
(Ilustrasi)
'Manis juga dia kalau dari dekat', pekik Arya dalam hati.
"Heyy, lepasin gue. Pagi pagi udah sial aja gue", gerutu Aini yang sudah menyadari posisi keduanya. Ia pun segera berdiri dengan benar.
"Ckkk.. Gue bantuin lo barusan. Kalo gak gue tangkap lo bisa aja jatuh", bela Arya.
"Hahh? Bodo amat. Lagian gue gak bakalan jatuh kalo lo gak nabrak gue", ucap Aini penuh penekanan.
"Masih hidup juga lo ternyata Aini", ujar Arya sambil tersenyum mesem.
"Hehh so kenal banget lo. Lagian lo pikir gue bakalan mati cuma gara gara lo permainkan kemaren", Aini mulai ingat kemarin Arya membodohinya.
"Ahhh rupanya lo gak ingat. Dasar pikun", ucap Arya dengan senyuman meremehkan kemudian berlalu begitu saja.
Aini yang geram dengan tindakan Arya hanya menggerutu, memaki Arya dari kejauhan.
"Dasar so kenal, so akrab, nyebelinnnn arghh", teriak Aini yang membuat Arya hanya tersenyum dari kejauhan.
*****
Aini sudah pulang kuliah. Dia bersama teman temannya tengah mendekorasi halaman belakang rumah dengan tenda kecil dihiasi lampu remang dan lampion. Tak lupa juga mereka mengumpulkan kayu untuk membuat api unggun agar lebih terlihat nyata seperti berkemah.
Ajay menyiapkan gitarnya untuk hiburan nanti malam. Sedangkan Aini bersama temannya menyiapkan bahan makanan untuk dinikmati nanti malam. Dan Rey, dia sedang menulis list untuk seru seruan nanti malam.
"Aini?"
"Hmm?", Aini hanya menjawab dengan deheman saat Rey memanggilnya.
"Kamu bilang mau cerita sesuatu. Apaan emang?", tanya Rey mengingat tadi pagi Aini menjadi aneh.
"Hmm jadi gini Rey"
Aini menceritakan apa yang membuatnya merasa ada kejanggalan tanpa menambah atau mengurangi apapun. Ia menceritakan semuanya apa adanya.
Rey melongo saat mendengar cerita Aini sampai selesai. Ia merasa ada sesuatu yang aneh. Dan pikirannya langsung tertuju pada seseorang yang sebelumnya pernah dia bahas sama kawanannya.
"Sejak kapan Aini?"
"Aku baru ngerasa tadi malem doang Rey"
"Tapi kamu gak kenapa kenapa kan?", tanya Rey khawatir sambil memegang pundak Aini.
Aini menggelengkan kepalanya tanda kalau dia baik baik saja. Namun Rey masih menatapnya dengan khawatir. Ia tak akan bisa tenang kalau sesuatu terjadi pada Aini.
"Jangan khawatir Rey, aku bisa jaga diri ko", ucap Aini sambil tersenyum agar Rey tak khawatir lagi.
"Aini beritahu aku kalau kamu dalam bahaya. Langsung hubungi aku kalau kamu ngerasa ada yang aneh"
"Iyah sayang. Udah yah jangan khawatir", Aini tersenyum manis membuat Rey merasa lebih tenang.
*****
Hari sudah berganti malam. Bintang bertaburan di langit menemani kumpulan anak geng motor yang tengah berkemah sederhana bersama Aini. Rembulan juga nampak memberikan cahayanya di malam ini.
*Jrengg.. Jrenggg.. Jreenggg..
Cinta itu sederhana
Yang rumit itu kamu
Mencintaimu itu mudah
Yang sulit adalah membuatmu juga mencintaku*
Ajay memetik senar gitarnya dengan lembut. Menghasilkan alunan musik yang indah. Tak lupa suara khasnya yang merdu memperindah nuansa perkemahan ini.
"Oke sekarang kita tantang Rey untuk menyanyikan lagu buat Aini", ucap Ajay saat menyelesaikan lagunya yang di sepakati oleh teman teman yang lain.
