Why if I bitch

Why if I bitch
Bab 28



"Ok aku juga setuju,"


Woaw...kali ini Jordy pun tak percaya dengan apa yang di dengarnya, dengan semudah itu adiknya menyetujui perjodohan ini padahal mereka belum memulai topiknya.


"Are you sure, Jeni?" tanya Jessica lembut.


"Yes iam sure, jess. Tapi aku punya syarat," ucap Jeni.


"Apa sayang syaratmu?" tanya Mr. Prabowo,


"Aku ingin dia memipin perusahaan anda Mr. Prabowo, dan aku akan menjadi sekertarisnya, karena aku ingin lihat kemampuan pria yang akan menjadi suamiku dalam memimpin perusahaannya sediri." Jeni mengucapkannya dengan sekali hembusan nafasnya.


"Jeni," panggil Jordy.


"Kak, aku setuju untuk perjodohan ini. Dan aku harap kakak menerima keputusanku juga," ucap Jeni tegas, dia berfikir menerima nya karena sudah pasti pria dihadapannya akan menyerah bertunangan dengannya jika nanti dia tahu sifat Jeni, di kepala cantiknya dia memiliki seribu ide untuk menggagalkan perjodohannya, dia setuju karena tak mau diatur oleh Jordy lagi.


"Baik jika hanya itu permintaan mu, aku akan memimpin perusahaan Daddy, bisa kan Daddy?" Tanya Max pada Daddy nya.


"Iya Daddy Setuju, karena memang sudah waktunya kamu belajar memimpin perusahaan." Prabowo mendukung keputusan anaknya bisa itu.


"Dan Jeni, awasi dia dalam menjalankannya perusahaan, jangan sampai perusahaan ku bangkrut di tangan anak ini." Lanjut Prabowo.


Mendengar permintaan Prabowo, Jeni Hanya bisa tertawa, dia sangat tahu jika pria seperti Mark hanya bisa bersenang-senang tanpa memperdulikan tanggung jawab mereka.


"Baik om, sudah pasti aku akan me-nga-wasi-nya." Jeni sengaja menekankan kata mengawasi agar Mark tahu bahwa dia bukanlah apa-apa.


"Baiklah Mr. Prabowo dan Mark, sebaiknya kita makan dahulu." Jordy mencoba mengalihkan tatapan adiknya pada Mark, dia tak ingin ada perang darah disini.


Setelah percakapan yang menegangkan merekapun bisa makan dengan tenang, tapi Max merasa diremehkan oleh Jeni karena mengajukan syarat seperti itu.


"Kenapa kau setuju menikah dengan ku?" Tanya Max pada Jeni.


"Karena aku lihat kau pria yang suka kebebasan, dan aku pun tak ingin terikat lebih jauh dengan pria. Sebatas status pun cukup," ucap Jeni dingin.


"Menarik, bukan wanita seperti mu tak berharap lebih padaku. Apa kau yakin tak akan mencintai ku?" Ucap Max dengan sombongnya.


Jeni tak menjawab dan hanya mengangguk kepalanya, dan berlalu meninggalkan Max yang masih tak percaya dengan wanita ini.


"Lalu pria sepertimu apa akan tertarik padaku? Hm." Jeni menatap wajah Max dengan intens, dia ingin tahu ekspresi wajah pria itu ketika menjawab pertanyaannya.


"Itu tidak mungkin, karena kau tahu aku menikahimu hanya karena hubungan timbal balik saja."


"Bagus," jawab Jeni dan beranjak pergi dari hadapan Max.


"Cih...wanita gila," umpat Max.


Max kembali keruangan ayahnya, karena ada beberapa hal yang harus di kerjakannya, dia akan buktikan pada wanita itu jika dirinya mampu memimpin perusahaan dengan sukses.


"Kau sudah kembali?" tanya Prabowo.


"Dad menyukainya dia wanita yang menarik, bukankah benar?" lanjut Prabowo.


"Tidak, dia hanya wanita gendut yang gila Dad."


"Lalu kapan aku mulai memimpin perusahaan ini Dad?" lanjutnya.


Prabowo hanya tersenyum simpul, dia tahu jika putranya mampu memimpin perusahaan dengan baik, hatinya pun lega sebenarnya dia ingin mengucapkan terimakasih pada Jeni, karena sudah membuat putranya mengambil alih perusahaan mereka.


"Kau bisa bekerja mulai besok, dan-  jangan lupa hubungi Jeni agar segera bekerja menjadi sekertarismu." 


"Secepat itu Dad?" Tanya Max,


* * *


Jeni pov.


Tak ku sangka pria itu sangat percaya diri dan dia mau saja menerima syarat yang aku ajukan, sudah pasti dia playboy sejati yang selalu menaklukkan banyak wanita.


Tapi jujur aku menyukai nya dia pria yang tidak munafik, dia menyuarakan apa yang difikirkan nya, dia pasti termasuk pria jantan.


Melihat pria itu membuatku mengingat pria yang selalu hadir dalam hidupku, aku pun mulai berfikir apa mungkin Max ada hubungannya dengan mimpiku itu atau tidak.


