
Ceklekk..
“Dari mana saja kamu?”, Tanya seorang wanita yang sedang berkacak pinggang ketika Aini membukakan pintu rumahnya.
“Sejak kapan kau perduli darimana dan kapan aku pulang?”, ucap Aini sinis.
“Setelah memperlakukan papamu tak sopan kemarin dan sekarang kamu tak berniat meminta maaf, HAH?”, bentak wanita itu.
“Sampai kapanpun aku gak akan pernah mau mengucapkan kata maaf padanya, karena aku gak salah Mah”, bela Aini.
“Gak salah kamu bilang? KAMU MEMBENTAK PAPAMU DAN BILANG HAL TAK BERGUNA PADANYA Aini”, wanita itu makin marah karena Aini tak menurutinya.
Tanpa menghiraukan perkataan mamanya, Aini malah mempercepat langkahnya untuk menuju kamarnya. Tempat satu – satunya yang aman untuk dia. Segera ia masuk, melempar barang bawaannya, dan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur yang nyaman. Merebahkan tubuhnya dan menatap langit – langit kamarnya.
Pikirannya kini melayang jauh. Membayangkan semua hal yang terjadi padanya kemarin. Dari saat ia kabur dari rumah dan menjadi gelandangan di jalanan, hingga bertemu sosok pria baik seperti Rey.
“Rey sedang apa ya sekarang? Apa dia memang selalu baik pada orang lain atau mungkin diaa..??”, gumam Aini.
“Ahhh tidakk.. tidakk.. tidakk.. tidak mungkin kalau Rey bersikap seperti ini karena menyukaiku”, bantahnya sendiri sambil menggelengkan kepalanya.
“Huffttt..”, Aini menghempaskan nafasnya untuk menghilangkan perasaan resahnya.
Tak ingin berlanjut memikirkan hal yang tak mungkin terjadi, Aini lebih memilih untuk tidur saja. Ia bergegas untuk membersihkan diri kemudian tertidur nyenyak.
“Kali ini lupakan semua hal yang membebaniku dan tidurlah dengan nyenyak Aini”, ucapnya sendiri menyemangati.
Disisi lain, Rey kembali bergabung bersama teman – temannya setelah pulang mengantarkan Aini. Ia berada di kerumunan kawan – kawannya, namun tatapannya jauh.
“Woyy, kenapa lu? Ngelamun sambil senyum – senyum sendiri. Udah kaya orang gila tau gak?”, tegur Ajay yang menyadari Rey sedang melamun.
“Ahh gak ada apa – apa ko jay”, ucap Rey sambil tersenyum.
“Btw, gimana sama Aini Rey”, Tanya temannya yang lain.
“Gimana apanya? Dia udah gue anterin pulang ko”
“Lo gak lagi mikirin dia kan?”, goda Reno.
“Hehh, Rey punya gue. Jadi jangan coba – coba buat comblangin dia sama Aini”, goda teman wanitanya.
“Ahhhh sudahlah jangan menggoda gue terus – terusan. Tapi menurut kalian Aini itu gimana?”
“Kalo menurut gue sih, dia cantik, baik, manis, sopan, tubuhnya juga ideal, pas banget deh sesuai tipe gue. Gak kaya si Dewi noh, burik hahaha”, canda Ajay yang membuat Dewi melemparkan snacknya karena namanya disebutkan.
“Hmm jadi gitu ya kesan pertama kalian terhadapnya”, gumam Rey begitu pelan sampai teman – temannya tak bisa mendengarkannya.
*****
Keesokan harinya..
Pagi hari ini begitu cerah. Langit berawan, suara burung berkicau merdu, serta angin yang berhembus lembut menerbangkan helai – helai rambut indah dari seorang gadis yang tengah duduk sendirian di halaman. Memandang panorama alam yang luas.
“Hey, Aini. Ngapain lu di sini?”
“Eh, Reno. Hehe semenjak kemarin tempat ini jadi favorit gue Ren”, ucap Aini sembari menoleh kebelakang dan mendapati Reno yang berjalan menghampirinya.
“Ahh iya tempat ini memang bagus In. Ngomong – ngomong lu sama siapa ke sini?”
“Gue datang sendiri Ren. Kenapa emangnya?”
“Gue pikir lu sama Rey ke sini”
“Oh engga ko. Emang kalian semua setiap hari ngumpul di sini ya?”
