
Brakkk..
Arya membuka pintu kamarnya dengan kasar. Ruangannya tampak gelap dengan dua ranjang berukuran sama terpampang di sana. Arya melemparkan tas ranselnya ke ranjang yang satunya lagi. Sedangkan ranjangnya, ia gunakan untuk dirinya rebahan.
"Hahhh..", hela nafas arya terdengar di ruangan itu.
'Aini. Aini. Aini', otaknya terus memutar memori dimana ia pernah mendengar nama itu.
"Ahhhh.."
Arya berteriak sambil bangkit dari tidurnya. Ia memancarkan ekspresi seolah dia sudah menemukan memori masa lalunya.
"Bukankah gue pernah bertemu Aini dulu? Sekitar satu atau dua tahun yang lalu. Kalau gak salah gue sempat berbicara dengannya di atap. Dan itu juga menjadi pertemuan terakhir gue sama dia", ucap Arya pada dirinya sendiri menganalisis ingatannya.
"Gak salah lagi itu pasti Aini yang waktu dulu ketemu sama gue", ucap Arya yakin atas analisisnya.
*****
Di kediaman villa keluarga Reynaldi, Aini tengah asik menceritakan pengalaman pertamanya masuk kuliah kepada bundanya yang tak lain adalah mama Rey. Sedangkan Rey yang tak di perbolehkan untuk mendengar cerita Aini, malah mandi berdua sama motor kesayangannya si merah.
"Dan apa Aini?", tanya mama Rey karena penasaran dengan ekspresi Aini.
"Tunggu dulu bun, Aini sedang mengingat sesuatu, apa jangan jangan.." Aini menggantungkan ucapannya lagi membuat mama Rey makin penasaran.
"Dia itu sodara Aini yah"
"Yahhh, bunda pikir dia itu pacar kamu atau mantan kamu gituh, eh taunya kamu nyangka dia sodara kamu", ujar mama Rey yang di balas dengan gelak tawa Aini.
"Tapi Aini bener bener ngerasa pernah ketemu orang itu, tapi Aini lupa hehe", ucap Aini sambil menepuk nepuk kepalanya berharap dia mengingat sesuatu.
"Dasar kamu ini yaa", mama Rey mencolek pipi Aini saking gemasnya dengan kelakuan Aini.
"Hehehe.."
*****
Hari sudah berganti malam. Aini sudah stand by di kamarnya sambil memainkan ponsel. Sedangkan mama Rey sudah pulang sejak tadi sore.
Aini menatap layar ponselnya dengan serius. Senyumannya terus merekah. Sesekali Aini memukul kasur dengan kakinya. Rupanya dia sedang bercanda gurau bersama Rey lewat Whatsapp.
Tak lama setelah itu Aini terlelap. Ponselnya masih dalam genggaman. Namun sang empunya sudah tertidur pulas.
Cekitttt..
Suara desitan dari jendela kamar Aini membuat orang yang membukanya semakin waspada. Ia lebih berhati hati agar tak membangunkan Aini yang tengah tertidur.
Roman kamar Aini yang gelap dengan lampu merah yang meredup, membuat seseorang itu harus berjalan pelan agar tak menghantam benda di sekitarnya.
Perlahan dia mendekati Aini. Tubuhnya nampak seperti pria berbalut baju serba hitam dan topi untuk menutupi wajahnya.
Dia berdiri tepat di samping Aini yang sedang terlelap. Tangannya mengarah pada rambut Aini hendak ingin membelai, tapi dia urungkan.
'Tidak. Aini akan terbangun jika aku sentuh', pikirnya.
Tubuhnya mulai berjongkok. Menatap wajah Aini lebih lama dalam jarak yang dekat. Ia menikmati setiap detik ini untuk menebus kerinduan pada sosok wanita pujaannya.
'Aini aku datang. Aku rindu melihat senyumanmu', ucapnya dalam hati.
Perlahan wajahnya ia dekatkan. Mengecup pucuk kepala Aini walau hanya sekejap. Hatinya terus berharap agar Aini tak terbangunkan.
'Aini kau begitu tenang saat terlelap seperti ini. Wajahmu begitu damai, menenangkan, dan indah'
Pria itu beranjak dari tempatnya. Berjalan pelan menjauhi raga Aini. Tatapannya masih ia lontarkan seakan tak rela untuk pergi. Namun ia bisa ketahuan jika terlalu lama berkunjung. Secepat kilat pria itupun keluar dari kamar Aini.
*****
Hari sudah berganti. Selepas bangun, Aini langsung membereskan rumah. Ia beranjak ke arah balkon kamarnya untuk menikmati sang fajar sebelum memancarkan sinarnya. Ia raih tirai jendela kamarnya dan di bukakan dengan cara yang elegan.
