When I With You

When I With You
When I With You 1



Suasana di dalam Supermarket yang penuh dengan pelanggan tak menggoyahkan seorang gadis yang berjalan diburu waktu. Meski harus menabrak beberapa orang yang ia lewati, ia terus setengah berlari sambil meminta maaf.


Bruukk..


“Eh.. eh maaf, maaf. Saya lagi buru-buru”


“Punya mata gak sih lo?”, pekik seorang pria yang baru saja ditabrak oleh gadis itu.


“Eh mas ko malah sewot, saya kan udah minta maaf”


“Makanya kalau jalan pake mata jangan asal nyelonong aja. Lo kira ini tempat punya nenek moyang lo”, ucap pria itu kemudian berlalu.


“Eh.. dimana-mana jalan itu pake kaki bukan pake mata”


Setelah perdebatan yang tidak ada faedahnya itu selesai, gadis itu segera melaju kembali melanjutkan perjalanannya ke tempat tujuan.


“Huuhh.. nyebelin banget sih tuh cowo. Cuma kesenggol dikit udah kaya abis di jorokin aja. By the way maaf ya aku telat?”, gerutu si gadis tadi.


“Iya gak apa-apa. Emangnya Kenapa sih Aini? Ko dateng-dateng bete gitu?”, Tanya Rey.


*Aini Aurora Maharani. Seorang gadis yang cantik, baik, supel, ramah, namun terkesan cerewet.


*Rey. Reynaldi Alvaro seorang anak geng motor terkenal di Bandung yang kini menyandang sebagai pacar Aini.


“Kamu tau gak? Tadi aku gak sengaja nabrak cowo gara-gara aku lari biar cepet nyampe ke sini. Aku udah minta maaf tapi tuh cowo malah ngegas”, ucap Aini dengan wajah cemberut.


“Ckck.. udah kali gak usah dipikirin. Jangan cemberut kaya gitu, gemes gue liatnya”, goda Rey seraya mencolek pipi manis Aini.


“Ya udah kita lupain soal cowo tadi. Oh iya, ada apa sih ko tiba-tiba mau ketemu di tempat kaya gini?”


“Ada hal yang mau aku omongin sama kamu”


“Apa?” Tanya Aini mulai cemas dengan topic yang akan dibahas oleh Rey.


“Tapi janji kamu jangan marah dulu”


“Tergantung, kalo kamu mau ngomongin cewe lain aku gak punya alasan untuk gak marah”


“Ini bukan soal cewe lain Aini, tapi tentang kita”


Aini merenung sejenak memahami kata-kata Rey, karena perasaan Aini dan Rey baik-baik aja dan gak ada yang perlu dibicarakan.


“Emangnya ada apa sama kita?”


Rey mulai menatap bola mata Aini lekat, tangannya meraih tangan Aini untuk ia genggam, seolah ia takut tak bisa menggenggam tangan itu lagi.


“Aini, kamu taukan kalo aku sayang banget sama kamu?”, Tanya Rey dengan tatapan yang meyakinkan, dan Aini hanya menjawab dengan anggukan.


“Dengerin aku sayang, jika suatu saat nanti terjadi sesuatu sama aku, janji sama aku kamu akan terus melanjutkan hidup kamu dengan bahagia”


Mendengar omongan Rey, Aini reflek melepaskan tangannya dari genggaman Rey, ia menggelengkan kepala tak percaya Rey akan membahas hal seperti ini. Memang, sudah jadi rahasia umum jika Aini memiliki banyak masalah dalam hidupnya, beberapa kali ia harus putus asa karena masalah tersebut, namun Rey selalu membantunya dan ada di samping Aini. Karena itulah Aini mulai bergantung pada Rey. Bisa dibayangkan apa jadinya jika tak ada Reynaldi di samping Aini.


“Kamu ngomong apa sih Rey? Aku gak mau kamu bahas kaya gini. Aku gak mau terjadi sesuatu sama kamu”


“GAK!! Kalau kamu pergi aku akan ikut. Kemanapun kamu pergi aku harus ikut. Entah kamu pergi dari kota ini, dari Negara ini, ataupun dari dunia ini sekalipun, aku tetap ikut kamu. Aku gak bisa hidup tanpa kamu”, ucap Aini dengan mata yang kian mengeluarkan butiran bening.


