
Pagi mulai memancarkan sinar sang mentari. Menerobos menembus sela sela jendela kamar Aini. Menghangatkan tubuhnya yang baru saja ia basuh dengan air dingin.
Serelekkkk
Aini membuka kasar jendela kamarnya dengan kedua tangan layaknya seorang artis di film - film. Saat wajahnya bertemu dengan kehangatan mentari, ia tutup kedua matanya seraya mengadah. Menikmati udara segar ciptaan Tuhan yang patut ia syukuri. Helaian rambutnya bergerak menyentuh pipinya karena tiupan angin. Tak ia sematkan ke balik telinganya atau berniat untuk mengikat rambutnya. Dibiarkannya rambut terurai dan berterbangan mengikuti arah angin.
"Hmmm sungguh menyegarkan, persis seperti pas pertama kali aku singgah di sini", ucap Aini sambil tersenyum dengan mata yang masih tertutup.
"Berhenti memikirkan masa lalu Aini, saatnya kau memikirkan kebahagiaanmu", ucapnya pada diri sendiri.
Tok tok tok
"Aini kau sudah bangun?", teriak seorang wanita di balik pintu kamar Aini.
Aini menoleh ke belakang saat mendengar namanya di panggil. Dengan segera ia berjalan ke arah pintu untuk membukakan pintu.
"Sepertinya itu suara bunda", kira Aini.
Ceklekk
"Bundaaa, kapan ke sini", ucap Aini saat membukakan pintu dan mendapati sosok mama Reynaldi di sana.
Aini memeluk bunda seperti biasanya. Dan entah sejak kapan Aini memanggil mama Rey dengan sebutan bunda. Mungkin semenjak Aini tinggal di villa milik keluarga Reynaldi.
"Kamu sudah makan sayang?", tanya mama Rey sambil merangkul Aini berjalan menapaki anak tangga menuju ke bawah.
"Belum bun, Aini baru saja beres bersih - bersih rumah dan langsung mandi"
"Hmm apa perlu bunda carikan pembantu untukmu di sini"
"Tidak perlu bun, Aini bisa ngelakuin semuanya sendiri ko"
"Tapi villa ini terlalu besar Aini, lama lama kamu bisa lelah mengurusnya sendiri"
"Engga ko bun, lagian kalo temen - temen berkunjung ke sini suka bantuin Aini beres beres ko hehe", ucap Aini sambil cengengesan membuat mama Rey gemas melihatnya.
Sekedar informasi, ternyata mama Rey dulu pernah memiliki anak perempuan yang berarti adalah adiknya Rey. Namun dia sudah meninggal karena keguguran. Karena rasa ingin memiliki seorang anak perempuan, mama Rey begitu baik pada Aini bahkan sampai menganggapnya sebagai anak kandungnya sendiri.
Sesampainya di dapur, mulut Aini melongo melihat banyak makanan lezat di meja makan. Tentu saja mama Rey yang memasaknya khusus untuk Aini.
"Waaahhhh apa bunda yang masak ini semua?", tanya Aini sambil melirik bundanya.
"Iyalah tentu saja, masa Rey yang masak. Yang ada makanannya jadi arang semua kalau Rey yang masak", ujar mama Rey hingga menimbulkan gelak tawa dari keduanya.
"Hoho sepertinya aku mencium bau bau orang yang menggosipkanku"
Rey tiba - tiba saja muncul dan menyalip obrolan kedua wanitanya itu. Ia langsung duduk menatap makanan dengan lidah menjulur menandakan bahwa dia tengah kelaparan.
"Rey tumben udah bangun jam segini?", tanya Aini yang heran Rey bisa datang menjenguknya sepagi ini.
"Ahh kau lupa rupanya. Bukannya hari ini kamu mulai masuk kuliah Aini? Aku sengaja tidak gadang dan bangun pagi pagi hanya untuk mengantarmu kuliah. Kau lihatkan betapa baiknya aku saat ini", ucap Rey merajuk.
"Astagaaa aku lupa Rey", ucap Aini sambil menepuk jidatnya karena sudah menjelma menjadi orang pelupa di hari penting.
"Udah udah, lagian Aini masuk jam 9 kan? Ini baru aja jam 7, kita sarapan aja dulu yuk?", ujar mama Rey sambil mengarahkan Aini agar segera duduk.
