When I With You

When I With You
When I With You 10



“Aini, apa lo bersedia menjadi pacar gue?”


Mata Aini membelalak tak percaya dengan apa yang baru saja orang itu katakan. Mulutnya melongo mendengar pengakuan orang yang berada di hadapannya.


“Aini, dari awal kamu menarik bagiku. Kamu cantik, baik dan entah kenapa aku merasa nyaman bersamamu”


Aini bingung bukan main. Ia tak tau harus menjawab apa. Di satu sisi Aini tak ingin melukai perasaannya, tapi di sisi lain Aini tak bisa menerimanya.


“Reno, maaf. Tapi..”, ucapannya terhenti karena melihat ekspresi wajah Reno yang kecewa.


“Ren, tolong dengarkan aku”, ucap Aini sambil berjalan ke arah Reno untuk menjelaskan alasannya tak bisa menerima Reno.


Di sisi lain, Rey menyaksikan dari kejauhan bersama teman – temannya yang lain. Entah kenapa hatinya kacau, terasa sakit, dan seakan ia tak rela jika Aini menerima hati Reno. Sudah tak tahan dengan pemandangan di depannya, Rey memilih untuk pergi dan masuk ke basecamp.


*****


“Aini lo nolak gue?”


“Ren maafin Aini ya, aku gak bermaksud menolak kamu. Tapi ada orang lain Ren, dan orang itu bukan kamu”, ucap Aini yang merasa tak enak karena harus menyakiti Reno.


“Hmm tak apa Aini aku bisa mengerti”, ujar Reno memaksakan bibirnya agar tersenyum.


“Ahh.. Setidaknya terima bunga ini Aini. Aku sengaja membelikannya untukmu, jadi terlepas lo nerima gue atau engga, tolong terima bunga ini”, ucap Reno menyodorkan buket bunga yang indah.


Aini yang merasa bersalah merasa enggan untuk menerima bunga itu. Tapi untuk menghargai usaha Reno, Aini harus menerimanya.


“Ren, kita masih bertemankan setelah ini?”, Tanya Aini yang merasa takut akan kehilangan seorang teman seperti Reno.


“Tentu saja Aini”


Reno membalikan badannya dan berlalu begitu saja. Ia berjalan ke arah yang berlawanan dengan teman – temannya untuk menghindari pertanyaan dari mereka.


“Apa menurutmu Aini menerima perasaan Reno?”, tanya salah satu dari mereka yang menyaksikan peristiwa tadi.


“Sepertinya tidak. Kalau Aini menerimanya, Reno tak akan pergi begitu saja kan”, jawab yang lainnya.


“Lalu kenapa Aini mengambil bunga itu?”


“Hmm.. Lo tau sendirikan Reno. Dia gak akan pernah menerima lagi sesuatu yang sudah dia kasih ke orang lain”


Teman – teman yang lainnya merasa prihatin pada Reno karena baru saja patah hati. Sedangkan Aini, ia masih termangu di tempatnya. Pikirannya masih melayang tak percaya Reno akan menyukainya.


*****


Jrengg... Jrengg... Jrengg...


Suara petikan gitar yang terdengar tak begitu indah. Bahkan tak membentuk irama apapun. Hanya ia petik begitu saja tanpa perasaan. Mungkin seperti itulah gambaran hatinya sekarang, tak karuan.


“Lo baik – baik aja Rey?”


“Ah, Ajay.”


Ajay yang tiba – tiba masuk ke basecamp dan melihat Rey sedang bermain gitar tak menentu, segera menghampirinya. Ia duduk di samping Rey dan menonjok ringan lengan Rey.


“Makanya lo jujur kalau lo suka sama Aini. Keduluan kan sama Reno yang berani ngungkapin perasaannya”


“Gue gatau Aini bakal nerima gue apa engga. Gue juga gak tau apa dia juga suka sama gue. Makanya gue nunggu waktu yang tepat dulu”


“Lo ga bakal tau kalau lo belum nyoba”, ucap Ajay seraya mengambil gitar dari genggaman Reynaldi.


"Rey, soal Aini bakal nerima lo atau engga itu urusan belakangan. Yang penting Aini harus tau dulu perasaan lo ke dia"


Rey berpikir sejenak. Mencerna baik – baik ucapan Ajay. Apa ia memang harus mencobanya seperti yang di katakan Ajay atau lebih baik menunggu waktu yang tepat.


*****


Seorang pria berseragam rapi berjalan dengan pilu. Matanya sendu, mulutnya kelu, pikirannya entah sedang berada di mana. Rasanya ia ingin sekali memporak porandakan seluruh dunia ini karena sudah merenggut satu – satunya keluarga yang dia miliki.


Tangannya mengepal menahan emosinya. Ingin sekali ia melampiaskan kemarahannya, namun ia sendiri bingung siapa yang harus disalahkan atas kepergian kakaknya.


“Mayor Rama ijinkan saya bertemu Kapten Ryan untuk yang terakhir kalinya”, pinta pria itu.


Setelah berpikir, akhirnya orang yang ia panggil sebagai Mayor Rama membukakan jalan untuk pria itu menemui kakaknya.


“Baiklah. Tapi hanya 10 menit”


*****


Senja sudah menghilang, tergantikan oleh bintang yang menghiasi gelap malam. Aini masih terpaku di tempatnya. Ia enggan untuk masuk ke basecamp karena takut berpapasan dengan Reno. Pada akhirnya, ia memilih duduk di sana dengan di temani sebucket bunga cantik di sampingnya.


