
“Aini hentikannn.!”, teriak Rey yang baru saja tiba di atap.
‘Hah, kemana perginya cowo tadi?’, Tanya Aini dalam benaknya karena heran cowo itu tiba – tiba saja menghilang dari pandangannya.
Rey berlari menghampiri Aini. Langsung di peluknya gadis yang ada di depannya itu tanpa ragu. Nafasnya tersenggal – senggal tak beraturan, raut wajahnya mengekspresikan rasa kekhawatiran. Yang ia inginkan saat ini adalah memeluk wanitanya. Wanita yang begitu ia cintai setelah mamanya.
”Kau membuatku takut Aini, kau membuatku khawatir akan kehilanganmu. Jangan bertindak bodoh. Kamu punya aku yang akan siap kamu andalkan”, ucap Rey dalam dekapan.
Aini tersentuh karena Rey sangat mengkhawatirkannya, namun pikirannya masih heran karena Arya tiba – tiba saja menghilang sebelum Rey sampai ke atap.
“Aini, jangan diambil hati apapun yang dikatakan ibumu. Dia sedang cemas jadi berbicara kejam padamu”
Aini melepaskan pelukan Rey. Ia menggenggam tangan prianya itu seolah sedang mentransferkan kekuatan dari pria di hadapannya itu.
“Kau salah Rey. Mama sudah terbiasa seperti itu semenjak bercerai dari papa. Bagiku mama berubah. Mama selalu dikendalikan oleh pria itu”
Rey tak menyangka kenyataannya akan seperti itu. Mendengar hidup Aini yang hancur seperti ini, Rey berjanji untuk hidupnya kalau dia akan menjaga Aini selamanya.
“Aini jangan menangis. Aku janji akan aku berikan semua kebahagiaan yang aku punya. Apapun yang tak bisa kamu dapatkan dari orang tuamu, apapun yang belum kamu rasakan dari orang tuamu, aku janji akan memenuhi semuanya untukmu Aini”, ujar Rey dengan tatapan yang serius.
Ain tersenyum merasa bersyukur ada yang mencintainya seperti ini. Ia kemudian memeluk tubuh Rey dengan erat. Melampiaskan semua kesedihan dan lukanya. Bersandar pada sosok pria yang begitu ia banggakan.
*****
Setelah menginap 2 hari di rumah sakit, akhirnya papa tiri Aini bisa pulang juga. Mama Aini selalu terjaga untuk menjaga suaminya. Bahkan dia mengambil cuti hanya untuk menemani suaminya.
“Ma minumlah ini mama bisa sakit karena menjaga dia”, ucap Aini sambil menyodorkan segelas minuman.
Prannkkkk...
Aini melongo, mamanya menepis tangan Aini hingga gelas minuman itu terjatuh ke lantai dan pecah. Ia masih marah pada Aini dan tak mau diganggu lagi.
“Mama..”, ucap Aini lirih.
“Ikutlah”, ajak mama Aini menyeret lengan putrinya dengan kasar agar mengikutinya.
“Ma lepasin tangan aku, sakit”
“Dengar Aini. Kau selalu saja menyusahkanku. Kau tahu betapa baiknya dia daripada papamu? Dan asal kau tau, kamu hanyalah beban Aini, kamu..”
“CUKUP MA”, teriak Aini memotong pembicaraan karena sudah tak sanggup lagi mendengar ocehan mamanya.
“Kamu pikir aku menginginkan hidup yang seperti ini? Hikss.. Kau bilang aku hanya beban? Seandainya aku bisa meminta pada Tuhan, akan lebih baik kalau aku tidak ada di dunia ini. Aku tak pernah meminta untuk dilahirkan ke dunia ini, jadi jangan salahkan kehadiranku, karena mama yang melahirkanku ke dunia ini hikss..”, ucap Aini sambil terisak.
Mama Aini hanya termangu mendengar keluhan anaknya. Sedangkan Aini bergegas untuk pergi dari rumah itu. Ia berlari ke kamarnya dan dengan cepat mengemas barang – barangnya.
“Aini, tunggu. Kamu mau kemana?”
