
Cintya mengerjapkan kedua matanya
Memandangi langit-langit ruangan itu, dia merasa sangat asing dengan ruangan ini. Bagaimana tidak ruangannya luas, bercat dinding berwarna Abu-abu, serta terdapat barang-barang yang mewah.
"Kau sudah bangun, "
Cintya mengernyitkan dahinya mencoba mengenali pria itu dari suaranya, "Tn. Jordy, " gumannya.
"Apa George yang melakukannya?" Tanya Jordy dengan sorot mata yang penuh dengan amarah ketika menyebut nama George.
"Hm, anu, itu. "Cintya menjadi canggung tak mungkin dia menjawab pertanyaan pria ini dengan jujur, karena dia tak ingin ada yang tahu ada apa dengan dia dan George.
"Katakan dengan jelas Cintya.! " Jordy mendekati Cintya dan mengelus lembut rambutnya, sorot matanya pun melembut saat menatapnya.
Membuat Cintya sedikit terpesona dengan pria itu, dengan sikap lembut yang ditunjukan padanya.
Namun Cintya cepat tersadar dia segera turun dari kasur itu dan mencari tas miliknya, dia lupa jika hari ini Yuna akan pulang.
"Dimana tasku Tuan? Aku harus menghubungi putriku," tanya Cintya sembari kedua matanya menyusuri semua ruangan itu.
"Ada di dalam lemari, ada apa Ci? "
"Maaf Tuan, dan terima kasih bantuannya tapi aku harus pergi sekarang." Cintya mengambil tas nya dan beranjak pergi.
"Tunggu, aku akan mengantarmu. " ucap Jordy.
"Tidak perlu Tuan, aku bisa pulang sendiri. " jawab Cintya malu-malu.
Tanpa memperdulikan ucapan Cintya, Jordy menuntun Cintya keluar dari kamarnya dan menunju mobil miliknya. Dia menyeretnya setengah kasar dan membawa nya masuk ke dalam mobil, "Diam dan duduklah keadaanmu masih lemah, " Jordy mengemudikan mobil audy miliknya. "Aku akan membayar hutangmu pada George, Jadi kau tak perlu bekerja padanya lagi."
Mendengar apa yang Jordy katakan Cintya menatapnya dengan sedikit intens, "Maksud Tuan? " Cintya mengernyitkan dahinya tak percaya dengan apa yang pria di sampingnya katakan.
"Maksudku, aku akan membayar dua kali lipat apa yang George bayar. "
Cintya terlihat sangat lemah, di tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Apa dia serendah itu sampai pria ini juga akan membayarnya, oh Tuhan ada apa dengan takdirku yang harus selalu berhubungan dengan pria-pria menjengkelkan dan membuat hatinya sakit.
"Turunkan aku di sini, asal kau tahu aku bukan barang yang bisa di perjual belikan. Camkan itu Tuan Jordy, "
Cintya sangat geram di buatnya, selama ini dia berfikir jika Tuan Jordy berbeda dengan George dan pria lainnya.
"Aku tidak merendah kan mu, justru aku ingin melindungimu dari pria itu."
"Berhenti, aku tak mau dengar lagi. Kau sama saja, "
"Sudah tenanglah dan diam, bukankan kau ingin bertemu Yuna. "
Cintya terdiam saat mendengar nama putrinya disebut, bahkan pria yang baru mengenalnya masih ingat nama putrinya berbeda dengan George hanya mementingkan tubuhku.
"Bodoh, " bisikku dalam hati, iya lah George tak mungkin ingat putriku karena aku hanya wanita pemuas nafsunya saja.
Setelah percakaapa kami Jordy mengendarai mobil dengan kecepatan maksimal, jika dilihat dari raut wajahnya dia seperti sedang marah.
Jojo Calings...
"Halo, "
"Dimana kau? aku di lobi apartemen mu, "
"Iya aku sedang dalam perjalanan pulang. "
"Aku tunggu cepatlah. "
"Baik. " klik.
Caling off.
* * *
Aku pun segera turun dan masuk ke dalam gedung apartemenku, aku setelah sampai di lobi aku bergegas menghampiri Yuna.
"Mamah, " teriak Yuna .
"Sayang, miss you."
"Cup. " Cintya mencium pipi putrinya dan segera menggendongnya, ketika Cintya melihat ke arah mata Jojo seperti ada rasa marah yang terlintas di ke dua matannya.
"Trrima kasih, selamat tinggal. " ucap Cintya dan berjalan meninggalkan Jojo, namun baru saja berapa langkah tangan Jojo menghentikannya.
"Dari mana kau? Berapa uang yang kau butuhkan sehingga harus menjual tubuhmu setiap malam. " Jojo masih saja menatap lurus ke depan, menatap pria yang datang di belakang Cintya.
"Jaga ucapanmu, di sini ada Yuna. " Cintya membulatkan kedua matanya dan menatapnya dengan emosi yang akan meledak jika saja Yuna tak bersamanya. Tapi Cintya mengernyit kan dahinya melihat searah apa yang Jojo lihat, "sial, Jordy ."umpat Cintya lirih.
"Berhenti dari pekerjaanmu! dan aku akan menikahimu, Cintya. " teriak Jojo.
"Aku yang berhak atas dirinya,"kini Jordy ikut bicara.
Cintya yang sedari tadi memperhatikan mereka memilh diam, dan meninggalkan keduanya di sana karena dia tak mau Yuna mendengar pembicaraan dewasa antara Jojo dan Jordy.
Dia sudah cukup lelah dengan masalah hari ini, rasanya ingin menangis menjerit sekuat tenaga akan tetapi dia tak mungkin melakukan itu di hadapan putrinya.
