When I With You

When I With You
When I With You 9



Pagi hari yang cerah dihiasi dengan suara merdu burung – burung berkicau. Udara segar dan tiupan angin sepoi – sepoi menggoyangkan beberapa daun di pepohonan.


“Huahhhhh...”


Aini nampak baru terbangun dari tidurnya. Meregangkan kedua tangannya dengan mata yang masih tertutup.


“Apa yang harus aku lakukan ya hari ini?”


Aini bangkit dari tempat tidur dan segera ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah itu ia mengobrak abrik lemari pakaiannya untuk mencari setelan pakaian santai.


“Hari ini karena kakiku masih tak bisa di ajak lari, aku hanya akan menghirup udara segar saja di taman”, ucapnya pada diri sendiri sambil bercermin, melihat dirinya kini yang tak bisa berjalan tanpa alat bantu.


*****


Aini duduk di halaman tempat ia biasa lari pagi. Menikmati secangkir teh panas yang ia beli di dekat taman itu dan menikmati udara pagi sambil melihat orang lain yang tengah sibuk melakukan olahraga.


“Heyy Aini?”, suara seorang pria memanggilnya dari belakang membuat Aini reflek untuk segera menengok.


“Ahhh Reno”


“Kenapa? Sepertinya lo kecewa karena melihat gue, apa lo sedang menunggu seseorang?”, Tanya Reno yang langsung duduk di samping Aini.


“Ahhhh tidak ko. Aku pikir siapa yang memanggilku, ternyata lu Ren”


“Hmmm, apa lo berpikir gue Rey?”, Tanya Reno sambil menaikan satu alis matanya.


Aini menggelengkan kepalanya sambil menyeruput teh hangat.


“Gimana sama kaki lo Aini? Udah baikan?”


“Yahhh seperti ini lah, gue masih gak bisa jalan bebas dan juga berlari”


“Hmm, lo harus rajin – rajin terapi Aini biar cepet sembuh”


“Iyah Ren, gue selalu nurutin anjuran dokter ko”, ucap Aini sambil tersenyum.


‘Aini manis juga kalau dilihat dari dekat, apalagi kalau lagi tersenyum kaya gini’, ucap Reno dalam benaknya.


“Woyyy.. Ko malah melamun sih?”, tegur Aini menyadarkan Reno dari lamunannya.


“Arghhh engga ko. Gue gak ngelamun. Oh ya gue pergi dulu, gak apa – apa kan gue tinggal?”, ucap Reno seraya berdiri dari tempat duduknya.


“Iya, gak apa – apa ko”


Reno melambaikan tangannya, meninggalkan Aini dan melanjutkan larinya.


“Ahhh udaranya benar – benar menyejukan”, ucap Aini.


Wajahnya mengadah ke atas. Bibirnya melukiskan senyuman. Ia menikmati pagi ini sambil memikirkan semua hal yang terjadi padanya semalam. Ia terlihat senang dan wajahnya kian berseri – seri.


Setelah lama ia berada di sana, akhirnya Aini memutuskan untuk pulang. Tangannya mengambil alat bantu jalannya, dan berdiri dengan penuh perjuangan.


Di perjalanan Aini bertemu dengan Dewi. Akhirnya Aini menebeng pulang bersama mobil Dewi. Karena tak memungkinkan lagi baginya berjalan pulang dengan kaki seperti itu.


“Aini nanti malam datang ke basecamp yah”


“Hah? Ngapain Dew? Ada acara apaan?”, Tanya Aini heran.


“Hmm pokonya kamu datang saja oke, nanti sore aku jemput kamu”


Aini sejenak berpikir, namun kemudian ia menyetujui permintaan temannya itu. Sepanjang jalan mereka berdua yang berumur sama benar – benar terlihat akrab. Dewi tak henti – henti mengatakan lelucon yang membuat Aini tertawa terbahak. Aini juga menceritakan banyak hal dari mulai hal yang ia sukai dan juga ia benci.


“Hahaha.. jadi lo itu suka Koreaan Ni?”


“Iyahh Dew. Karena menurut gue ya mereka itu sosok manusia – manusia yang gak bisa di temuin di dunia nyata. Cowo – cowo di drama korea itu selalu menarik, ada yang romantis, cool, dan juga misterius. Makanya gue menyukainya”, jelas Aini menceritakan kesukaannya.


“Ya ya ya. Gue bisa ngerti karena gue juga cewe. Tapi aslinya belum tentu kaya yang lo sebutin kan?”


“Hmmm namanya juga film Dew. Mana ada cowo kaya gitu di dunia nyata. Tapi..”, ucapan Aini menggantung. Matanya menatap jauh seperti sedang membayangkan sesuatu.


“Tapi kenapa Aini? Ko malah bengong sih?”, Tanya Dewi karena heran dengan perubahan ekspresi Aini.


“Kayanya gue nemuin seseorang yang seperti di drama korea Dew”, ujar Aini sambil tersenyum membayangkannya.


“Hahh? Siapa?”