“Aku mau pergi, biar mama gak menderita karena kehadiranku hikkss hikss”
“Aini jangan pergi, tunggu dulu. Ainiiii?”, teriak mama Aini yang melihat putrinya kini sudah menghilang dari pandangannya.
Tanpa menghiraukan teriakan mamanya, Aini terus berlari sambil menggendong ransel berisi barang – barangnya. Setelah berada lumayan jauh dari kediamannya, ai berjalan linglung. Dia bingung harus kemana dan harus tinggal dimana.
Namun setelah lama ia berjalan tak tentu arah, akhirnya Aini memutuskan untuk tinggal di basecamp sementara waktu.
*****
“Aini?”
Ajay yang duluan datang ke basecamp terkejut karena melihat Aini sedang meringkuk di tempat duduk. Ransel bersar terlihat ia senderkan di dekat kursi itu. Dan juga mata Aini yang sembab karena menangis seharian ini.
“Aini lo kenapa?”, Tanya ajay khawatir dengan kondisi Aini.
Aini yang mendengar seseorang datang ke basecamp bangkit dari tempatnya. Ia menoleh pada ajay yang berdiri di depannya.
Hikss hikss hikss..
Aini belum juga pulih dari tangisannya. Ia masih merasa kalut dan sedih. Semuanya terasa sakit, hatinya, pikirannya dan juga mentalnya. Ajay yang melihat Aini menangis seperti itu langsung menghampiri Aini.
“Aini lo kenapa? Cerita sama gue siapa yang bikin lo nangis?”
Aini hanya terdiam. Menatap kosong di depannya. Ia tak punya tenaga hanya untuk sekedar menjelaskan. Sampai beberapa teman yang lainnya datang dan mengintrogasi Aini.
“Rey, Aini ada di dalam dan dia sedang menangis”, ucap salah satu dari mereka yang bertemu Rey di luar.
“Apa?”, Rey cemas dan bergegas masuk untuk menemui kekasihnya itu.
“Aini ada apa? Bilang sama aku yang?”, tanya Rey begitu cemas.
Namun Aini malah membenamkan wajahnya di dada Rey daripada menjawab pertanyaannya. Ia menangis sesegukan mengeluarkan semua kesedihannya di pelukan Rey.
Rey diam membiarkan wanitanya menangis di pelukannya. Tangannya bergerak mengelus punggung Aini untuk menenangkan. Sementara yang lain masih terdiam ikut merasakan kesedihan dari Aini.
*****
“Hey, kau sudah dengar kalau Arya akan di angkat menjadi kapten menggantikan kakaknya?”
“Ahh iya. Aku rasa komandan sudah gila. Bagaimana bisa seorang pria es seperti Arya menjadi kapten? Dia bahkan tak punya hati, bagaimana bisa dia memimpin tim dengan karakternya yang seperti itu”
Braakkk...
Suara pintu yang dibuka begitu keras hingga menghantam dinding dan menimbulkan suara yang menggagetkan sekelompok pria bergosip.
Arya mendengar kawanan di kamar ganti sedang menggunjingkannya. Karena sudah merasa geram, akhirnya ia masuk dan membuka pintu dengan kasar.
“Arghh maaf, sepertinya aku mengagetkan kalian”, ucap Arya dengan santai namun terkesan dingin.
“Hmm, ti.. tidak ko. Kau mau berganti baju ya? Silahkan silahkan”, ucap pria – pria itu karena takut dengan tatapan tajam yang Arya lontarkan.
Setelah Arya masuk yang lainnya malah keluar. Arya hanya tersenyum simpul dengan kelakuan orang – orang yang tadi membicarakannya.
Dengan cepat ia membuka bajunya dan berdiri menghadap lemari kaca memandangi tubuhnya yang six pack. Terlepas dari betapa indahnya tubuh Arya, di sana terlukis beberapa luka tembak dan juga goresan yang masih membekas.
“Kak, aku akan hidup seperti ini untuk waktu yang lebih lama. Agar aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Aku tak perduli lagi dengan hidupku, masa depanku, dan juga bahaya yang sedang menanti nyawaku. Aku hanya ingin bertemu denganmu dan juga mama papa. Aku ingin berkumpul bersama kalian lagi”, ujar Arya dalam hati sambil memandangi dirinya dari cermin.
Bersambung...