
"Arghhh..." Cintya mengacak rambutnya frustasi pria ini sungguh merepotkan, Dia terus berpikir keras di mana bisa mendapatkan baju itu.
"Ohoo..." Cintya teringat jika dia masih menyimpan salah satu seragam sekolahnya, dia mengacak-acak satu-persatu susunan kardus yang sudah tertata rapi di gudang.
"Okh, akhirnya ketemu juga."lirih nya.
Baju putih polos panjang dan juga rok panjang abu-abu, kata orang SMA itu adalah masa-masa paling menyenangkan. Tapi bagi Cintya tidak karena di masa SMA banyak hal yang harus dia kerjakan, sebenarnya seragam ini mengingatkan dia dengan masa lalunya, iya masa lalu kelam yang membuatnya seperti ini.
"Jojo, aku mencintaimu," Cintya masih berdiri di belakang punggung tegap itu, dia berharap pria itu berbalik dan mau membalas perasaannya, tapi pria itu tak mengatakan apapun dan pergi tanpa menoleh ke arahnya.
"Eh, gendut ngapain lu di situ. Pergi sana jauh-jauh lo dari pacar gua. Lo pikir dia mau terima cewek gendut kaya lo." teriak Deby pada Cintya.
Cintya hanya diam saja, baginya dia sudah terbiasa di hina. Dia hanya ingin mengungkapkan isi hatinya pada pria pujaannya itu, tapi ternyata dia memang salah-Salah mengartikan sikap pria di hadapannya.
Dulu dia berpikir pria itu menyukainya, Jojo selalu berada di depan setiap kali dia di bully teman-temannya. Tapi hari ini dia sadar memang tak ada pria yang menyukainya, jadi selama ini dia lah yang terlalu percaya diri.
"Asal kau tahu, ndut Jojo kekasihku." ucap Deby.
"Gendut, apa kupingmu itu sudah tak bisa mendengar kekasihku bilang jangan pernah lagi dekat denganku." pria itu terus menatap tajam ke arah Cintya, baru pertama kalinya pun selama tiga tahun mereka bersama, menjadi sahabat Jojo berkata kasar padanya.
Dia menyesal karena sudah mengakui perasaannya, Cintya hanya bisa berlari-lari menuju halaman belakang sekolah dan menangis sejadi-jadinya.
Cintya menggeleng-gelenglan kepalanya, dia ingin melupakan kejadian itu dan pria yang sudah menyakiti hatinya. Jika ini bukan tuntutan pekerjaannya mungkin dia tak akan pernah melihat seragam ini, lagi-lagi Cintya menghembuskan nafasnya kasar. Dia merasa sangat rendah, kenapa Tuhan seperti tak adil padanya, dia harus bertahan hidup dengan menjual tubuhnya, dan dia juga menghidupi putrinya dari uang kotor. Oh Tuhan kapan semua ini akan berakhir? Cintya hanya ingin hidup dengan putri kecilnya.
Bolehkah kali ini Cintya berharap bisa bebas, Cintya yakin jika pria itu George Hadvars akan cepat merasa bosan dengannya setelah bercinta beberapa kali, dan permainan pun ending. Cintya pun beranjak untuk mencoba baju itu.
"Akh, sial ternyata sudah tak muat," dia terduduk di lantai dan merengek bagai anak kecil, Cintya menggerutu sendiri seperti nya dia memang harus membeli yang baru. Tapi apa tidak memalukkan dengan usia setua ini dia memakai baju SMA sungguh menggelikkan, Anggrek pun tertawa sendiri membayangkannya.
"Mamah, Mamah sedang apa?" Tanya Yuna dengan polosnya.
"Tidak apa-apa, Mamah hanya sedang merapihkan baju lama." Cintya merasa bersalah karena selalu berbohong, dia merasa sangat gagal menjadi seorang ibu.
"Mamah, kapan Om itu datang lagi?" Cintya hanya menatap aneh pada puterinya, siapa Om yang dimaksud puterinya. "Om?" tanya Cintya penasaran. "Iya, Om Geo!" jawab Yuna.
"Sayang, Om Geo itu sibuk. Dia tak mungking datang ke rumah kita," jelas Cintya pada Yuna, Cintya tahu kenapa Yuna menanyakan pria itu.
Drttt...Drttt...
From. Tuan George.
Jangan lupa malam ini,
Jam 20.30. Aku menunggumu sayang!!
Cintya yang membaca pesan Georg noe hanya tersenyum kecut, iya ternyata inilah kehudupan yang nyata, George sama saja dengan Pria yang dia temui di Clab. Hanya ingin tubuhnya dan parahnya lagi dia sudah di beli oleh George.
Cintya tak menghiraukan pesan itu, Cintya sebenarnya ingin keluar mencari baju SMA, Tetapi Yuna hanya sendiri karena bibi yang biasa menemani Yuna sedang pergi.
