
Waktu terasa singkat karena hanya butuh beberapa menit untuk sampai di universitas dengan kecepatan seperti seorang pembalap.
"Sayang, kita udah nyampe jangan tidur", ucap Rey seraya menggoyangkan pundaknya yang di jadikan sandaran oleh Aini.
"Iihhhh siapa yang tidur, aku takut bangett tadi di ajak ngebut sama kamu", Aini merajuk karena Rey membawanya kebut - kebutan.
"Hehe maaf yaahh sayangku", ujar Rey dengan manis sambil mengelus pucuk kepala Aini, membuat Aini juga tersenyum malu.
"Ya udah iya gak apa - apa ko. Aku masuk yahh, jemput aku nanti, oke?", Aini menggoda Rey dengan mengedipkan mata manja membuat Rey gamas dan mencubit pipi Aini.
Rey hendak pergi dan Ainipun bergegas untuk masuk. Dia berlari di koridor karena takut telat di hari pertamanya. Matanya terus menerus menatap waktu di tangannya.
Brukkkk..
"Aduhhh", ringis Aini.
"Lo?"
"Lo cowo nyebelin kemarin kan?", tanya Aini saat dia kembali berpapasan sama seseorang yang dia temuin kemarin.
"Ehhh kalo jalan..", ucapan Arya terpotong karena Aini segera menyela.
"Apaa? Pake mata? Dimana mana jalan itu pake kaki bukan mata", Aini mulai sebal dan bicara dengan nada tinggi.
"Dasar cewe rese", ujar Arya yang kemudian berlalu begitu saja.
Aini melongo saat Arya berjalan melewatinya. Aini tak menyangka, tanpa penyesalan, tanpa kata maaf, dia pergi begitu saja seolah gak salah sama sekali.
'Hmmm dasar cowo nyebelin', gerutu Aini dalam hati sambil mengerucutkan bibirnya.
*****
Arya sudah sampai di kelasnya beriringan dengan kepala sekolah, namun ia tiba tiba saja mengerutkan dahinya saat melihat seseorang yang tampak familiar baginya.
Ya, saat ini Aini sedang berdiri bersama dosennya untuk mengenalkan diri. Dilanjut oleh Arya yang baru saja tiba dengan kepala sekolah.
"Pak ini murid saya, saya titip ya", ucap kepala sekolah pada dosen itu.
"Ohh ternyata ada 2 murid baru yah, silahkan perkenalkan diri kamu setelah Aini yah"
'Aini?', Arya merasa kalau dia mengenal seseorang bernama Aini. Ini sangat tak mengherankan jika Arya mengingatnya, sehubung Arya tak banyak mengenal orang orang.
"Hallo teman teman, aku Aini Aurora Maharani. Kalian bisa panggil aku Aini", ucap Aini memperkenalkan diri.
Tak sedikit dari mahasiswa yang memuji karena Aini sangat cantik dan juga terlihat baik. Ada beberapa dari mereka yang bahkan rela mengusir teman di sampingnya hanya untuk menawarkan Aini duduk di sampingnya.
"Halo, gue Arya", perkenalan Arya cukup, hanya seperti itu, membuat cewe cewe yang melihat ketampanannya merasa penasaran dengan sosok Arya.
"Wahhh misterius sekali si tampan ini", ucap salah satu mahasiswi.
"Wahhh apa mereka sepasang kekasih yang menjadi mahasiswa dan mahasiswi baru? Kenapa tampak serasi sekali", celetuk salah seorang mahasiswa.
Mendengar gurauan teman barunya, Aini dan Arya saling memandang lalu kemudian bergidik karena merasa sebal. Keduanya sama sama membuang muka ke arah yang berlawanan.
"Hmmm.. Serasi darimananya yang ada horor gue ketemu dia terus", ucap Aini dalam benaknya.
"Haahh, menyebalkan", batin Arya dengan ekspresi dingin.
"Sudah sudah sekarang kalian pergi duduk biar kita bisa mulai pelajarannya", ucap dosen mereka.
"Baik pak", jawab Aini.
Tanpa menjawab dosen, Arya berjalan lebih dulu untuk memilih tempat duduk. Dia melewati cewe cewe yang menggodanya dengan melambaikan tangan memberi tanda bahwa Arya boleh duduk di dekat mereka. Namun Arya lebih memilih kursi paling belakang, paling pojok, dan tak ramai oleh pelajar.
Sedangkan Aini berjalan mengikuti Arya dari belakang dan memilih tempat duduk paling depan. Siasatnya sederhana, bukan karena ia rajin tapi karena ia ingin jauh jauh dari Arya.
*****
Entah kenapa waktu begitu cepat berlalu. Di kediaman tempat nongkrong anak anak geng garuda rasa cemas sedang melanda. Rey bersama teman temannya sedang membicarakan sesuatu yang penting.
