When I With You

When I With You
When I With You 11



Bruukkk...


Reno memukul Rey sampai terjatuh ke tanah. Ia hendak memukuli Rey lagi namun terhalang oleh Ajay yang berusaha menghentikannya.


“ARGHHHH... JANGAN IKUT CAMPUR JAY. Ini urusan gue sama Rey”, bentak Reno dengan penuh penekanan pada Ajay yang berusaha menenangkan Reno.


Reno menepiskan tangan Ajay. Tangannya dengan gesit mencengkram kerah baju Reynaldi. Tatapannya begitu tajam seakan ingin menerkam mangsa.


“Jujur sama gue Rey, lo suka sama Aini?”


Rey menatap dalam bola mata Reno. Jangankan untuk menjawab pertanyaan Reno, dirinya sendiripun merasa bingung dengan perasaannya.


“REY JAWAB GUE ATAU LO GUE PUKUL LAGI?”, bentak Reno seraya mengguncangkan tubuh Rey yang masih tenggelam dalam pikirannya.


“YA. GUE SUKA SAMA Aini. LEBIH DULU DARIPADA LO “, ucap Rey dengan nada tinggi seakan ingin membuat Reno puas dengan jawabannya.


“Wahh... Kenapa orang yang gue suka selalu menyukai orang lain?”, Tanya Reno pada dirinya sendiri.


Perlahan ia berjalan mundur sembari sempoyongan. Kepalanya masih pusing dan emosinya belum mereda. Ia berjalan meninggalkan Rey dan Ajay.


“Ren tunggu”, teriak Ajay.


“Jangan ada yang ikutin gue. Pliss jay gue butuh waktu sendiri”, ujar Reno tanpa membalikan badannya dan berlalu begitu saja.


*****


Waktu berlalu begitu cepat. Jam sudah menunjukan pukul 2 malam, namun Aini masih terjaga. Hatinya makin resah karena sudah selarut ini belum ada kabar sedikitpun dari Rey dan juga temannya yang lain. Ponselnya ia letakkan disampingnya, agar jika ia tertidur suara notifikasinya bisa terdengar.


Semakin malam kantuknya mulai datang. Entah berapa kali matanya hampir saja tertutup, namun ia paksakan untuk terus terjaga.


Aini bangkit dari tempat tidurnya. Ia beranjak untuk mengambil segelas air di dapur.


“Hmm.. Jam segini rumah masih sepi, mama pasti belum pulang”, ucap Aini dalam hatinya seraya menuruni anak tangga dengan hati – hati.


Sesampainya di dapur, ia membuka kulkas dan mengambil air dingin. Ketika ia sedang minum, suara aneh terngiang di telinganya. Lehernya terasa ada yang meniup sehingga membuat Aini merinding. Matanya membulat waspada, tangannya mengepal erat botol minum untuk ia pakai sebagai senjata jikalau di belakangnya ada maling.


Aini benar – benar takut, tangannya gemetaran, jantungnya berdegup sangat cepat. Dengan keajaiban yang entah datang dari mana, ia memberanikan diri untuk menengok ke belakang dan...


“Ahhhhh...”, sontak Aini berteriak karena kaget papa tirinya sedang berdiri di belakangnya dengan tatapan aneh.


“Heyy, lo kenapa? Gak usah nakut – nakutin gue ya”, ucap Aini seraya perlahan berjalan mundur.


“Wahh, kamu benar – benar menyebalkan Aini. Dari dulu kamu gak pernah bisa menerimaku”


“Tentu saja. Bahkan sampai kapanpun gue gak akan pernah menerima lo sebagai papa gue. Lo, hanyalah penghancur hidup gue”, ujar Aini.


Papa tirinya terlihat sangat kesal. Ia semakin mendekat pada Aini, sehingga Aini terpojokan. Tangannya mengambil pisau dapur, membuat Aini melebarkan matanya karena takut orang di hadapannya akan menyakiti dia.


“Mau apa lo?”, Tanya Aini berpura – pura tak takut.


“Orang sepertimu pantas untuk musnah. Kau benar – benar sudah memancing emosiku Aini. Hiyaaaa..”


Pria itu melayangkan pisau ke arah Aini. Namun ia hentikan saat mendengar suara pintu masuk terbuka.


“Apa yang kalian lakukan di sini?”, Tanya ibu Aini yang baru saja pulang bekerja.


“Ahh sayang. Aini tadi katanya lapar, jadi aku mau masakin sesuatu buat dia. Benarkan Aini?”, ucap pria itu mencari alasan.


“A.. aku.. aku gak jadi laparnya ma. Aku masuk ke kamar lagi ya”, ujar Aini terbata – bata karena masih merasa takut.


Setelah menyapa mamanya, Aini bergegas ke kamarnya sambil terus – menerus menengok ke belakang. Terlihat dari kejauhan pria itu tersenyum jahat pada Aini. Namun Aini segera masuk dan mengunci pintu kamarnya rapat – rapat.


“Apa yang baru saja terjadi Tuhan? Haahh.. haahhhh.. haahhhh..”, ucapnya dengan nafas terengah – engah.


Setelah merasa tenang, Aini mengambil ponselnya. Tertera satu pesan dari Rey yang membuatnya buru – buru membuka pesan itu.


‘Aini jangan khawatir. Reno baik – baik saja dan sudah aku antar ke rumahnya’, tulisan pesan dari Rey.


