When I With You

When I With You
When I With You 13



“Aku masuk dulu, terima kasih untuk waktunya”, ucap Aini sambil tersenyum manis.


Hari sudah semakin gelap, Aini langsung masuk ke dalam rumah setelah berpamitan pada Rey. Saat memasuki ruang tengah, Aini di kejutkan oleh kehadiran papa tirinya yang sedang duduk sambil tumpang kaki. Tangannya ia silangkan di depan dadanya, tatapannya benar – benar menyebalkan. Tiba – tiba saja Aini teringat malam kemarin, merinding dan membuatnya takut.


Aini berusaha mengabaikan pria itu dan berjalan melewatinya. Namun pria itu mengatakan hal yang membuat Aini menghentikan langkahnya.


“Beruntung sekali hidupmu Aini, kau masih bisa selamat padahal hampir saja tadi kau mati”


Degg...


‘Dari mana orang itu tau aku hampir mati? Apa mungkin?’, gumam Aini dalam pikirannya.


“Apa jangan – jangan lo yang ngerencanain semua ini?”, Tanya Aini sambil menoleh pada pria itu.


Tanpa menjawab, papa tiri Aini bangkit dari tempat duduknya dan berlalu memasuki kamarnya. Sebelum masuk, ia melemparkan semirik senyum jahat pada Aini seperti malam itu. Membuat Aini bergidik seram karena tingkah papa tirinya.


Ia tak percaya papa tirinya akan berbuat jahat sampai sejauh ini. Tak tahu harus berlindung pada siapa, untuk saat ini Aini hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri dan menjaga diri sendiri dari bahaya yang mungkin akan dilakukan oleh pria itu lagi.


Aini memasuki kamarnya. Tak lupa dia selalu mengunci rapat – rapat pintu kamar agar tak ada yang bisa masuk. Ia merebahkan tubuhnya dan mengistirahatkan pikirannya.


Tiba – tiba saja ia teringat kejadian tadi bersama Rey. Matanya ia pejamkan dengan senyuman yang merekah di bibirnya. Pikirannya yang tadi takut kini sudah kembali membaik. Memang benar, Rey selalu menjadi obat terbaik bagi Aini.


*****


Suara burung berkicau merdu di pagi hari. Mentari sudah melambai menyapa lewat jendela. Aini terbangun dari tidurnya dengan ceria. Ia membereskan tempat tidur sambil bersenandung. Mandi sambil memainkan musik, dan kini ia sudah berpakaian sangat rapi.


Aini menuruni satu persatu anak tangga dari kamarnya. Ia hendak ikut sarapan bersama mamanya di ruang makan. Namun tiba – tiba saja selera makannya hilang setelah melihat wajah pria itu.


“Kau tak mau sarapan Aini?”, Tanya mama Aini.


“Tidak ma. Aku sarapan di luar saja sama Rey?”


“Ahhh. Pacar barumu itu yah”, goda mama Aini.


“Hmm. Mama tau darimana?”, Tanya Aini yang tak percaya mamanya memperhatikan dia.


“Papamu semalam bilang katanya kamu suka di antar pulang sama cowo malam – malam”


Mendengar hal itu Aini malah muak. Ia lebih memilih segera pergi dan berpamitan pada mamanya. Dan jelas dia pasti selalu melewatkan papa tirinya itu yang so baik di depan mama.


‘Dasar jelmaan iblis. Kalo saja bukan orang tua sudah gue jitak tuh kepalanya’, gerutu Aini dalam hatinya.


“Heyy, kenapa cemberut gitu. Entar cantiknya hilang loh”, goda Rey yang sudah siap di depan rumah Aini.


“Gak ada apa – apa ko. Yuk jalan, aku laper Rey kita makan dulu yah”, ajak Aini yang jelas di setujui oleh Rey.


Hari ini Rey habiskan waktunya bersama Aini seharian. Dari mulai berjalan – jalan, ngobrol di taman, makan di restoran dan banyak hal lain yang mereka laluin untuk mereka kenang nanti. Hati keduanya yang masih berbunga – bunga karena cinta, di sertai canda tawa bahagia yang belum pernah mereka berdua rasakan selama ini, mungkin bisa membuat pasangan lain merasa iri betapa manisnya tingkah keduanya dalam mengekspresikan perasaan.


*****


Waktu terus bergulir. Hari kian berganti. Bahagia dan sedih datang dan pergi silih berganti. Namun tak ada yang Aini khawatirkan dari itu semua karena ada Rey di sampingnya.


Anak – anak geng motor garuda sudah mengetahui hubungan Rey dan Aini sekarang dan mereka sangat mendukung keduanya. Meskipun ada beberapa dari mereka yang masih terpikirkan akan perasaan Reno. Tapi ini bukanlah bentuk penghianatan, tapi pilihan.


Sedangkan Reno, ia masih di luar negri. Tak ada sedikitpun kabar darinya yang diketahui oleh teman – temannya. Bagi mereka Reno kini seakan sudah menghilang tanpa jejak. Memori terakhir dari Reno adalah di tempat ini, basecamp geng motor garuda. Halaman belakang dengan senja di langit. Dan juga Aini.