“Iya begitulah. Karena Cuma tempat ini yang bisa bikin kita ngerasa hidup. Lu tau Aini, ketika kita ngerasa gak berguna, atau kita lagi banyak masalah, Cuma disini tempat yang bisa bikin kita ngerasa tenang. Karena apa? Karena di sini kita ketemu sama teman – teman. Dan mereka lah yang selalu ada di saat kita senang atau pun sedih”
“Kenapa? Lu gak punya sahabat dekat?”
Kini mata Aini menatap jauh ke atas langit, mengingat kapan terakhir ia bersenang – senang dengan temannya.
“Entahlah Ren”
“Hey, kita juga teman lu Aini. Jangan ngerasa sedih gitu ahh. Gue pastiin lu gak akan pernah kehilangan kita semua. Pokonya teman Rey adalah teman kita juga”, ucap Reno dengan tersenyum lebar dan merangkul Aini agar ia tak merasa sedih lagi.
Saat ini Aini benar - benar merasa bersyukur karena masih ada orang yang mengakui keberadaannya. Di pertemukannya ia dengan Rey dan juga teman - temannya merupakan hal istimewa yang patut ia syukuri.
"Heyy kalian ngapain di sini", tegur seseorang dari belakang sambil menepuk pundak Reno dan Aini, sehingga membuat keduanya berbalik.
" Eh Rey. Gue abis ngobrol biasa ko sama Aini"
"Ahhh iya. Masuk dulu yu ada hal yang mau gue bahas tentang diskusi kita kemaren"
Reno mengiyakan ajakan Rey. Ia bangkit dari tempat duduknya dan hendak berjalan untuk memasuki basecamp. Langkah keduanya terhenti dan berbalik untuk mencari seseorang.
"Woyy.. Lu ga mau ikut?", teriak Reno.
" Ahh? Gue? Emang boleh?", tanya Aini cemas karena kemarin ia tak di perbolehkan untuk tau masalah yang mereka bahas.
"Boleh lah yu buruan masuk", ajak Rey.
Aini tersenyum girang dan berlari kecil untuk menyusul langkah Reno dan Rey.
Duarrr..
Preettttt..
Selamat datang Aini
Selamat bergabung di Komunitas Geng Motor Garuda
Ruangan tiba tiba di penuhi balon, hiasan manik manik berterbangan di udara, sorak suara teman - teman Rey mengucapkan selamat sambil memeluk Aini, membuat cairan bening menggenang di pelupuk matanya.
" Aini, selamat hari ini kamu bisa bergabung sama kita sebagai anggota sah", ucap seseorang sambil memegang bahu Aini dari belakang.
"Ahh Rey. Aku gatau bakalan ada acara kaya gini. Padahal aku gak pernah bilang kan sama kamu kalo aku pengen ikutan gabung"
"Aku tau ko tanpa kamu bilangpun. Mulai sekarang kamu adalah bagian dari kami, jadi kalo ada apa - apa jangan pernah sungkan untuk bilang sama kami"
Aini sangat senang. Tak henti ia berterima kasih karena teman - teman Rey begitu baik padanya. Hari ini adalah hari istimewa dalam hidup Aini semenjak dia mengenal Reynaldi. Harapannya kini mulai hidup kembali, dan harapannya itu adalah tetap bersama mereka, Rey dan teman- temannya selamanya.
*****
"Jadi bagaimana Rey dengan misi kita? Jika kita mengambil tindakan apa semuanya bakal baik - baik saja? Tapi kalau kita diam saja, mereka akan lebih mengacau"
"Tenang dulu Jay. Kita tetap harus mengintai pergerakan mereka terlebih dahulu. Setelah itu baru kita putuskan untuk bergerak atau menunggu mereka menyerah", jelas Rey.
Suasana malam itu di basecamp begitu serius. Mereka yang masih tertinggal di sana hanya beberapa orang, Rey, Reno, Ajay, Rani dan Dewi. Sisanya sudah pulang ke rumah masing - masing begitu juga dengan Aini.
Masalah serius yang Aini kira cuma akal - akalan mereka buat mempersiapkan acara penyambutannya ternyata salah. Rey dan yang lainnya memang sedang menghadapi masalah yang serius, dan hanya mereka berlima yang terlibat.
Masalah apa yang sedang di hadapi Rey dan teman - temannya?
Temukan jawabannya di episode selanjutnya dari " When I With You"
Bersambung..
"Berapapun banyaknya permasalahanmu, seberat apapun bebanmu, jangan kau pikul sendiri. Jika ada seseorang di sampingmu.."
~ Reynaldi Alvaro