
"Tuan,"
Hatiku terasa sangat lega karena pria itu datang menyelamatkan aku, tapi yang tak pernah habis terfikir olehku dia selalu ada di setiap aku membutuh kan pertolongan, tapi iya sudahlah mungkin dia hanya kebetulan ada di Club ini.
"Gadis nakal, apa yang kau lakukan di tempat ini. Hah?" pria itu menatapku dengan tatapan yang membunuh, tangannya mencengkram erat bahuku sehingga terasa sedikit sakit.
"A--aku hanya ingin minum sedikit dan bertemu Dian," jawab Cintya takut-takut karena dia tak berani menatap mata pria itu membuat bulu kuduk ku berdiri.
"Minum kau bilang, dengar kau seorang ibu apa pantas putri mu melihat mu minum alkohol."
Bukan nya menjawab pertanyaan pria itu aku justru menangis dan tak tahu kenapa seperti ini, yang aku tahu hatiku sangat merindukan Yuna, tetapi Yuna memilih bermalam dengan Jojo belakangan ini mereka sangat dekat dan membuatku sedikit cemburu.
Aku takut jika suatu saat nanti Yuna akan berpisah dari ku dab lebih memilih hidup dengan Jojo yang memiliki banyak harta,
"look at me, Cici." dia Jordy pria yang selalu mengikuti Cintya diam-diam seperti seorang stalker, Jordi memegang dagu Cintya agar mau menatapnya.
"Apapun masalahmu tapi bukan ini solusi nya, kau adalah seorang ibu dengan satu putri berikan contoh yang baik untuk nya."
"Ma---maaf Tn. Jo, aku hanya sedang pusing."
"Baiklah mari ikut denganku kita ke tempat lain,"
Aku mengikuti Jordy dari belakang dan tak banyak bertanya, karena hari ini aku sudah cukup lelah dengan masalahnya, aku mengikuti Jordy ke dalam mobil mewahnya, dia melajukan mobilnya entah menuju ke arah mana, aku hanya Menikmati perjalanan dari jendela setiap pemandangan yang dia lewati.
"Apa kau merindukannya, kenapa kau tak menghubunginya?"
Aku tahu siapa yang Jordy maksudkan namun aku tak berniat menjawab pertanyaan Jordy, karena aku lebih sibuk menikmati perjalanan ini dan menenangkan sedikit kegelisahanku.
"Tersenyumlah jangan memasang wajah seperti itu, karena sangat menyakitkan hatiku."
Aku akhirnya menoleh ke arah Jordy dan mengernyitkan dahiku, karena mendengar Jordy mengatakan hal itu. "Menyakitkan hatiku?" Tanya ku.
"Jangan melihatku dengan tatapan seperti itu, kau tahu aku menganggapmu sebagai adikku sendiri."
Aku pun tersenyum lebar, bahagianya karena ada seseorang yang mau menganggap nya sebagai adik, Karena sebenarnya aku memang sangat kesepian.
"Cih, apa kau bahagia sampai tersenyum seperti itu."
"Menurut Tuan,"
Jordy hanya tersenyum manis, kenapa pria ini sangat membuatku nyaman dengan sikapnya, dia bahkan selalu menjadi pelindungku.
"Nah kita sudah sampai,"
"Oh tidak in---ini kan rumah ku dahulu." bisikku dalam hati.
"Bagaimana rumah ini bagus bukan?"
"Ayo turun."
Jordy membuka kan pintu untukku, aku masih sangat syok dengan ini semua, bagaimana mungkin pria ini bisa ada di rumah ini, lalu kemana pria itu ayah tiri yang sudah menjualku.
"Masuklah Ci,"
"Maaf Tuan, kenapa kau bisa mempunyai rumah di pinggiran Desa seprti ini?" Tanyaku, aku hanya ingin tahu kenapa dia bisa memilikinya dan apakah bisa suatu saat aku membelinya.
"Oh ini, aku sengaja membelinya untuk adiku."
"Beruntungnya adik Tuan, karena memiliki kakak yang baik."
