
"hmmm.."
Aini melenguh di saat cahaya mentari menerobos masuk kamarnya melalui sela sela jendela kamarnya. Matanya perlahan terbuka. Sosok pertama yang di dapati oleh matanya adalah orang tercintanya, Rey.
Aini mengelus lembut rambut Rey yang sedang tertidur di samping ranjangnya. Tangannya masih menggenggam tangan Aini yang lainnya. Ia tertidur sambil duduk menjaga Aini.
'Terima kasih Rey'
Senyuman mulai merekah di sudut bibir Aini. Perasaan lega dan aman di saat dia menatap wajah Reynaldi. Namun ia patut berterima kasih juga pada sosok lain yang menyelamatkannya tadi malam.
'Arya? bagaimana bisa Arya datang tepat waktu?', tiba tiba saja Aini terpikirkan Arya yang datang lebih cepat daripada Rey. Namun daripada merasa penasaran atas alasan Arya bisa ada di rumahnya, Aini lebih bersyukur karena Arya menyelamatkannya.
hmmm..
Rey bergumam dan terbangun dari tidurnya. Ia mendapat senyuman manis dari wanitanya saat pertama kali membuka matanya dari tidur. Perasaannya sungguh lega karena orang yang ia sayangi baik baik saja. Bahkan kini dia tengah mengelus sambil tersenyum menatap Rey.
"good morning my prince", goda Aini.
"hmm dasar. kau baik baik saja?", tanya Rey sambil beranjak dan duduk di ranjang menghadap Aini.
"aku sedikit takut semalam, tapi akhirnya bisa tertidur nyenyak berkat kamu", ucap Aini sambil tersenyum.
"mau ku peluk?"
Aini mengangguk mengiyakan tawaran Rey. Rey yang berada di hadapannya merebahkan kedua tangannya untuk mendekap Aini.
"kau merasa tenang sekarang Aini?"
"hmm tentu saja Rey", ucap Aini dalam pelukan Rey.
"tunggu..", ucap Rey menggantung kemudia melepaskan pelukannya dan malah menatap lekat bola mata Aini.
"apa?", tanya Aini waspada karena perubahan ekspresi wajah Rey.
"ngomong ngomong siapa cowok yang semalam meluk kamu?"
"ahhh itu Arya. teman kampus aku sayang"
"ahhh Arya yang waktu itu nganterin kamu pulang"
"iyah", jawab Aini dengan nada ragu karena terkejut Rey bisa tau ia pernah diantar pulang oleh Arya.
"ohh gitu..", jawab Rey kesal kemudian melepaskan tangannya yang tadi memegang pundak Aini.
"kenapa kamu? cemburu?", goda Aini ketika melihat wajah muram Rey.
"hah? cemburu? maaf banget ya Aini Aurora Maharani, gak ada kata cemburu di kamus hidup seorang Reynaldi", ujar Rey mengelak.
"yakin gak cemburu?", Aini semakin menggoda Rey.
"udah diem. gak usah nyebelin gitu, dan jangan meluk cowok lain lagi kaya semalem"
"iya sayang", ucap Aini sambil tertawa geli.
"cuma gue yang boleh meluk lo ya, awass lo. aku turun duluan kamu siap siap ke kampus dulu sana", ujar Rey sambil berjalan mundur meninggalkan Aini, sedangkan Aini malah tertawa geli melihat tingkah Rey yang menggemaskan.
*****
"SIALLLL"
"arghhhh.. liat aja nanti gue pasti bisa dapetin Aini", kekeh Reno sambil memukul keras meja yang ada di depannya.
"tentu saja Ren. gue juga pasti membantu lo"
"kalo dengan cara seperti ini selalu gagal, sepertinya kita harus pakai cara yang mengerikan", ucap Reno sambil menyirikan senyumannya.
"maksud lo gimana Ren?"
"hmmm.."
Reno menatap tajam ke depan sambil mengepalkan kedua tangannya. Senyuman meremehkan terukir di bibirnya. Dan lagi, Reno merencanakan sesuatu yang jahat untuk memisahkan Aini dari Rey.
