
“Hey, selamat pagi”, salam seorang wanita dengan nada ceria dari arah meja makan.
Melihat betapa baiknya ibu Rey meskipun mereka baru bertemu Aini, membuat Aini terharu sekaligus bersyukur karena masih ada orang – orang baik di dunia ini. Aini membalas dengan senyuman dan langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Rey.
“Nah, makan ini ya. Biar kamu sehat dan bertenaga lagi. Makanan ini mamah buat special buat kamu. Silahkan dimakan ya”, ucap ibu Rey sambil menyodorkan banyak makanan dari mulai daging dan sayur - mayur.
“Oh ya, hari ini aku ada kegiatan sama anak – anak kamu mau ikutan ga Aini?”
“Hmm?”, Aini yang hendak menyuapkan makanan langsung menoleh dan memberikan ekspresi bingung.
“Gak apa – apa ko kalo kamu mau ikutan. Biar sekalian aku kenalin ke temen – temen. Mereka baik – baik ko”, Aini hanya mengangguk dan tersenyum menandakan bahwa ia setuju dengan ajakan Reynaldi.
*****
Setelah selesai makan, Rey dan Aini pergi untuk bertemu teman – teman Rey. Tak seperti kemarin, hari ini mereka terlihat mengobrol di sepanjang perjalanan.
“Jadi kamu ini anak geng motor?”, untuk pertama kali Aini memulai pembicaraan.
“Ahh iyaa. Sebenernya sih mereka teman teman masa SMA ku, dan dari dulu sejak sekolah kita semua emang udah biasa kumpul – kumpul, ngadain acara, dan setiap malam kita semua bakalan menelusuri jalanan kota beriringan motor”
“Buat apa?”
“Hmm gak ada maksud apa – apa juga sih. Hanya saja keseringan kita memastikan kota aman pada malam hari”
Aini hanya berdehem membalas penjelasan Rey. Dalam hati Rey ingin sekali menanyakan banyak hal tentang Aini, namun ia urungkan karena takut akan membuat Aini sedih kembali. Masih kalut dalam banyaknya pertanyaan dalam benak Rey, mereka akhirnya tiba juga di tempat tujuan.
“Woyy, Rey udah dateng tuh”, seru salah satu temannya yang berada tak jauh dari pintu basecamp mereka.
“Guys, gue bawa seseorang nih. Temen baru gue”, jelas Rey mengenalkan Aini pada teman – temannya.
Aini yang merasa malu karena baru pertama kali bertemu teman – teman Rey yang di dominasi pria hanya menundukan kepala sambil tersenyum kecut.
“Wahh bakalan jadi teman baru kita juga dong. Hai kenalin gue Reno”, ucapnya seraya menyodorkan tangan untuk berjabatan.
“Haii aku Aini”, Aini membalas tangan Reno dan diikuti oleh teman – teman Rey yang lainnya untuk berkenalan.
Tak seperti dugaan Aini, ternyata teman – teman Rey baik dan ramah. Mereka semua memperlakukan Aini dengan sopan. Dan karena karakter Aini yang introvert, mereka selalu melakukan banyak cara agar bisa berinteraksi dengan seru bersama Aini.
“Oh ya Rey, mengenai acara kita nanti ada kendala yang harus kita diskusikan bersama”, ucap Ajay yang merupakan salah satu dari teman Rey.
“Kendala? Apa yang terjadi?”, tiba - tiba suasana menjadi serius. Suara tawa, bualan, dan mereka yang sedang bermain gitar sambil menyanyi tiba – tiba saja berhenti. Menyimak dengan serius pertanyaan Rey.
“Kenapa kalian jadi serius begini? Apa ada masalah yang besar?”, Tanya Rey kembali karena penasaran dengan ekspresi teman – temannya.
“Apa ini saatnya kita membicarakannya?”, seru yang lainnya.
“Ya. Kita harus mendiskusikannya sekarang. Tapi...”, Reno menoleh pada Aini.
“Kenapa lo melirik Aini?”, Tanya Rey.
“Maaf Rey. Sepertinya dia belum bisa ikut dalam diskusi kita. Hanya anggota yang sudah sah yang akan dilibatkan dalam diskusi ini”, terang Reno merasa tak enak karena harus mengecualikan Aini.
Mendengar hal itu, Rey menoleh pada Aini, menghampirinya dan tangannya kini berada di pundak gadis itu.