Meskipun mereka tak berusaha mencari Reno, tapi teman – temannya masih mengkhawatirkan Reno. Hanya saja mereka menghargai keputusan Reno untuk menenangkan dirinya sementara.


*****


Memori terakhir Rey bersama Reno


“Ren tunggu dulu”, teriak Rey berlari menelusuri area bandara untuk menyusul Reno yang kini tampak tak jauh di depannya.


Pria tinggi memakai celana jeans dan kaos biru dipadukan dengan jaket kulit hitam itu menoleh pada sosok yang memanggil namanya. Alisnya ia kerutkan tanda tak mengerti kenapa orang itu ada di sini. Ransel yang ia gendong di punggungnya perlahan ia turunkan ketika melihat seseorang menghampirinya.


“Kenapa lo ke sini?”, Tanya Reno ketus.


“Lo mau pergi kemana Ren?”


“Bukan urusan lo”, jawab Reno masih dingin.


“Apa lo marah soal gue dan Aini?”


Reno terdiam, menatap kesal ke arah Rey. Ia baru membuka lagi suara setelah menarik nafasnya dalam – dalam.


“Jaga Aini Rey. Mungkin suatu hari nanti saat kita ketemu lagi, gue bukan orang yang lo kenal lagi”


“Apa maksud lo Ren. Lo tetep sahabat gue, dan bakalan terus jadi sahabat gue”


“Kalo gitu relakan Aini buat gue”, ucap Reno sambil melangkah maju mendekati Rey.


Rey diam. Memikirkan perkataan Reno. Mungkin saat ini dia dilema, antara mengikhlaskan cintanya atau merelakan persahabatannya.


“Lo gak akan pernah melepaskan Aini buat gue kan? Lagian gue juga paham, Aini bukan orang yang pantas untuk lo relakan semudah itu. Karena itu juga alasan gue, kenapa gue begitu menginginkannya”


Rey masih bungkam dan menatap Reno dalam – dalam. Ia tak ingin melepaskan Aini, dan tak ingin juga kehilangan sahabatnya.


“Karena itu, jaga Aini baik – baik Rey. Karena suatu saat nanti gue akan datang untuk merebutnya”, ucap Reno yang kemudian ia mengambil ranselnya dan berlalu meninggalkan Rey.


*****


Beberapa bulan kemudian..


Hari ini adalah hari terakhir Aini terapi di rumah sakit. Setelah menjalani 3 kali terapi di tempat yang sama, kaki Aini mulai membaik dan sudah tak merasa sakit lagi.


“Rey apa menurutmu aku sudah sembuh?”, tanya Aini yang gugup menanti hasil terapinya.


“Tentu saja. Kan aku yang merawatmu selama ini”, ucap Rey seraya menggoda Aini sampai tersipu malu.


“Ahh dokternya sudah keluar, tunggu sebentar disini ya”, ucap Aini meninggalkan Rey yang tengah duduk di ruang tunggu.


“Bagaimana hasilnya dok?”, tanya Aini antusias.


“Kaki kamu sudah membaik Aini, kamu sudah tak perlu lagi terapi ke sini. Ini adalah hasilnya, kamu bisa lihat sendiri nanti. Yang jelas kamu sudah bisa berjalan lagi tanpa alat bantu itu”, ujar dokternya yang ikut senang.


“Wahh syukurlah. Terima kasih dok”


Aini sudah menerima hasil terapinya selama ini, dan nanti dia bisa melepaskan perban di kakinya dan berjalan dengan normal lagi.


Mereka berjalan ke arah parkiran untuk pulang. Di sana Aini melihat seorang pria yang dulu pernah menyelamatkannya.


“Apa yang sedang dia lakukan di sini? Apa dia bekerja di rumah sakit ini?”, gumam Aini dalam benaknya.


“Sayangg, ayo cepet. Kamu lagi ngelamunin apaan sih?”, teriak Rey yang sudah ada di dalam mobil membuyarkan lamunan Aini.


“Ahh iyah ayo sayang”, ucap Aini sambil bergegas masuk ke dalam mobil.


Mobil Rey melaju melewati Arya yang sedang membantu beberapa staff rumah sakit di parkiran. Arya yang melihat Aini berada di mobil itu memperhatikannya karena kaca jendela Aini tidak ia tutup. Selang beberapa lama Arya memperhatikan Aini dari jauh, Aini tiba – tiba saja menoleh dan membalas pandangan Arya. Namun Aini semakin menghilang dari pandangan Arya.


*****


‘Kenapa wajahnya terus membayangiku? Kenapa tatapannya terus saja ada dalam pikirianku? Dan saat dia tersenyum, arghhh tidakkk. Jangan terperdaia oleh orang – orang seperti itu. Mereka semua sama. Pendusta.!’, ucap Arya dalam hatinya.


Bersambung..