When I With You

When I With You
When I With You 28



Aini berlenggak pergi keluar dari ruangan kesehatan. Rasanya dia sudah merasa mendingan dan cukup kuat untuk beraktifitas lagi. Arya yang menyadari Aini tak ada di sampingnya hanya melamun. Apa dia juga harus keluar dan nanti akan di cap sebagai pengikut Aini atau tetap terbaring di ruang kesehatan seperti orang sakit.


"Lo semakin buat gue penasaran Aini", ucap Arya saat Aini sudah lenyap dalam pandangannya.


Tap.. tap.. tap..


Seorang pria berjalan mendekati pintu ruang kesehatan itu. Perlahan ia mengeluarkan benda untuk mengunci pintu. Sontak Arya merasa heran dengan apa yang dilakukan orang itu hingga membuatnya bangkit dari ranjang.


"Hey kenapa lo mengunci pintunya?", tanya Arya sambil berkacak pinggang.


Pria itu memakai baju dongker dan celana jeans hitam di padukan dengan kemeja kotak kotak yang senada. Terlihat seperti seorang mahasiswa, namun yang janggal ia memakai masker hitam dan topi hitam seperti seorang penguntit.


Perlahan pria itu berjalan mendekati Arya. Dan sudah jelas Arya tak gentar ataupun merasa terintimidasi dengan tindakan pria di hadapannya. Arya hanya memasang wajah dinginnya dan diam di tempatnya menunggu orang itu mendekat. Instingnya sudah menangkap sinyal bahwa orang di hadapannya itu pasti akan mencari masalah dengannya.


Bukkk


Pria itu tiba tiba saja melayangkan kepalan tangannya ke arah wajah Arya yang jelas jelas akan mudah Arya tahan. Matanya menatap tajam ke arah Arya. Tanpa berbasa basi lagi pria itu melakukan aksinya dan menyerang Arya. Berhubung Arya seorang tentara, maka dengan mudah dia bisa menangani setiap serangan dari pria itu.


"Siapa lo?", tanya Arya dengan kesal.


"Lo gak perlu tau siapa gue yang jelas enyahlah dari sisi Aini"


Arya hanya tersenyum meremehkan. Batinnya menerka orang inilah yang harus ia jauhkan dari Aini. Ya, sepertinya orang ini yang dimaksud oleh atasannya mengenai misi Arya.


Pria itu terus menyerang dan Arya hanya menahannya. Sampai pada akhirnya pria itu kewalahan dengan sendirinya dan membuka peluang bagi Arya untuk menyerang balik.


"Rupanya cuma segitu kemampuan lo hah", pekik Arya kemudian melayangkan pukulan tepat ke wajah pria itu.


Brukkk..


Pria itu yang tak lain adalah Reno terkapar dengan satu pukulan dari Arya. Reno merasa kesal dan ingin terus membalas namun tubuhnya sudah kelelahan. Terpaksa Reno memilih untuk pergi.


"Hey, lo mau kabur gitu aja", ucap Arya saat melihat pria itu tergesa gesa membuka kunci pintu yang tadi ia kunci.


"Tunggulah gue akan datang"


"Datanglah saat lo udah mampu ngalahin gue", teriak Arya karna pria itu sudah berlalu.


'Siapa dia sebenarnya?'


*****


Aini sudah pulang kuliah, dia berjalan sendiri menyusuri jalanan yang selalu ramai. Kepalanya masih sedikit pusing namun ia paksakan.


"Aini", teriak seseorang membuat Aini menengok ke arahnya.


"Yu naik, gue anterin pulang"


"Woy buruan naik mumpung gue masih baik. Lagian lo jangan kegeeran gue mau nganterin lo bukan karena suka"


Aini mendelik saat Arya mengucapkan hal itu. Aini tak mau di kira kegeeran makanya ia menerima tawaran Arya dan naik tanpa bilang apa apa.


"Gue gak ngarepin yah dan gue gak kegeeran", ucap Aini penuh penekanan hingga membuat Arya tersenyum geli mendengarnya.


Mobil Arya melaju untuk mengantar pulang Aini. Ternyata di belakang mereka ada Rey yang hendak menjemput Aini pulang, namun terlambat karena saat Rey sampai Aini sudah menaiki mobil Arya.


'Siapa dia?'


'Aini pulang sama siapa ya?', pikir Rey dalam hati.


*****


"Arghhhhhh.."


Reno memekik kesal karena kalah dari Arya tadi. Ia melampiaskan amarahnya pada benda benda di sekitarnya hingga banyak yang pecah.


"Sialan. Siapa orang itu sebenarnya?"


"Enak saja dia meremehkan gue"


"Liat saja nanti akan gue balas orang itu"


Teman Reno yang baru saja masuk ke ruangan mereka hanya melongo melihat barang barang berantakan dimana mana.


"Wahhhh apa yang terjadi Ren?"


"Gue kesel sama seseorang"


"Siapa? Rey?"


"Bukan. Gue gak tau siapa orang itu yang jelas dia sama menyebalkannya seperti Rey"


"Apa dia teman Aini?"


"Mungkin. Boy lo cari tau tentang orang itu. Dia selalu di dekat Aini. Mungkin saja dia teman baru Aini"


"Oke lo tenang aja Ren"


Boy berlalu untuk menjalankan perintah Reno. Sedangkan Reno sedang meracau memaki Arya sambil menghadap cermin. Matanya sudah memerah karena amarah, tangannya ia kepalkan dengan kuat seakan ingin memukul, dan pikirannya sedang kalut akan banyak hal yang selalu menghalanginya.


Bersambung...