
Arya kembali membuka lampiran file di layar komputernya. Ia terkejut kenapa ada foto Aini di sana.
"Hah kenapa harus dia sih yang gue lindungi", pekik Arya.
"Tunggu dulu. Emangnya Aini siapa dan kenapa juga harus gue lindungi?", Arya bertanya tanya pada dirinya sendiri.
Arya mulai menatap serius foto Aini di layar komputer. Pikirannya bekerja, mencari dimana hal istimewa yang ada pada Aini.
"Apa dia anak presiden? Apa mungkin buronan? Jangan jangan dia *******?", ucap Arya mengira ngira.
Arya memperhatikan kembali foto foto Aini di komputer. Matanya beberapa kali ia kedipkan. Mencari apapun yang bisa ia jadikan petunjuk.
'Ko dia cantik yah di foto ini', ujar Arya dalam hatinya.
"Arghhhh bodo amat"
Arya membantingkan tubuhnya pada ranjang berbalut kain corak loreng. Dia lelah berurusan dengan Aini. Namun ada satu hal yang membuat Arya bingung. Nyaman.
Arya merasakan kenyamanan berada di sekitaran Aini. Terlebih lagi saat ini dia satu kelompok bersama Aini di kampusnya. Otomatis Arya akan semakin sering bertemu Aini.
'Hmm Aini lo sebenarnya siapa sih?', tanya Arya dalam pikirannya.
Seketika Arya menoleh pada ranjang di sebelahnya. Tempat untuk beristirahat dari sang kakak. Kenangan saat kakaknya masih bersama dia mulai terlihat. Satu satunya keluarga yang dia punya.
'Kak, gue rasa gue ngelupain lo saat lagi sama cewe itu. Dia sama kaya lo kak, bisa bikin gue ngerasa nyaman', batin Arya sambil memandangi ranjang kakaknya.
*****
Kabut membalut ruang. Udara mengisi kehampaan. Mentari yang kian muncul dari ufuk timur. Villa kediaman Aini kini tak lagi sepi. Rey dan teman temannya ternyata menginap di sana. Lebih tepatnya di tenda belakang rumah.
Mereka mengaplikasikan kemah sederhananya seperti nyata. Maka dari itu mereka membuat peraturan tak ada yang boleh tidur di dalam rumah saat malam kemah.
"Woyyy bangun bangun", teriak seorang pria sambil memukul mukul panci bekas merebus mie semalam.
"Arghhh berisikkk. Siapa sih?", gerutu Dewi hingga membangunkan Aini yang tidur di sampingnya.
"Dew kenapa?"
"Gak tau tuh ada yang berisik di luar"
Akhirmya semua orang keluar satu persatu dari tendanya. Tampak sekali semuanya masih pulas tertidur, tapi suara seseorang yang tak lain adalah Ajay merusak gendang telinga mereka hingga terbangun.
"Sungguh pemandangan yang indah", ucap Ajay yang tampak puas mengganggu kawanannya.
"Woy mau ngapain sih, jam segini roh gue baru mau keluar buat cari mimpi tapi keduluan sama suara lo yang ngajak ribut", gerutu Rey sambil menguap.
"Diem Rey, gue lagi nikmatin wajah **** kalian nih haha. Ada yang keluar sambil bawa bantal, ada yang keluar rambutnya kek orang gila, malah dia belum sempet ngusap ilernya awkwkwk", ejek Ajay sambil menunjuk salah satu teman cowo mereka yang diikuti gelak tawa dari teman temannya yang lain.
"Arghh sialan lu ganggu aja", pekik Rey seraya hendak kembali ke tendanya untuk tidur.
"Ehh tunggu dulu Rey, gue emang beneran ada pengumuman nih", ujar Ajay mencoba menarik perhatian Rey agar tak pergi.
"Ada yang kehilangan ini gak?", tanya Ajay sambil memperlihatkan sebuah jam tangan hitam.
Rey menyipitkan matanya, karena dia juga memakai jam tangan hitam. Yang lainnya juga saling bertanya tanya pada diri masing masing.
"Seperti punya gue, tapi punya gue ada di dalem Jay", ujar Rey yang baru saja mengecek barangnya di dalam tenda.
