
"Lo gila? Lo mau masuk kuliah?", tanya seorang pria pada temannya.
"Iya. Gue bakal masuk ke universitas yang sama sama Aini"
"Dia bakalan mengenali lo, kalo lo nekad kaya gini"
"Cuma di sana gue bisa mengawasi Aini tanpa perlu khawatir soal Rey", ucap pria berbaju hitam itu.
Ruangan remang remang di penuhi dengan beberapa senjata tajam tampak di tempat itu. Ada sebagian dinding yang di penuhi dengan foto foto Aini.
Ya, dia adalah pengagum Aini. Lebih tepatnya dia sangat terobsesi pada sosok wanita bernama Aini. Baginya, jika bukan dia maka orang lain juga tak boleh memilikinya.
"Tunggu dulu. Ren jam tangan lo dimana?", tanya pria itu saat melihat tangan temannya kosong.
"Arghhh sial sepertinya gue menjatuhkannya. Tapi dimana ya?"
"Reno biar gue yang cari jejak jejak lo, lo fokus pada tujuan lo aja"
Reno, ya orang itu adalah Reno. Reno yang selama ini membuntuti Aini. Reno yang masuk ke villa kediaman Aini. Reno yang memperhatikan teman geng motornya berkemah. Dan Reno pula yang merencanakan untuk membawa Aini dari Rey.
Selama di luar negri, Reno ternyata gagal dalam melupakan Aini. Diperburuk dengan pergaulannya bersama para mafia di sana. Hingga saat ini Reno menjadi orang yang berbeda.
Wajahnya sudah tak sebersih dan setampan dulu lagi. Kumis yang tumbuh tipis ia biarkan, brewok yang mulai tumbuh di sekitaran dagunya juga ia biarkan. Baginya setiap waktu adalah Aini. Setiap detik yang berlalu adalah untuk melihat Aininya.
*****
"Woy, serius amat"
"Gimana udah keliatan belum?"
Aini berdiri berkacak pinggang sambil memelototi Arya yang menggodanya dari tadi. Tatapan horor sengaja ia lontarkan agar Arya tak mengganggunya lagi.
"Mending lo bantuin gue daripada cuma jadi PENGGANGGU", gerutu Aini penuh penekanan.
"Ahhh jadi lo butuh bantuan gue?", ujar Arya meremehkan.
"Hey gue bukan minta bantuan, lagian ini hasilnya juga bakalan jadi nilai lo. Inget ya kita itu satu kelompok jadi mohon kerjasamanya", ucap Aini seraya menempelkan kedua tangannya di depan dadanya.
Arya hanya menghela nafas. Kemudian ia beranjak dari tempatnya dan mengambil alih posisi Aini. Matanya ia dekatkan pada lensa mikroskop dan mulai mengatur jarak. Arya melakukannya dengan serius. Wajah seriusnya, dingin namun berkharisma membuat setiap kaum hawa yang melihatnya terpana. Begitupun Aini.
'Kenapa dia kaya dewasa banget kalo lagi serius kaya gini', batin Aini yang kemudian menggeleng gelengkan kepalanya agar dia tersadar bahwa barusan Aini tengah memuji Arya.
"Jangan liatin gue, lo bisa suka nanti", ujar Arya yang masih fokus pada objek pengamatannya.
"Hah? Liatin lo? Males banget gue. Ada di sini satu kelompok sama lo aja udah buat gue males", ucap Aini sambil melirik ke segala arah menyembunyikan kegugupannya karena tertangkap basah tengah memperhatikan Arya.
"Hmmm.. 😏", Arya hanya tersenyum sinis mendengar alasan Aini.
"Nah udah ketemu. Udah gue gambar juga. Tinggal lo salin ke kertas tugas dari dosen", ucap Arya seraya membereskan sisa sisa pengamatannya kemudian melangkah untuk berlalu.
"Arya?", teriak seorang wanita menghentikan langkah Arya.
Arya tersenyum, kemudian membalikkan badannya. Namun orang yang memanggilnya bukanlah orang yang dia harapkan. Senyumannya pudar, matanya terlihat kesal saat Arya melihat sosok orang yang melihatnya.
"Ar lo ada waktu gak nanti sore?"
"Engga"
"Ya ampun dingin banget sih makin greget deh", ucap wanita yang tadi memanggilnya.
