When I With You

When I With You
When I With You 26



"Apa orang itu belum pergi?", bisik Rey pada Aini yang masih melongo di depannya.


"Gatau. Kamu liat dong", bisik Aini sambil menyuruh Rey untuk beranjak.


Rey bangkit dari tempat duduknya, menuruti perintah Aini untuk melihat situasi. Perlahan lahan Rey melangkah mendekati sumber suara tadi. Rey berjalan sambil sedikit berjongkok dan tatapan yang tak lepas ke arah suara tadi.


Langkahnya semakin dekat. Perlahan namun pasti Rey sampai di sumber suara. Ia atur nafasnya sebaik mungkin agar tidak terdengar. Mulutnya ia tutup rapat rapat agar tidak menimbulkan suara. Semakin dekat Rey pada sumber suara itu, perlahan ia mengintip ke balik lemari.


Meongg..


"Arghhh sial ternyata kucing", ucap Rey yang langsung terkulay lega karena sumber suara itu ternyata dari seekor kucing yang menjatuhkan vas bunga.


"Aini darimana kamu punya kucing ini?", tanya Rey sambil berjalan kembali ke arah Aini.


"Apa? Kucing? Oh jadi suara barusan itu kucing?"


"Iya. Ini nih pelakunya jatuhin vas bunga di deket lemari", ujar Rey seraya memangku anak kucing lucu itu.


"Arghhh syukurlah aku pikir ada orang jahat kemari. Ternyata kamu yaa kucing nakal", ucap Aini sambil mencomot pipi kucing itu karena kesal sudah menakutinya.


'Hufftt.. Syukurlah gue gak ketahuan'


Di sisi lain Reno ternyata masih bersembunyi dibalik lemari itu. Sendari tadi ia bersembunyi di sana tanpa suara. Dan beruntungnya Reno, Rey tak menyadari kehadiran seseorang di dekat lemari yang tadi ia hampiri.


Setelah Aini dan Rey beralih ke tempat lain, Reno dengan segera keluar dari tempat persembunyiannya dan pergi dari rumah Aini. Berulang kali Reno menengok ke belakang karena takut akan ketahuan oleh Aini dan Rey.


Sementara Aini dan Rey berpindah ke taman belakang villa itu dan mengobrol di sana.


"Sayang mau ke basecamp gak?"


"Boleh tapi nanti sore yah", jawab Aini sambil tersenyum manis.


"Okeh. Kamu mau liat senja yah di halaman belakang basecamp?"


"Iya Rey. Udah lama banget gak ke sana lagi. Karena sekarang aku bisa liat dari sini, jadi udah jarang ke basecamp"


"Ya udah nanti kita liat sama sama yah di sana", ujar Rey seraya mengelus rambut Aini dan ditanggapi anggukan oleh Aini.


*****


Waktu dengan cepat berlalu. Langit cerah akan segera tergantikan dengan gelap. Rey memenuhi janjinya pada kekasihnya untuk menikmati senja hari ini bersama.


"Sini pegang tangan aku", ujar Rey menyodorkan tangannya untuk menggenggam Aini.


Aini menatap sejenak tangan yang terulur ke hadapannya, kemudian ia meraihnya dan menggenggam begitu erat. Keduanya melangkah ke belakang basecamp untuk menyaksikan keajaiban langit. Dimana warna langit berubah setiap harinya di waktu yang sama. Kadang terlihat begitu merah, kadang berwarna keunguan, dan terkadang pula memancarkan cahaya jingga. Namun di sinilah letak keindahan dari sang senja yang begitu Aini kagumi.


"Sudah lama tak menyaksikan senja bersamamu Aini"


Aini dan Rey kini tengah duduk di tepian. Mengadah ke arah langit tanpa melepaskan genggaman keduanya. Setelah kalimat pertama yang mereka ucapkan saat tiba, belum terdengar lagi kalimat selanjutnya dari mulut keduanya. Mereka berdua hanya menyaksikan tanpa suara.


"Rey terima kasih telah hadir", ujar Aini memecahkan keheningan.


"Berterima kasihlah pada takdir Aini. Karena takdirlah yang mempertemukan kita"


"Berjanjilah Rey kamu gak akan pernah pergi. Jangan pernah bilang hal menjengkelkan seperti waktu itu di Supermarket"


"Iya Aini. Aku janji akan terus menggenggamu seperti ini", ujar Rey sambil mengacungkan tangannya yang tengah menggandeng tangan Aini.


Seketika Aini tersenyum haru mendengar kata manis Reynaldi. Menatapnya dengan lekat, dengan senyuman manis menghiasi bibirnya.


"Meskipun aku gak bisa menggenggamu lagi, akan aku pastikan Aini, aku pergi dengan cintamu nanti", ujar Rey yang kemudian mengalihkan pandangannya ke arah langit.


"Dan aku harap aku juga bisa melakukan hal yang sama"


Keduanya saling berpandangan. Terpancar aura penuh kasih dari bola mata keduanya. Senyuman mereka pula terus merekah saat mengucapkan janji manis keduanya.


*****


Di lain tempat, Arya tengah berbaring di atap sebuah gedung. Dengan pakaian yang memperlihatkan otot lengannya dan celana selutut yang ia kenakan, memperjelas bahwa Arya baru saja selesai berlatih. Memang sudah menjadi kebiasaannya Arya beristirahat di tempat tinggi. Tempat yang tidak bisa di jamah oleh orang biasa.


Arya menatap langit yang mulai berubah warna. Menatap kosong dan hampa, tanpa seseorang lagi di kehidupannya. Namun entah mengapa bayangan wajah Aini kian terlihat di atas sana.


'Apa yang sedang lo lakuin di hari libur?', tanya Arya dalam hati merujuk pada Aini.


'Apa lo suka senja Aini?'


'Apa sekarang lo sedang menatap langit yang sama di tempat berbeda?'


'Indah bukan? Ketika alam menunjukan keagungannya lewat waktu terbatas seperti saat ini, saat senja muncul'


'Kau tahu Aini, gak semua orang bisa melihat senja. Karena senja hanya akan menunjukan dirinya pada mereka yang menantinya, terlabat beberapa menit saja kau pasti akan melewatkan keindahan langit saat senja'


'Seperti saat ini gue menunggu datangnya senja, semoga kau juga Aini'


"Arghhh.."


Arya meregangkan tangannya sambil beranjak bangun. Setelah beberapa saat ia meracau dalam pikirannya sendiri, tanpa terasa senja sudah mulai menghilang dan bergantikan gelap.


Arya bangkit dari tempatnya. Membalikan badan dan mulai beranjak pergi. Setelah beberapa langkah, ia kembali menoleh dan menatap langit yang ia pandang sendari tadi.


'Kau orang pertama yang aku pikirkan Aini'


Bersambung...