
"Lo pulang sama siapa"
"Astagaaa.."
Aini terkejut saat Rey sudah menunggunya di balik pintu sambil berkacak pinggang. Tangannya mengelus dada saking kaget mendapati sosok Rey saat pintu setengah terbuka.
"Lo ngapain di situ? Ngagetin tau gak?", gerutu Aini pada Rey.
"Abisnya gue jemput, kamunya udah naik mobil orang"
"Oh itu..", Aini menggangungkan kalimatnya dan bergegas melewati Rey untuk masuk ke rumah.
"Hey tunggu dulu. Bilang siapa yang nganterin barusan?", tanya Rey mulai kesal.
"Temen", jawab Aini singkat.
"Yakin? Temen yang mana?"
"Temen yang nyebelin. Kenapa? Marah? Cemburu? Kesel?", ujar Aini mulai sewot.
"Iya"
"Sama. Gue juga kesel berangkat sendirian. Gue pikir lu sibuk atau apa kek, eh ternyata masih ngebo", omel Aini saat tau dari bundanya kalau Rey ternyata tidur seharian.
"Hehehe maafin dong" , ucap Rey seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil cengengesan.
"BODO AMAT", ucap Aini penuh penekanan kemudian pergi meninggalkan Rey.
"Yahhh ngambek"
*****
'Ada apa sama Arya yah? Kenapa dia jadi perhatian gini?', pekik Aini dalam benaknya.
Aini bergulang guling merasa resah. Sepertinya mimpi indah tak akan menghampirinya malam ini. Rey yang sendari tadi diabaikan karena Aini masih marah memilih untuk pulang dan membiarkan Aini untuk tenang dengan sendirinya.
Aini beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah mengarah ke jendela kamarnya. Ia membuka jendela itu dengan kedua tangannya. Bibirnya menggurat senyuman manis saat matanya bertemu dengan langit.
Bintang terpapar indah malam ini. Bulan ikut hadir juga bersamanya. Jam sudah mengarah waktu tengah malam, dan ini adalah moment moment dimana alam begitu terasa tenang dan indah di pandang.
Aini teringat akan dirinya dulu. Disaat ia terpuruk karena keluarganya, dan Rey selalu ada untuk menghiburnya. Di saat Aini terluka oleh keadaan, dan Rey selalu ada untuk mengobatinya. Miris rasanya jika sekarang hal itu sirna karena kehadiran seorang tamu.
"Hahhhh.."
Aini menghembuskan nafasnya dalam dalam. Mengeluarkan beban pikiran yang menghantuinya selama ini. Perihal papanya yang tak kunjung mengabari, perihal mamanya yang masih tak berubah dan mungkin papa tirinya yang masih jahat.
"Seandainya aku bisa meminta sebelum terlahir kedunia ini, aku ingin menjadi angin yang menyejukan, atau menjadi bintang yang menghiasi malam, atau menjadi mentari yang memberi kehidupan, setidaknya kehadiranku akan bermakna bagi orang di sekitarku. Sehingga mereka akan menganggap aku ada", ucap Aini di keheningan malam.
*****
Di tempat lain Arya tengah membereskan tempat tidurnya. Masih di ruangan yang sama dengan dua ranjang yang berdampingan.
"Tapi.."
Arya menggantungkan ucapannya. Kakinya melangkah ke arah balkon. Ditatapnya langit malam yang bertaburan bintang.
"Indah", ucapnya lirih.
'Lo spesial Aini, sama seperti bintang yang tak sempurna jika malam tanpanya, seperti senja yang indah pada waktu yang singkat, dimana mentari bersembunyi dan siang berganti malam'
'Untuk pertama kalinya. Untuk yang pertama kalinya. Aku memikirkan orang lain dan itu adalah lo Aini'
Arya tersenyum tipis sambil memandang bintang yang berkelap kelip. Matanya tertuju pada langit malam namun pikirannya melayang pada sosok Aini.
'Apa Aini orang yang gue cari selama ini? Apa mungkin gue suka sama dia?', pikir Arya dalam benaknya.
Setelah beberapa saat ia terbayangkan kenangannya bersama Aini selama ini, ia memekik sambil menggelengkan kepalanya.
"Arghhh.. Tidak.. Gak mungkin. Mana bisa. Gak ada. Gak boleh", gerutu Arya pada dirinya sendiri saat terngiang wajah menyebalkan Aini.
"Ya selama ini gue melindunginya hanya untuk misi gue. Gak ada maksud lain dan gak mungkin gue suka sama dia", ucap Arya mencoba menyadarkan dirinya sendiri.
*****
"Hmm Aini masih marah apa ya sama gue?"
Rey merebahkan tubuhnya di kasur empuknya. Tangannya terus menggenggam ponsel berharap Aini segera menghubunginya.
Flashback
Tadi siang
Tok.. tok.. tok..
"Aini kau masih marah?"
Tanya Rey sambil terus mengetuk pintu kamar Aini. Ya sejak tadi Aini mengurung di kamarnya. Ia enggan untuk berbicara bahkan untuk bertemu sekalipun dengan Rey.
"Ya udah aku pulang dulu kalau kamu butuh waktu sendiri. Jangan lupa makan yah. Kabarin aku kalo kamu udah baikan", ucap Rey kemudian berlalu.
Flashback off
"Arghhh gak seharusnya gue ninggalin Aini tadi. Gimana kalo terjadi sesuatu sama dia"
Rey semakin khawatir karena Aini tak kunjung juga mengabarinya bahkan sampai larut malam ini. Ia beranjak dari tempat tidurnya, mengambil jaket kulit hitamnya dan hendak pergi ke rumah Aini.
Drttt.. drtt.. drttt..
Ponsel Rey bergetar. Sebuah pesan dari seseorang membuatnya melongo. Matanya membulat dan tangannya mengepal. Setelah itu Rey berlari keluar kamarnya dan berlalu entah kemana.
Bersambung...