
"Yuna,"
"George,"
"Daddy," suara Yuna menggema di restoran ini, dia segera turun dari gendongan George dan menghampiri Jojo.
Cintya menegang dia tak menyangka akan bertemu pria itu, dia berpikir pasti ini tidak akan baik Sedangkan George memasang wajah yang datar.
"Jadi ini yang membuatmu sibuk dan mengabaikanku." ucap wanita berada di samping Jojo, iya dia adalah Laurent.
"Ayo kita pergi sayang, Yuna kemari." perintah George, dan George sengaja menekankan kata sayang pada Cintya.
"Jangan pernah memerintah seperti itu pada putriku," Jojo menatap tajam ke arah Cintya.
"Dan kau kita bicara nanti, aku akan membawanya bersamaku." lanjut Jojo.
"Tapi Jo, aku baru saja bersamanya."
Namun Jojo tak mengatakan apapun dia berlalu pergi dengan menggendong Yuna, "Aku tak menyangka kau bukan hanya bitch, tapi kau ibu yang buruk karena berselingkuh dengan pria beristri."
Deg.
Cintya limbung dia seperti tak mampu menahan berat badannya, kata-kata wanita tadi sangat membuatnya sakit. Dia tak tahu apa-apa, iya wanita itu tak tahu apa-apa tentangnya. Bagaimana dia berjuang membesarkan Yuna sendiri tanpa seorang pun membantunya.
"Sayang, kau tidak apa-apa?"
"Iya aku tidak apa-apa, sebaiknya kau pulang saja."
"Tidak, aku akan mengantarmu pulang." jawab George dengan tegas.
Cintya dan George meninggalkan restoran itu dan mengantarnya pulang, dia ingin menunggu putrinya di rumah karena beberapa hari ini dia sangat merindukannya.
Tanpa mereka sadari Jordy sebagai penonton setia, dia sebenarnya geram ingin ikut campur masalah ini. Tapi belum saat nya karena dia hanya ingin memantau keselamatan Cintya dan Yuna.
"Tak usah kau pikirkan ucapan Lau, karena kami akan segera bercerai."
"Entahlah aku tak tau, aku lelah Ge." Cintya memejamkan ke dua matanya, dia sedang malas untuk berbicara. Hatinya sangat sakit mendengar hinaan Laurent, belum lagi Yuna yang di bawa Jojo pergi.
Padahal dia sudah punya rencana sendiri, tadinya dia hanya ingin berdua bersama Yuna, bermain, berbelanja, dan membelikan Yuna mainan yang baru. Tapi semua rusak karena mereka, iya mereka George, Jojo, dan Laurent.
Akhirnya sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam tanpa bicara, George hanya bisa mencoba mengerti keadaan yang dia hadapi.
* * *
Saat sampai di depan Apartemen Cintya tak mengucapkan sepatah kata pun, dia berjalan lebih dahulu dan meninggalkan George di belakang.
Sebenarnya jika Cintya tak bertemu dengan Laurent dan Jojo, malam ini dia ingin bercinta dengan Cintya karena sudah lama dirinya tak merasakan kehangatan tubuh Cintya.
George hanya bisa mendengus kesal rencananya gagal, gila otaknya memang sudah gesrek kali ya. Bahkan di keadaannya yang seperti ini George masih saja berplfikiran mesum, bagaimana tidak bahkan miliknya sudah tegang hanya melihat kedua bokong Cintya yang menurutnya sangat menggoda.
"Ci, "
"Hm, masuklah."
George masuk mengikuti Cintya, seperti nya malam ini dia harus berendam dengan air dingin karena hasratnya sudang menggebu-gebu tak bisa di salurkan.
Cintya berjalan menuju rak-rak kecil di samping tv, dia mengambil sebuah album foto dan membawanya ke hadapan George.
"Kita duduk di sini ya! "
"Lihatlah ini, ini saat aku mengandung Yuna waktu itu usia 7 bulan."
"Aku bekerja di Club Boby setelah aku dan Jojo berpisah, sekitar 3 bulan. Saat itu ayah tiriku menjualku karena dia hanya menginginkan uang, dan saat aku baru masuk bekerja ternyata aku hamil ,bodohnya aku tak tahu jika aku sedang mengandung Yuna." lanjut Cintya.
"Dia cantik seperti mu,"
"Dian, dan saat itu hanya Dian yang menemaniku setiap hari, Bahkan dia yang tahu jika aku sedang hamil. Kami berusaha menyembunyikan nya berharap Bobby tak tahu, tapu ternyata Bobby tahu jika aku hamil, dan dia sangat marah ketika itu aku hampir saja kehilangan Yuna. Dia memukulku dan mencoba menggugurkan kandunganku namun rupanya Yuna anak yang kuat dia tetap bertahan walau Bobby mencoba menggugurkannya."
George masih saja membiarkan Cintya bercerita mengeluarkan semua unek-uneknya, dia tahu Cintya pasti sangat berat menghadapi semua sendiri.
"Apakah Dian yang menemani kamu saat Yuna Lahir."
"Iya Dian dan Bobby, Dia Bobby menjadi penyayang padaku saat usia kandunganku 8 bulan."
"Aku sangat berterima kasih pada Dian karena sudah menjagamu dan Yuna,"
Cup. Cup.
George mencium bibir dan kening Cintya, dia memeluk tubuh tambun nya dan menenangkan wanitanya itu.