Hari ini aku merasa sangat lelah, aku tak pernah tahu ada apa dengan hatiku yang terasa kosong, aku seperti merindukan seseorang yang sangat istimewa. Namun aku tak tahu siapa? Bahkan sudah tiga tahun ini ingatanku tak bisa kembali, terkadang aku bermimpi adanya seorang anak kecil dan pria. Setiap aku bertannya pada kakak dia hanya menjawab dengan 'jangan terlalu banyak berfikir itu hanya mimpi', dan lagi-lagi aku hanya harus puas dengan jawaban kakak.


Drttt...


Drttt...


"Iya ada apa, Max?" tanyaku.


"Kau datanglah besok pukul 8 tepat, karena aku akan mulai memimpin perusahaan Dad," ucapnya tanpa jeda. "Dan kau akan menjadi sekertarisku sesuai ucapanmu!" lanjutnya lagi.


"Hm...baiklah, aku menantikan kerja sama kita untuk membangkitkan kembali perusahaanmu."


"Lihat saja, aku akan sukses dan setelah itu kita akan berpisah."


Klikk...


Aku membuang ponselku ke atas kasur, aku sangat geram dengannya karena memutuskan percakapan kami dengan tidak sopan.


Pria itu sangat percaya diri sekali, aku ingin lihat bagaimana di bisa mengatasi semua masalah perusahaan nya, tak tahu kenapa memikirkan Max membuat bibirku tersenyum spontan.


"Jen,"


"Apa keputusan mu benar dari hatimu?"tanya Jordy padaku, aku tahu dia orang yang paling menyayangi ku dan mengkhawatirkan ku, tapi setidaknya aku ingin kakak melihat Jik aku sudah dewasa dan ada pria yang menjaga ku.


"Kak, aku sudah yakin dengan pilihan ku. Dia pria yang memiliki komitmen, setidaknya dia akan menjagaku dan kakak tak perlu khawatir." Setelah aku mengtakan itu, sorot mata kakak mulai menghangat dan melembut.


"Maafkan aku kak, aku hanya mencoba membuat mu tak selalu mengkhawatirkan aku, karena kau pun berhak memiliki kebahagiaanku sendiri dengan kak Jessi."


Aku pun memeluk nya mencoba menenangkan hati pria yang sangat aku sayangi, dia bagaikan nafas tempatku bergantung.


"Kak, Jeni sayang kakak terima kasih untuk semua nya." Aku membisikkan kata-kata itu ditelinga nya.


"Kali ini biarkan Max yang menjagaku kak, biar dia yang bertanggung jawab atas kebahagiaan ku." Sekali lagi aku pun mencium pipi Jordy.


Baru kali ini aku melihat kak Jordy menitikan air mata, iya dia menangis di pelukan ku.


"Iya kakak akan mencoba, berbahagia lah sayang." Aku hanya bisa mengangguk kan kepalaku.


Pov end.


* * *


Max pov


Setelah Daddy mengatakan jika akan menyerahkan semua tanggung jawab perusahaan padaku membuat kepalaku pusing tujuh keliling, bagaimana tidak aku sebenarnya belum siap memimpin perusahaan Daddy, tetapi karena wanita itu aku pun menyanggupinya jujur saja aku menyesal mengtakannya.


Dan lebih parahnya lagi aku sudah harus memimpin mulai esok, dan wanita itu yang akan menjadi sekertarisku, sudah pasti diotakku menginginkan menyiksa wanita itu.


Caling Jeni.


Iya ada apa, Max?" tanya nya .


"Kau datanglah besok pukul 8 tepat, karena aku akan mulai memimpin perusahaan Dad," ucapku tanpa jeda. "Dan kau akan menjadi sekertarisku sesuai ucapanmu!" lanjutku lagi.


"Hm...baiklah, aku menantikan kerja sama kita untuk membangkitkan kembali perusahaanmu." Dia hanya menjawab dengan kata 'hm' membuat ku kesal.


"Lihat saja, aku akan sukses dan setelah itu kita akan berpisah." Lanjut ku lagi, dan segera aku tutup sebelum dia menjawabku dengan kata-kata yang panjang lebar.


Klikk...


Beberapa hari ini wanita itu selalu mengisi pikiranku, bukan karena aku menyukainya atau aku mencintai nya pada pandangan pertama. Tapi karena aku merasa kagum dengan keberanian nya yang mau menantang ku, dan sikap dinginnya terhadap ku bahkan dia jelas-jelas mengatakan tak akan menyukai ku.


Sebenarnya aku sedikit lega karena dia tak akan menyukai ku, walaupun harga diriku sedikit terluka karena dia tak akan menyukai ku.


Namun itu akan lebih baik karena aku memang tak pernah ingin diatur, apa lagi memiliki hubungan yang menyusahkan.


* * *


Di lain kota seorang pria masih saja asik memandang keindahan ibu kota disore hari, dia sudah berjam-jam berdiri menghadap jendela sembare mengingat kenangan manisnya dengan wanita pujaannya.


Dia bahkan menitikan air matanya, menangis karena perasaan bersalah dan rasa rindu yang di tahannya hampir tiga tahun ini.


"Cintya dimana kamu sekarang, aku sangat merindukanmu." George mengucapkannya dengan lirih.


Tok...tokk...tok..


"Masuk!" perintahnya.


"Tuan, akhirnya saya menemukan Nn. Cintya tapi--"


Haii maaf baru update seetelah sekian lama, maaf juga jika tqk menarik. Don't fotget vote and coment.