When I With You

When I With You
When I With You 23



Siang sudah berlalu, berganti malam yang begitu menegangkan. Sekelompok orang beranggotakan 4 orang ini tengah sibuk berdiskusi akan sesuatu hal yang penting. Terlebih lagi Rey, dapat dilihat dari sorotan mata dan ekspresinya dia mencemaskan sesuatu.


"Rey ada apa lo minta black tim kumpul malam malam begini"


"Sengaja biar yang lain udah pulang dan Aini juga pasti udah tidur. Ada hal penting yang harus gue omongin sama kalian semua"


"Oke jadi ada masalah apa", tanya Dewi sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Kemarin saat kemah di villa Aini bilang ada seseorang yang menyusup ke kamarnya", jelas Rey.


"Wahh siapa? Maling?", tanya rani yang matanya sudah membulat tak percaya Aini diam saja.


"Bukan. Tak ada barang yang hilang. Namun sepertinya dia memperhatikan Aini"


"Maksud lo dia penguntit Aini? Pengagum?", tanya Dewi masih tak menyangka.


"Bisa jadi kaya gitu Dew. Diperkuat dengan adanya bukti ini", ujar Ajay sambil menunjukan jam tangan yang dia temukan kemarin.


"Lo masih belum nemuin pemiliknya Jay?"


"Belum dan sepertinya orang yang masuk ke villa pemilik jam ini", ucap Ajay menerka nerka.


"Apa yang lo pikirkan Rey?", tanya Rani saat melihat Rey melamun menatap jam tangan di genggaman Ajay.


"Guys, jam tangan ini mirip persis sama jam tangan gue", ujar Rey kemudian mengeluarkan jam tangan miliknya untuk di bandingkan dengan jam tangan temuan Ajay.


"Wahh bukannya jam tangan lo limited edition ya Rey?"


"Benar sekali dan hanya ada satu orang yang punya jam seperti ini selain gue"


Ucapan Rey barusan membuat 3 pasang mata menatap penasaran ke arahnya. Semuanya menyimak dengan baik kata kata Rey. Dibenak mereka tersimpan begitu banyak rasa penasaran sehingga mereka fokus dengan setiap ucapan Rey.


"Di sini selain gue yang punya jam tangan kaya gini, ada satu orang lagi yaitu Reno"


Ketiga manusia itu membelalakan matanya tat kala nama Reno di sebut. Sudah lama sekali mereka tak mendengar nama Reno. Dan perkara beberapa hari kebelakang tentang Reno yang kemungkinan kembali sempat mereka hiraukan karena tak ada kabar lagi.


"Lo gak salah kan Rey? Selama ini kita gak tau Reno suka pakai ini", ujar Dewi yang langsung berdiri.


"Iya Dew. Hal yang mungkin tak kita perhatikan bisa saja menjadi bukti. Gue tau ini karena gue paling deket sama Reno dan dia juga pernah cerita ke gue perjalanannya untuk mendapatkan jam ini", jelas Rey kemudian menunduk.


"Lo punya bukti kalau ini milik Reno?", tanya Ajay.


Rey merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel miliknya. Dibuka galeri foto dalam ponselnya dan ia gulir ke kenangan dulu bersama Reno. Di sana nampak sebuah foto dimana Rey dan Reno sedang merangkul satu sama lain sambil mengacungkan jempolnya. Otomatis kedua jam tangan yang kembar itu terekspos karena Reno memakainya di tangan kanan dia.


Setelah melihat foto itu, yang lain percaya pada ucapan Rey. Namun belum ada yang berani bersuara lagi. Karena masalah ini kini tak hanya untuk melindungi Aini, tapi juga menyelamatkan sahabat mereka Reno yang sudah sesat jalan.


Keempat orang itu malah saling hanyut dalam pikirannya masing masing. Memikirkan alasan alasan yang tepat untuk Reno melakukan hal sampai sejauh ini.


*****


Malam berlalu begitu cepat bagi Aini yang kini sudah bersantai di balkon kamarnya. Menikmati udara pagi dengan sorotan hangat cahaya mentari. Malam ini memang tidurnya tak nyenyak, namun ia merasa tenang karena tak terjadi apapun malam ini. Ya sebenarnya Rey sudah memesan security untuk berjaga malam di depan villa itu agar Aini tetap aman.