“Hahh.. Syukurlah Reno baik – baik saja”


Aini tersenyum lega. Hatinya kembali tenang dan sepertinya sekarang ia bisa tertidur dengan tenang.


*****


Gelap. Tak ada sedikitpun cahaya di ruangan itu. Hanya terdengar suara isak tangis seorang pria. Dan botol bekas minuman yang berserakan.


Pria berseragam itu telah selesai mengantar kakaknya untuk pulang selamanya. Rasa sedih yang terus merundungnya tak terelakan lagi.


Ia duduk di bawah, di antara dua tempat tidur berukuran sedang. Tubuhnya ia biarkan bersandar pada kerasnya dinding. Matanya menatap dengan tatapan kosong. Hatinya terasa hampa, tak ada lagi orang tua yang harus ia bahagiakan, tak ada wanita yang harus ia cintai, dan kini tak ada saudara yang harus ia lindungi.


****


Mentari sudah menyapa. Memancarkan cahayanya dan menggantikan rembulan. Menembus sela – sela jendela kamar Aini. Membangunkan tuan putri dari mimpi indahnya.


Kriningg.. kriningg.. kriningg..


“Hmm.. siapa yang menelpon pagi – pagi begini?”, ucap Aini dengan mata yang masih tertutup. Tangannya meraba ke segala arah, mencari sumber suara.


“Iyaa, hallo?”


“Bangun tuan putri, udah siang woyy”, teriak Rey membuat Aini menjauhkan ponsel dari telinganya.


“Rey, aku baru aja tidur, masa sekarang udah siang sih”


“Coba kamu liat ke jendela gih. Dan ingat hari ini kamu harus ke rumah sakit untuk terapi”


Mendengar ucapan Rey, Aini menoleh kea rah jendela. Matanya tiba – tiba terbuka lebar. Ternyata hari sudah siang dan ia bisa terlambat untuk terapi.


“Ahhh iya aku kesiangan Rey. Tunggu bentar aku mau mandi dulu”


“Ehhh Aini tunggu dulu, jangan tutup telponnya”


“Iya, kenapa?”


“Hmm maaf ya, hari ini aku gak bisa nemenin kamu terapi. Aku ada urusan mendesak. Gak apa – apa kan kamu pergi sendiri?”, terdengar dari suaranya Rey merasa tak enak karena tak bisa mengantar Aini sesuai janjinya.


“Yahh.. Gak apa – apa deh. Lain kali kamu temenin aku ya”


“Iya. Cuma kali ini doang ko. Kedepannya aku pasti temenin kamu ko”


Aini menutup telponnya dan langsung bersiap – siap untuk terapi ke rumah sakit.


*****


“Perkembangan kakimu membaik dengan cepat rupanya Aini”


“Benarkah dok? Kalau begitu kapan aku bisa berjalan normal lagi”


“Bersabarlah Aini. Beberapa kali lagi kamu menjalani terapi kaki kamu akan segera sembuh”


Aini tersenyum senang mendengar ucapan dokternya. Ya, ia sudah lelah dengan kakinya yang terus seperti ini. Aini ingin segera bisa berlari dan berjalan normal seperti orang lain lagi.


“Datang lagi sesuai jadwalmu ya Aini. Semoga lekas sembuh”, ucap dokter Aini sambil tersenyum.


Aini sudah menjalani terapinya, kini ia berjalan untuk mencari taksi. Namun saat hendak menyebrang, tiba – tiba saja sebuah mobil melaju sangat kencang ke arahnya.


“Arghhhhh..”


Aini berteriak sambil menutup matanya karena takut. Alat bantu jalannya terjatuh ke tanah karena tangan Aini reflek menutup wajahnya yang tersorot lampu mobil.


Sstttttt...


‘Apa aku sedang sekarat? Apa aku sebentar lagi mati?’, batin Aini dengan mata yang masih tertutup.


“Lo gak apa – apa kan?”


Aini kaget mendengar suara. Perlahan ia mencoba untuk membuka matanya. Dan betapa terkejutnya dia mendapati seorang pria di depannya. Dengan posisi tangan pria itu melingkar di pinggang Aini untuk menahan Aini agar tak jatuh.


Aini hanya mengedipkan matanya berkali – kali karena merasa canggung wajah pria itu begitu dekat dengan wajahnya. Hatinya tiba – tiba berdebar, mungkin karena baru saja nyawanya hampir menghilang.


“Lo baik – baik saja kan?”, Tanya pria itu menyadarkan Aini yang malah bengong.


Setelah sadar dari lamunannya, Aini bergegas untuk berdiri dan melepas pelukan pria itu.


“Hmm, iya aku baik – baik saja ko. Terima kasih sudah menolongku”


Pria itu kemudian mengambilkan kruk yang tergeletak di tengah jalan. Ia menyodorkannya pada Aini, dan berlalu begitu saja tanpa menjawab ucapan terima kasih dari Aini. Aini hanya memandangi punggung pria itu yang semakin menjauh dari pandangannya.


“Sepertinya aku pernah melihat dia? Tapi dimana ya?”, Tanya Aini pada dirinya sendiri.


Bersambung...


'Semua orang di dunia ini palsu. Tak ada cinta, tak ada kesetiaan, tak ada ketulusan. Dan bahkan kenyataanpun selalu lari dari harapan'


~ Arya Gio Nugraha