Why if I bitch

Why if I bitch
Bab 27



"Mr. George aku tak bisa menemukan dimana, Nn. Cintya berada." Randi menatap penuh belas kasihan pada Tuannya.


"Bodoh, untuk apa ada anak buah kita jika mencari satu orang saja tak bisa." George sangat murka, dia menggertakkan giginya untuk mencoba menahan amarahnya.


"Mr. George bahkan ini sudah 5 tahun, kami mencari hampir di seluruh negri dan penjuru. Tapi semua nihil," ucap Rendy dengan penuh keragu-raguan.


Rendy benar sudah lima tahun mencari Cintya, tapi tak ada satu pun kabar yang dia terima. Tak tahu wanita itu masih hidup atau sudah meninggal, tapi dia yakin jika Cintya hanya sedang bersembunyi di suatu tempat


"Bukankah sudah aku katakan, tak perlu membuang waktu mu untuk mencarinya."


"Untuk apa kau datang kesini Laurent, urus saja usahamu dan kehidupanmu." George merasa tersinggung dengan ucapan Laurent.


"Geo, aku istrimu seharusnya kau lebih bisa memperhatikan aku, bukan wanita pelacur seperti dia."


Plakkk...


"Pelacur, kau lah pelacur. Kau tahu aku tak pernah mencintaimu tapi kau tak tahu malu masih mempertahankan hubungan ini, kau memang psyco." George mengatakan semua nya, iya selama ini dia selalu diam jika wanita itu mendatanginya, tapi malam ini karena dia menghina Cintya George tak tahan lagi.


"Jadi kau lebih mencintainya, ingat jika aku tak bisa memilikimu maka dia juga tak akan bisa." Laurent sangat memperingatkan George tentang ancamannya yang sungguh-sungguh.


"Pergi," usir Grorge.


"Rendy cari terus keberadaannya!"


Sedangkan dilain tempat jauh di sana di pulau Kalimantan.


"Nn. Jeni, jangan terlalu sering melamun karena kita sedang banyak pekerjaan."


"Hm, iya bos siap," Jeni hanya bisa memanyunkan bibirnya, "Dasar menyebalkan," gerutu Jeni.


"Malam ini kita akan makan malam, di hotel aku akan memperkenalkannya dengan seorang pria."


"Iya, iya bos, siap laksanakan." Jeni pun tersenyum manis hingga menampakkan deretan gigi putih nya.


"Hai, Jeni apa bos besar mu ada?" Tanya seorang wanita cantik di hadapannya.


"Ada kak, masuklah hari ini bosmu itu sangat menyebalkan."


"Baiklah adikku. Kakak masuk dulu."


Jeni melanjutkan pekerjaannya kembali, dia merasa sangat nyaman dengan pekerjaan baru miliknya.


"Sayang, ada apa denganmu?" Tanya wanita itu.


"Jessica, katakan pada adikmu Untuk merubah penampilan nya!"


"Kenapa? Bagiku tak masalah jika dia memang nyaman dengan keadaan fisik nya." Jessica mendekati pria itu.


"Tapi jika di terus seperti ini, kapan dia akan menikah lagi jika jes. Please tolong aku ," ucap pria itu lagi.


"Jordy, biarkan dia menikmati hari-hari nya dulu. Seharusnya kau bahagia dia bisa bangkit dari keterpurukan nya,"ucap Jessica lembut.


Iya pria itu adalah Jordy, dia pun hanya bisa mengusap wajahnya kasar. Benar kata Jessica jika keadaan adiknya itu lebih baik dari lima tahun lalu,


Dan benar wanita yang di panggil Jeni adalah Cintya, namun penampilan dan jati dirinya dirubah semua.


"Tapi tetap saja malam ini aku akan memperkenalkannya dengan seorang pria, dan kau pastikan dia untuk datang!" Perintah Jordy dengan nada tegas dan tinggi.


"Ok, bos tapi aku tak bisa memaksanya memakai pakaian yang dia mau."


* * * *


Jeni terus komat-Kamit dia benar-benar kesal dengan kakaknya, yang sejak tadi sudah ada di kamarnya dan membangunkan Jeni yang sedang asik menikmati istirahatnya.


"Cepat sedikit mana ada wanita lambat seperti kamu," ucap Jordy.


"Iya..iya sabarlah kak, oh Tuhan. Kenapa aku bisa memiliki kakak seperti ini," ucap Jeni frustasi,


"Kak Jess, apa kau yakin ingin menikah dengan pria seperti dia. Cerewet dan menyebalkan,"lanjut Jeni dan diikuti tertawa geli dari Jessica, hingga Jordy melempar bantal kearah Jeni.


Tanpa rasa bersalah Jeni masuk kedalam kamar mandinya, dia memilih membersihkan dirinya dahulu, berendam, dan menikmati kesunyian nya.


Dia sengaja berlama-lama berada di dalam kamar mandi, karena dia sebenarnya malas ikut makan malam yang selalu kakak nya lakukan, dia selalu menjodohkannya dengan partner kerjanya.


Tok...


Tok...


Tok...


"Hai gadis jelek cepatlah keluar, kita sudah terlambat." Jordy terus saja mengetuk pintu kamar mandi.


Membuat Jeni menghembuskan nafas kasar, Jordy membuat mood nya rusak.


"Iya kak, sabarlah sedikit." Dengan terpaksa Jeni segera mengenakan jubah mandi miliknya.


Cklekk..


Oh sial Jeni marah sore seperti ini sudah disuguhi pemandangan yang menyebalkan, bagaimana bisa mereka melakukannya di kamarku mereka saling bercumbu.


