
Braakkk...
Suara pintu yang di tutup begitu keras sampai terdengar menggema. Membuat sang empunya yang sedang makan siang terkaget.
“Astagaa.. siapa sih mah?”, Tanya laki – laki berbadan tinggi yang tengah duduk di ruang makan. Mulutnya berhenti menyuap makanan dan hendak pergi untuk melihat siapa yang datang.
“Biar mama yang liat siapa yang datang pa, kamu lanjutkan makan saja”, ujar seorang wanita yang tak lain adalah ibu Aini.
Laki – laki yang menyandang sebagai suami dari ibu Aini kembali duduk dan melanjutkan makannya, sedangkan ibu Aini bergegas ke arah pintu masuk untuk melihat siapa yang datang.
Tampak seorang wanita yang berjalan dengan alat bantu. Kakinya di balut banyak kain putih dan mungkin juga sesuatu yang keras. Ya, seperti inilah kondisi Aini saat ini. Kakinya harus di perban dan digips, karena tertimpa barang berat saat peristiwa di Supermarket kemarin.
“Aini, kamu sudah pulang? Mama dengar kemarin kamu di Rumah Sakit, kamu gak apa – apakan? Maafin mama ya, mama sibuk kemarin karena papa kamu ulang tahun jadi tak sempat menjenguk kamu”, ucap mama Aini sambil menghampiri Aini dan berniat untuk membantunya berjalan.
Raut wajah Aini berubah tampak kesal. Matanya memancarkan rasa kekecewaan dan kesedihan. Amarahnya mulai terkumpul, namun tak bisa ia lampiaskan. Aini terdiam, lalu menepis kasar tangan ibunya yang hendak membopongnya. Tanpa menghiraukan alasan – alasan tak masuk akal yang dikatakan ibunya, Aini hanya meleos pergi menaiki anak tangga. Memasuki ruangan yang baginya adalah tempat terdamainya. Pintunya ia tutup rapat – rapat dan menguncinya agar tak ada yang mengganggu.
Hikss... hikss... hiksss...
Suara tangis sendu dari gadis itu terdengar mengisi ruangannya yang dibalut nuansa merah dan hitam. Tubuhnya ia hempaskan menimpa kasurnya yang empuk. Mungkin terasa nyaman bagi orang normal, tapi bagi Aini apapun yang ada di sekitarnya hanyalah duri yang menyakiti. Ruangan yang terangpun baginya hanyalah kegelapan.
Terlalu lama ia menangisi nasibnya yang kurang kasih sayang orang tua membuatnya terlelap. Sekelilingnya terlihat berantakan. Barang-barang berceceran dimana – mana, serpihan kaca lemari yang ia pecahkan dibiarkannya begitu saja. Ia hanya tertidur, mengistirahatkan pikirannya yang sedang kalut, berharap memimpikan hal indah dan tak pernah terbangun lagi dari mimpinya itu.
*Drrrtttt... drrrtttt... drrtttt....
Drrrtttt... drrrtttt... drrtttt*....
Suara ponsel terus berbunyi sampai beberapa kali membangunkan Aini dari tidurnya. Dilihatnya ponsel itu dan tertera banyak panggilan tak terjawab dari Rey. Beberapa pesan juga masuk ke poselnya dari teman – teman geng motor Rey yang menanyakan kondisi Aini.
Aini tersenyum melihat banyaknya pesan dari orang - orang yang mengkhawatirkannya. Ia bangun dari tempat tidurnya, membalas satu persatu pesan itu kemudian ia berjalan pelan menuju balkon kamarnya.
Sreekkkk..
Di bukanya tirai penghalang pintu ke arah balkon. Terlihat hari sudah berganti malam. Matanya melihat kea rah langit, bibirnya tersenyum kecil, ternyata malam ini hamparan bintang menemani sepinya.
Seketika ingatannya mengarah pada memori bersama Rey. Hujan di malam itu, balkon kamar, dan Reynaldi. Serta perhatiannya yang terasa menghangatkan jiwa di kala dinginnya malam. Sekali lagi, Aini tersenyum mengingat Reynaldi.
“Hey, Aini?”, panggil seseorang dari bawah balkon kamar Aini.
Suaranya menyadarkan Aini dari lamunannya. Aini menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ia kaget sekaligus senang karena orang itu adalah Rey. Segera ia membuka pintu balkon kamarnya dan menuju tepian.
“Rey ngapain disini?”
Rey tak menjawab pertanyaan Aini tapi malah melambaikan tangannya dan menyuruhnya untuk turun. Tanpa berfikir panjang Aini menuruti perintahnya. Kebetulan sekali saat ini dia butuh seseorang bersamanya. Dan Rey datang tepat pada waktunya.
“Rey ada apa?”, Tanya Aini lagi saat ia sampai ke depan rumahnya.
