When I With You

When I With You
When I With You 34



"오랜만에요 아랴씨"


(lama tidak bertemu Pak Arya)


Seorang pria gagah berdarah negri gingseng itu menghampiri Arya yang tengah beristirahat di balik pohon.


"윤 정씨?"


(Pak yoon jeong?)


Wajah Arya nampak terkejut melihat seseorang memanggil namanya.


Di hutan belantara yang jauh dari pemukimam, serta beberapa kelompok pria berseragam loreng dan beberapa senjata lengkap di tangan mereka, termasuk Arya.


Dengan gagahnya semua yang terlibat nampak berwajah serius. Orang orang dari berbagai negara berkumpul di luasnya hutan tersebut.


Latihan gabungan. Ya, beberapa kelompok tentara dari berbagai negara harus menyelesaikan misi dalam latihan gabungan ini.


Arya yang tengah beristirahat sejenak di bawah pohon tiba tiba terkejut saat seorang tentara korea datang menghampirinya. Namun sepertinya ia terlihat mengenal orang tersebut.


"혹시 당신은 지금 captain 이에요?"


(Mungkinkah kamu kapten sekarang?), orang itu bertanya dengan nada sinis membuat Arya geram melihatnya.


"그렇습니다"


(Ya benar), jawab Arya dengan tegas.


"아 축한다. 이제 다시는 파트너를 떠나지 않기를 바랍니다"


(Ahh selamat. Saya harap sekarang kau tidak meninggalkan rekanmu lagi), ucap pria korea itu sambil menepuk pundak Arya dan berlalu meninggalkan Arya. Sedangkan Arya masih mematung di tempatnya dan tersenyum ketir.


*****


"hai cewek? yu naik abang anterin pulang"


Aini yang berdiri di pinggir jalan sambil memainkan ponselnya langsung geram setelah mendengar suara pria yang menggodanya. Tangannya mengepal kuat dan kemudian ia menengakkan kepalanya untuk melihat siapa pria yang berani menggodanya.


"Arghhh Reyyyy", teriak Aini sambil memukul Rey saking kesalnya.


"Hey hey udah hentikan. Ko marah sih? aku kan cuma bercanda", ucap Rey sambil tertawa geli melihat ekspresi menegangkan Aini.


"aku pikir ada buaya lewat terus ngegoda, tau taunya lu ya buaya nya", ucap Aini kesal sambil berkacak pinggang.


"NYEBELIN"


"ehehehe udah yu naik kita pulang", bujuk Rey sambil meraih tangan Aini agar tak kesal lagi.


Aini menaiki si merah milik Rey dan melingkarkan tangannya di pinggang Rey. Menyandarkan kepala di bahu Rey adalah favorit Aini selama di perjalanan. Baginya tak ada tempat ternyaman selama di perjalanan selain bersandar di bahu bidang Reynaldi.


"ada apa sayang?", tanya Rey yang melihat raut wajah bad mood Aini dari kaca spion nya.


"gak ada apa apa Rey, hanya kesal saja"


"ya udah maafin aku ya, udah bikin kamu kesal"


"iya gak apa apa ko. bukan salah kamu gak usah minta maaf"


aku kesal karena belum berterima kasih sama Arya


Aini larut dalam pikirannya selama perjalanan pulang. Bahkan sampai dia nyampe rumahpun Aini masih terlihat merenung.


Mungkin Aini galau, atau merasa hampa atas niatnya yang belum tersampaikan. Entahlah seperti apa itu yang jelas seharian tak melihat sosok menyebalkan Arya membuat Aini merasa ada yang kurang.


Selepas mengantar Aini pulang, Rey langsung mengarah ke basecamp untuk menemui teman temannya. Topik penting yang akan di bahas kali ini adalah perkara orang yang menerobos ke rumah Aini.


"Rey lo inget sama pembahasan kita sebelumnya tentang Reno?", tanya Dewi.


"hmm. Kenapa emangnya?"


"gue rasa orang di balik kejadian ini selama ini adalah ulah Reno"


"lo pikir Reno akan bertindak sejauh ini?", tanya Ajay tak menyangka akan melibatkan sahabatnya.


"guys kita semua tahu gimana ambisi Reno saat dia menginginkan sesuatu. Terlebih alasan Reno ke luar negri adalah untuk melupakan Aini. Apa ada alasan lain yang bisa menyangkan ini semua ulah Reno?"


"Dewi ada benarnya juga Jay. Kita tetap harus menyelidiki ini. Bukti terkuat adalah jam tangan yang waktu itu kita temui di belakang villa yang hanya dimiliki gue sama Reno", jelas Rey.


"oke Rey kayanya kita harus mulai dengan menanyakan kabar Reno ke kerabatnya di luar negri", ucap Ajay.


Saat ini mereka tengah menyusun rencana untuk mengetahui siapa orang yang selalu mengganggu Aini. Banyak bukti yang mengarah kepada Reno yang mereka sadari, namun mereka masih setengah hati untuk menduga sahabatnya sendiri yang berulah jahat.


Ren kalau memang benar lo, gue rasa gue harus mengalah


Bersambung...