
Pagi hari itu, di taman Aini kembali bertemu seseorang yang tak ingin dia temui lagi. Suasana yang cerah sudah tergelapkan akan kehadiran sosok wanita yang memanggil nama Aini.
"Ainiii"
"Gue gak mau ketemu sama lo", ucap Aini kemudian hendak berlalu meninggalkan wanita itu. Namun wanita itu mengejar Aini dan diikuti oleh Rey dari belakang.
"Aini tunggu, mama mau bicara sebentar. Kasih mama waktu 5 menit saja buat bicara", ucap wanita itu yang ternyata adalah mama Aini.
"Mau bicara apalagi ma? Apapun tetep salah Aini"
"Maafin mama Aini. Apa kamu begitu membenci mama?"
"IYA AKU BENCI MAMA SAMA PAPA. AKU BENCI KALIAN BERDUA YANG GAK PERNAH ADA BUAT Aini Hikss hikss", ujar Aini meluapkan emosi yang ia pendam selama ini.
Aini tak bisa menahan tangisnya lagi. Untung saja kini mereka bertiga sudah jauh dari keramaian. Rey yang melihat Aini menjatuhkan air matanya ingin sekali menyekanya, namun Rey tahan. Belum saatnya dia ikut campur urusan ibu dan anak itu.
"Aini pulanglah nak. Maafkan mama. Mama gak sengaja.."
"Gak sengaja? Gak sengaja apa? Gak sengaja nyakitin Aini? Gak sengaja ngusir Aini? Kalo begitu mama udah hidup bertahun tahun dalam ketidaksengajaan. Apa jangan jangan kehadiran Ainipun atas ketidak sengajaan mama sama papa, sampai sampai Aini harus di perlakukan seperti ini", ujar Aini penuh kekecewaan.
"Hikss hikss bukan begitu Aini dengerin mama dulu"
"Udah ma. Cukup. Aku lebih bahagia seperti sekarang tanpa kalian. Lagipula kalian gak ada minat sedikitpun buat nyari Aini", ucap Aini penuh penekanan.
Aini sudah merasa muak harus kembali berseteru dengan mamanya. Ia lebih memilih pergi meninggalkan mamanya. Mama Aini berusaha untuk mengejar Aini lagi, namun ditahan oleh Rey.
"Cukup. Jangan mengganggunya lagi", tegas Rey.
"Kamu bilang kau sudah putus sama Aini dan gak tau Aini dimana sekarang. Tapi apa ini? Kamu masih sama anakku"
"Karena Aini yang bilang gak mau ketemu sama kamu lagi. Mohon maaf sebelumnya jika Rey sudah lancang. Tapi tolong percayakan anakmu padaku. Aku janji akan kuberi apapun yang tak bisa ia dapatkan darimu ataupun papanya", ucap Rey.
"Kau pikir bisa menggantikan seorang ibu untuknya? Aku yang melahirkannya, merawat dia, membesarkan dia, jauh sebelum kamu mengenalnya", mama Aini ikut terpancing emosi akan ucapan Rey.
"Tentu tidak. Tapi sekarang biarkan aku yang menjaganya, merawat dia, sampai kematian yang memisahkan kita. Dengar, aku mengerti perasaanmu, tapi aku juga bisa merasakan perasaan Aini. Lukanya, rasa sedihnya, kekecewaannya aku tau semua itu. Jika saja kau tak egois dan mencoba melihat pada sudut pandang Aini sebagai anak, kamu juga pasti akan mengerti perasaan Aini", ucap Rey penuh penekanan.
Mama Aini hanya terdiam. Menyerap setiap kata yang keluar dari mulut Rey. Apa yang Rey katakan memang ada benarnya juga. Selama ini mama Aini hanya mendengar dan melihat dari satu objek yaitu suaminya, tanpa mengerti bahwa pandangan anaknya juga penting.
Rey yang sudah merasa cukup mengeluarkan semua unek unek pada orang yang melukai kekasihnya, melangkah pergi meninggalkan mama Aini yang masih termangu di tempatnya.
*****
"Minum ini dulu", Rey menyodorkan segelas minuman segar pada Aini yang tengah termenung di bangku pinggir jalan.
"Terima kasih", ucap Aini singkat seraya mengambil minuman dari tangan Rey.
"Mau aku peluk", tawar Rey kemudian melebarkan kedua tangannya.
