Why if I bitch

Why if I bitch
Bab 14



"Apa kau akan meninggalkanku sendiri."


Cintya sangat terkejut kenapa Jojo bisa ada satu pesawat dengannya, Cintya mengernyitkan dahinya karena kebingungan harus melakukan apa.


"Jangan marah Cintya, aku hanya ingin memperbaiki hubungan kita saja." Jojo menghadapkan wajahnya ke arah Cintya.


"Apa lagi yang kau inginkan, Jo."


"Apa tak cukup kau menyakitiku," lanjut Cintya.


"Stt, diamlah. Kau tahu aku sangat tersiksa dan maaf aku datang terlambat," ujar Jojo dengan wajah nampak sedikit kecewa.


"Dan memang sudah terlambat, Jo."   Cintya berkata tegas dan jelas.


"Sayang, aku ingin bertanggung jawab atas semua kesalahanku."


"Aku dan Yuna tak membutuhkan tanggung jawabmu, aku hanya butuh kau pergi dariku seperti dulu."


Setelah mengatakan itu Cintya menggunakan headseat miliknya, lalu mengeraskan suara mp4 dan mulai memejamkan matanya dia ingin benar-benar mengacuhkan pria itu.


Benar saja sesampainya di Bandara SOETTA Cintya terus mengabaikannya, tapi Jojo terus saja bercerita tentang masa lalu mereka. Jika saja ini bukan di tempat umum mungkin Cintya sudah menampar pria ini dan mencaci makinya.


Walau tubuhnya berisi Cintya wanita yang gesit, setelah Cintya mendapatkan Koper miliknya dia segera berlari menaiki Taksi yang berjejer di luar Bandara.


"Cintya, tunggu."


"sial, " umpat nya dan


Jojo berdecak kesal karena kopernya keluar terlalu lama, sehingga membuat dia kehilangan jejak Cintya. Kali ini dia berjanji akan membahagiakan Cintya dan membuat wanita itu mencintainya lagi.


Tapi bukan Jojo namanya jika tak tahu apa pekerjaan Cintya, anak Cintya, apartemen Cintya. dia sudah mencari tahu sejak lama Tapi Jojo tak pernah punya keberanian saat itu, dia hanya bisa menyesali perbuatannya, sampai dia tahu jika Cintya di beli kakak ipar nya. Dia sangat takut dengan dirinya karena menyebabkan kehidupan Cintya seperti ini.


* * *


Cintya berjalan memasukki apartemen milik Dian, dia ingin melihat putri kecilnya yang sedang sakit.


"Tok..tok..tok.."


"Dian, Dian, Dian buka pintu nya."


Cintya merasa sangat resah dan gelisah saat menunggu pintu apartemen Dian terbuka, bahkan ini sudah satu jam dia menunggu di depan pintu tapi tak ada jawaban dari dalam.


Dan sialnya lagi Hp miliknya mati, dia membongkar koper miliknya berharap jika power bank miliknya ada di koper, "Akhirnya aku menemukannya." Cintya langsung mengisi ulang batrai Hp nya,


Lima menit


Sepuluh menit


Cintya sangat tak sabar dia ingin segera bertemu Yuna putrinya, sejak kecil Jika Yuna demam dia selalu ingin di peluk Cintya. Cintya mencoba menghubungi no Hp Dian tapi selalu maiboks, "Sial, dimana wanita inj membawa putriku." umpat Cintya.


"Apa kau menunggu Yuna, anak kita?"


Lagi, lagi, pria ini mengagetkannya dan mengikutinya seperti stalker gila.


"Kenapa kau di sini, huh."


"Aku hanya ingin memperbaiki hubungan kita, dan bertemu dengan Yuna anak kandungku." Jojo berjongkok menyamakan tubuhnya dengan Cintya, namun Cintya hanya menoleh ke arah nya dan diam tanpa berkata apapun.


"Mamah," suara Yuna seakan menggema di lorong apartemen Dian, Yuna berlari berhambur ke arah Cintya dan memeluknya erat.


"Mamah, Yuna rindu Mamah."


Cintya membelai rambut putrinya dan menciuminya, jujir saja Cintya lebih merindukannya, benerapa hari tak melihatnya membuatnya sangat rindu setengah mati.


"Mamah juga rindu Yuna, aunty bilang Yuna sakit?Hm,"


"Iya Mamah, Yuna hanya merindukan Mamah saja." celoteh putri cantik itu.


"Kenapa kau sudah pulang, Ci?"


"Nanti aku jelaskan, ayo kita masuk!" seru Cintya, Cintya masih mengacuhkan kehadiran Jojo sehingga membuat Dian mengernyitkan alisnya.


"Mam, siapa uncle ini?" tanya Yuna.


"Ini temen Mamah, Yuna masuk ya sama aunty."


"Di, bawa Yuna masuk!" perintah Cintya.


"Hai, Yuna kau sangat cantik seperti Mamah mu." sapa Jojo, dia sengaja  menghalangi langkah Yuna agar tak jadi masuk ke dalam.


"Thank you uncle,"


"Bolehkah uncle ikut masuk? "


"Mam,  boleh ya uncle ikut kita. "


Cintya tak bisa menolak permintaan Yuna,  dia tahu jika Yuna merindukan sosok ayah dalam hidupnya. "Masuklah!?" Perintah Cintya.


Sejak pria itu ikut masuk Ke rumah Dian Yuna Dan Jojo asik bermain bersama,  Dan melupakan dirinya bahkan Yuna tampak terlihat bahagia, Membuatnya sedikit cemburu dengan Jojo.