"Apa benar dia berubah sekarang?", tanya Rey.
"Gue dapet informasi katanya dia gak belajar di sana, tapi justru malah jadi preman", jelas Ajay.
"Apa gak ada dari kalian yang mendapat kabar darinya?", tanya Rey lagi.
"Disini yang paling dekat sama dia ya cuma lo sama Ajay, Rey", ujar salah satu dari mereka.
"Rey udah sore, lo gak jemput Aini?", Dewi menyadarkan Rey dari lamunannya, ia langsung menepuk jidatnya karena lupa untuk menjemput Aini.
"Astaga gue lupaa", ucap Rey yang kemudian melaju untuk menjemput Aini, teman temannya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Rey yang bisa saja mengundang petaka, yaitu di marahi Aini.
*****
"Ckckck.. Kebiasaan banget pasti lupa jemput gue tuh anak", gerutu Aini yang sedang berdiri di pinggir jalan.
Mata Aini celingukan berharap segera melihat si merah motor Rey, namun pandangannya justru teralihkan pada mobil hitam yang baru saja keluar dari parkiran. Aini memandang dengan penasaran karena mobil itu tiba tiba saja berhenti di depannya.
Kaca jendela mobil itu perlahan terbuka, dan tampak di sana seorang pria memakai kaca mata hitam dan memandang lurus ke depan tanpa menoleh pada Aini.
Sontak Aini melongo karena orang itu adalah Arya. Tanpa berbicara apapun mobil itu malah melaju kembali. Membuat Aini geram karena merasa di permainkan oleh sang penyetir.
"Arggghhhhh Arya kutu kuprettt. Menyebalkannnn..", gerutu Aini dalam hati sambil mengepalkan tangannya saking gereget sama kelakuan Arya.
"Sayangg?"
"APAA?", Jawab Aini dengan ketus.
"Ya ampun sayang maafin yah aku telat jemputnya", ucap Rey seraya memegang tangan Aini dan mengecupnya agar tak marah lagi.
Huufttt..
Aini menghela nafas lalu kemudian menaiki motor Rey. Ia masih kesal pada Arya di tambah lagi Rey yang ikutan menyebalkan.
"Pegangan dong, rossi mau beraksi nihh, ntar jatoh loh", ujar Rey yang menimbulkan getokan pada helmnya oleh Aini.
"Iya iya ini pegangan ko, bukan karena udah gak marah yaa, tapi buat keamanan aja. Soalnya lo bawa motornya kaya kentut, cepet banget", ucap Aini dengan nada kesal, lalu kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Rey.
"Hahaha dasarr kau ini. Bilang aja kalo pengen meluk", goda Rey membuat Aini mencubit pinggangnya.
"Udahhh diem. Cepett jalan aja"
"Iya iya tuan putri hehe"
*****
Sesampainya di rumah, Aini langsung masuk dan mencari bundanya. Ia ingin menceritakan hari pertama kuliahnya yang menyenangkan dan juga menyebalkan saat bertemu dengan Arya.
"Bundaaa?", teriak Aini saat masuk ke dalam rumah.
"Ehh udah pulang anak anakku"
"Bun sini aku mau cerita", ucap Aini dengan manja pada mama Rey.
"Apa sayang? Cerita sini?"
Aini menoleh pada Rey. Meluncurkan tatapan tajamnya seolah mengisyaratkan Rey agar pergi.
"Kenapa? Gue gak boleh tau?", tanya Rey kebingungan dengan tatapan Aini.
"ENGGA", ucap Aini penuh penekan membuat mamanya hanya menahan tawa.
"Oke oke gue pergi. Rey kebelakang aja mau nyuci motor rossi", ujar Rey seraya bangkit dari tempat duduknya.
"Ya udah sana gih"
"Iyahh bawel", ucap Rey yang di balas dengan bibir mengerucut Aini.
"Bun jadi gini tadi tuh pagi pagi aku di bawa ngebut sama Rey, terus pas udah sampe aku malah ketemu sama cowo yang nyebelinnya lebih parah dari Rey"
"Wahh siapa sayang? Teman baru kamu ya?", tanya mama Rey menyimak cerita Aini.
"Iya namanya Arya, orangnya nyebelin, dingin, cuek dan ...", ucapan Aini menggantung, tatapannya seolah sedang mengingat sesuatu.
"Dan apa Aini?", tanya mama Rey karena penasaran dengan ekspresi Aini.
"Tunggu dulu bun, Aini sedang mengingat sesuatu, apa jangan jangan.." Aini menggantungkan ucapannya lagi membuat mama Rey makin penasaran.
"Dia itu..."
Bersambung...