“Keluar mau gak?”, tawar Rey sambil menunjuk sebuah mobil di belakangnya.
“Boleh”, jawab Aini sambil tersenyum.
“Kalau begitu, silahkan masuk tuan putri”, goda Rey seraya membukakan pintu mobil untuk Aini.
Aini hanya tertawa melihat tingkah Rey. Baginya apapun hal yang Rey lakukan adalah istimewa dan membuatnya senang.
Aini memasuki mobil Rey, begitupun dengan Reynaldi. Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang agar bisa menikmati malam sedikit lebih lama dari dalam mobil.
“Tumben kamu bawa mobil?”
“Aku gak mau kamu kesusahan kalau pake motor”, jawab Rey dengan nada cool.
“Hmm, iya deh makasih yahh. Btw kita mau kemana?”
“Ke tempat dimana kamu bisa merasa lebih dekat dengan bintang”
Aini hanya mengerutkan keningnya mendengar jawaban Rey. Ia tak tau lagi mau di bawa ke tempat seperti apa malam ini. Tapi, apapun itu ia percaya Rey tidak akan mengecewakannya.
*****
“Tapi Rey bagaimana aku bisa jalan kalau mataku di tutup. Apalagi saat ini aku gak bisa jalan dengan benar”, protes Aini karena permintaan konyol Rey.
“Arghhhh....”, teriak Aini. Kali ini karena ia terkejut Rey menggendongnya.
“Kamu pikir aku lupa soal itu”
“Turunin aku sekarang juga Rey. Aku berat tau”
“Diamlah dan tutup matamu”, pinta Rey.
Dengan tersenyum malu, Aini menutup matanya dan setelah itu Rey membawanya ke suatu tempat yang Aini sendiri gak tau ia akan di bawa kemana.
*****
“Bukalah matamu sekarang Aini”, Rey menurunkan Aini dan menyuruhnya untuk membuka mata.
Aini membuka matanya perlahan. Dilihatnya pemandangan menakjubkan seakan di alam mimpi. Kini ia sedang berada di puncak bukit yang berada di perbatasan kota. Langit indah bertaburan bintang, lampu kota yang seakan terlihat seperti kunang – kunang, dan bulan yang bersinar terang menggantikan sang mentari di kala malam. Aini tak percaya Bandung akan seindah ini di saat malam tiba.
“Rey?”, panggil Aini dengan lirih karena matanya masih fokus pada pemandangan di depannya.
“Iya, kenapa? Kau suka?”
“Hmm.. bagaimana bisa kau selalu membawaku ke tempat indah seperti ini?”
Rey berjalan menghadap Aini sehingga keduanya kini sedang bertatap muka. Dihembuskan nafasnya dengan lembut. Tangannya memegang pipi Aini dan tatapannya larut dalam mata Aini.
“Karena kamu sedang risau Aini. Apa yang ada di depanmu adalah salah satu obat penenang dari rasa sedihmu. Ketika kau tersakiti oleh manusia, biarkan alam yang menghiburmu. Biarkan semesta yang mengobati lukamu. Kau hanya perlu menikmati dan menenangkan jiwamu”, jelas Rey seraya mengelus pipi Aini. Tatapannya masih memandang dalam bola mata Aini, seakan ia tak mau mengalihkan pandangannya dari orang di hadapannya ini.
“Rey, apa kau bisa berada di sampingku seperti ini sampai kapanpun?”, Tanya Aini yang masih menatap wajah tampan Rey.
“Bahkan jika semua orang di dunia ini tak ada di pihakmu, aku akan selalu ada bersamamu Aini. Aku janji tak akan aku biarkan kamu kesepian lagi”, ujar Rey tersenyum manis.
“Terima kasih Rey”, ucap Aini.
Matanya mulai memanas, terharu, senang, bersyukur, itulah yang Aini rasakan saat ini. Butiran bening dari matanya sudah tak bisa ia bendung lagi.
Rey menggelengkan kepala mengisyaratkan untuk tidak menangis. Kedua tangannya bergerak untuk menyeka air mata Aini. Perlahan Rey mendekatkan wajahnya. Tatapannya masih lekat di bola mata Aini.
Kini keduanya sudah sangat dekat. Bahkan mungkin sudah tak ada lagi jarak di antara keduanya. Wajah Rey hanya tinggal 5cm lagi dari wajah Aini. Ia semakin mendekatkan wajahnya, membuat Aini reflek memejamkan mata. Dan kemudian...
Bersambung...
Ku nikmati malam ini
Dengan angin yang diam – diam menerbangkan helaian rambutku
Dengan udara dingin yang menepis tubuhku
Dengan deru suara nafasnya di telingaku
Langit menjadi saksi
Bintang menjadi pemanis
Betapa istimewanya peristiwa saat ini
~ Aini Aurora Maharani