"Bahkan di saat dia sakit, aku selalu merasa panik dan bingung tak ada satu tempat ku bergantung kecuali Dian, Aku membesarkannya dengan kasih sayang. Tapi kenapa mereka menyebutku ibu yang tak baik, lihat betapa bahagia Yuna bersamaku." Cintya memperlihatkan foto ketika Yuna masih bayi.
"Hikss..hikss..bahkan mereka tak tahu apa-apa."
George masih membiarkan Cintya menangis menumpahkan segala amarah, keluh kesah ada di hatinya. Ada perasaan sakit melihat Cintya seperti ini, dia menyesal dulu memperlakukan Cintya begitu jahat.
"Tenangkan dirimu, dan istirahatlah aku di sini bersamamu. "
George menidurkan Cintya di pahanya dan membelai lembut rambutnya, dia tak pernah tahu jika ada kehidupan yang seprti ini, Karena selama ini dia selalu hidup dengan nyamam dan penuh bergelimang harta.
Tok... Tok...
Tok... Tok..
Ceklek.
Mata mereka beradu saling melemparkan tatapan tajam yang saling membunuh,
"kenapa kau di sini ka?"
"Ini rumah kekasihku, apa ada yang salah? "
"Shit, kau masih suami kakakku. Dan jangan permainkan Cintya ka, "
Ucap Jojo, yang mengusap kepalanya dengan kasar.
"Mau apa kau datang kesini? Di mana Yuna?" tanya George dengan nada sangat datar.
"Aku ingin bertemu dengan Cintya, "
"Di mana Yuna Jo? "Tanya Cintya penuh dengan tekanan.
"Dia bersama dengan kak laurent, "
"Ceroboh, kau tahu bukan wanita itu gila. Bagaimana jika dia mencelakai Yuna, " George sangat marah.
"Hai jaga ucapanmu Tuan, kakakku wanita yang waras. " balas Jojo dengan cepat.
Bugh.
Bugh
Jojo memukul George karena sudah menghina kakaknya, dia membenci pria yang ada di hadapannya karena selalu menyakiti kakak nya.
"Bajingan kecil, kau pikir siapa kau. Hah," teriak George.
Bugh
Bugh
"Hentikan, kalian nerdua sudah gila
pergi dari apartemen ku sekarang," usir Cintya dia keluar karena mendengar suara ribut.
"Kau menyuruhku pulang, agar kau bisa bercinta dengan George semalama. Apa kau lupa? Kau memiliki Yuna jadilah ibu yang baik bagi anakmu! You a bitch." bentak Jojo.
Plak.
"Jaga ucapanmu Jo, kau bahkan lebih rendah dariku. Why if i bitch, huh. Apa itu mengganggumu dan menyusahkan"
"Pergi kalian pergi..."
Suasana semakin panasbadu jotos antara George dan Jojo semakin kasar, hingga membuat waj mereka sama-sama terluka dan lebam.
"Kau tahu kak, aku puas memukulmu kau pria sialan." bisik Jojo di telinga George.
Setelah mereka berdua berdebat Jojo dan George meninggalkan apartemen Cintya, agar Cintya bisa beristitahat
Cintya kembali meringkuk di atas kasurnya Jojo terlalu kasar padanya, bahkan ucapannya sangat menyakitkan hatinya. Sejak pertama bertemu dia tahu jika dirinya memang seorang jalang, tapi yang lebih menyakitkan saat dia menegaskan tentang profesinya dan caranya mendidik Yuna.
Dia bahkan merindukan Yuna putrinya, kenapa keadaan semakin sulit inilah kenapa dia tak mau berhubungan dengan pria-pria arogan karena mereka akan selalu memakai kekuasaan mereka, dan gilanya lagi dia justru selalu mencintai pria seperti itu.
* * *
Saat ini yang dia butuhkan hanya ketenangan, dia butuh melampiaskan amarahnya dan hanya satu tempat yang pasti akan dia datangi Club iya club milik Bobby.
Cintya memakai pakaiannya dan berlari keluar apartemen, dia harus pergi sebelum pria-pria gila itu datang lagi dan membuat kepalanya sakit.
Cintya memasukki club yang penuh dengan musik keras, rasanya sudah lama dia tak datang ke tempat ini. Tempat yang memberikannya banyak kenangan suka dan duka.
"Cici, hay long time not see you." ucap salah satu pengunjung pria club.
"Hm, aku sibuk."
"Oh, shit baby kau selalu saja bertambah seksi. Aku merindukan tubuhmu itu," racau pengunjung itu.
Cintya menghindar ketika pria itu ingin menyentuh tubuhnya, "owhh, kenapa kau sekarang jual mahal, apa karena kau sudah menjadi peliharaan pria kaya itu." pria itu terus saja melecehkan Cintya.
"Tidak tuan, tidak aku datang bukan untuk ini tuan." Ramainya club membuat mereka saling tak memperdulikan sekitar, dan apa yang terjadi pada Cintya dianggap biasa.
"Aku merindukanmu, kau harus melayaniku baby." pria itu terus menyeret Cintya.
Bugh.
Bugh..
"Kau jangan pernah menyentuh nya, dan dengar kan baik-baik jika kau berani mengulanginya maka kau akan mati." ucapanya sangat tegas dan berani, serta tatapan mata pria itu sangat mematikan hingga membuat pria tadi lati terbirit-birit.
"Tuan,"
Maaf ya kalau kalian kecewa karena sudah lama menunggu, maaf ya selamat membaca.
Semoga kalian menikmatinya.
Jangan lupa vote dan comentnya ya.,