Bukannya menjawab pertanyaan Dewi, Aini malah cengengesan sendiri. Ia sedang memikirkan Rey, dan hatinya selalu senang akan hal itu.


Bruukkkk..


“Aduhhh... Pak ada apa sih?”, teriak Dewi karena mobil yang mereka naiki mengerem mendadak.


“Maaf mba, sepertinya saya menabrak seseorang”, ucap supir Dewi.


“Apaa??”, Dewi kaget dan takut orang yang tertabrak itu meninggal.


Aini dan Dewi melepaskan sabuk pengaman dan berniat turun dari mobil untuk mengecek kondisi orang itu, namun tiba – tiba sesosok pria terlihat bangkit sambil terengah – engah. Sepertinya pria itu adalah orang yang mereka tabrak. Saat Dewi dan Aini hendak menghampiri orang itu, dia sudah berlari duluan.


“Kita mau bantu kan barusan tapi dia malah pergi kaya kilat gitu”, ucap Dewi yang masih heran dengan sosok pria tadi.


“Kau lihat wajahnya Dew”


“Ahh dia lumayan ganteng, badannya juga berotot, wajahnya bersih, hidungnya mancung dan..”, ucapan Dewi terpotong karena Aini memukul lengannya.


“Awhhh.. Kenapa sih?”


“Dew, gue nanyain wajahnya biar kalau kita ketemu lagi kita bisa minta maaf, bukannya malah memuji dia”


Dewi hanya ketawa mendengar protesan Aini. Baginya mungkin pria tadi sedang terburu – buru dan mungkin dia akan baik – baik saja karena tubuhnya juga bugar. Setelah itu keduanya memasuki mobil lagi dan melanjutkan perjalanan.


*****


“Hahh.. hahhh.. haahhhh...”


Suara nafasnya tak teratur. Keringat mulai bercucuran dari tubuhnya. Dia berlari terlalu jauh sampai terengah – engah.


“Komandan dimana kakakku?”, tanyanya pada seseorang yang dia hormati.


“Kapten Ryan tak bisa kembali saat melakukan tugasnya”, ucap orang yang ia sebut sebagai komandan.


“Apa? Gak mungkin”, ucapnya tak mempercayai omongan komandan itu.


Perlahan ia berjalan mundur, hati dan pikirannya masih tak percaya. Tangannya gemetaran karena kaget. Iapun kembali berlari meninggalkan tempat itu.


*****


Waktu sudah menunjukan pukul 5 sore. Aini sedang bersiap – siap untuk nanti malam berkumpul bersama kawanan geng motor garuda. Hal yang membuatnya semangat seperti ini karena ia akan bertemu Rey di basecamp. Seharian ini ia merasa risau karena tak ada sedikitpun kabar dari Rey. Makanya Aini ingin segera datang ke basecamp.


Hatinya sudah tak sabar karena akan bertemu Rey di sana. Mungkin Aini saat ini sedang merindukan sosok Reynaldi. Ainipun berniat untuk datang ke basecamp lebih awal.


Setelah selesai bersiap – siap, Aini berangkat bersama Dewi. Saat ini waktu masih menunjukan pukul 17.45 WIB. Rencana mereka akan berkumpul jam 7 malam, tapi Aini ingin menyaksikan senja di belakang basecamp terlebih dahulu jadi ia datang lebih awal.


“Dew aku ke belakang dulu yah, lo masuk duluan aja”, ucap Aini sambil berjalan ke belakang basecamp sendiran.


“Lo gak mau gue bantu jalan Aini?”, teriak Dewi yang dibalas dengan lambaian tangan Aini tanpa membalikan badannya.


*****


Senja mulai terlihat tepat saat Aini sampai di belakang basecamp. Tak ada yang lebih indah daripada senja dan juga alam ini bagi Aini. Warna langit yang mulai kemerahan, terlukis indah di mata Aini. Senyumnya mengembang, matanya tak henti memandang langit. Senja adalah bentuk kehidupan bagi Aini. Menenangkan, mengobati dan membuatnya senang.


“Aini?”, panggil seseorang.


Aini yang merasa namanya dipanggil menoleh ke belakang. Dan betapa terkejutnya ia mendapati sosok pria berpakaian rapi dengan bucket bunga besar di tangannya.


“Aini, apa lo bersedia menjadi pacar gue?”


Bersambung...


Cinta seperti lautan dashyat


Kadang ia memberi rasa takut akan luka


Kadang pula ia memberi nyaman karena keindahannya


Banyak orang yang terluka karena cinta


Namun cinta seperti lautan


Kadang ia marah dan membuat badai


Kadang ia mengalunkan ombak dengan damai


Kadang ia menghembuskan angin dengan ribut


Kadang pula ia berderu lembut dengan tenang


Namun..


Meskipun begitu orang akan tetap kembali padanya


Seberapa besar pengetahuan mereka akan cinta yang kadang membahayakan


Mereka akan tetap kembali pada cintanya


Mereka akan tetap menerima manis dan pahitnya cinta


Mereka dengan senang hati akan tetap memaafkan cinta


Karena cinta bagi mereka adalah suatu Kebutuhan...