"Wahhh setuju tuh"
Prokk.. π prokk.. π prokk..π
Semua orang bertepuk tangan menyemangati Rey agar mau menerima tantangan. Rey yang merasa ragu akhirnya beranjak dari tempat duduknya.
Rey menatap dalam bola mata Aini. Tangan Aini yang ia genggam diarahkannya sejajar dengan dadanya.
"Jay bisa lo iringin musik buat gue", pinta Rey pada Ajay.
"Oh jelaslah bos. Lo mau lagu apa?", tanya Ajay yang langsung bersiap untuk memetik senar gitarnya lagi.
"Apa aja boleh yang romantis tapi"
"Okeee.."
*Jrengg... Jreenggg... Jreeenggg...
Dengarkanlah wanita pujaanku
Malam ini akan kusampaikan
Hasrat suci kepadamu dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin, mempersuntingmu
Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu*
Rey berlutut dan mengeluarkan sebuah kalung indah dari saku celananya. Sontak tingkah Reynaldi ini membuat Aini menutup mulutnya karena tak percaya. Teman temannya juga bersorak karena tak percaya akan melihat sosok Rey yang romantis seperti ini.
"Wahhh Rey..", ujar Aini terharu bahkan matanya hampir berkaca kaca.
"Rey gila lo romantis banget", komentar salah satu dari mereka.
"Gue juga pengen di gituin sama pacar gue huhu", seseorang juga ikut menyela karena iri dengan keromantisan yang sedang terjadi di depannya.
Tanpa berkata Rey berdiri dan memasangkan kalung itu di leher Aini. Terlihat indah dan sangat cocok. Rey tersenyum puas melihat ekspresi bahagia Aini hingga mengabaikan sorakan dari teman temannya.
"Aini ku buat malam ini begitu indah untukmu. Dan selamanya akan seperti itu", ucap Rey kemudian mengecup punggung telapak tangan Aini.
Aini tersenyum haru. Bola matanya berbinar, namun tak menjatuhkan butiran bening. Jantungnya dibuat serasa akan copot. Namun ia menikmati malam ini dengan perasaan yang senang. Dan malam ini adalah malam terindah dalam sejarah hidup Aini.
Setelah Aini dan Rey kembali ke tempat duduknya, mereka mulai memainkan permainan baru. Api unggun bahkan sudah hampir memudar namun mereka masih bersenang senang. Malam juga semakin larut namun semua orang nampak masih segar dan menikmati malam ini berlalu.
*****
"Arghhh.. Sial. Kenapa harus ada mereka sih", gerutu seseorang sambil menonjok batang pohon yang ia jadikan sebagai tempat persembunyian.
"Lo kayanya bener bener tegila gila sama cewe itu", ucap seseorang di sampingnya.
"Ya. Cuma dia yang buat gue gak bisa ngelupain meskipun gue udah jaga jarak dari dia"
"Lo mulai terobsesi sama dia"
"Apapun caranya gue harus dapetin dia dan lo harus bantu gue", ujar orang itu sambil menatap mantap pada orang di sampingnya.
*****
Di sebuah ruangan yang gelap, nampak seorang pria yang rupanya masih terjaga. Cahaya di ruangan itu hanya sedikit di terangi oleh sinar komputernya yang masih menyala.
Di sana tertera sebuah pesan formal berlogo militer. Berisi surat perintah untuk segera menemui seseorang dan melindunginya.
"Hufttt..", Arya menghela nafas merasa lelah dengan pikirannya sendiri.
"Lama lama gue bisa aja betah jadi orang biasa kaya gini", ucapnya menatap langit langit.
Tiba tiba saja Arya terpikirkan sesuatu. Ia bergegas menghadap layar komputernya lagi. Ia mengcek ulang lampiran dari tugasnya. Beberapa foto dari seseorang yang harus ia lindungi terpampang di sana. Dan saat dia mengamati lagi dengan fokus, matanya membulat, mulutnya mulai terbuka, tak percaya harus dia orang yang bakal Arya lindungi.
"Hahhh kenapa harus dia?"
Bersambung...