
Dukkkk..
“Aini lo baik – baik aja kan? Gue denger lo hampir ketabrak mobil”, teriak Dewi yang baru saja datang ke basecamp sambil membuka pintu terburu – buru sampai kakinya tersandung kaki kursi.
“Gue baik – baik aja Dew, gak usah khawatir kaya gitu”
“Lagian gimana bisa sih lo hampir ketabrak gitu”
“Gue lagi nyebrang tadi, tiba – tiba aja ada mobil yang melaju cepat. Tapi untung saja ada orang yang menolong gue tadi, jadi gue gak kenapa – kenapa”
“Wahh, gue berhutang budi sama orang itu karena sudah menyelamatkan nyawa temen gue ini”, ucap Dewi yang merasa lega dan merangkul Aini.
Rey termenung dalam pikirannya, baginya ada hal yang janggal atas kejadian ini. Terlebih dia merasa bersalah karena seandainya dia menemani Aini tadi, hal seperti ini tidak akan terjadi. Namun nasi sudah menjadi bubur. Bukan waktunya lagi untuk menyesal, lagian Aini juga baik – baik saja.
“Ahh. Ngomong – ngomong Reno kemana ya? Ko dia gak datang? Apa dia masih marah sama gue?”, Tanya Aini yang membuat seisi ruangan itu hening.
Rey dan temannya yang lain baru saja mendapat kabar dari Reno tadi pagi, kalau Reno memutuskan untuk ke luar negri. Reno bilang akan melanjutkan kuliah di sana dan juga akan menikmati waktunya untuk menenangkan diri. Sepertinya hanya Aini yang tak mendapat pesan seperti itu dari Reno.
“Sepertinya lo belum tau ya Aini, kalo Reno tadi pagi berangkat ke luar negri”, ujar Rani.
“Apaa? Kenapa? “, Aini merasa terkejut dan mengira kalau Reno pergi untuk menghindarinya.
“Reno bilang dia mau ngelanjutin kuliahnya di sana jadi kamu gak perlu merasa kalau Reno pergi karena kamu”, ucap Rey.
Sebenarnya Rey tak bisa mengantar Aini tadi, karena ia harus menyusul Reno ke bandara. Ada hal yang perlu dia bicarakan dengan Reno. Dan itu semua menyangkut Aini dan alasan Reno pergi.
Aini terdiam, wajahnya menunduk dengan sedih. Ia tak menyangka akan seperti ini kejadiannya. Namun teman – temannya yang lain berusaha menghibur dan mengatakan kalau kepergian Reno bukan karena Aini.
*****
“Arya mulai sekarang kamu akan menyandang sebagai Kapten menggantikan kakakmu. Karena mungkin kamu masih berduka atas kepergian Kapten Ryan, maka kamu akan di tempatkan di markas dekat rumah sakit sebagai pelatihan penenangan dirimu”, ucap seseorang pada pria itu.
“Kapten Arya Gio Nugraha menerima perintahmu dan siap di tempatkan dimanapun”
'Kalo berniat membuat gue tenang dari rasa berduka gue, harusnya gue di kasih liburan ke Swiss kek. Ini malah kaya hukuman jdi relawan rumah sakit', gerutu Arya dalam benaknya.
“Bagus Arya. Belajarlah bergaul disana dan coba berinteraksi dengan masyarakat”
Pria itu bernama Arya. Lebih tepatnya Arya Gio Nugraha. Seorang tentara yang berhati dingin dan tak perduli pada sekitarnya. Memandang orang lain itu tak ada dan hidupnya hanya sendiri. Baginya, ia bisa tetap hidup meskipun tanpa orang lain.
Dan hari ini Arya sudah dipindah tempatkan ke tempat pelatihan di dekat rumah sakit yang biasa Aini kunjungi. Di sana Arya harus belajar bersosialisasi dengan orang – orang dari mulai orang lanjut usia sampai anak – anak. Ia juga diperintahkan untuk memasuki kuliah umum untuk melaksanakan misi khususnya sebelum pelantikan sebagai kapten.
*****
Hari sudah sore, anak – anak geng garuda masih berkumpul di basecamp. Beberapa dari mereka sudah ada yang pulang duluan. Sementara yang lainnya masih asik bercanda, bermain gitar dan mengobrol bersama.
