
Bukkk
"Arghhhhh.."
Aini berteriak histeris saat menubruk sesuatu yang terasa amat keras dan juga kekar. Dalam situasi yang gelap seperti ini, wajar sekali jika Aini terkaget akan sesuatu. Keringat dinginnya mulai bercucuran. Jatungnya berdetak tak karuan.
'Apa ini? Apa ada seseorang di sini? Atau mungkin ini hantu?', tanya Aini panik dalam hatinya.
Aini yang kini sudah terpojok lemas di sudut ruangan tak mampu lagi melarikan diri. Ia hanya meringkuk sambil terus berdoa. Kepalanya tak sanggup untuk menoleh ke sekitaran. Aini hanya memejamkan matanya sambil meringkuk di sudut ruangan.
"Aini"
Panggil seseorang dengan lirih yang membuat Aini semakin bergidik takut. Bulu kuduknya sudah berdiri sendari tadi. Jantungnya terus. berpacu kencang memburu waktu.
'Tolonggg seseorang selamatkan aku', ratap Aini dalam hatinya memohon.
Tap.. Tap.. Tap..
Suara langkah kaki misterius semakin mendekati tubuh Aini yang sudah bergemetaran. Sesuatu di hadapan Aini itu menjulurkan tangannya untuk menyentuh Aini. Aini yang merasa kehadiran orang itu dekat di hadapannya semakin menciut menempeli dinding.
'Plisss jangan mendekat. Jangan ganggu aku hiks hiks'
Tanpa terasa air mata sudah berjatuhan dari mata Aini. Ia semakin takut dalam kegelapan malam ini. Seseorang yang terus mendekatinya seolah terasa mengintimidasi. Perlahan sentuhan tangan dingin mendarat di pundak Aini hingga membuat Aini berteriak kaget.
"ARGHHHHHHHHH"
*****
"Siapa lo?"
Rey sudah sampai di suatu ruangan terdalam di gedung tua itu. Satu satunya tempat di gedung itu yang sengaja di nyalakan lampu remang remang. Terlihat seseorang di sebrang Rey tengah berdiri angkuh. Memakai jaket upluk dan masker hitam. Berdiri di tepi ruangan itu seolah memang sudah menunggu kedatangan Rey.
"Siapa lo sebenarnya?"
"Mau apa lo dari gue?"
Rey yang masih tak beranjak dari kediamannya menanyakan maksud dari orang itu hingga membuat Rey harus datang ke tempat ini.
"Aini"
Jawaban orang di hadapannya membuat Rey tercengang. Ia kaget siapa lagi orang yang ingin menyakiti Aini.
"Apa maksud lo?"
"Gue mau lo serahin Aini"
"Lo pikir dia barang. Aini akan tinggal di manapun yang ia inginkan. Dia bukan barang yang harus lo atur harus berada dimana dia tinggal"
"Kalau begitu gue akan membawanya secara paksa"
"Tentu saja. Orang orang gue sedang mengambil Aini di tempat kediamannya. Dan mungkin saat ini mereka sudah membawa Aini, hahaha"
Orang itu tertawa meremehkan seolah ia sudah merasa menang. Rey yang mendengar ucapannya semakin gelisah. Rey terjebak. Dia sengaja di alihkan ke tempat ini agar orang yang menginginkan Aini bisa datang membawa Aini tanpa halangan.
Tanpa ragu Rey hendak beranjak dan berlari untuk menyusul Aini. Namun orang itu menghalanginya. Mengulur waktu agar temannya bisa membawa Aini.
"Mau pergi kemana lo?", tanya orang itu yang kini sudah di hadapan Rey untuk menghadangnya.
"MINGGIR LO", sentak Rey sambil mendorong tubuh orang itu.
Namun sialnya orang itu terus menghalangi jalan Rey. Rey yang terburu buru karena khawatir menjadi naik pitam karena orang itu terus menghalanginya. Akhirnya perkelahianpun tak terelakan lagi. Rey menyerang orang itu yang ternyata orang itu juga pandai bela diri. Perkelahianpun tak berhenti dalam waktu singkat.
"SIALAN LO"
"Hmmm", orang itu hanya tersenyum sinis menanggapi kemarahan Rey.
*****
"Aini?"
"AHHHHH Jangan mendekat. Aku mohon jangan sakitin aku hikss", ujar Aini yang masih meringkuk.
Aini memohon pada seseorang yang baru saja datang dan menghampirinya agar tak menyakiti Aini. Tubuhnya semakin bergetar. Tangisannya juga semakin menjadi.
"Tolonggg jangan ganggu aku hikss"
"Aini tenanglah ini gue. Arya", ucap Arya sambil berusaha menenangkan Aini namun Aini menepisnya karena masih merasa takut.
"Aini jangan takut, ini gue Arya. Gue gak akan menyakiti lo Aini", ucap Arya dengan lembut agar Aini tak merasa takut.
Plepp..
Lampu akhirnya menyala lagi. Ruangan yang tadi gelap gulita kini sudah terang kembali. Terlihat Aini masih meringkuk di sudut ruangan itu dan Arya di hadapannya berusaha untuk menenangkannya.
"Aini tenanglah. Lihat lampunya sudah menyala dan sekarang lihat gue", ujar Arya saat melihat Aini masih menangis ketakutan.
Perlahan Aini membuka matanya dan mengadahkan kepalanya. Matanya sembab dan raut wajahnya begitu pucat. Orang pertama yang ia lihat kini adalah Arya, bukan orang jahat tadi. Aini langsung memeluk erat tubuh Arya hingga membuat Arya melongo. Namun Arya membalas pelukan Aini sebab ia mengerti Aini sedang ketakutan.
"Aryaa makasih udah di sini. Gue takut Ar hikss", ucap Aini sambil menangis dalam dekapan Arya.
"Tenang Aini ada gue. Gue gak akan biarin orang jahat menyakiti lo", ucap Arya sambil menepuk nepuk punggung Aini.
Untuk beberapa saat, Aini masih dalam dekapan hangatnya tubuh Arya. Ia memejamkan matanya lagi. Merasakan ketenangan dan aman. Begitupun dengan Arya, meskipun merasa canggung namun ia tetap menenangkan Aini. Rasa khawatirnya kini sudah pudar. Karena Aini baik baik saja dan berada dalam pelukannya.
Bersambung..