
Dorr... dorr.. dorr..
Suara letupan dari pistol tak terelakan lagi. Puluhan peluru berhamburan layaknya hujan. Tak sedikit pula dari mereka yang bertarung menggunakan tubuh mereka sendiri.
Corak bendera Negara masing masing yang ada di pundak mereka adalah saksi bisu bagaimana mereka mengerahkan tenaganya untuk nama baik dan kehormatan Negara masing masing. Tak terkecuali bagi Arya.
Menyandang tugas baru sebagai Kapten membuatnya harus bekerja keras lebih banyak lagi dari biasanya. Sudah beberapa hari ia lewatkan hari harinya dengan pria pria gagah. Serta medan pertempuran yang mengerikan, dan juga senjata tajam yang menemaninya. Tanpa Arya sadari, seseorang selalu mencarinya setiap hari.
*****
“kau tak lihat Arya?”
“tidak Aini sepertinya Arya masih ijin hari ini”
“ahhh begitu ya. Ya udah makasih ya”, ucap Aini dengan senyuman kemudian berlalu.
Sudah satu minggu berlalu dan Arya belum masuk kuliah juga. Entah kenapa Aini merasa khawatir karena tak biasanya Arya ijin selama ini. Dan lebih anehnya kenapa juga Aini harus khawatir. Sedangkan dia bukanlah siapa siapa Arya.
Sepulang dari kuliahnya, Aini masih sering terlihat murung. Ia akan tersenyum jika Rey menemaninya atau menghiburnya.
“Aini kamu kenapa?”
“gak ada apa apa ko Rey”, ucap Aini dengan senyuman memaksakan.
“biasanya kalau cewe bilang gak ada apa apa itu berarti ada apa apa”, ujar Rey sambil menyenggol Aini.
“huhhh so tau kamu”, ucap Aini memonyongkan bibirnya.
“hehe tau lah, masa gak tau sih perasaan cewenya sendiri”, ucap Rey hingga membuat Aini tersenyum malu.
Berkali kali Rey menanyakan, berkali kali pula Aini menyangkal dengan mengatakan ‘tidak apa apa’. Tak pantas rasanya jika Aini mengatakan kalau ia mengkhawatirkan cowo lain disamping cowonya sendiri. Makanya ia memilih untuk diam.
Beberapa hari ini orang orang yang selalu mengganggu Aini tiba tiba saja tak terlihat lagi. Seakan mereka sudah menyerah dan tak mengganggu Aini lagi. Namun tak ada yang tahu kedepannya akan seperti apa. Keduanya hanya berharap agar tidak terjadi sesuatu yang buruk.
*****
“semua sudah siap Aini?”
“hmm iya Rey. Aku rasa gak ada yang tertinggal”, ucap Aini sambil menggendong ranselnya.
“aku akan mengantarmu sama teman teman yang lainnya nanti”
“iya makasih Rey”
‘sayang sekali Arya masih tak hadir’, ucap Aini dalam hati merasa kecewa.
“Aini ayoo naik”, teriak seseorang dari mobil.
“ahh teman teman yang lain udah datang Aini, yuu”, ajak Rey untuk menghampiri mobil Ajay yang sudah terparkir di tepi jalan.
Ainipun mengikuti langkah Rey sambil menggenggam tangan Aini. Selama 3 hari ia harus bersabar karena tak akan melihat sosok Rey lagi. Terlebih rasa rindu yang nantinya harus mereka tahan. Tapi tenanglah Aini akan pulang setelah tiga hari.
“hati hati yaa sayang. Jangan nakal. Jaga diri baik baik saat aku gak di samping kamu”
“iya Rey kamu tenang aja. Jangan khawatir ya”, ujar Aini sambil melemparkan senyuman yang bisa membuat hati Rey tenang kembali.
“sampai ketemu Aini”
“hati hati di jalan ya”
Setelah sampai di kampus, Rey dan teman temannya harus mengucapkan selamat tinggal, karena mereka hanya bisa mengantar sampai kampus.
Aini berjalan mundur menjauhi Rey dan teman temannya. Tak lupa juga mereka saling melambaikan tangan. Tak heran kenapa mereka sampai mengantar Aini segala, karena hari ini Aini akan liburan dengan jarak yang jauh dari teman temannya.
*****
“gimana Ren?”
“gue udah habis akal Boy. Gak ada jalan lagi, selain menyingkirkan Rey atau kalau tidak Aini gak boleh dimilikin oleh siapa pun”
“lo percaya diri untuk menentang Rey dan teman temannya?”, Tanya Boy ragu.
“gue pernah berada di lingkungan mereka dan gue tau apa kelemahan satu persatu dari mereka”
“kalau begitu kita hanya perlu menyerang Rey bukan?”
Reno mengalihkan pandangannya dari Boy. Ia memandang ke arah cermin sambil mengepalkan tangannya.
Brankk...
Reno memukul cermin itu hingga pecah berkeping keeping.
‘aku akan menghancurkannya seperti cermin ini’
Bersambung...