“Aini, maaf ya apa bisa kamu menunggu di luar. Sepertinya ada masalah yang serius yang harus kita bicarakan. Tak apa kan kamu tunggu sebentar di luar”, ucap Rey.
“Hmm baiklah aku tunggu di luar”, ucap Aini sambil tersenyum mengisyaratkan bahwa mereka tak perlu merasa tak enak padanya.
Aini berjalan keluar basecamp itu meninggalkan Rey dan teman – temannya. Ia berjalan dan melihat sekeliling tempat itu. Beranjak melangkahkan kaki menuju arah belakang basecamp. Langkahnya terhenti, matanya membelalak, mulutnya terbuka lebar membentuk huruf O.
Aini kembali berjalan dan terhenti di ujung jurang halaman itu. Merentangkan kedua tangannya, menutup mata, dan menghirup dalam – dalam udara yang masih terasa segar di sana.
“Seandainya kehidupan ini seindah pemandangan di sini. Akankah semua orang merasa bahagia?”, gumamnya dalam hati.
Perlahan Aini membuka matanya, menurunkan kedua tangannya yang sendari tadi ia rentangkan, senyuman manisnya kini menghiasi bibirnya. Ia duduk di tepi jurang dan menikmati panorama indah yang tercipta di alam ini.
Matahari mulai menyembunyikan sinarnya, langit mulai berganti warna, gelap perlahan menghampiri. Senja yang indah kini hadir, menemani seorang gadis yang masih senang memandangi indahnya alam.
“Kamu suka pemandangan di sini?”, Tanya pria yang datang menghampirinya dan kemudia ia duduk di samping gadis itu.
“Ah.. Rey”
“Bagaimana? Pemandangannya indah bukan?”
“Hm iya. Aku suka. Terlebih lagi saat ini, waktu dimana semua keajaiban, keindahan langit, terlukis di depan mata kita”, terang Aini sambil menatap lekat kea rah langit dengan senyuman manis yang masih terlukis di bibirnya.
“Ahh iya, bagaimana dengan diskusinya? Sudah kau putuskan solusi permasalahannya?”, Tanya Aini kemudian sambil berbalik menghadap Rey.
“Aini?”
“Hmm, iya? Kenapa”
Raut wajah Rey kini berubah kembali serius. Matanya menatap dalam ke bola mata Aini, tangannya meraih dan menggenggam tangan Aini.
“Kita baru saja kenal, tapi entah kenapa aku merasa nyaman di dekatmu. Aini, jangan bersedih lagi”
“Rey, kau tau? Baru pertama kali ada cowo yang perduli padaku. Dan bahkan sekarangpun, aku senang ada seseorang di sampingku kala senja”, ucap Aini sambil tersenyum.
“Aini mulai sekarang ceritakan padaku apapun masalah mu. Aku pasti akan membantu jika aku bisa. Jangan pernah menyimpan semuanya sendirian. Kalau kamu mempercayaiku, andalkan aku sesuka kamu, oke?”
“Heemm, iyah. Terima kasih Rey”
Rey tersenyum dan meraih puncak kepala Aini untuk mengelusnya lembut. Betapa senang hatinya bisa membuat Aini tersenyum. Terasa lega karena kini Aini sudah baik – baik saja.
“Oh ya, kamu tetap gak mau pulang?”
Mendapat pertanyaan tersebut membuat Aini kembali terlihat murung. Rey yang menyadari bahwa dia sudah salah bertanya langsung meminta maaf karena merasa bersalah.
“Tidak Rey. Kau benar. Aku memang harus pulang. Lagian aku gak bisa terus terusan tinggal di rumahmu”
“Bukan begitu Aini. Aku hanya khawatir dengan orang tuamu. Aku takut mereka mungkin sedang mencarimu sekarang”
“Iya aku mengerti maksudmu Rey. Kau bisa mengantarku pulangkan?”
“Iya tentu saja Aini”
Tanpa mereka sadari hari sudah mulai gelap. Rey beranjak dari tempat duduknya untuk pergi mengantar Aini pulang. Di sepanjang perjalanan mereka tak henti bercerita. Rey dan Aini yang awalnya tampak canggung, kini mereka terlihat akrab bak teman yang sudah lama kenal.
*****
Bersambung..
“ Kehidupan akan terus berlanjut,meskipun duniamu hancur”
~ Aini Aurora Maharani