
"Yuna, Mamah pulang." Cintya berjalan menuju ke kamar Yuna, namun dia justru melihat Yuna tidur di temani Dian. Sebenarnya hatinya sedikit tergelitik ketika melihat putrinya tertidur, dia sangat merasa bersalah karena kehilangan waktu berharga mereka hanya demi mencari uang, karena baginilah kehidupan di ibu kota harus siap dengan harga kebutuhan hidup yang tinggi.
Air matanya jatuh, dia sangat tak rela dengan semua ini dia ingin seperti ibu lainya yang bisa selalu di dekat putrinya bermain dengannya, menemaninya belajar, dan menidurkannya. Karena selama ini yang melakukannya adalah pengasuhnya saja.
"Ci, kamu sudah pulang?" tanya Dian.
"Iya, baru saja sampai." Cintya berjalan keluar dan merebahkan tubuh suburnya di sofa.
"Apa melelahkan, hingga kau terus menghembuskan nafas sejak tadi?hm."Dian mengikuti Cintya duduk di lantai.
"Sangat, ternyata pria itu sangat menyebalkan." Cintya teringat kembali dengan kata-kata pria itu.
"Then be a naugthy bitch, and make me exited always. so as not to regret paying you,"
Sepertinya di manapun dia berdiri, semua pria akan tetap menatapnya rendah."Apa yang Tn. George lakukan sampai kau seperti ini?"tanya Dian lagi.
"Hanya Gangguan kecil,"jawab Cintya yang sudah menutup ke dua matanya.
"Apa menyenangkan bercinta dengan pria kaya, dan tampan itu? Hm," ujar Dian yang menatap Cintya dengan sorot mata yang ingin tahu ceritannya.
Plak..plak...
Cintya memukul lengan Dian, "Eh gila kamu ya, kalo kamu mau tahu bercinta saja sendiri dengannya."Cintya berdecak kesal, dia tak ingin membicarakan pria itu karena hatinya masih sedikit sakit.
"Aduh, Cici sakit tahu."
"Kecilkan suaramu, nanti yuna bangun."
"Iya tuan putri, oh iya. Yuna setuju tinggal denganku selama kau pergi."
Cintya yang mendengar ucapan Dian pun membuka kedua matanya, dan Cintya segera duduk menghadap kearah Dian."Benarkah,"Cintya mengernyitkan dahinya tak percaya.
Dian hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum pada Cintya, Cintya bisa bernafas dengan lega karena Yuna bersedia tinggal dengan Yuna. Setidaknya saat pergi Cintya tak perlu menghawatirkan keadaan putri kecilnya itu.
"Mamah,"Yuna berlari ke pelukkan Cintya, dan bergelayut manja. Cintya sangat merindukkan putri kecilnya.
"Mamah, kenapa lama sekali. Yuna kangen Mamah,"ujar Yuna. Yuna memeluk erat Cintya seperti fia tak ingin melepaskan pelukan Nya dari Cintya.
"Maafkan Mamah sayang, tadi Mamah ada pekerjaan yang mendesak. Yuna tidak marah kan sama Mamah?" Cintya mencium kening putrinya, inilah kebahagiaan yang nyata ketika dia lelah bekerja maka semua akan hilang saat melihat senyum putri kecilnya.
"Hm, Yuna tidak marah."
"Kalo gitu, sekarang kita mandi, dan masak untuk makan malam. Yuna mau makan apa?" tanya Cintya manja.
"Jadi cuma Yuna yang di tanya mau m
akan apa? Dan tante di cuekin gitu." Dian mengerucutkan bibirnya, dan berpura-pura mengambek.
"No tante, kita akan makan ayam goreng dan sayur lodeh bikinan Mamah." Yuna mengeluarkan aji-ajiannya dia menampakkan wajah yang memelas agar Cintya mau menurutinya.
"Iya, baiklah tuan putri kalian menang."
"Yeyeye...yeyeye..." Yuna dan Dian bersorak gembira dengan serempak.