"Kalo gitu ini punya siapa? Keliatannya sih punya cowo nih"
"Lo dapet darimana Jay?", tanya Rani yang ikut penasaran.
"Noh dari bawah pohon itu", jawab Ajay seraya menunjuk sebuah pohon yang tak jauh dari halaman tempat mereka berkumpul saat ini.
"Gak mungkin punya orang yang lewat kan?"
"Mana ada orang lewat ke situ. Lagian ke sananya itu hutan", jelas Rey sang pemilik tempat ini.
Setelah beberapa detik, Rey tercengang. Mengingat perkataan Aini kemarin tentang seseorang yang masuk ke villa ini. Wajahnya memancarkan ekspresi yang serius.
'Apa mungkin orang itu semalam juga datang ke sini?', tanya Rey dalam pikirannya.
'Jika ya, siapa dia sebenarnya? Apa jangan jangan dia orang yang selama ini gue pikirin', Rey semakin tak sabaran untuk mengetahui sosok yang masuk ke villa ini kemarin.
*****
"Aini lo mau berangkat sekarang?", tanya salah satu dari mereka.
"Iya, hari ini ada tugas yang harus segera di kumpulkan jadi harus datang lebih cepat", jelas Aini.
"Ya udah yu aku anter kamu kuliah", tawar Rey yang sudah pasti di setujui oleh Aini.
"Gue berangkat dulu yah", pamit Aini sambil melambaikan tangannya.
"Hati hati Aini", jawab mereka sambil memperhatikan sosok Aini dan Rey yang mulai hilang dari pandangan mereka.
"Sayang?"
"Iya?"
"Kamu suka sama hadiah dari aku?", tanya Rey pada Aini di perjalanan.
"Hmmm gak terlalu suka"
"Lohh kenapa gak suka?"
"Aku lebih suka kamu daripada kalung", ujar Aini yang kemudian tertawa.
"Hahaha dasar kau ini, lagi belajar ngegombal ya"
"Engga kok. Emang beneran Rey adalah orang yang paling istimewa dalam hidup gue. Karena kamu Rey, aku bisa bernafas dengan lega sekarang"
"Hmm kau ingat masa lalumu yah?"
"Menurutmu bagaimana kabar orang tuaku Rey"
"Mereka bakalan baik baik aja ko. Kapan kapan kita juga harus menjenguk mereka Aini"
"Engga Rey. Mereka bahkan tak berusaha mencariku kan? Punya bunda aja udah cukup buat aku Rey"
Rey hanya menghela nafas mendengar ucapan Aini. Ia bisa mengerti kenapa Aini seperti ini. Dia sudah terlalu lama terluka oleh keluarganya sendiri. Sudah saatnya Aini bahagia walaupun tidak bersama mereka.
Flashback on
Rey bertemu mama Aini saat sedang berbelanja di Supermarket.
"Rey?", tanya seorang wanita paruh baya.
"Iyah?"
"Kamu Rey pacarnya Aini kan?"
"Kenapa yah bu?", tanya Rey kembali pada wanita itu.
"Rey apa kau tahu Aini dimana sekarang? Dia kabur dari rumah Rey. Dan sampai saat ini Aini tidak pulang pulang"
"Ahh Rey udah lama putus sama Aini bu. Rey gak tahu Aini ada dimana sekarang"
Mama Aini terlihat sedih dan kecewa. Ia pikir akan segera bertemu Aini jika ia bisa menemukan Rey.
Flashback off
Rey melamun sambil mengendarai motornya. Ia bahkan tak terlalu mendengarkan omongan Aini sepanjang jalan. Satu sisi Rey merasa bersalah menyembunyikan Aini dari mamanya, tapi di sisi lain ini semua demi kebaikan Aini.
'Maaf Aini. Aku hanya tak ingin kamu menangis lagi', ujar Rey dalam hatinya.
*****
"Hari ini kita akan belajar di lab sesuai kelompok kalian yah", ucap dosen.
"Baik bu", seru anak anak di ruangan itu.
'Arghhh sial kenapa juga harus sekelompok sama manusia menyebalkan kaya Arya', batin Aini.
'Ini saatnya gue mencari tahu siapa Aini. Walaupun menyebalkan karena sering sama dia, gue tetep harus profesional', ujar Arya dalam hati.
Bersambung...