"Terserah", jawab Arya dengan dingin.
"Ehh ngomong ngomong lo udah ingetkan nama gue?", ucap wanita itu sambil memegang lengan baju Arya.
Arya mengabaikan pertanyaan dari wanita itu. Matanya hanya tertuju pada Aini yang kini berjalan melewatinya. Aini bahkan tak melirik sedikitpun pada Arya yang tengah di goda oleh wanita genit. Arya hanya memperhatikan saat Aini berhasil melewatinya.
"Hey ganteng kamu ingetkan nama aku?", tanya wanita itu lagi sambil memegang pipi Arya kemudian mengarahkan untuk melihatnya.
Pakkk..
"Gue gak suka suka di sentuh orang", tegas Arya pada wanita itu kemudian Aryapun pergi menjauh dari wanita genit tadi.
"Dasar sombong sekali"
*****
"Hey Aini?"
"Ngapain sih lo nongol di sini?"
"Gue cuma kebetulan lewat sewot amat sih lo"
Arya yang melihat Aini sedang membaca buku di taman berniat untuk menghampirinya. Namun tingkahnya itu justru malah mendapat balasan jutek dari Aini.
"Hey?"
"Apa lagi sih lo? JANGAN GANGGU GUE", ucap Aini yang sudah terlanjur kesal sama Arya.
"Pliss jangan ge'er karena gue nyamperin lo. Gue bukan mau akrab sama lo cuma gue pengen tau aja keistimewaan lo apa sebenarnya", ucap Arya terang terangan.
Aini menutup buku bacaannya dengan kasar. Lalu menaruh di pangkuannya dengan kesal.
"Lo sebenarnya siapa? Wartawan? Nanya gue mulu. Nyebelin tau ga. Dan istimewa? Gak ada yang istimewa dari gue", tegas Aini pada Arya.
"Yapss betul banget gue juga mikir kaya gitu. Gak ada yang istimewa dari lo", ujar Arya seraya bertepuk tangan membenarkan jawaban Aini.
Aini yang terlanjur gedek dengan kelakuan menyebalkan Arya segera berdiri dan pergi begitu saja tanpa menghiraukan Arya yang duduk di samping nya tadi. Arya hanya melongo menatap punggung Aini yang mulai menghilang dari pandangannya.
'Hmm dasar cewe aneh', batin Arya.
*****
Rey sedang berada di basecamp sendirian. Tangannya sibuk memainkan bolpoint. Namun matanya sedang melamun dengan tatapan kosong.
"Woyy sendiri aja lo", tegur Ajay mengagetkan Rey dari lamunannya.
"Arghhh sial lo ngagetin aja", ucap Rey seraya mengelus dadanya.
"Apa yang mengganggu pikiran lo Rey?", tanya Ajay mulai serius.
"Sebenarnya kemarin Aini cerita ada masuk ke kamarnya malam malam"
"Wahh serius lo? Terus gimana aja?"
"Dia gak macem macem katanya, cuma Aini sadar aja jendela kamarnya terbuka"
"Apa kita harus menyelidikinya Rey?"
Rey tampak sedang berpikir. Mempertimbangkan ucapan Ajay. Apa memang harus di pecahkan bersama Black Tim atau dia bakal mengurusnya sendiri.
Sejenak Rey mengingat sesuatu. Perihal Ajay yang menemukan jam tangan tanpa pemilik kemarin di halaman velakang villa.
"Tunggu. Lo masih ngimpen jam tangan yang kemarin kan?", tanya Rey sambil menatap Ajay.
"Hmm iyah karena gak ada yang mengakui jadi gue simpen aja dulu"
"Mana sini. Gue mau lihat lagi", ujar Rey seraya menyodorkan tangan terbuka.
"Ahhh bentar dimana yah", ucap Ajay sambil merogoh saku celananya.
"Nah ini"
Ajay menyodorkan jam tangan hitam yang kemarin dia temukan pada Rey. Rey mengamatinya baik baik, dia merasa jam itu mirip dengan punyanya. Rey kemudian mengambil jam miliknya dan membandingkannya dengan jam temuan Ajay.
'Sama persis. Dan hanya satu orang yang memiliki jam tangan persis kaya punya gue', batin Rey yang mulai sadar pemilik dari jam itu.
Bersambung...