
From: 0823 XXXX XXXX
Nona Cici bisakah besok kita makan siang bersama, aku tunggu di cafe.
Jordy.
Cintya yang membaca pesan singkat itu hanya mengernyitkan dahinya, dia tak Tahu harus bagaimana membalas pesan Jordy. Haruskah dia menyetujuinya atau menolaknya, tapi mungkin akan lebih baik dia mengatakannya pada George.
Cintya tak ingin George menjadi salah paham padanya nanti.
"Ada apa?" tanya George yang tiba-tiba muncul disampingnya.
"Tidak ada apa-apa, hanya sms dari Tn. Jordy yang meminta bertemu denganku." Cintya meletakkan kembali telphonnya di nakas.
"Ada apa? Kenapa dia ingin bertemu denganmu? Apa dia salah satu klienmu di clab?" George bertannya tanpa jeda sedikitpun, dia terus saja berbicara sehingga membuat Cintya memilih untuk pergi meninggalkannya dari pada mendengar ocehannya.
"Hai, kau belum menjawab pertanyaanku." George berteriak karena kesal ucapannya tak di hiraukan.
"Is not your bisnis, sir."
"Of course, is my bisnis Nn. Cici. Karena kamu sudah aku beli!"
Deg...
Langkah kaki Cintya terhenti, kata-kata George sangat menusuk hatinya. 'Aku Beli,' ucapan itu seakan mengingatkan statusnya, Cintya tak ingin terlihat cengeng di hadapan pria itu, tapi tak tahu kenapa air matanya itu tak bisa di ajak sedikit kompromi Air matanya jatuh tak tertahankan, Cintya berlari pergi meninggalkan George yang terdiam seakan menyesali apa yang dia katakan.
* * *
George masih saja berdiri di dekat pohon yang rindang setelah setengah jam dia mencari keberadaan Cintya, dia memperhatikan setiap gerak-gerik wanita itu. Iya Cintya, dia tak tahu jika kata-katanya menyakiti wanita itu. Walau sebenanya dia juga tidak salah karena memang Cintya adalah wanita yang dia beli, wanita bertubuh subur itu masih saja sesegukan dia menangis sejak satu jam lalu sehingga membuat hati George terasa nyeri melihatnya.
"Apa yang harus aku lakukan, apakah aku harus minta maaf atau bagaimana? Akh.. Sial ini sangat menyiksaku." ucap George lirih.
Akhirnya dengan keberaniannya dan merendah kan sedikit harga dirinya, George akan menghampiri wanita itu setelah perang batin. sialnya dia sudah terlambat, sudah ada seseorang yang ada di samping Cintya. Pria yang membuatnya kesal setengah mati yaitu Jordy, dia memilih untuk tetap bersembunyi dan mendengarkan percakapan mereka.
"Selamat malam, Nona Cici."
Cintya menoleh ke arah suara pria yang menyapanya, "Hm, sore Tn. Jordy." Cintya kembali menghapus sisa air matannya.
"Ini, hapus air matamu." Jordy memberikan sapu tangannya untuk di pakai Cintya.
"Terimakasih,"
"Ada apa? Kenapa kau menangis? Apa kau merindukan putri kecilmu, ?" tanya Jordy, sehingga membuat Cintya terkejut, dan mengernyitkan dahinya. "Bagaimana Tn.Jordy, tahu." Cintya memasang raut wajah penuh keingintahuan.
"Oh, itu hanya rasa tertarikku padamu Hingga mencari tahu tentangmu, maafkan aku." Jordy duduk di samping Cintya.
"Hal biasa saat mereka tertarik denganku,Mereka akan mencari tahu tentangku, dan setelah bosan mereka membuangku."
"Lagi pula tak ada hal yang menarik dariku," sambung Cintya.
"Kau salah Ci, jika kau tak menarik tak mungkin Tn. George bersamamu. Hm,"Ujar Jordy
"Oh ya, apa aku semenarik itu." Cintya tertawa mendengar kata-kata Jordy, baginya terlihat lucu jika ada yang mengatakannya menarik.
