
Brakk..
Suara pintu Supermarket yang sepertinya di dobrak oleh seseorang.
“HENTIKAN PERBUATAN KALIAN SEKARANG JUGA”, ucap salah satu dari mereka yang baru saja datang.
Aini yang merasa penasaran, mengintip dari balik rak. Kali ini bukan segerombol pria bertubuh kekar, melainkan lima orang berbaju hitam seragam memakai topi dan masker untuk menutupi wajahnya.
“Siapa kalian?”, Tanya pimpinan penjahat itu.
“Akan lebih baik kalau kalian tidak mengetahui siapa kita”, ucap Rey mantap.
“Banyak bacot kaliannnn”, teriak salah satu dari penjahat itu, kemudian mereka mulai menyerang orang – orang berseragam hitam.
Perkelahian di Supermarket itu tak terelakan lagi. Barang jual hancur berceceran dimana – mana. Fasilitas Supermarket juga banyak yang rusak. Termasuk rekaman CCTV, yang ternyata sudah di sadap sebelumnya oleh Reno sehingga saat ini tak berfungsi.
“Aaaaaaahhhhh...”, teriak Aini.
Karena perkelahian yang hebat, rak barang yang digunakan oleh Aini sebagai tempat persembunyiannya roboh dan menimpanya.
Salah seorang pria berseragam hitam itu segera berlari ke arah suara teriakan wanita, dan membantunya menyingkirkan rak.
“Kau tidak apa – apa?”, Tanya pria itu.
Matanya melongo ketika melihat wanita yang tadi berteriak, ternyata pria itu adalah Rey. Betapa terkejutnya ia mendapati Aini di sana dan terluka karena tertimpa rak barang.
Aini yang terluka hanya meringis kesakitan, tanpa perduli siapa yang baru saja menolongnya. Dan bahkan saat pria itu membopongnya untuk membawa Aini pergi, ia masih tidak mengenali orang itu adalah Rey.
“Hahh, Aini?”, Ajay juga terkaget ketika melihat Rey membopong Aini yang terluka.
“Ran, bantu gue”, teriak Rey yang berusaha membawa Aini keluar dari Supermarket itu.
Rani yang merasa terpanggil segera berlari menyusul Rey.
“Ran tolong bawa Aini ke rumah sakit, gue akan mengurus mereka dulu”
“Hmm baik Rey Aini biar gue yang urus”, ujar Rani yang langsung mengambil alih membopong Aini.
Aini merasa heran sekaligus kaget karena mendengar pembicaraan mereka yang sepertinya mengenal Aini dengan baik. Namun ia tak punya waktu untuk menyampaikan rasa penasarannya. Saat ini yang ia khawatirkan adalah kakinya yang terasa ngilu, sakit dan juga perih.
Melihat kondisi Aini, Rani dengan segera membawanya ke Rumah Sakit, sedangkan Rey ia kembali ke dalam untuk mengurus para penjahat itu. Meskipun hatinya sedang kacau karena mengkhawatirkan Aini, namun ia tetap professional menjalankan misinya.
*****
Setelah beberapa saat, para penjahat itu akhirnya berhasil di kepung. Rey dan teman – temannya menyerahkan mereka ke pihak Supermarket.
“Setelah ini terserah kalian mau apakan mereka. Yang penting, jangan melibatkan kami lagi setelah ini. Kami tidak boleh berurusan dengan polisi, jadi mohon bantuannya”, pinta Reno.
“Iya baiklah. Terima kasih sudah membantu “, ujar salah seorang karyawan Supermarket.
Rey dan yang lainnya sudah selesai dengan urusannya dan berniat untuk pergi. Namun langkahnya dihentikan.
“Hey, urusan kita belum selesai. Mari bertemu di luar setelah ini”, ujar pimpinan penjahat itu meremehkan.
“Datanglah. Saat lo udah siap menghadapi kami”, ucap Rey tanpa membalikkan badannya.
Setelah itu merekapun bergegas pergi. Terlebih lagi mereka sangat mengkhawatirkan kondisi Aini dan berniat untuk menjenguknya ke Rumah Sakit.
*****
Rey berjalan perlahan. Langkahnya mengarah pada sosok perempuan yang tengah terbaring di ranjang Rumah Sakit. Bau tak sedap dari aroma obat – obatan menyumbat hidung mancung Rey. Namun tak ia hiraukan, yang terpenting saat ini adalah kondisi wanita di hadapannya yang tak kunjung siuman.