* * *
"Mam, uncle Jojo sangat baik. " ucap Yuna dengan gaya anak kecil yang khas.
"Oh, "Cintya hanya menanggapi dengan sederhana, walau sebenarnya di penasaran apa yang dilakukan putrinya dan Jojo.
"Apa Mam tak mau tahu? " Yuna mengusap pipi Cintya, menanti jawaban yang Cintya katakan.
"Memang apa yang kalian lakukan? " tanya Cintya.
"Aku bermain di mall, dan uncle membelikan Yuna Ice Cream. Lalu kita bermain dan bercerita sampai uncle, dan aku tertidur. "
Yuna menjelaskan dengan semangat yang menggebu-gebu, "Mam uncle bilang, aku boleh memanggilnya Daddy. "
"Oh iya, uncle mengatakan itu?" Cintya mengernyitkan dahinya seolah tak percaya dengan apa yang Yuna katakan.
"Iya Mam, bahkan Dad mengajariku bernyanyi, membaca, berhitung dan mendongeng. "
"Jadi seperti itu iya Mam memilikki Daddy. " Yuna menatap Cintya dengan perasaan yang tak bisa di jelaskan, tapi Cintya tahu jika Yuna sangat merindukan sosok seorang ayah.
"Okay, jika uncle Jo mengizinkan Yuna memanggilnya Dad. Maka anggap saja Uncle Jo Daddy Yuna. "
"Boleh Mam, Yuna Love you Mam." Yuna memeluk Cintya dengan raut wajah yang penuh kebahagiaan, Cintya berharap putri kecilnya akan selalu tersenyum seperti ini.
"Sudah Mamah mau masak dahulu, jika Mamah tetap di sini Yuna akan bercerita terus tanpa henti. Yuna benare cerewet, " canda Cintya .
"Mamah Yuna baik. "
Cintya hanya tertawa geli melihat putrinya marah, dia akan sangat terlihat menggemaskan sekali.
Cintya memilh untuk memasak di dapur, dia sangat kalaparan karena di rumah Jordy dia tak sempat sarapan.
Ketika Cintya mengiris bawang tiba-tiba saja air matanya jatuh menetes, dia tak tahu air matanya karena dia mengiris bawang atau karena merasa marah.
Dia teringat dengan kata - kata pria - pria itu, kata yang sangat menyakitkan hatinya.
"Ingat ini seumur hidup mu, jika kamu hanya milikku. Pelacur ku, dan aku yang membelimu. Jadi jangan Coba-coba mendekati pria lain karena aku akan memberikan hukuman yang lebih berat, "
Apa salahnya hingga dia menerima cobaan seperti ini, dibuang oleh ibu kandungnya dan di jual oleh ayah tirinya. Jika dia tak memiliki Yuna penyemangat hidupnya mungkin dia sudah mati, bahkan sekarang ketiga pria itu ingin membayar Cintya.
Bahkan pria yang dia anggap lebih baik dari George pun sama seperti itu, menganggapnya seperti barang yang bisa di perjual belikan.
"Maksudku, aku akan membayar dua kali lipat apa yang George bayar. "
Jojo pria dari masa lalunya pun begitu, mengatakan akan membayarnya. Apa dia serendah itu di mata mereka, memang Cintya wanita bitch tapi dia bekerja seprti ini karena sebuah keterpaksaan. Iya semua karena uang dia harus menjadi wanita single perents di usia muda dan juga harus memenuhi kebutuhan rumah tangga.
"Dari mana kau? Berapa uang yang kai butuhkan sehingga harus menjual tubuhmu setiap malam. "
"Berhenti dari pekerjaanmu! dan aku akan menikahimu, Cintya. " teriak Jojo.
Apa
Cintya bingung harus bagaimana ketiga pria itu bahkan sama-sama akan membayar hidupnya, apa sifat orang kaya seperti itu meremehkan kehidupan orang lain. Kenapa pertemuan nya dengan George membuat hidupnya hancur. Tapi gila nya lagi dia mulai mencintai pria itu.
* * *
Setelah kepergian Cintya, Jojo dan Jordy saling memberika tatapan tajam seakan ingin saling membunuh, bahkan mereka tak memperdulikan jika banyak orang yang memperhatikan.
"Aku yang berhak atas dirinya,"kini Jordy ikut bicara.
"Jangan mimpi Tuan Jordy, karen dia ibu dari anakku dan aku akan menikahinya. " ujar Jojo dengan mantapnya.
"Oh ya, apa pria manja dan anak Mommy. Bisa menjaga wanita selemah Cintya, bukankah kau sudah membuang mereka lima tahun lalu. "
Jojo tersinggung dengan ucapan Jordy, dia tak mengerti kenapa Cintya bisa berhubungan dengan pria ini. Dan sepertinya dia harus menyelidiki latar belakang Jordy.
"It's not your bisnis, Mr. Jordy. "
"You know I love Cintya forever. "
Lanjut Jojo menegaskannya.
"Cih, kekanakan kau tak akan mampu melindungi mereka, dari kejamnya ibu dan kakak mu yang sakit jiwa itu. "
"Kurang ajar kau brengsek. "
"Bukk. "
"Bukk, "
Kedua pria itu terlibat pertengkaran hebat, keduanya saling memukul dan menyakiti. Cintya sangat mempengaruhi mereka sehingga rela di perlakukan seperti ini.
Disaat mereka berdua bergulat memperebutkan Cintya, justru prua lain berdiri dan menyaksikan mereka berantem dan hanya memberikan senyum liciknya.
"Hanya aku yang akan memiliki Cintya, kalian bermimpilah. "
Hufh entah di part ini bagus atau tidak tPi setidaknya kalia menikmatinya. Jangan lupa vote dan comennya y😍😍😍😍😄