*****
Setelah selesai sarapan, Aini segera ke kamarnya dan bersiap siap. Sedangkan Rey, dia menunggu di ruang tengah bersama mamanya.
"Rey, kamu sangat mencintai Aini nak?", tanya mama Rey membuat Reynaldi tersipu malu.
"Hmm iya mah, lebih dari hidupku sendiri"
Mama Rey tersenyum mendengar jawaban putranya. Seakan ia sudah puas mendengar jawaban seperti itu.
"Mama seneng kamu bisa mendapatkan wanita seperti Aini, Rey. Kapan kamu akan menikahinya?"
"Mama kenapa malah nanya kaya gitu ke Rey sih, kaya mama itu mamanya Aini bukan mama aku", Rey merajuk karena mamanya lebih sayang sama Aini.
"Iyah sih. Biarin dia menggapai cita - citanya dulu mah. Rey udah janji soalnya bakal balikin semua hal yang gak bisa ia dapat dari orang tuanya"
Mamanya Rey tersenyum, mengerti pada setiap kata yang di ucapkan oleh putranya.
"Ayo Rey aku udah siap"
"Ma aku berangkat dulu"
"Bunda tunggu aku pulang yah biar aku ceritain hari pertama kuliahku"
"Iya iyaa anak anakku, buruan berangkat biar ga telat"
Setelah berpamitan pada mama Rey, mereka berdua melaju ke universitas baru Aini dengan si merah motor Rey. Di perjalanan, Rey berusaha menghibur Aini karena Aini bilang dia merasa gugup sudah lama tak masuk kuliah lagi.
"Rey semuanya bakal baik baik aja kan? Aku bakal punya temen kan?"
Aini terus menanyakan hal yang sama sepanjang jalan hingga membuat Rey menggelengkan kepalanya. Ia tak risih, hanya saja gemas karena Aini tak sadar sudah menanyakan pertanyaan itu beberapa kali.
"Aini kamu udah nanyain itu dari tadi kita keluar rumah, udah gak keitung lagi berapa kali kmu nanyain hal yang sama haha", ucap Rey seraya mengendarai motornya.
"Benarkah? Maaf Rey aku mengganggumu, aku gak sadar hehe"
"Kau ini dasar yaaa"
"Ahhhhhh....", sontak Aini berteriak karena Rey mempercepat laju motornya, membuat Aini reflek memeluk erat Rey dari belakang.
*****
Hari ini Arya memulai misi barunya, yaitu kuliah umum bukan kuliah kemiliteran. Dia datang di hari pertamanya dengan pakaian yang sederhana, hanya berbalut kaos hitam dan celana jeans hitam, serta tas yang ia gendong di sebelah pundaknya.
"Wahhh cowo ganteng tuhh"
"Maskulinn... Kerennn.. Sukaa"
"Gila ganteng cetar, cool abiss, idaman gue itu"
Yaa seperti itulah kira kira kaum hawa saat melihat Arya untuk pertama kalinya. Arya yang berjalan dengan gagah, keren, dan raut wajah dingin terus mengabaikan wanita wanita yang menggodanya. Ia berjalan tegap melewati kaum hawa yang melongo memandang paras Arya.
"Dasar orang orang aneh", batin Arya.
"Maaf permisi, apa ini ruang kepala sekolah?"
"Ahh iya itu saya sendiri, ada apa yah?", tanya kepala sekolah universitas itu.
Tanpa menjawab pertanyaan kepala sekolah, Arya mengeluarkan secarik amplop dari tas nya kemudian menyodorkannya kepada kepala sekolah itu.
"Mohon bantuannya"
Kepala sekolah itu membaca dengan baik baik isi dari surat perintah yang ia dapatkan. Ia memandang Arya sejenak, kemudian bergegas berdiri dan menghormat pada laki laki di depannya.
"Ahh tak perlu berlebihan, kau hanya perlu merahasiakan identitasku saja", ujar Arya.
"Hmm baiklah pak Arya", ucap kepala sekolah dengan formal.
"Jangan memanggilku seperti itu. Aku bisa ketahuan saat keluar dari ruangan ini kalau kau bersikap seperti itu padaku", ucap Arya kesal.
"Hmm baiklah maafkan saya"
"Kalau begitu tunjukan ruangan saya"
Setelah selesai berbicara, kepala sekolah mengantar Arya menuju ruangan belajarnya. Namun di sana dia bertemu seseorang yang merusak moodnya kemarin.
"Lo?"
Bersambung...