"Astaga kakak, Jessica, kalian bisa melakukannya di kamar kak Jordy kenapa di kamarku?" Tanya nya murka.


"Kenapa? Kamu iri sama kita, sayang." Jordy semakin memeluk mesra Jessica, berharap adiknya akan segera mencari pria pilihannya.


"Apa kau ingin Melihatku berganti pakaian, hm."


"Sial kau Jen, ayo sayang kita keluar." Jessica mengajak Jordy keluar dari kamar Jeni.


Lagi-lagi Jeni berdecak kesal, hal paling menyebalkan adalah datang ke acara makan malam dengan mitra bisnis, apa lagi jika pertemuan itu ada hal yang terselubung.


Jeni memakai dres ungu selutut dia sudah tahu ini pasti pilihan Jessica, "Mereka berdua memang serasi,"ucap Jeni lirih.


Namun dia tak ingin kehilangan jati dirinya yang sekarang, iya dia mengikat rambutnya seperti kuncir kuda, serta kaca mata tebal yang sudah dia pakai selama lima tahun ini. Sepertinya memang Jeni sengaja melakukannya karena dia rasa berkenalan dengan seorang pria itu merepotkan, dia seperti memiliki kenangan buruk pada pria.


Kali ini Jeni akan sedikit mengikuti kemauan kakaknya, supaya Jordy tak mengganggu nya terus menerus.


"Jeni, apa yang kau lakukan dengan dandananmu yang seperti itu?"


Jodry berdecak kesal melihat tingkah adiknya itu.


"Jes, katakan padanya biarkan aku seperti ini. Atau aku tak akan ikut dengannya,"ucap Jeni dengan merajuk.


"Hahahaha,"


"Kalian memang kakak-adik yang unik, sudah Jeni kita berangkat tinggalkan saja kakakmu jika masih saja menggerutu." Jessica dan Jeni pergi keluar lebih dahulu, Jordy yang masih kesal akhirnya mengikuti kedua wanita itu keluar.


Didalam mobil mereka bertiga masih saja diam, tanpa ada yang berniat berbicara.


* * *


"Dad, apa harus kita melakukan acara ini?"


"Diamlah ini untuk kelangsungan bisnis kita,"


"Tapi Dad, wanita itu sangat kuno. Bahkan tubuhnya sangat gendut Dad," ucap pria itu kembali.


"Itu lebih baik, dari pada Daddy memiliki menantu yang asal-usulnya tak jelas."


"Dad, please aku tak pernah ada niat untuk menikah."


"Diam Max, semua sudah Daddy rencanakan." pria tua itu pun tak ingin mendengarkan rengekan putranya lagi.


Setelah berdebat cukup lama, pria itu pun diam dan. Memasang wajah dinginnya.


"Ehem..Mr. Prabowo sugandar," Jordy mencoba menyapanya.


"Oh hai Mr. Jordy, silahkan duduk." prabowo pun mempersilahkan Jordy duduk di sebelahnya.


"Mr. Jordy ini putraku Max Hendro prabowo sugandar."


"Perkenalkan juga, ini calon istri saya Jessica, dan yang ini adalah adik saya Jeni."


"Halo jess, halo jen, senang bertemu dengan kalian." mendapat dapaan dari Mr. Prabowo kedua wanita itu pun tersenyum kecil.


"Nampaknya kalian akan menjadi keluarga J, karena nama kalian berawal dari J." lanjut Prabowo.


Namun berbeda dengan putranya dia menatap Jeni dengan jijik, seakan Jeni adalah kuman yang harus di hindari. Dia bahkan tak pernah bermimpi untuk bisa mengenal wanita sejelek Dia.


"Anda bisa saja Mr. Prabowo,"


"Nn. Jeni hari ini anda tampak berbeda dari biasanya, sangat cantik." Prabowo mencoba memuji Jeni.


"Terima kasih Tn. Prabowo."


"Hahaa...anda bisa saja Mr. Prabowo, Jeni adalah adikku satu-satunya dan dia juga memiliki prusahaan di Jakarta, hanya saja dia lebih memilih menjadi sekertarisku."


"Oh iya, bukankah memimpin perusahaan itu menyenangkan?"


"Sebenarnya saya lebih nyaman berada di balik layar," jawab Jeni.


Sebenarnya dia muak jika harus berbasa-basi, tapi demi kakaknya malam ini dia akan bersikap baik.


"Di balik layar atau memang kau tak bisa mengurus perusahaan."


Deg.


Ucapan Max membuat suasana menjadi canggung, gila Max sangat terang-terangan dia memperlihatkan ketidak sukaannya.


Walau sedikit kesal dengan pria dihadapannya Jeni berusaha menguasai dirinya, dia mencoba tersenyum menjawab pria itu.


"Jika saya tak bisa memimpin perusahaan saya, maka saya tak akan bisa menjadi sekertaris dari Mr. Jordy pengusaha sukses."


"Dan satu lagi, saya bukan orang yang melepaskan milik saya tanpa pengawasan. Seperti anda yang hanya bisa bersembunyi di balik kekuasaan ayah anda," lanjut Jeni tegas.


Dan mereka yang mendengar Jawaban Jeni hanya bisa tersenyum, karena berhasil membuat Max Sugandar diam.


Max yang merasa dipermalukan dengan wanita jelek di depannya pun hanya bisa mengepalkan tangannya, seolah harga dirinya terluka.


"Oke Dad, aku sepertinya setuju dengan perjodohan ini. Dia bisa menjadi sekertaris pribadiku sekaligus istriku," ucap Max dengan senyum evilnya.


"Ok aku juga setuju,"


Maaf ya kalo ceritanya makin aneh vote dan coment jangan lupa ya.