"Lalu kenapa di pinggir Desa ?"
"Karena dia sangat suka dengan ketenangan, lagi pula aku membelinyavdengan harga murah dari seorang pria pamabuk." Jawab Jordy.
Pria pemabuk, sudah pasti dia Dodi ayah tiriku apa lagi yang dia miliki selain rumah peninggalan ibu ku, pekerjaannya hanya mabuk dan berjudi.
"Hm,"
"Lihatlah aku memperbaiki rumah ini, tapi aku tak mengubah bangunannya aku hanya menambahkan beberapa hal yang penting. Bagaimana apa menurutmu rumah ini akan di sukai adikku?"
Aku memperhatikan wajah pria di sampingnya, wajahnya tersirat sedikit ada kesedihan di dalam sorot matanya, dan rasa kesepian dalam dirinya.
"Pasti dia akan sangat menyukainya, kau tau Tuan, ada sebagian orang yang memiliki sejarah di rumah ini."
* * *
George sebenarnya tak ingin meninggalkan Cintya, dia ingin selalu bersamanya di apartemen Cintya, Tetapi karena dia masih memiliki banyak pekerjaan dan masalahnya dengan Laurent.
George memasuki rumah berlantai dua dengan bangunan berwarna putih, rumah yang dia tinggali bersama Laurent.
"Tuan apa kabar anda?" tanya lusi kepala pelayan di rumah itu.
"Baik, di mana Laurent?" tanya George dengan wajah yang dingin.
"Nyonya sedang di kamar, Tuan."
"Lusi, tolong kemasi semua barang-barangku sekarang!"
"Ba-baik Tuan."
George berjalan ke lantai dua untuk menemui Laurent, "Brakk.." George membuka paksa pintu rumah.
"Tanda tangani surat ini," George meletakkan surat cerai itu di samping nakas.
"Sudah aku katakan bukan. Jika aku tak akan menceraikan kamu!"
"Apa maksudmu?"
George mendekat ke arah Laurent, dia mencengkram erat bahu Wanita karena sangat berani mengancam akan menyakiti wanitanya.
"Jangan pernah berani menyentuh wanitaku dengar itu, kau tak lebih seperti sampah bagiku. Jika kau menyentuhnya aku sendiri yang akan membunuhmu,"
"Aku tidak akan menyentuhnya, tetapi aku akan menyentuh apa yang dia sayang, dan itu bermula darimu atau--" wanita itu hanya menunjukkan senyum licik yang menyungging di bibirnya, melihat nya membuat rahang George mengeras memang berbicara dengan Laurent hanya membuang tenaga.
George melepas lengan Laurent, "Aku akan menunggu surat itu, berikan pada pengacaraku." George pergi meninggalkan Laurent sendiri, iya benar-benar sendiri di dalam kamar nya.
"Lusi, di mana koperku."
Lusi yang mendengar namanya di panggil oleh majikannya oun segera menghampiri, dia selalu merasa takut jika bertemu majikannya karena George terkenal pemarah, bahkan setiap kedatangannya ke rumah ini pasti selalu bertengkar.
"Maaf Tuan, semua barang-barang sudah saya masukkan ke dalam mobil."
"Bagus kali ini, kau mengerjakan hal yang benar."
George melangkahkan kakinya pergi dari tempat ini, dia merasa bebas karena sudah menyerahkan surat cerai itu pada Laurent secara langsung.
"Brengsek...kurang ajar kau George, lihat saja aku akan membunuhnya dan hanya aku yang bisa memiliki mu."
"Aaaa..."
Brakk...brukkk...prankk..
Laurent membanting, melempar semua barang yang ada di dekatnya dia sangat frustasi, karena perjuangan nya mempertahankan George sia-sia dan tetap berakhir pada perceraian.
Dia berjanji jika George tak bisa dimilikinya, maka dia akan melenyapkan Cintya, George harus merasakan sakitnya kehilangan.
* * *
"Lusi,"
"Iya Tuan,"
"Ada apa lagi dengan kakak?"
