When I With You

When I With You
When I With You 30




Rey terkaget saat melihat sebuah pesan untuknya dari nomor tak di kenal. Tanpa basa basi Rey segera melaju karena khawatir pada Aini.


Sesampainya di tempat tujuan, ia merasa heran karena alamat yang dikirim oleh nomor tak di kenal itu mengarah pada sebuah gedung tua yang sudah tak terpakai lagi. Setiap sudut di gedung itu gelap. Suara suara aneh yang bersumber dari hewan terdengar sangat jelas di keheningan malam. Namun Rey tak merasa takut sedikitpun. Baginya keselamatan Aini lebih penting daripada apapun.


"WOY DIMANA LO?"


"MANA Aini?"


Rey berteriak mencari orang yang mengarahkannya ke tempat itu. Menyusuri setiap sudut dari gedung tua itu sambil berjalan pelan karena gelap.


'Kena lo Rey', batin seseorang yang sedang memperhatikan Rey dari kejauhan.


'Lo masuk perangkap gue'


Seseorang yang mengawasi Rey dari kejauhan hanya tersenyum penuh kesombongan karena merasa rencananya berjalan dengan baik.


"BERANI KELUAR LO. MANA Aini?"


"KALAU SAMPAI Aini TERGORES SEDIKIT AJA, GUE PASTIIN LO BAKAL KEHILANGAN TANGAN LO"


Rey tak menyerah untuk mencari Aini dan orang yang menghubunginya tadi. Rey terus berteriak dan melemparkan apapun yang ia temui di perjalanannya.


*****


Di tempat lain Aini hendak memasuki kamarnya lagi. Ia merasa sudah cukup berada diluar menikmati bintang yang bertaburan indah.


Plep..


Tiba tiba lampu mati saat Aini masih di ambang jendela kamarnya. Ruangan kamar Aini kini tak nampak apapun. Semuanya gelap dan tak terlihat.


"Kenapa lampunya tiba tiba mati?"


Aini merasa heran. Hatinya gelisah, perasaan ada yang janggal. Entah kenapa rasa takut kini merangkulnya. Mata Aini ia edarkan ke segala arah, mencari ponselnya untuk menyalakan senter.


"Apa mungkin pemadaman ya? Tapi kenapa gak ada pemberitahuan?", ucap Aini bertanya tanya pada dirinya sendiri.


Setelah beberapa menit Aini akhirnya berhasil menemukan ponselnya. Dengan segera ia menyalakan senter. Namun sayang cahaya dari ponselnya tak cukup terang untuk menyinari ruangan itu. Ia tetap harus bergerak untuk mencari tahu.


*****


"Hmmm jadi ini rumah Aini"


'Arghhh gila lu Ar. Ngapain lu ke sini lagi, gimana kalo Aini liat lo di sini', batin Arya sambil menepuk kepalanya sendiri.


Arya kini tengah berada di depan rumah Aini. Sendari tadi ia memikirkan Aini sampai tidak bisa tertidur. Entah kerasukan apa Arya malah berinisiatif untuk sekedar melihat sosok Aini. Ai pikir dengan melihatnya sebentar bisa membuatnya merasa tenang dan bisa tertidur.


"Ahh ini terlalu larut, Aini mungkin sudah tertidur", ucap Arya dan hendak menyalakan mobilnya lagi untuk pergi. Namun saat ia menengok kembali ke rumah Aini, tangannya bergerak sendiri dan mematikan lagi mobilnya.


"Rupanya dia belum tidur"


"Liat apa dia malam malam begini"


Arya yang menyadari Aini tengah memandang bintang di balkon mengurungkan niatnya untuk pulang. Arya malah keluar dari mobilnya dan berdiri di samping mobilnya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ia memandang Aini dari kejauhan. Tanpa Aini sadari.


Perlahan senyuman Arya merekah. Terlebih saat ia melihat Aini tersenyum. Namun setelah beberapa saat Aini terlihat beranjak dari tempatnya.


"Yahh mau kemana dia?"


"Arghhh sepertinya Aini masuk untuk tidur"


Arya hendak memasuki mobilnya lagi namun villa yang di tempati Aini tiba tiba saja gelap. Semua lampu yang tadi menerangi gedung itu kini mati. Merasa ada yang aneh Arya menutup kembali pintu mobilnya dan masih berdiam di tempatnya.


"Kenapa Aini mematikan semua lampu rumahnya?"


"Apa mungkin sedang pemadaman"


Ahhhhhhh..


Arya terperanjat saat mendengar suara teriakan yang ternyata berasal dari rumah Aini. Matanya melebar, jantungnya berdegup kencang, Arya khawatir terjadi sesuatu pada Aini.


Tanpa basa basi Arya menerobos masuk villa Aini. Dengan bantuan senter dari ponselnya Arya mencoba mencari sumber suara.


"Aini?"


"LO DIMANA?"


"Aini?"


Bersambung...