrinya tahu.


"Maaf Tuan jika anda tidak ada keperluan, bisa tinggallan kami!" perintah Cintya.


George yang diusir justru hanya menampilkan senyumnya dia mencoba menyapa kembali putri kecil dihadapannya, "Yuna apa kau menyukai makanannya," Yuna hanya menganggukan kepalanya. "Anak pintar, om pergi dulu cantik," George mengacak-acak rambut Yuna.


"Aku mau malam ini kau memuaskanku di ranjang, di apartemenku jadilah jalang liar binal," George lagi-lagi membisikkannya di telinga Cintya.


"Bajingan," balas Cintya di telinga George, tetapi bukannya marah George justru tertawa, dia merasa senang melihat wajah marah wanita itu sangat menggemaskan baginya.


Dan ini kali pertama baginya menggoda seorang wanita seperti kekurangan,



Maaf ya kalau ceritaku selalu banyak kekurangan, aku hanya mencoba untuk menuangkan apa yang ada di fikiranku, semoga kalian suka, minta sarannya ya. Jangan lupa vote dan comennya.


Terimakasih