“Aini kebelakang sebentar yuk?”, ajak Rey seraya menyodorkan tangannya.
Aini memandang Rey dan menggapai tangannya, membuat sorak suara dari teman – teman yang melihat mereka berdua bergandengan tangan.
Rey menggenggam erat tangan Aini dan membawanya kebelakang basecamp.
“Melihat pemandangan di kala senja”, ujar Rey seraya melihat langit yang mulai berubah warna.
Aini mengikuti langkah Rey dari belakang dan berdiri di samping Rey mengikuti arah pandangan Rey.
“Aini ada yang mau aku omongin sama kamu”, ucap Rey yang masih memandang lurus ke depan.
“Ada apa Rey? Katakana saja?”, jawab Aini seraya menoleh menghadap Rey.
Rey membalikan badannya dan menghadap Aini. Pandangannya kini ia alihkan ke mata Aini. Begitu dalam dan memiliki banyak arti. Nafasnya ia tarik dalam – dalam dan dihembuskan perlahan, tanda dia sedang mempersiapkan diri.
“Aini. Aku menyukaimu”, ucap Rey begitu singkat namun mampu membuat jantung Aini berdegup cepat dan berdebar - debar.
“A,, apa maksudmu Rey?”, Tanya Aini dengan terbata – bata.
Rey meraih kedua tangan Aini. Di genggamnya kedua tangan itu. Lalu kemudian ia mencium lembut punggung telapak tangan Aini.
“Sudah lama Aini aku bingung dengan perasaanku sendiri. Ketika kamu menangis, sedih, terluka, entah kenapa aku juga merasakan sakit itu. Dan ketika melihat kamu tertawa, bahagia, aku merasa lega. Seolah kamulah tujuanku berjuang”, ucap Rey seraya menatap dalam bola mata Aini.
Aini hanyut dalam tatapan itu. Ia terbuai dengan setiap kata yang keluar dari mulut Rey. Hatinya senang, senyumannya merekah.
“Jadi?”, Tanya Aini kemudian.
“Apa kamu mau berada di sampingku, menjalani lika liku kehidupan ini. Berbagi setiap kesedihan dan kebahagiaanmu? Dan hanya akulah tempat bersandarmu”, ucap Rey penuh harapan.
Tanpa berpikir lama – lama Aini mengangguk sambil tersenyum senang. Rey yang bisa menebak dari ekspresi Aini juga ikut tersenyum riang.
“Rey sebenarnya aku juga mengharapkanmu. Di saat kemarin Reno menyatakan perasaannya, aku pikir orang itu adalah kamu. Aku bahkan begitu semangat dan datang ke sini lebih awal. Cuma karena aku ingin bertemu kamu”
“Maafkan aku Aini, karena membuatmu menunggu terlalu lama”
“Tidak apa – apa Rey, pada akhirnya hatiku tetap memilihmu”
Senyuman manis terukir di bibir Aini. Hatinya seakan berbunga – bunga. Matanya tak henti menatap bola mata Reynaldi.
Senja hari ini telah menjadi saksi dimulainya kisah cinta Aini dan Reynaldi. Langit yang mulai menggelap dan menampakkan bintang ikut andil memperindah suasana hati keduanya. Dan lampu di kota satu persatu mulai menyala, seakan menandakan kehidupan akan cinta telah dimulai.
‘Terima kasih Tuhan, kau memberiku lebih dari apa yang aku butuhkan’, ucap Aini dalam benaknya.
‘Terima kasih Tuhan, kau mempertemukanku dengan salah satu bidadarimu. Akan ku jaga dia dengan hidupku. Tak akan aku biarkan dia terluka lagi. Inilah janjiku.!’, ucap Rey dalam hatinya.
Aini dan Rey saling memandang cukup lama. Senyuman terus merekah di sudut bibir keduanya. Perlahan Rey menarik Aini untuk lebih dekat dengannya.
Ia tatap begitu dalam mata Aini, dan menarik tubuh Aini ke dalam pelukannya. Memeluknya dengan erat, seolah tak ingin di lepaskan walau hanya sekejap, tak ingin ia alihkan walau hanya sebentar.
Keduanya hanyut dalam dekapan yang menenangkan. Mengobati dinginnya malam dengan kehangatan. Menikmati indahnya semesta dengan kasih sayang. Dan mensyukuri keajaiban senja dengan cinta.
Bersambung...