"Nyonya tadi bertengkar dengan Tuan George, dan Tuan George meninggalkan rumah."
"Shit, Lusi ajak Yuna ke kamarku dan ajak bermain sampai aku kembali!"
"Baik Tuan,"
Lusi membawa Yuna dalam gendongannya, dia menyukai Yuna karena adanya Yuna Tuannya menjadi sosok yang lebih hangat.
Ketika Jojo masuk ke dalam kamar Laurent, hampir semua barang pecah dan berantakan, dia sebenarnya lelah dengan sikap kakaknya yang seolah tak pernah mau dewasa.
"Apa lagi ini kak? Tolong pelankan suaramu, Yuna ada di sini."
"Yuna, di sini?" tanya Laurent.
"Hm, dia di sini dan akan menginap satu malam lagi maka tolonglah bersikaplah dewasa. Kak,"
Mendengar ucapan adiknya, Laurent tersenyum dan menghapus air matanya. namun tak ada yang tahu jika senyumnya itu menganduk maksud lain yang pasti mengerikan bagi seseorang.
"Bisakah aku bertemu?"
"Hm, tapi sebaiknya kau mandi dahulu kak. Supaya kau tak kalah cantik dari putriku," ledek Jojo.
"Kau bisa saja, Jo. Pergilah aku akan bersiap-siap,"
Jojo pergi dari kamar Laurent, dia ingin segera bermain bersama Yuna putrinya.
"Sayang, Daddy datang."
Ketika Jojo memasukki kamarnya, dia melihat putri kecilnya tertidur dengan lelap nya, Jojo menghembuskan nafasnya kasar rencana ingin bermain bersama Yuna harus di tundanya.
Akhirnya Jojo memutuskan untuk membersihkan dirinya dahulu, rasanya cukup lelah apa lagi setelah tadi perkelahiannya dengan George tadi. Dia memandang wajahnya di cermin melihat sedikit memar yang di tinggalkan George, kenapa Cintya mencintai George padahal dirinya lebih tampan, lebih baik, dan bahkan dia mulai bisa mengurus putrinya.
Disaat dirinya ingin berubah dengan kembali pada Cintya dan Yuna, tapi saat itu sudah terlambat karena George lebih dulu mengisinya, dia sangat menyesal karena terlalu terlambat, dan telat mengatakannya pada Cintya dan lebih asyik menjadi stalker bertahun-tahun.
Jojo memejamkan kedua matannya di atas guyuran air, dia mencoba menenangkan dirinya karena masalahnya semakin bertambah, dari kehidupan kakaknya yang tak pernah membaik, hingga Cintya, dan Yuna, Jojo memilih membasahi tubuh nya dengan guyuran air.
Di luar seorang wanita dan pria yang bertubuh tegap, berjalan dengan mengendap-endap dia membuka pintu kamar itu dengan pelan, berjalan menuju king size dimana ada seorang anak kecil yang tertidur dengan nyamannya fikirannya sudah buntu, dan menggendong tubuh kecil lalu membawanya pergi diam-diam.
"Aunty," bisik Yuna lirih ketika terbangun di gendongan nya.
"Sttt, good girl diam dan tidurlah aunty akan membawamu ketempat bermain, bersama Daddy.
Mendengar nama Daddy nya di sebut Yuna terdiam dia menutup matanya kembali, wanita pun semakin berani melalukan aksinya di bantu pria tadi,
Bahkan membawa ank kecil ini pun tak sulit dan tak banyak masalah membuatnya tersenyum puas.
" Kita harus segera pergi dari sini,"
"Baik Nyona,"
"Bukankah ini akan menyenangkan untukku dan kalian," ucapnya dengan nada sinis dan senyum yang tak dapat diartikan.
"Yuna,"
Teriakan Jojo menggema di seluruh rumah tatkala melihat putrinya, tak tertidur di kamarnya serta di dalam rumahnya pun tak ada.
Maaf bgt lama update lagi sibuk sama urusan nyata, heheheh apa kabar raeders semua semoga sehat selalu , semoga menikmati jangan lupa vote dan comentnya.ya