“Kau dengar Aini? Jantungku berdetak untukmu. Maka bangunlah sebelum jantungku keluar dan memaksamu untuk bangun”, canda Rey yang berharap Aini lekas terbangun dari tidurnya.
“Sepertinya lo jatuh cinta sama dia”, pekik seseorang dari arah pintu masuk. Membuat Rey terkejut dan langsung berbalik.
“Dewi? Gue pikir lu udah pulang bareng yang lainnya”
“Lo pikir gue bakalan ninggalin lo berdua sama Aini”
“Lahh kenapa? Lagian bentar lagi gue pulang ko”
“Karena itu, gue mutusin buat nemenin Aini malam ini. Gue udah kabarin keluarganya dari tadi, tapi sampai sekarang gak ada satupun yang datang. Dan lo juga mungkin harus pulang. Gue gak mungkin ninggalin temen gue sendirian”, ucap Dewi seraya duduk di pinggiran ranjang itu. Tangannya mengelus kepala Aini, menatapnya iba. Dalam kondisi seperti ini pun, dia harus ngelewatinnya sendiri.
“Kasihan Aini. Tetap kuat ya Aini, gue bakal jagain lo selagi lo tidur”, ujar Dewi kembali.
Melihat hal itu, Rey merasa sedih. Sudah hampir pagi namun tak ada satupun dari keluarganya yang datang untuk menjenguk. Alhasil Rey pun tak jadi untuk pulang, dan memutuskan bersama Dewi untuk menemani Aini.
*****
“Dokter bilang seharusnya nanti siang Aini sudah sadarkan diri. Dia hanya terluka di kakinya, jadi lo gak perlu khawatir lagi”
“Ahhh.. Iya. Syukurlah “
“Lo suka sama Aini Rey?”
Mendapat pertanyaan seperti itu dari Dewi, Rey hanya terdiam. Memikirkan baik – baik pertanyaan Dewi, yang sebenarnya diapun selalu di buat bingung sama perasaannya sendiri. Rasa khawatir yang berlebihan ketika melihat Aini terluka, rasa sedih ketika melihat Aini menangis, serta rasa takut akan kehilangan Aini tak bisa dipungkiri lagi oleh Rey.
“Entahlah Dew. Untuk saat ini, gue Cuma pengen Aini seneng”
“Rey, kenali baik – baik perasaan lo. Kalo menurut gue sih, Aini pantes buat lo. Dia cewe baik, dan bisa buat lo selalu ceria”
Rey menoleh, menatap mata Dewi. Menyerap dengan baik setiap kata yang keluar dari mulut Dewi. Hatinya berkata setuju, namun pikirannya masih tak menentu.
“Apa ada keluarga dari pasien bernama Aini?”, Tanya seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang rawat Aini. Rey dan Dewi segera berdiri dan menghampiri dokter tersebut.
“Bagaimana kondisi Aini dok?”, Tanya Dewi.
“Aini sudah sadarkan diri. Lukanya tak terlalu parah dan nanti dia bisa langsung pulang. Tapi agar bisa sembuh total, ia harus rutin memeriksa kakinya ke sini”
“Baik dok. Terima kasih”
Setelah dokter itu pergi, mereka berdua langsung menemui Aini.
“Aini? Lo gak apa – apa kan?”, Tanya Dewi sambil berlari kecil menghampiri Aini yang masih terbaring di ranjangnya.
“Aku gak apa – apa Dew. Mama sama papa aku mana ya?”
Seketika Dewi terdiam, matanya menoleh pada Rey, tangannya masih menggenggam erat tangan Aini. Ia tak tega untuk mengatakan bahwa keluarganya tak ada yang datang.
“Ahhh.. Aini dokter bilang nanti kamu udah bisa pulang. Tapi sebulan sekali kamu harus check up kaki kamu ke sini, biar kaki kamu sembuh total”, Rey membuka suara setelah kebingungan harus menjawab seperti apa pertanyaan Aini.
Aini hanya mengangguk mengiya kan ucapan Rey. Matanya terlihat kecewa dan wajahnya murung. Sampai mereka pulang pun Aini tak banyak bicara. Ia hanya berbicara seadanya, itupun jika ia mendapat pertanyaan dari Dewi dan Rey. Selebihnya, ia kalut dalam pikiran dan hatinya yang terluka.
Bersambung..
“Aku butuh seseorang yang bisa mengerti tanpa harus berbicara, dan juga memahami tanpa perlu menjelaskan..”
~ Aini Aurora Maharani