
"Reyy.."
Teriakan seseorang bergema di seluruh ruangan itu. Rey yang merasa namanya di panggil menengok kesegala arah untuk mencari sumber dari suara tersebut. Di dapatinya 3 orang kawannya yang tengah berlari ke arah Rey yang masih bertarung dengan orang jahat itu.
"Sorry gue telat", ucap Ajay dengan nafas tersenggal senggal.
"Kenapa lo bisa tau gue ada di sini?", tanya Rey yang heran teman temannya bisa datang di waktu yang tepat.
"Kita bahas itu nanti aja, sekarang lo selamatin Aini biar dia kita yang urus", ujar Rani sambil memegang bahu Rey.
Mendengar ucapan temannya, Rey segera berlari keluar dari gedung itu. Menaiki sepeda motornya dan bergegas menyusul Aini. Sepanjang jalan pikirannya kacau, ia khawatir terjadi sesuatu pada Aini.
Butuh waktu hanya 15 menit untuk sampai di villa yang di huni oleh Aini. Rey segera berlari masuk ke villa itu.
"AINII!!"
Rey berteriak sambil menjelajahi ruangan lantai satu dari villa itu. Rey terus memanggil Aini dan mencari ke semua ruangan.
hikss hikss hikss
Tiba tiba ia mendengar suara tangisan seorang wanita. Rey bergegas menuju kamar Aini yang berada di lantai 2. Pintunya sudah terbuka. Rey segera masuk.
"Aini?"
Aini yang masih dalam dekapan Arya segera menoleh setelah namanya di panggil. Ia mendapati sosok Reynaldi tengah berdiri di ambang pintu dengan wajah yang terlihat khawatir.
"Reyyy hikss hikss", rengek Aini dengan nada penuh ketakutan.
Rey yang melihat kekasihnya seperti itu langsung menghampirinya. Tak tega ia melihat wanita tercintanya terduduk lemas di sudut sambil menangis.
Aini melepaskan Arya dan memegang erat tangan Rey yang kini berada di sampingnya. Ia menatap naas pada Rey saking merasa takutnya.
"Kamu baik baik aja kan sayang?", tanya Rey seraya memegang pipi Aini dengan kedua tangannya. Memastikan bahwa wanitanya tidak terluka sedikitpun.
"Aku baik baik aja Rey. Arya nyelamatin aku tadi. Seseorang mematikan listrik dan masuk ke kamar. Aku takut Rey hiksss"
Rey yang melihat raut wajah Aini begitu ketakutan langsung membawa tubuh Aini ke dalam pelukannya. Menepuk perlahan punggung Aini. Menenangkannya dan memberikan rasa aman padanya.
Di lain tempat, Arya masih berada di rumah Aini. Kini ia hanya bisa menyandarkan tubuhnya pada dinding di balik kamar Aini. Mendengar dua sejoli itu saling mengucapkan kata kata untuk menenangkan perasaannya masing masing. Terlebih ia juga melihat dua sejoli itu saling berpelukan begitu erat. Tak kuasa Arya pada perasaannya yang entah kenapa begitu terasa sakit, ia memutuskan untuk pergi pulang. Tanpa pamit.
*****
Setelah Aini merasa lebih tenang, Rey mengangkat tubuh wanitanya itu untuk berbaring di ranjangnya. Ia letakan tubuh Aini dengan lembut di kasurnya. Menutup tubuh Aini dengan selimut tebal agar ia tidak kedinginan. Perlahan tangannya bergerak mengelus puncak kepala kekasihnya itu.
"Reyy", ucap Aini lirih.
"Iya sayang. Aku di sini", jawab Rey dengan lembut.
"Jangan pergi. Aku takut. Temenin aku malam ini"
"Iya. Aku di sini sayang. Aku gak akan pergi kemanapun. Aku akan jagain kamu sampai kamu bangun besok. Sekarang kamu tidur ya, tidur yang nyenyak. Biar aku yang jaga kamu di sini"
Mendengar ucapan manis Rey, Aini segera terlelap. Dijadikan nya telapak tangan Rey sebagai bantal tidurnya. Sedangkan tangan Rey yang lain tengah sibuk mengelus rambut Aini.
'Jangan khawatir Aini. Gue janji semua ini gak akan terulang lagi. Gue janji bakal jagain kamu dengan seluruh hidup gue. Selamat tidur Aini. I love you..'
Cuppp
Rey mencium lembut kening Aini. Merasa lega karena wanita di hadapannya ini tidak terluka. Rey berjanji akan melindungi Aini sampai kapanpun.
Bersambung...