"Jadi, Apa dia pria itu? " Tanya Dian, 


"Hm,  dia pria itu ."


"Ya berantakan semua."


Setelah mengatakan ITU Cintya pergi meninggalkan Dian,  dia memilih masuk ke kamar Dian untuk membersihkan diri dan istirahat sejenak, dia merasa lelah dengan semua.


Cintya mengguyur tubuhnya di bawah guyuran air shower, sejenak dia berfikir tentang George yang menyuruhnya kembali ke jakarta sendiri, dan wanita yang ada di sampingnya. Kenapa dia marah?  Kenapa dia harus kesal saat memikirkan itu? Perasaan apa ini,  apa memang dia mencintai pria itu? 'Oh tuhan tolong aku'


Tanpa sadar dia memang merindukan George,  wajahnya,  sentuhannya,  bahkan suaranya yang kerap mengeluarkan kata-kata kasar.


* * *


"Yuna, apa kau sudah sekolah? "


"Sudah uncle, Yuna sekolah kelas satu." Jawab Yuna.


"Berapa usiamu? "


"Enam tahun uncle. "


Jojo sangat bahagia bisa sedekat ini dengan putrinya,  walau sebelumnya dia hanya bisa melihat dari kejauhan.


"Jadi seperti ini rasanya berdekatan denganmu anakku," bisik Jojo dalam hatinya.


"Uncle,  Ada apa?  Kenapa uncle melihat Yuna seperti itu? " pertanyaan Yuna menyadarkan Jojo dari lamunannya,  dan Jojo hanya tersenyum manis ke arah Yuna.


"Kau tahu kau sangat cantik seperti ibumu. "


"Apa uncle itu, Daddy aku? "


Deg.


Pertanyaan Yuna sangat mengejutkan


jojo, bagaimana  bisa anak berusia 6 tahun bertanya dengan tepat seperti itu. Jojo bingung  harus berkata apa?  Lidahnya seakan kelu kaku tak dapat di gerakan. Apa ini , dia ingin mengakuinya tapi hatinya belum siap memang diapantas di sebut pengecut.


"Bukan, uncle sahabat dari  Daddymu." jawab jojo dengan sedikit terbata-bata.


"Oh iya, kalo begitu tolong katakan pada Daddy agar segera pulang. Yuna  sangat merindukan Daddy, " kedua mata gadis itu mulai berkaca-kaca,  Jojo segera merangkul Yuna dan ingin menenangkannya.  Hatinya pun sebenarnya menjerit dan sakit ketika Yuna mengatakan itu, dia ingin berteriak di depan putrinya bahwa dia Daddya nya,  dan dia juga merindukan Yuna.


"Yuna tunggu Daddy,  sampai Daddy siap memberitahu semua pada dunia.  Jika Yuna putri Daddy,  Daddy juga sangat merindukan Yuna. " lirihnya dLam hati.


"Iya, pasti uncle sampaikan. "


Jojo mengusap lembut rambut Yuna dan menciumnya dengan penuh kasih sayang.


"Yuna ayo kita makan,"


Cintya menggendong Yuna,  dan membawanya ke meja makan.  Jojo pun mengikuti Cintya dari belakang.


"Setelah makan sebaiknya kau pulang, kami butuh istirahat."


Perintah Cintya.


Jojo hanya menganggukan kepalanya, dan tersenyum manis ke arah Yuna. Dia benar-benar merasa bersalah pada gadis kecil nya,  karena masih belum berani mengakuinya.


* * *


Cintya memandangi wajah putri kecilnya yang sudah tertidur lelap sejak satu jam lalu, dia sangat menyayangkan dengan apa yang dia dengar tadi.


Memang dia mendengar percakapan antara Jojo dan Yuna,  dia pun sudah tahu jika Jojo tak mau mengakuinya tapi entah kenapa hatinya sangat sakit ketika Jojo harus membohongi putrinya .


Bukankah pantas jika dia membenci pria itu,  pria yang hanya bisa sembunyi di balik kekayaan kedua orang tuanya Dan tak pernah bisa mengambil keputusan.


"Ci, " panggil Dian lembut.


"Jadi dia ayah kandung Yuna? "Tanya Dian.


"Iya,  dia pria itu! "


"Lalu apa rencanamu dengan nya ?"


"Maksudmu? " Cintya balik bertanya pada Dian,  dia mengernyitkan dahinya seakan tak mengerti dengan apa yang Dian katakan.


"Apa aku harus memperjelasnya? Aku harap apapun rencana kalian nanti kalian tidak saling melukai termasuk Bagi Yuna. " Sambung Dian.


"Pasti."


Cintya menghembus kan nafasnya kasar,  dia tak pernah berfikir akan bertemu pria itu lagi. Setelah dia mendengar kepergian pria itu ke luar negri.


"Ehm,  lalu liburanmu bagaimana? "


Tanya Dian,  dia mencoba mengajak Cintya berbicara agar tak selalu tampak murung.


"Berantakan,  saat Jojo,  dan isti Tuan George datang. "


"Istri? "Dian mengerutkan dahinya.


"Iya wanita cantik,  berwajah ayu,  dan tubuhnya langsing.  Benar-benar idaman pria, "jawab Cintya.  Dia tak mengerti mengapa bisa mendeskripsikan wanita itu seperti ini,  sebenarnya dia sangat jengkel jika mengingat wanita itu.


"Apa kau cemburu? "


Wah kira-kira jawaban Cintya apa ya????  Maaf lama update semoga kalian suka😄😄😄😘