*****
Aini kini sudah berada di kampusnya. Ia di antar oleh Rey yang kemudian Rey pulang ke rumahnya. Sepanjang koridor Aini celingukan. Seolah ia sedang mencari seseorang. Bahkan sampai di kelasnya pun Aini masih melirik lirik ke segala arah.
'apa Arya gak masuk ya?', tanya Aini dalam hatinya.
Ya, Aini sendari tadi celingukan mencari sosok Arya Gio Nugraha. Namun sayang ia tak menemukan sosok pria menyebalkannya itu.
Bahkan sampai jam istirahat berbunyi Aini masih menelusuri isi kampus untuk mencari Arya. Entah siapa yang harus ia tanyai mengingat Arya hanya berinteraksi dengan dirinya saja.
"ahh mungkin si ketua tau Arya kemana", ucap Aini sambil membulatkan matanya senang atas ingatannya.
Aini berjalan cepat mencari ketua kelas untuk menanyai Arya. Ia terhenti di kantin ketika melihat si ketua sedang makan. Dengan langkah tenang Aini menghampiri orang itu.
"hai. gue boleh nanya sesuatu gak?", ucap Aini membuat orang di hadapannya menengok ke arahnya.
"hmm boleh duduk sini", jawab si ketua dengan ramah.
"oh ya ngomong ngomong Arya kemana ya? ko dia gak ada di kelas?", tanya Aini to the poin.
"ohh Arya ijin hari ini. Katanya ada urusan mendadak dan gak tau berapa hari akan selesai"
"ahhh begitu yaa", ucap Aini terlihat kecewa dengan jawaban si ketua.
"ada apa? lo ada perlu sama Arya?"
"hmm enggak ko. makasih ya", ucap Aini sambil beranjak untuk pergi. Tak lupa ia memberi sedikit senyuman atas informasi dari si ketua.
'hmm padahal gue mau berterima kasih sama Arya, tapi sayang dia gak masuk', batin Aini sambil berjalan pelan.
Aini berjalan menuju taman. Ia berencana akan membaca buku sambil duduk di bawah pohon. Namun tiba tiba perasaannya risau seolah ada yang sedang memperhatikannya. Mata Aini mulai waspada ke berbagai sudut tempat itu. Namun ia tidak menemukan orang manapun yang mencurigakan. Sebenarnya Aini masih takut akan terjadi hal semacam semalam lagi. Tapi bagaimanapun dia harus tetap waspada dan menjalani aktifitasnya dengan aman.
'mungkin di sini aman, karena banyak orang jadi orang jahat gak akan beraksi', ucap Aini dalam hatinya.
Aini duduk di tengah tengah taman, di tempat paling ramai di datangi orang. Ia membuka lembaran dari buku yang ada di tangannya. Jarinya terhenti membuka halaman baru pada saat ia membaca sebuah tulisan di buku itu.
Putus asa dan ingin bunuh diri
Seketika Aini teringat akan masa lalunya. Masa dimana ia kehilangan kasih sayang keluarganya. Masa dimana ia tak lagi berarti untuk mamanya. Masa dimana ia di tinggalkan oleh papanya. Masa dimana ia sempat akan di lecehkan oleh papa tirinya. Sungguh kelam masa itu. Sungguh menyakitkan menyayat hati seorang Aini. Dan ketika ia mengenang lagi masa itu, seketika itu pula hatinya kembali hancur. Dadanya terasa sesak. Matanya mulai berlinang. Namun tidak ia jatuhkan butiran bening di matanya itu, karena kini Aini sudah mendapatkan kebahagiaan yang lain, walaupun bahagianya itu bukan berasal dari keluarganya.
'mungkin aku rindu, namun terlalu menyakitkan untuk mengenangnya'
Aini menutup buku tepat di halaman itu. Ia menyimpan bukunya di sampingnya. Seperti apa yang ia alami selama ini. Ia menutup kenangan di masa itu dan mengabaikannya, meskipun memori memori dari kenangan itu terus berada di samping Aini.
Bersambung...