* * *
Disinilah Yuna sekarang di supermarket dekat dengan Apartemen mereka, karena permintaan Yuna dan Dian agar memasakkan makan malam ayam goreng , dan sayur lodeh. Membuat Cintya harus berbelanja karena semua bahan di kulkas habis,
"Ayam, bumbu ayam goreng, sayur-mayur untuk lodeh juga sudah. Sepertinya sekarang aku harus membelikan Yuna sedikit camilan, susu, dan ice cream." Cintya berjalan menyusuri rak-rak makanan ringan, dia memilih beberapa makanan ringan yang di gemari putrinya.
Setelah selesai dia berpindah ke rak yang menyediakan susu dan ice cream, tapi langkahnya sempat terhenti ketika dia merasa ada seseorang yang mengikutinya dan menatapnya diam-diam.
Namun tak ada siapapun di belakangnya, ketika dia menoleh hanya ada beberapa orang wanita dan pasangan suami istri. Cintya melanjutkan aktivitasnya memilih susu dan Ice cream, karena pasti dua putri di apartemennya sudah kelaparan.
Brakk...
Tapi saat dia hendak berbalik menuju kasir, Cintya terkejut bukan kepalang ketika dihadapannya berdiri seorang pria. muda, tampan, dan bertubuh sangat tinggi.
"Jo-Jojo," ujar Cintya dengan terbata-bata.
"Long time not see you, Cintya."
Pria itu pun tersenyum pada Cintya. Dan mengulirkan tangannya untuk berjabat tangan.
Namun bukan menjabat tangan pria itu, Cintya justru berbalik arah meninggalkan pria itu dan segera menuju kasir.
"Cintya, Cin." Jojo pun berlari mengejar Cintya menuju kasir, dan mengikutinya di belakang. Dan terus berusaha untuk berbicara pada Cintya tapi yang diajak bicara hanya diam seribu bahasa.
"Semua Rp. 1.85500," ujar kasir tersebut.
"Iya, mba terima kasih." Cintya membayarnya dan segera pergi meninggalkan pria itu, Cintya mencoba berlari menjauhi pria itu. Apa daya nya tubuh suburnya tak bisa diajak kompromi olehnya, kakinya justru terasa lemas seperti tak bertulang.
"Cintya tunggu." pria itu mencengkram tangan Cintya, dan memeluk nya. Cintya yang di peluk berusaha memberontak tapi usahanya sangat sia-sia, entah karena senang bertemu pria itu lagi?Atau karena rasa takut nya bertemu pria itu? Yang jelas kini hatinya sangat berdegup kencang.
"Maafkan aku Cintya, selama ini aku mencarimu tapi tak pernah bertemu." pria itu memeluk Cintya dengan sangat erat hingga membuat tubuh subur wanita itu terasa sesak.
"Lepaskan Jo, ini tempat umum,"ujar Cintya mencoba melepaskan diri.
"Aku akan melepaskanmu, jika kau bersedia berbicara denganku sebentar saja." pinta pria itu dengan sedikit memohon.
"Baiklah hanya 5 menit, aku sibuk." Cintya menjawab dengan nada sedatar mungkin.
"Boleh aku minta No. Tepl mu?"
"Tidak."
"Cintya, Aku hanya ingin minta maaf atas kesalahanku yang dahulu."
"Di maafkan."
Cintya sempat diam terkunci, dia tak bisa mengatakan apapun. Kepalanya terasa sakit kenapa baru sekrang dia bertanya, tidak pria di hadapannya tak boleh tahu Jika anak mereka masih hidup.
"Cintya,"panggil Jojo.
"Anak itu sudah mati, sejak kau membawaku ke dokter kandungan untuk menggugurkanku."
Setelah mengatakan itu Cintya pergi meninggalkan Jojo sendirian.
Dia berlari sebisa mungkin agar tak melihat pria itu.
Dia terus saja menangis sepanjang perjalanan menuju apartemen miliknya, rasanya sangat menyakitkan bertemu dengannya lagi.
"Oh, Tuhan kenapa aku bertemu denan pria itu. Hatiku masih terasa sakit melihatnya." bisik Cintya dalam hati.
Ting.
Ting.
Cintya berkali-kali memencet bel, tapi penghuni di apartemennya tak membukakan pintunya.