"Iya kau sangat menarik perhatianku saat pertama aku melihatmu," ujar Jordy sambil mencoba memegang tangan Cintya, Cintya langsung terdiam tanpa bisa berkata, karena baru kali ini ada pria yang mengucapknnya dengan to the point.
Cintya sempat terhanyut melihat senyum pria ini, senyum yang indah membuat sedikit hatinya dag dig dug.
Namun di balik hati cintya merasa dag dig dug, seseorang pria yang sejak tadi menguping pembicaraan mereka hanya bisa menahan marah, dia mencoba menahan emosi nya agar tidak menghajar Jordy yang berani menyentuh sesuatu miliknya, karena kali ini dia ingin bersikap baik di hadapan Cintya.
"Ceritakan padaku, apa putrimu secantik ibunya? Hm," tanya Jordy.
"Yuna, namanya Yuna. Dia anak yang lucu dan penurut , Yuna sangat mengerti pekerjaanku tapi sayang aku belum bisa membahagiakannya."
Mata Cintya terlihat berkaca-kaca, dia memang merindukan putrinya, Dia bahkan belum menghubungi putrinya sejak sampainya di Bali.
"Aku percaya kau bisa membahagiakannya, karena kau wanita hebat."
"Cihh, kau pintar bergurau Tuan."
Cintya merasa sedikit terhibur dengan kehadiran pria ini, pria ini sangat berbeda dengan Tuannya. Dia pria yang manly, humoris, dan menyenangkan. Berbeda dengan Tuannya yang sombong, menyebalkan dan sok bossy.
"Ayo, hari sudah mulai malam dan Pasti udaranya akan semakin dingin."
Jordy mengulurkan tangannya untuk membantu Cintya berdiri.
"Terimakasih Tn. Jordy," ucap Cintya.
"Untuk apa?"
"Karena sudah menemaniku dan sedikit menghiburku."
"Cici, sudah sore kita pulang!" perintah George yang tiba-tiba datang dari arah samping mereka hingga membuat Cintya merasa canggung.
Cintya seakan tahu jika George sedang menatapnya dengan penuh amarah, dia pasti akan semakin salah paham dengan Jordy.
"Tn. Jordy, sepertinya aku harus pulang lebih dahulu." pamit Cintya.
"Okey, jangan lupa besok jika kau punya waktu."
"Dia tidak akan punya waktu makan bersamamu," potong George, dan segera menggandeng Cintya agar mengikutinya.
* * *
Cintya terus berjalan di belakang pria itu, dia tak ingin jika pria itu mengeluarkan kata-kata menusuk hatinya.
"Berjalan di sampingku, jangan di belakangku kau bukan pembantuku!" perintah George.
"Iya bukan pembantumu, tapi budakmu," ujar Cintya yang masih merasa kesal dengan George.
"Sial wanita ini benar-benar membuatku marah." bisiknya dalam hati.
"Brakkk,"
George membuka paksa pintu kamar hotel mereka, dia kesal Cintya mengacuhkannya sedangkan dengan Jordy dia bisa tersenyum hangat,
Dan masuk ke dalam kamar miliknya.
George berfikir kenapa dia selalu bertengkar dengan wanita itu, dia merasa tak suka jika Cintya bersama pria lain apa lagi senyunya bukan untuk dirinya. Dia tak berfikir ini cinta George hanya percaya jika perasaan ini akan hilang saat dia sudah bosan dengan wanita ini.
"Akhh..sudahlah lebih baik aku mandi."
"Lagi pula perutku sudah sangat lapar," sambung George yang sejak tadi sudah mengusap perutnya yang mulai berbunyi.
Di kamar lain Cintya lebih memilih memejamkan matanya sejenak, dia merasa matanya terasa sakit karena menangisi pria angkuh itu.
"Akh, nyaman sekali tidur seperti ini. pasti akan nyenyak tidurku malam ini, dan sepertinya aku harus mandi."