Aini menoleh pada Rey. Terlihat wajah Rey tersenyum seolah mengisyaratkan semuanya akan baik baik saja asalkan bersama Rey. Aini pandang sekejap wajah pria itu, kemudian tanpa menjawab tawaran dari Rey, Aini segera mendekat dan mendekap erat tubuh pria itu.
'Menenangkan. Tubuh yang akan selalu aku rindukan', ucap Aini dalam benaknya.
Rey juga memeluk erat wanita yang begitu ia cintai sepenuh hatinya. Apapun akan Rey lakukan asal bisa membuat Aini tersenyum kembali. Bahkan meski harus menggapai mentari yang menyaksikan kemesraan mereka berdua kini.
"Terima kasih Rey. Aku udah ngerasa lebih baik sekarang", ucap Aini sambil melepas pelukannya perlahan.
"Baguslah Aini, aku gak mau ngeliat kamu terus menerus murung. Jangan khawatir yah ada aku ko", ucap Rey sambil tersenyum.
"Iyah sayangku", ucap Aini sambil tersenyum juga membuat Rey melepaskan tawanya.
"Ya udah sekarang kita pulang yuk, udah siang banget panas diluar"
*****
"Kau sudah mengurus semuanya?"
"Iyah Ren. Lo bisa masuk mulai besok. Di jadwal yang sama dengan Aini", pekik seseorang yang sedang bersama Reno.
"Bagus. Terima kasih Boy. Lo sudah mau membantu gue"
"Tentu saja Ren. Lo udah nyelamatin gue dulu, udah saatnya gue membalas budi"
Reno hanya tersenyum semirik. Baginya rencana dia untuk mendapatkan Aini tinggal beberapa langkah lagi. Entah apa yang membuatnya begitu terobsesi pada Aini. Namun kali ini Reno tak main main untuk mendapatkan wanita pujaannya.
"Dengar Boy, selamanya Aini akan menjadi milik gue. Kalau gue gak bisa ngambil dia, maka orang lain juga gak boleh ada yang memilikinya"
'Maaf Rey, gue harus bertindak sejauh ini. Karena bagi gue Aini sangatlah istimewa', ucap Reno dalam benaknya.
*****
"Wahh melelahkan sekali"
Arya membantingkan tubuhnya ke matras tat kala dia beristirahat di tengah latihannya. Ia silangkan kedua tangannya di bawah kepala sebagai bantal. Matanya ia pejamkan sebentar untuk menghilangkan rasa lelah.
'Aini.. Aini.. Aini..'
Pikirannya terus saja memutar memori tentang Aini. Ingin sekali Arya menyangkalnya namun ia memang benar sedang memikirkan Aini.
"Hahh siapa lo sebenarnya Aini?", tanya Arya bergumam sendiri dengan posisi yang masih sama.
"Tunggu dulu. Kenapa gue gak minta saja resume Aini ke kepala sekolah. Lagian gue harus tau latar belakangnya dulu sebelum melindunginya, siapa tau kan dia orang jahat", ucap Arya seraya bangkit dari tidurnya.
Arya merogoh saku celana trainningnya, ia mengambil ponsel dan mencari kontak kepala sekolahnya.
"Hallo. Selamat siang pak. Maaf bisa carikan aku sesuatu"
π Oh iya tentu saja pak Arya. Apa yang bisa saya bantu?
"Bisakah kau berikan resume Aini padaku?"
π Hmm tapi untuk apa pak?
"Saya harus mengetahui latar belakangnya", jawab Arya dingin.
π Ahh ahh iya. Nanti saya kirimkan pak. Tolong tunggu sebentar
"Baiklah. Hubungi saya kembali jika sudah"
π I-iya pak
Arya memutuskan panggilan dengan kepala sekolahnya. Ia menunggu sambil tiduran sebentar. Arya tak resah, karena tidak akan ada orang yang berani mengganggunya.
Drttt.. Drttt.. Drttt..
Suara getaran dari ponsel Arya membuat sang empunya bergegas membukanya. Pesan yang sendari tadi ia tunggu akhirnya datang juga.
Arya membuka file dari kepala sekolahnya itu. Membaca dengan seksama isi file tersebut. Namun ekspresinya sungguh tak terkira. Arya tercengang saat membaca keseluruhan. Matanya membulat, mulutnya terbuka, kepalanya bergeleng perlahan
"Wahh gak nyangka ternyata.."
Bersambung..