“Aini..”


“CUKUP!. Aku gak mau membahas ini lagi”, dengan cepat Aini memotong pembicaraan Rey agar tidak berlanjut lebih lama. Namun apa daya, air mata Aini sudah terlanjur membasahi pipinya.


“Ya udah aku gak akan bahas ini lagi. Jangan nangis! Mm.. aku sayang sama kamu”, ucap Rey sambil mengusap air mata yang terus berjatuhan dari mata Aini. Dan kemudian ia memeluknya untuk menenangkan Aini.


Flashback


Pertemuan Reynaldi dan Aini


*Malam itu rintikan hujan kian membasahi setiap sudut kota. Tak banyak yang lewat malam itu, mungkin karna cuaca yang sedang hujan membungkam orang orang yang hendak bepergian kala malam. Kendaraan yang berlalu lalang masih bisa terhitung oleh jari.


Tapi setelah itu... deru suara motor terdengar nyaring, mungkin saking banyaknya. Suara canda tawa, membual hal tak berguna mulai terdengar jelas. Remang yang terlihat oleh mata seorang gadis yang tengah terduduk meringkuk di sudut toko yang sudah tutup mulai silau dengan sorotan kendaraan tersebut.


Terlihat jelas sesosok gadis meringkuk di sudutan toko itu, namun beberapa dari pengendara motor itu tak menghiraukannya. Namun tiba- tiba sang pengendara sepeda motor besar berwarna merah yang tadi terlihat berada paling depan memutar balik dan menginstruksi temannya yang lain untuk lanjut.


Ia berhenti di depan toko. Memarkirkan motornya dengan apik, kemudian menghampiri gadis di pojokan sana.


“Hey? Sedang apa malam malam di sini?”, Tanya pria itu dengan tatapan heran. Mungkin ia penasaran apa gadis itu waras atau mungkin hanya orang gila saja.


Perlahan gadis itu menyingkirkan tangan yang sendari tadi meringkukan area wajahnya.


Wajahnya sendu dengan mata sembab, terlihat pula beberapa luka di wajahnya membuat pria itu merasa iba.


“Kamu terluka? Mau aku antar pulang?”, bukan menjawab pertanyaan pria itu, gadis itu malah mulai terisak, menundukan kepalanya dan menangis tersedu-sedu.


Pria itu bingung bukan main. Kemudian ia memberikan jaketnya sebagai penghangat tubuh gadis itu. Menepuk pundak gadis itu berharap ia akan merasa tenang. Tak lama, pria itu berdiri. Memutuskan untuk pergi agar tak mengganggu gadis itu.


Namun ketika ia mulai melangkahkan kakinya, tangan mungil nan pucat menahan langkah kaki dengan memegangi celana pria itu.


“Ada apa? Ada yang bisa aku bantu?”, pria itu kembali bertanya. Namun gadis itu masih enggan untuk bicara, hanya menganggukan kepalanya. Pria itu tersenyum kecil, menggapai tangan yang menahan kakinya.


“Bicaralah. Aku bukan orang jahat ko. Katakan apa yang bisa aku bantu untukmu?”


“Aku ga mau pulang hiks hiks”, untuk pertama kalinya gadis itu membuka mulutnya dan bicara, meskipun dengan isakan tangis. Sejenak pria itu berfikir (Harus aku bawa kemana gadis ini kalau dia gak mau pulang?).


“Kamu mau ikut ke rumahku? Enggak bakalan apa apa ko, jangan takut di sana ada mamah aku, aku gak bakalan macem – macem”, terang pria itu dengan senyum simpul yang manis khawatir gadis itu akan salah paham.


Namun gadis itu malah terdiam seribu bahasa. Menatap lekat – lekat mata pria tersebut. Entah apa yang sedang di fikirkannya. Namun malam itu sungguh membuat hati pria itu dilema. Tak ingin meninggalkan gadis malam – malam di jalanan, namun tak ingin juga ia memaksa gadis itu untuk


ikut dengannya*.


Bersambung...


Kesepian itu bukan tentang dimana kau berdiri sendiri, namun dimana saat kau ingin berbicara dan tak ada yang memahami perasaanmu..