Cintya membuka pakaiannya satu- persatu dan segera masuk ke kamar mandi, namun dirinya tak tahu jika ada George yang melihatnya di balik celah pintu, George sangat menginginkan tubuh itu. Dia sudah seperti pria maniak seks ketika bersama Cintya, "Brengsek, wanita itu sedang ngambek pasti tak mau melayaniku."lirihnya dalam hati.
Diam-diam George masuk ke dalam kamar Cintya, dan membuka pintu jamar mandi itu, kali ini George terlihat seperti pengintip profesional. Padahal sebelumnya dia tak pernah melakukan hal segila ini.
Dia memperhatikan setiap inchi tubuh itu, dia sangat hapal setiap lekukan tubuh Cintya. Tubuh Cintya sangat seksi di bawah guyuran air membuat sesuatu miliknya yang di bawah sana memberontak.
" plakk,"
George menampar dirinya, dia ingin menyadarkan dirinya dari hal kotor seperti ini. Dia adalah George pria yang di hormati dan di segani, dia tak boleh melakukan hal ini. Akhirnya dia pun berdiri tegak membenarkan pakaiannya dan meninggalkan kamar Cintya, George berjalan menuju ruang tv dan memesan makanan via telphon.
"Hampir saja aku mempermalukan diriku di hadapan Cici, hufff." George menghembuskan nafasnya kasar, dia mencoba menetralkan dirinya agar bisa terlihat normal nantinya di hadapan Cintya. George memutuskan mengerjakan pekerjaannya untuk rapat esok hari dengan para pemegang saham di kantornya.
Ting..tong..
Ting...tong...
"Ci, tolong bukakan pintu aku sedang sibuk."
Cintya yang mendengar namannya di panggil pun, segera menghampiri George "Ada apa?" tanya Cintya.
"Bukakan pintunya, sepertinya pesananku sudah datang."
George menjawabnya tanpa melihat ke arah Cintya, dia tahu dari nada suarannya Cintya masih marah dengannya.
Cintya membukakan pintunya danengambil makanan yang di pesan George, dia meletakkannya di meja makan dekat ruang tv.
"Kau ingin terus bekerja atau makan dahulu," Cintya menyiapkan air minum di samping piring George.
"Tentu aku ingin makan, aku sudah lapar sekali."
George berjalan menuju meja makan dan menyantap makanannya, "makanlah yang banyak, Ci."
"Hm,"
Mereka makan malam dalam diam, George sengaja tak membuka pembicaraan karena dia tak ingin membuat Cintya tambah marah dengannya.
Cintya merasa canggung suasananya tiba-tiba menegangkan, dia berfikir jika George masih marah padannya sehingga tak banyak bicara, sehingga mau tak mau Cintya harus mencairkan suasananya.
"Tuan, apa malam ini kita juga akan bercinta?"
"Uhuk..uhuk.."
George terbatuk-batuk, dia tak habis fikir jika Cintya bisa bertanya seperti itu. Dia memang menginginkan tubuh wanitanya malam ini, setelah melihat tubuhnya dalam keadaan bugil. Tapi sebagai pria dia punya harga diri, Cintya bertannya seperti itu seakan dia pria yang maniak dengan sex.
"Apa maksudmu bertanya seperti itu? Apa kau fikir wajahku seperti pria gila sex."
"Prang"
George membanting sendok yang dipegangnya, pertanyaan Cintya membuat mood nya rusak. Dia pun pergi mengambil berkas-berkas miliknya dan pergi masuk ke kamarnya.
Cintya melihat itu hanya merasa kebingungan, apa dia sudah salah bicara sampai George semarah itu.
"Sebaiknya kau tidur dan istirahat, aku tak mau kau sakit saat bersamaku." George mengatakannya saat di dalam kamar, dan hal itu semakin membuat Cintya heran.
"Pria aneh." bisik nya.
Haiii...
Maaf ya lama update, lagi banyak kerjaan. Maaf juga kalo ceritanya kurang menarik .
Terimakasih ya untuk klian yang sudi membaca tulisanku.
Tetep aku ga bosen minta saran kalian. Dan vote nya . hehee