
Malam telah berlalu. Menelan kenangan manis dan mimpi mimpi indah. Tergantikan oleh sinar mentari di pagi yang cerah.
Aini kali ini berangkat kuliah sendiri. Entah ada kesibukan apa sehingga Rey tak bisa mengantarnya hari ini.
"Wahh semoga gue gak ketemu Arya pagi pagi gini", ujar Aini sambil berjalan cepat.
"Woyy.!", teriak seseorang dari belakang yang sudah Aini tebak siapa orang itu.
'Sial baru aja di omongin udah nongol aja anaknya', gerutu Aini dalam hati.
"Aini tunggu"
Aini tak menghiraukan panggilan Arya, ia terus saja berjalan cepat sehingga Arya harus berlari untuk mengejarnya.
"Woy lo gak denger gue panggil?", tanya Arya kesal sambil memegang pundak Aini.
"Sengaja. Pura pura gak denger", balas Aini sambil membalikan badannya dan menatap sinis mata Arya.
"Dasar cewe rese"
Aini hanya mengerucutkan bibirnya dan berlalu dengan cepat. Arya yang merasa terabaikan mengikutinya dari belakang untuk membuat Aini semakin kesal padanya.
'Hmm, lo liat aja seberapa nyebelinnya gue sama lo', batin Arya.
'Ngapain sih Arya ngikutin gue. Nyebelinnnn', gerutu Aini dalam hati sambil mempercepat langkahnya.
Di sisi lain Reno tengah memperhatikan Aini dari kejauhan. Ya, hari ini Reno sudah memasuki universitas yang sama dengan wanita pujaannya itu, namun ia sengaja memasuki kelas yang berbeda agar Aini tak menyadarinya.
'Gue pasti akan menyapa lo Aini, tunggulah gue pasti akan datang', batin Reno.
*****
"Baik sekarang buka hal 230 dan pelajari isinya, setelah itu.."
"Ya, ada apa Aini?", tanya dosen di sela mengajarnya saat melihat Aini mengangkat tangannya.
"Saya ijin ke uks ya bu"
"Baiklah silahkan Aini"
Aini beranjak dari tempat duduknya dan melangkah keluar kelas. Tangannya terus saja memijat pelipisnya yang terasa nyeri. Arya hanya memandang Aini dari belakang hingga ia menghilang dari pandangannya.
'Anak itu kenapa ya?', batin Arya yang merasa khawatir saat melihat ekspresi Aini yang pucat.
'Arghhh sudahlah Arya jangan pedulikan orang lain', batin Arya sambil menggelengkan kepalanya.
Aini berjalan terus sambil memijat kepalanya. Entah kenapa kepalanya terasa pusing dan pandangannya juga mulai kabur. Aini berjalan sendiri menuju ruang kesehatan. Namun tiba tiba pusingnya semakin menjadi. Aini tak kuat lagi menopang tubuhnya, hingga akhirnya dia serasa akan tumbang. Dann..
Bruukkk..
*****
"Hmmm"
Aini mulai membuka matanya perlahan. Menengok ke sekeliling dengan mata menyipit. Menyadari dirinya tengah terbaring di ruang kesehatan.
Perlahan ia bangkit dari tidurnya sambil mengerang kesakitan karena kepalanya pusing. Tangannya terus menekan pelipisnya. Ia duduk menyender di ranjang itu.
"Apa yang terjadi? Siapa yang membantuku sampai di sini?", Aini bertanya tanya pada dirinya sendiri.
Sreekkk..
Suara tirai yang di buka di samping ranjang Aini membuat Aini terperanjat kaget. Reflek Ainipun menoleh ke arah samping kanan.
"Lo udah sadar?"
Aini melongo mendapati seseorang yang dari tadi ingin dia hindari. Mulutnya membulat sempurna dan matanya membelalak.
"Wahhh bagaimana bisa lo ada di sini?", tanya Aini tak percaya Arya sudah ada di sampingnya.
"Lo harusnya berterima kasih sama gue, kalo engga lo pasti udah terkapar di koridor kaya ikan asin yang di jemur"
"Haaa lucu Ar. Apalagi lo yang terus ngikutin gue, benar benar lucu", gerutu Aini sambil menatap kesal.
"Hey gue gak ngikutin lo, gue cuma lewat aja pas mau ke toilet", ucap Arya mencari alasan padahal kenyataannya ia memang mengikuti Aini karena khawatir.
"Hahhh dasar", Aini mendelik pada Arya sebagai peringatan untuk tidak mengganggunya lagi.
"Ya ya ya, lo gak tau terima kasih banget sih lo harusnya..", ucapan Arya terpotong karena Aini dengan cepat menutup kembali tirai pembatas keduanya.
Sreekkkk..
"Wahhh bener bener cewe rese", ucap Arya menyerah dengan sikap Aini.
*****
'Sial kenapa harus ada orang lain sih di sini. Padahal gue mau ngeliat Aini dari dekat'
Ternyata tak jauh dari ranjang yang di tempati Aini, Reno juga berada di sana. Hanya terpaut oleh satu ranjang posisi Aini dan Reno saat ini. Reno yang mendengar ada Arya di samping Aini hanya menggerutu kesal. Rencananya untuk mengelus Aini yang tak sadarkan diri tadi sudah gagal.
Sebelumnya Reno juga menyaksikan Aini yang pingsan di koridor. Hanya saja saat ia akan beranjak dari tempat persembunyiannya untuk membantu Aini, Arya lebih dulu sampai di sana hingga membuat Reno membalik arah ke tempat persembunyiannya lagi.
'Apa harus gue menyingkirkan cowo itu juga? Hahh dia selalu merusak rencana gue di saat Rey gak ada di samping Aini', batin Reno kesal.
Bersambung..