
"Bolehkah aku mencium mu,"
Jeni terus saja gelisah dia miring ke kiri, dan miring ke kanan. Dia masih saja ingat dengan ucapan terakhir George.
Mencium mu,
Seakan jadi dengan kata Kramat baginya, belum dia menjawab pertanyaan pria itu, tiba-tiba bibir pria itu sudah menempel di bibirnya.
Membuat jantung nya berdetak tak karuan, dengan pria itu Jeni merasa nyaman dan tak asing seperti mereka sudah mengenal bertahun-tahun.
Jeni mematut dirinya didepan cermin, mencoba tersenyum manis. "Iya memang manis, berapa lama aku menyembunyikan wajahku ini." Bisik nya lirih.
Dia tak mengerti kenapa hati nya berbunga-bunga, bahkan dia kini memilih memakai baju kemeja putih, dan rok span warna hitam. Pakaian selama beberapa tahun tak pernah di pakai sejak sadar dari komanya.
Dengan langkah yang anggun Jeni turun, dan rambut panjang yang digerai, sehingga membuat seseorang yang berada di meja makan pun takjub melihat Jeni.
"Oh Tuhan, bidadari dari mana ini gerangan?"canda Jordan pada adiknya.
"Akh...kakak apa si, lebay tau gak." Jeni segera menuju meja makan.
"See... Kau terlihat cantik seperti ini, pasti Max akan tergila-gila pada mu." Jordan melahap kembali makanannya.
"Aku hanya mengabulk Yoan permintaan kakak, iya seperti ini." Bohong Jeni.
"Tidak Jen, kakak lakukan untuk kebaikan kamu " Setelah menggatakan itu Jordan tersenyum bahagia melihat sedikit perubahan dari adiknya.
"Kak, apa akhir-akhir ini kau sangat sibuk, kita bertemu hanya saat jam makan menyebalkan." Jeni menggerutu kesal.
Memang benar sejak dia bekerja di Perusahaan milik Max, Jordan seolah melonggarkan pengawasannya, Dia mempercayakan pada Max, dan memilih sibuk dengan pekerjaannya.
"Bukankah kau sudah memilikki penjaga, hm?" Jordan melihat wajah Jeni tampak berbeda dia terlihat cantik, "lepaskan kawat gigimu, itu mengganggu penglihatanku." lanjut Jordan.
"Hm..baiklah kak akan aku lepas, puas sekarang." Jeni mengerucutkan bibirnya.
"Apa kau sudah selesai, kakak akan mengantarmu ke kantor." Jeni mengernyitkan dahinya kesal, baru saja dia makan dua suap, kakanya malah sudah selesai, dengan langkah tergesa-gesa dengan roti yang masih di tangannya Jeni bangun dan pergi mengikuti Jordan di belakang.
Jeni tersenyum kecil ketika mengingat ucapan George membuat wajahnya merona, "Ada apa denganmu? Kenapa senyum sendiri, hm?" tanya Jordan yang merasa aneh dengan tingkah adiknya.
"Ahh... Gak kak, ayok kita berangkat sudah siang."
Jeni menggandeng tangan Jordan dengan rona wajah penuh kebahagiaan.
Mereka menaikki rangger rove berwarna hitam, terlihat semakin mewah.
Jordan masih saja memperhatikan wajah berseri adik nya, menenangkan hati melihat sedikit perubahan dalam diri adiknya. Bahkan beberapa hari ini dia melewatkan itu semuanya.
* * *
Jeni sampai di depan kantornya, senyum di wajahnya tak juga menghilang, kali ini Jeni terlihat begitu cantik.
Ketika dirinya memasukki kantor banyak pasang mata yang memandangnya, mereka terkejut dengan perubahan dalam diri Jeni, "Selamat pagi bu," sapa para staf di kantor Max.
"Selamat pagi, saya langsung ke atas iya." Jawabnya dengan nada lembut dan ramah.
Ting.
Tok...tok...tok...
"Masuk!" Perintah Max.
Klik,
"Pagi Max, pekerjaan apa yang hari ini harus kita kerjakan?"tanya Jeni santai dan langsung duduk di sofa.
Bukan menjawab pertanyaan Jeni, Max justru sedang diam termangu melihat perubahan dalam diri Jeni, iya dia baru pertama melihat Jeni memakai make up dan menggerai rambutnya, "Cantik, iya sangat cantik." Bisik Max dalam hati.
Jika Jeni seperti ini dia justru ingin secepatnya menikahi Jeni.
"Max, apa yang harus kita lakukan??"tanya Jeni yang membuyarkan lamunan Max.
"Lo cantik banget Jen, wah gue mau deh merit sama lo Jen." Jeni yang mendengar ucapan Max pun membelalakkan matanya, apa? Merit ? Sama Max, No.
"Max bercanda kamu gak lucu, kita sedang tidak dalam kapasitas memiliki hubungan." Ucap Jeni singkat.
"Ok..ok meskipun gue tau Lo cantik, Lo tetep bukan tipe gue." Balas Max dengan memberikan kedipan di matanya.