Drrtttt.. Drrtttt.. Drrttt..


Suara getaran dari ponsel Aini membuat sang empunya segera berlari ke kamarnya. Seseorang yang dia nantikan akhirnya menghubunginya pagi pagi.


"Hallo sayang"


"Hmm pagi juga", balas Aini sumringah.


πŸ“ž Libur gini mau kemana nih tuan putri?


"Entahlah tuan putrinya lagi bingung. Lagi pengen nikmatin hari liburnya bareng pangeran dia"


πŸ“ž Ahahaha kau ini bilang saja kalau kamu pengen aku ke sana sekarang


"Ehehehe lari yu mumpung masih pagi"


πŸ“ž Oke sayang tunggu bentar yaa


"Cepetan yah aku udah siap soalnya. Gak pake lama"


πŸ“ž Iya iya bawel


Aini mengakhiri panggilan dari Rey dan segera turun ke bawah untuk menunggu Rey datang. Ia tak sarapan kali ini, rencananya dia mau sarapan di luar sama Rey.


Setelah beberapa menit akhirnya Rey datang juga. Keduanya kemudian bergegas untuk lari ke arah taman. Sepanjang jalan mereka tak henti mengobrol, bercanda, saling menggoda dan kemudian keduanya tertawa bersama.


Betapa sederhananya kebahagian yang mereka rasakan saat ini. Tak perlu shopping ke mall, tak perlu berjalan jalan di tempat wisata, lari ke taman dekat villa kediaman Aini saja mereka sudah merasa senang.


Terlebih Rey, baginya senyuman Aini adalah kebahagiaannya. Dia merasa tenang saat Aini tertawa, karena disaat itu Rey merasa telah berhasil menjadi lelaki Aini.


*****


Di kediaman Arya sorak suara tentara yang tengah berlatih terdengar keras. Merusak gendang telinga bagi siapa saja yang belum terbiasa mendengarnya.


Di saat yang lain sibuk melatih otot tubuhnya, Arya justru malah melamun sambil memainkan barbelnya. Sebenarnya tanpa melamunkan sesuatupun Arya tak akan berinteraksi dengan orang lain. Dia hanya akan sendiri, dan menyendiri.


'Arghhh kenapa berasa ada yang kosong yah?', ujar Arya dalam hatinya resah.


'Seharian ini gue gak akan ketemu Aini', batinnya lagi yang kemudian dia menghentikan aktifitasnya dan tercengang dengan pemikirannya barusan.


'Tunggu tunggu tunggu. Buat apa gue ketemu Aini tiap hari? Lagian apa faedahnya harus ngeliat dia. Pliss jangan **** Arya, jangan sampe lo tertipu sama manusia pendusta'


Arya memukul ringan barbel ke kepalanya agar dia bisa berfikir jernih lagi. Orang orang di sekitarnya hanya melirik Arya dengan tatapan aneh. Namun tak ada satupun dari mereka yang berani menegur Arya. Dan Arya yang menyadari tingkahnya malah menjadi pusat perhatian hanya mengabaikan dengan kaku.


*****


"Rey kita istirahat di sini dulu yu?", ajak Aini sambil menunjuk sepasang ayunan di taman.


"Iyah yuk sayang"


Aini dan Rey berjalan mengarah pada sepasang ayunan di tengah taman. Sesekali Aini meneguk air minumnya karena kehausan sepanjang jalan.


Namun di saat mereka berdua hampir sampai pada tujuannya, seseorang memanggil nama Aini hingga Aini menghentikan langkahnya.


"Aini", teriak seseorang dari belakang.


Aini yang merasa terpanggil segera menoleh diikuti oleh Rey juga. Namun Aini melotot saat melihat sosok orang yang memanggilnya itu. Tangannya berkeringat tanda ia tak nyaman bertemu orang itu. Kakinya perlahan berjalan mundur menjauhi sosok di depannya. Namun orang itu malah semakin mendekatinya membuat Aini merasa ngeri.


"Gue gak mau ketemu lo lagi"


Bersambung...