"Wahhhh segarnya..", ujar Aini saat wajahnya bertemu dengan hembusan udara pagi.
Namun alih alih menikmati lebih lama, Aini justru malah mengerutkan dahinya. Merasa ada yang janggal. Merasa ada sesuatu yang aneh.
'Tunggu dulu, bukannya semalem jendela udah aku kunci kenapa sekarang kebuka sendiri?', batin Aini merasa heran.
"Arghhhh.. Au ah gelap. Bodo amat. Pusing gue sama otak gue yang pelupa", maki Aini pada dirinya sendiri sambil menggetok kepalanya.
Aini tak mau ribet. Dia segera menutup kembali jendela dan bergegas bersiap siap untuk kuliah.
Setelah selesai bersiap siap, Aini turun ke bawah dan menyiapkan sarapan untuknya sendiri. Karena hari ini mama Rey tak datang, jadi Aini makan sendiri di villa itu.
"Pagii tuan putri kesayangan"
"Hallo Aini"
"Ainiiiii"
Rey dan teman temannya datang ke villa Aini untuk menjenguknya. Dewi yang sudah beberapa hari tak pernah main ke villa tempat kediaman Aini langsung berlari untuk memeluk sahabatnya itu.
"Yahhh, kalian gak bilang mau ke sini. Gue gak bikin makanan banyak ini", ucap Aini sembari cemberut.
"Gak apa apa Aini, lagian nanti malem kita bakalan maen ke sini lagi. Kita semua punya rencana buat berkemah sederhana di belakang", jelas Ajay yang di ikuti anggukan dari yang lainnya.
Aini tersenyum lebar. Ia merasa senang karena malam ini Aini tak akan kesepian. Ia ingin siang ini cepat berlalu darinya. Dan segera tergantikan oleh malam.
"Udah udah kita makan dulu seadanya aja. Soalnya gue belum sarapan nih", ujar salah satu dari mereka.
"Oke oke gue bikinin nasi goreng aja yah biar cepet", tawar Aini sumringah.
Teman temannya hanya mengacungkan jempol tanda setuju dengan tawaran Aini. Anak anak cowo malah main game dulu sambil menunggu makanan. Sedangkan anak anak cewe sedang sibuk memasak di dapur membantu Aini.
"Yangg, jangan lama lama masaknya bakalan ada dua bencana soalnya", teriak Rey pada Aini.
"Apaan emang?"
"Pertama kita bakalan kelaparan sama yang kedua kamu bakalan telat masuk kuliah"
"Ahhh yang pertama aku ga perduli. Kalo yang kedua terjadi kamu yang aku salahin", jawab Aini dengan nada bercanda.
"Cowo emang selalu salah", gerutu Rey pelan.
"Sabar men. Balik lagi ke pasal 1 cewe selalu benar haha", goda teman temannya yang membuat Rey memukul ringan.
"Okehhh udah siapp buruan makan", teriak cewe cewe dari arah dapur.
Tanpa basa basi, tanpa bicara omong kosong, mereka langsung menyerbu dapur dan menempati meja makan sambil berebutan.
Setelah selesai makan, Rey langsung mengantar Aini kuliah dan yang lainnya menunggu di villa.
"Hati hati di jalan Aini"
"Bye sampai ketemu nanti", ucap yang lainnya.
Aini hanya tersenyum dan melambaikan tangan. Dengan cepat Aini hilang dalam pandangan mereka. Rey membawanya ngebut lagi, membuat Aini memakinya sepanjang jalan.
*****
"Heyy semangat dong. Ko malah unmood gini", goda Rey sambil mencolek pipi Aini.
"Aku gak semangat", jawab Aini singkat.
"Kenapa? Ada masalah? Cerita sama aku sayang", ujar Rey langsung turun dari sepeda motornya karena khawatir melihat ekspresi murung Aini.
"Nanti malem aku ceritanya yah, sekarang aku masuk dulu, takut telat"
"Hmm ya udah iya. Kalo ada apa apa langsung hubungin aku yahh", ucap Rey dengan lembut seraya mengelus rambut Aini.
Aini tersenyum simpul. Ia berbalik dan berjalan meninggalkan Rey yang masih di parkiran. Otaknya terus berfikir. Pikirannya melayang mengingat ngingat mungkin Aini melewatkan sesuatu kemarin. Tanpa sadar dia menabrak seseorang di depannya.
Brukkk...
Aini hampir terjatuh, namun dengan sigap orang itu menahannya. Hingga kini mata dari kedua orang itu saling berpandangan. Menatap lekat dalam waktu yang cukup panjang.
Bersambung...