"Halo, Dian,"
"Whoa, hai Nona kenapa kau baru menghubungiku, hm? Beruntung nya dirimu bisa bersama Tn. George," celoteh Dian tanpa jeda.
"Dian," teriak Cintya menghentikan celotehan sahabatnya itu.
"Iya, iya ada apa Ci?" tanya wanita di seberang sana.
"Bolehkah aku minta tolong?" Tanya Cintya dengan suara pelan,"Tolong carikan aku baju SMA,"sambung Cintya.
"Apa?" teriak Dian.
"Iya cepat lah jangan buang waktumu, nanti aku ceritakan semuanya." Cintya memohon pada sahabatnya agar segera membelikannya, karena sudah tak banyak waktu lagi.
"Oke."
Tanpa banyak bertanya lagi, Dian segera pergi ke mall dekat apartemen miliknya. Dia tahu pasti ini permintaan dari klien mereka.
* * *
"Rendy, apa kau sudah menyiapkan semua di apartemenku?" tanya George, "Sudah Tuan," jawab Rendy.
George mengusap-usap dagunya, dia tidak sabar ingin melihat wanita itu. Karena pasti akan terlihat manis saat Cintya memakai baju SMA, dia sudah membayangkan yang tidak-tidak sampai sesuatu miliknya menjadiblebih tegang. George memang sudah tertarik ketika pertama melihat wanita itu, dia hanya ingin mencicipi bagaimana bercinta dengan wanita bertubuh gemuk.
Namun semua di luar dugaannya, sekali dan dua kali dia mencicipi rasany sangat memabukkan dan membuatnya ketagihan.
Aku hanya ingin bermain denganmu, sedalam apa kau bisa membuatku tertarik selain permainan ranjangmu, Cintya. Lirih George.
"Baiklah, malam ini aku tidak ingin di ganggu!" perintah George pada Rendi.
"Termasuk wanita itu, pastikan dia pulang ke Inggris," sambungnya lagi.
"Iya Tuan, perintahmu akan saya laksanakan." Rendy berpamitan untuk pergi, Dan meninggalkan George sendiri di ruangannya.
Sebenarnya dia tidak serius saat mengatakan Cintya harus memakai baju Layaknya Anak SMA, dia hanya ingin bermain saja.
From. Cintya
Aku akan datang melaksanakan tugasku, jadi tunggu saja!!!!
George menerima pesan itu hanya tertawa kecil, dia sangat menantikan datangnya malam dan menikmati indahnya malam bersama wanita itu. Karena sejujurnya Cintya adalah wanita pertama yang bisa memuaskannya.
Dia pun memasukkan telfon miliknya ke dalam saku, dan mulai kembali mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda hanya karena memikirkan wanita itu.
Brakk.
"Apa kau menyuruhku kembali ke Inggris, hanya agar kau bisa bersenang-senang dengan wanita-wanita pelacur itu?" tanyanya lagi.
"Pergi lah aku sedang tak ingin berdebat denganmu." George tak memperdulikan wanita ysng menjadi istrinya itu, baginya istrinya itu hanya sebuah kesepakatan kerja yang menguntungkan.
"Baik aku akan kembali ke Inggris, aku tunggu kau di rumah kita."
Cup.
George menghapus bekas ciuman istrinya, dia memang benar-benar tak menyukai wanita itu. "Terkadang dia berfikir untuk mengakhirinya, tapi karena kakeknya belum meninggal dia harus mengurungkan niatnya itu.
Flash back on.
"George, kau harus menikah dengan Laurent karena hanya dia yang pantas menjadi istrimu," ujar kakek George.
"Tidak sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menikahinya." George menatap kakeknyab dengan penuh kebencian.
"Baik jika kau tak mau menikahinya, bersiaplah semua fasilitasmu akan aku tarik." sang kakek pun tak mau kalah, dia akan melakukan apapun agar agar George mau menikahi Laurent.
Namun bukan George namanya, jika dia bisa hidup tanpa harta. Karen bagi dirinya kekayaan itu no. 1, dia termasuk pria yang gila akan harta, dan kehormatan.
"Baik, aku akan menikahinya. Tapi dengan satu syarat. 1. Dia tidak boleh mencampuri kehidupan pribadiku," ujar George.
"Setuju."
Sejak saat itu dia bersikap dingin pada Laurent, karena mengambil kebebasannya.
Flash back off.
* * *
Tok...tok...tok...
Tok...tok...tok...
"Mamah, ada tamu." Yuna membangunkan Cintya yang tertidur di sofa, "Mamah bangun," sambung Yuna.