“Aini, lo gak mau masuk? Hari sudah malam, udaranya juga makin dingin. Lo bisa masuk angin kalau berlama – lama di sini”, ucap Dewi menghampiri Aini.


“Dew, apa gue jahat sama Reno tadi?”, Tanya Aini dengan matanya yang masih memandang bintang di langit.


“Hmm.. Menurut gue engga juga sih”, ujar Dewi yang kemudian ia ikut duduk di samping Aini.


“Gue udah nyakitin Reno, Dew”


“Itu resiko Aini. Mencintai lo adalah hak dan pilihan Reno, dan menerima cinta itu adalah hak dan pilihan lo Aini. Terkadang kita memang tak bisa memiliki apa yang kita mau. Tapi kita juga gak boleh memaksakan kehendak orang lain. Makanya lo gak perlu ngerasa bersalah gini ke Reno, karena keputusan lo adalah resiko bagi Reno”


“Iya Dew gue tau. Menurut lo Reno bakalan maafin gue gak ya?”


“Entahlah, yang gue kenal Reno orangnya sulit di tebak. Tapi gue yakin dia pasti bakal maafin lo Aini. Udahlah, masuk yu. Yang lain pasti udah pada ngumpul di dalam”, ajak Dewi.


*****


Malam ini yang rencananya Reno mau nembak Aini dan ngajak buat dinner malah berujung sakit hati. Reno yang tak ada di basecamp dan teman – teman yang khawatir Reno marah, malah saling menyudutkan sehingga membuat Aini tak enak.


“Dew gimana ini? Kenapa yang lain begitu khwatir seperti ini?”, Tanya Aini yang ikutan cemas.


“Tenang dulu Aini. Sebenarnya Reno dulu sempat di tinggalin sama pacarnya, dia bener – bener cinta mati sama cewe itu. Sampai pada saat dia di hianati, Reno nekad mau nyakitin cewe itu sama pacar barunya. Mungkin yang temen – temen khawatirkan sekarang, takut dia ngelakuin hal yang sama ke lo “, terang Dewi.


“Tapi gak mungkin juga kan Reno cinta mati sama gue? Lagian kita baru kenal beberapa minggu dan juga gue gak terlalu dekat sama Reno”, ucap Aini yang masih tak percaya Reno orang yang seperti itu.


“Aini, Reno itu tipe orang yang dingin sebelum ada lo di sini. Tapi setelah lo bergabung dia banyak berubah, dan orang yang bisa merubah Reno sesignifikan ini pasti hanya orang yang istimewa”, sela Rani yang tak sengaja mendengarkan mereka berbicara.


Aini semakin cemas, ia takut akan di salahkan jika terjadi sesuatu sama Reno. Tapi ia tak bisa berbohong kalau dia hanya mengharapkan Rey, bukan Reno.


*****


Hari semakin larut. Tak ada tanda – tanda Reno balik ke basecamp. Ajay juga sudah menghubungi ke rumahnya dan mereka bilang Reno belum pulang.


Anak – anak geng garuda masih berkumpul di basecamp. Mereka terdiam, termenung dalam pikirannya masing – masing. Apalagi Aini, ia terus menggenggam erat tangannya. Rasa takut dan khawatir terus menghantui pikirannya.


“Guyss, kalo kita diam saja, kita gak bakalan tau kabar Reno. Gimana kalau sekarang kita mencari Reno?”, seru Rey memecahkan keheningan.


“Hmm ya gue setuju Rey”, ujar salah satu dari mereka.


“Sebaiknya cewe – cewe pulang saja. Ini sudah terlalu malam, biar para cowo yang nyari Reno”, saran Ajay.


“Engga Jay. Gue mau ikut”, protes Aini.


“Aini sebaiknya kamu juga pulang. Kaki kamu belum sembuh, nanti bisa makin parah kalo kamu paksain jalan terus. Reno biar kita yang urus, nanti aku kabarin kalo Reno udah ketemu”, ujar Rey dengan lembut yang dibenarkan oleh yang lainnya.


Aini menunduk, ada benarnya juga ucapan Rey. Daripada membantu, sepertinya Aini hanya akan merepotkan mereka dengan kondisi kakinya yang seperti ini. Dengan berat hati, Aini menuruti perintah Rey dan pulang bersama Dewi.


*****


“Rey lo tau kan tempat yang biasa Reno datangi kalau dia lagi galau?”, teriak Ajay karena saat ini mereka sedang mengendarai motor.


“Iya gue tau tempat dimana jika Reno tak ada di basecamp dan rumahnya. Lo ikutin gue”, perintah Rey yang kemudian mengendarai motornya memimpin Ajay.


Sesampainya di tempat tujuan, mereka kaget mendapati sosok pria yang terjatuh di jalanan karena di usir pemilik bar. Pria itu berjalan sempoyongan menjauhi bar sambil memaki. Ajay dan Rey menghampirinya dan hendak membantunya berjalan.


“Arghhhhh... Kenapa lo berdua ada di sini? Lo berdua menyebalkan. Apalagi lo Rey”, teriak Reno yang mabuk sambil menunjuk – nunjuk Rey.


“Diamlah dan ikut kita pulang”, ucap Rey sambil melingkarkan tangan Reno di pundaknya.


Namun Reno menepis tangan Rey dengan kasar. Ia mendekatkan tubuhnya pada Rey. Memandang tajam dengan raut wajah membenci. Tangannya mengepal kuat, semirik senyum meremehkan terlukis di bibirnya.


Bruukkkk...


Bersambung...


Like, komen, fav dan rate ceritaku yahh 😉


Biar makin semangat ngelanjutin ceritanya 😊