"Jangan terlalu kagum padaku Max dan berhenti menatap ku, kita harus segera menyelesaikan masala di perusahaan mu."
Max yang ketahuan pun hanya tersenyum geli, bagaimana bisa ucapan dan matanya berbeda.
"Okey Nona, hari ini jadwal mu menemani Mr. Hardvas berkeliling tempat proyek yang kita bangun, dan aku harap kau bisa meyakinkan nya untuk ini."
"Tenang saja itu keahlian ku, " ucap Jeni dengan sombongnya.
"Ya udah Max aku pergi dulu, kau tahu aku ingin secepatnya menyelesaikan pekerjaan ini, dan kembali ke kehidupan ku yang tenang sebelum kau datang." Canda Jeni pada Max.
"Hahahh, seperti nya kau tak akan bisa pergi dariku, tunangan ku."balas Max yang di sambut senyuman manis dari Jeni.
" * *
Jeni menatap jam yang melingkar di tangan kanannya, dia terus saja berdecak sebal karena sudah satu jam menunggu kedatangan Mr. Hardvas, tak biasa nya pria itu terlambat datang jika bertemu dengan nya.
Sebenarnya dia malu untuk bertemu dengan pria itu karena kejadin tempo hari, ketika pria itu meminta diri untuk mencium nya. Dan bodohnya Jeni hanya bisa mengangguk saja menyetujui permintaan Mr. Hardvas.
"Maaf aku terlambat, aku sedang ada urusan penting tadi."
"Apa kamu sudah sarapan?kemanan kita akan pergi kali ini?"lanjut nya tanpa jeda.
"Santai saja Mr. Hardvas, hari ini kita akan mengunjungi beberapa bangunan yang sedang dibangun, mungkin nanti anda bisa memberi sedikit idea." Jeni berusaha berbicara dengan santai meski Sebenarnya hatinya selalu berdebar kencang.
"Baiklah kita berangkat sekarang." George mempersilahkan Jeni untuk berjalan lebih dulu.
"Maaf untuk kemarin, aku menyukai mu." Setelah mengatakan itu George berjalan mendahului Jeni dan tersenyum bahagia, berbeda dengan Jeni yang mendengar nya merasa sangat malu pipinya merona merah. Dia merasa seperti remaja yang sedang jatuh cinta.
Entah keberanian dari mana Jane mensejajarkan dirinya dengan George dan menggenggam tangan George, hingga membuat George terkejut dengan tindakan Jeni.
"Aku juga menyukai mu," ucap Jeni malu-malu, mereka pun saling menatap dan tertawa.
"Yeahhh....apa kita bisa bersama?"tanya George.
"Seperti nya tidak aku sudah bertunangan dengan Mark, tapi jika aku berhasil memajukan perusahaan Mark kami akan berpisah." Jeni tak mengerti apa dengan hatinya yang sangat mudah menerima George, dia merasa nyaman dan sangat mengenal pria itu.
***
Setelah mereka berkeliling meninjau proyek ada di dekat pantai, Jane dan George pun memilih duduk di tepi pantai sambil menikmati indahnya pantai di sore hari.
"Hari ini aku sangat bahagia, karena bisa bersama denganmu lagi, " ucap George keceplosan.
"Lagi? apa sebelum nya kita pernah bertemu? Aku memang sedang hilang ingatan, apa kamu bagian penting dalam hidup ku Mr. Hardvas.
"Iya aku adalah kekasihmu,"
Seketika itu Jane menatap penuh tanya, benarkah pria ini masa lalunya? Lalu hal macam apa yang membuatnya hilang ingatan, dan kenapa dia berakhir di sini.
"Jika kau masa lalu ku kenapa saat pertama kita bertemu kau tak mengenaliku, apa Karen penampilan ku?" Tanya Jane.
"Aku mengenalimu, aku bahkan ingin memelukmu saat itu juga tapi hatiku mengatakan ini bukan waktu nya. Karena aku tak mau mengejutkan mu,"
"Jika kau benar kekasih ku, cerita kan wanita seperti apa diriku?"
Jane kini duduk menyandar pada bahu George.
"Kau wanita cantik yang mampu meluluhkan hatiku, kau sangat mencintaiku, kau pintar dan sexi, lalu kau juga ibu yang penyayang." Ucap George.
"Ibu?" Kali ini Jane menautkan kedua alisnya menuntut penjelasan yang lebih spesifik.
"Maaf maksud ku sifatmu keibuan," George mengutuk mulutnya yang mengatakan ibu, seharusnya memang dia menyembunyikan dulu satu fakta itu, agar Jeni tak kecewa padanya.
Mendengar penjelasan George Jane tersenyum, malam ini Gorge bercerita tentang kehidupan mereka sebelum Jane hilang ingatan, dan Jani setia mendengar kan, karena memang dia ingin mengingat masa indah dulu mereka pertama bertemu. ,
Malam semakin larut namun mereka masih betah dengan posisi mereka. Hingga ada seseorang yang memergoki mereka.
"Jane"
Tampak kilatan amarah di kedua mata pria itu, dan menyeret jeni dengan kasar.
Maaf lamaaaa bgt ini cerita semoga kalian suka vote dan coment