Ting.
Ting.
Ting.
Ceklek.
"Sabar non, aku tadi sedang memandikan Yuna. Kenapa kau berisik sekali?"
"Aku capek." Cintya membanting barang belnjaanya, dan minum segelas air minum dari kulkas. Cintya meminumnya dengan sekali tegukkan saja, dia merasa sangat haus sepertinya pertemuannya dengan pria itu membuat kerongkongannya kering kerontang.
"Calm down, Ci." Dian mengambil botol yang di pegang Cintya. "Ada apa denganmu, huh." sambung Cintya.
"Jojo,"hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Cintya, dan setelah itu Cintya meneruskan pekerjaannya dia mulai memasak untuk Yuna. Walau air matanya tak bisa di bendung, Cintya menggigit bibir bawahnya untuk menahan nya.
Dian yang melihat itu pun hanya diam, dan meninggalkan sahabatnya itu. Dia ingin membiarkan Cintya tenang dahulu dan merasa lebih baik lagi, karena Dian tahu semua cerita tentang Cintya semuanya.
"Cintya apapun yang terjadi aku akan tetap di sampingmu, sebagai sahabatmu. Menangislah jika itu bisa menenangkan hatimu saat ini,"lirih Dian.
"Argggghhh," Cintya membuang semua masakannya, dan berteriak frustasi. Dia terus menjambaki rambutnya seakan ingin menghilangkan ingatan itu.
Flash on.
Pagi ini akan jadi hari yang indah bagi Cintya, karena dia ingin segera bertemu dengan Jojo kekasihnya.
Iya tepatnya dua bulan sebelum kelulusan sekolah, Jojo menyatakan cintanya pada Cintya dan di sambut gembira oleh Cintya.
Hari ini, di hari kelulusan mereka Cintya ingin memberikan sebuah rahasia besar dan bahagia pada Jojo.
Cintya berjalan menghampiri Jojo yang sedang berfoto dengan teman-temannya, dia berharap Jojo akan mengajaknya berfoto.
"Jo,"panggil Cintya lirih.
"Hai Cintya, ada apa?" tanya Jojo yang mendekati Cintya, "Jo, can speak in private." pinta Cintya.
"Of course."
Cintya dan Jojo berjalan menuju taman sekolah, dia menggandeng erat tangan Cintya.
"What happened?"Jojo menaikkan sebelah alisnya, dan menanti jawaban Cintya.
"Jo, i'm pregnant, and it's been two weeks."
"No, it's not possible, you're pregnant. Cintya," ujar Jojo tak percaya.
"Did you set me up, huh."
"No, iam serius this is your son." Cintya menangis mendengar penolakan Jojo.
"Scratch the baby, I do not want have a child this fast."
"Dan ini cek tulis berapapun uang yang kau inginkan, bitch." Jojo melempar lembaran cek ke wajah Cintya.
"Well if that's you want, Jojo."
"Aku akan mengantarmu ke rumah sakit, yang bisa melakukan itu."
Jojo menyeret tangan Cintya menuju mobil miliknya, dia membawa Cintya masuk ke dalam salon wanita itu seperti pembantu saja.
Jojo mengemudikan kendaran dengan kecepatan tinggi. Sehingga mereka sampai tepat waktu, Jono menurunkan Cintya di depan klinik bersalin dan memintanya menggugurkan kandungannya.
"Jika aku tahu, anak itu hidup maka aku akan mbunuhnya. Ingat itu Cintya,"ujar Jojo dengan nada yang mengancam, sehingga mbuat Cintya beringsut sedih dan ketakutan.
Setelah kepergian Jojo, cintya berbalik arah dan pergi menuju terminal karena dia harus bersembunyi demi buah hatinya.
Sayang Mamah akan menjagamu sekuat tenaga, bersabarlah sayang.
Flash back off.
"Tidakkkkkk."
Kira-kira siapa ya pria itu
Hai maaf kalo ceritanyKiraa semakin ga menarik dan banyak typo, mohon bantuan untuk di koreksi.
Tetep ya aku minta vote dan comentya jika banyak kesalahan 😊😊😊😊😍😍😍