Cintya merentangkan ke dua tangnnya, hampir satu jam dia tertidur semua ini karena terlalu banyak fikiran. Dia sangat takut jika hanya harus melayani satu pria, karen dia takut jika akan jatuh cinta pada klien nya.
tapi kali ini dia harus kuat hati, dia tak ingin di perdaya pria. Dia tak ingin kejadian dahulu 6 tahun lalu terjadi,"Iya sebentar," ujar Cintya.
"Yuna, ayok Mamah gendong." Cintya pun menggendong putri kecilnya, dia tahu jika puterinya itu masih mengantuk. Cintya pun berjalan mendekati arah suara dan membuka pintunya.
"Sore Ci, maaf aku datang lama. Haii..Yuna cantik kok belum tidur," ujar Dian, Yuna hanya menampilkan senyumnya.
"Hm, tidak apa-apa kok. Ayok masuk!" perintah Cintya.
Mereka pun berjalan masuk dan duduk di depan ruang tv, Dian pun memberikan kantong belanjaan pada Cintya. "Terimakasih ya." Cintya menujukkan barang yang dia bawa, Dian hanya menganggukkan kepala dan berbisik. "Jelaskan padaku nanti, semua nya."
"Sayang, maafkan Mamah ya. Mama harus kembali bekerja, Yuna sama tante Dian dulu ya!" Cintya mengusap lembut pipi Yuna. Dan mencium keningnya, ini lah pekerjaannya yang selalu mengharuskannya pergi di malam hari meninggalkan buah hatinya. Mungkin kali ini dia harus membuat kesepakatan dengan Tuan. George, agar bisa menukar jam kerjannya di siang hari atau sore hari saja.
"Iya Mamah, Yuna sama Tante Dian, dan Yuna gak akan nakal." Dian mencoba menenangkan sahabatnya, dia tahu bagaimana susah dan senangnya Cintya merawat Yuna seorang diri. Dia begitu salut pada Cintya yang bersikeras melahirkan puterinya meski dulu Bobby mengancam akan membunuh mereka.
"Iya Mamah, Mamah hati-hati di jalan yah. Dan cepat pulang," ujar Yuna.
"Cup," Yuna mencium pipi gembul Ibunya.
Cintya sangat bersyukur memilikki putri seperti Yuna, anak yang tidak pernah rewel dan mengerti keadaan mereka.
"Aku titip Yuna, aku akan bersiap di Apartemen Tuan. George, karena Sudah terlambat." Cintya mengambil alat make up miliknya dan kantong baju yang di berikan Dian.
"Bye."
"Bye Ci, puaskan pria kaya itu. Agar kau bisa mengontrolnya,"bisiknya di telinga Cintya, hingga membuat ke dua pipi Cintya merona.
* * *
Tak butuh waktu lama untuk sampai di Apartemen milik George, karena hanya beberapa Blok dari Apartemen miliknya. Entah ini suatu kebetulan atau memang sejak lama pria itu tinggal di Apartemen ini, tapi yang penting baginya ini membuatnya semakin mudah.
Dia membuka pintu Apartemen milik George, Apartemen ini sama seperti miliknya hanya ada satu kamar dan ruang tamu, ruang tivi, dan dapur. Tapi yang membuat nya kagum karena sentuhan dari setiap ruangan dan dinding nya yang bernuansa hitam, dan putih.
Cukup Bagus untuk seorang pria sepertinya, menyenangkan jika bisa hidup seperti George bisa memiliki semua hanya dengan satu tunjukan jari saja.
"Hm, lebih baik aku bersiap diri saja." Cintya mencari kamar mandi yang terletak di luar kamar. Dia akan mandi dahulu sebelum berdandan.
"Untung saja aku membawa perlengkapan mandi, sepertinya memang aku harus meninggalkannya di sini saja untuk persiapan sewaktu-waktu,"sambung Cintya.
Sudah satu jam Cintya mandi, dia berganti pakaian dengan pakaian yang di minta George, Iya pakaian layaknya seperti anak SMA. Cintya mencoba memakai nya benar-benar pas di tubuhnya, baju dan rok abu-abu span seatas lutut sangat seksi di tubuh besarnya.
Tapi dengan pakaian ini juga membuat dia mengingat masa lalu nya bersama pria itu, pria yang sudah memberikan hadia terindah Yuna.
Dia mencoba menepis bayangan itu dan mulai memakai make up yang natural khas anak SMA jaman sekarang, dia berdiri di depan cermin berputar-putar. Merasa kembali seperti remaja Cintya tertawa kecil melihat diri nya sendiri di depan cermin " cantik, dan menggoda,"bisiknya.
"Aku memang tidak salah memintamu memakai pakaian itu, kau sangat seksi."
Gila, gila, kenapa milikku bisa tegang hanya karena melihat wanita bertubuh subur seperti dia.
Maaf lama update, sebenarnya udah selesai tapi tiba-tiba kehapus hehehe maaf jika ini mengecewakan.
Seperti biasa aku mohon kritik dan saran serta vote nya y.