
Langit tak lagi sama saat ini. Bintang tak datang menerangi gelap malam. Bulan juga tak berkunjung memancarkan sinarnya. Angin terasa berhembus dengan kasar menghempaskan dedaunan kering dari pohonnya.
Dua insan yang tengah memandangi alam hanya terdiam. Duduk memegang lutut masing masing. Menahan terpaan angin malam yang menusuk pada tubuhnya. Keduanya sedang larut dalam pikiran masing – masing.
“Rey, aku lelah”, ucap Aini lirih tanpa mengalihkan pandangannya.
Rey tak mengucapkan apapun, tangannya meraih kepala Aini dan menyandarkannya di pundaknya. Ia membiarkan Aini beristirahat sejenak dengan meminjamkan tubuhnya untuk bersandar.
“Rey, bagaimana denganku yang tak di inginkan oleh kedua orang tuaku?”
“Kamu punya aku Aini. Aku selalu membutuhkanmu. Dan akan selalu ada saat kamu butuh”
Hikss hikss hikss...
Aini sudah tak bisa membendung lagi air matanya. Namun Rey selalu sigap untuk mengusap buliran bening yang mengalir di pipi Aini.
“Menangislah Aini. Jika itu bisa membuatmu tenang”
“Rey aku ingin tenang hikss hikss”
Rey yang tak tahan lagi melihat kesedihan Aini dengan segera menarik tubuh Aini ke dalam dekapannya. Ia peluk dengan lembut tubuh gadis yang dia cintai. Hatinya ikut hancur menyaksikan air mata kekasihnya yang terus mengalir.
“Aini jangan takut. Aku akan membuatmu merasa cukup dengan semua kebahagiaan yang aku punya. Dan nanti aku pasti akan mengembalikan kasih sayang orang tuamu lagi. Bersabarlah sayang, aku bersamamu”, ucap Rey sambil memandangi mata Aini dengan lekat.
“Terima kasih Rey, i love you”, ucap Aini lirih.
Rey tak mengalihkan pandangannya sedetikpun dari Aini. Perlahan ia mendekatkan wajahnya. Menggetarkan jantung Aini dan membuat sensasi yang berbeda.
Rey mengecup bibir Aini dengan lembut. Membuat Aini reflek memejamkan matanya untuk lebih menikmati. Menahan isakan tangis dari bibir Aini. Membuatnya terhenti agar merasa lebih tenang.
Malam itu bintang tak hadir, namun bintang dalam hati keduanya tetap bersinar terang. Hati yang terluka ia simpan sejenak untuk menikmati keindahan malam itu.
“Selama ada aku, gak akan aku biarin kamu sendirian Aini”, ucap Rey seraya menyematkan helaian rambut yang menghalangi wajah Aini karena terpaan angin kebelakang telinga Aini.
“Rey, kamu adalah jawaban dari setiap do’aku, kamu adalah obat dari setiap risauku, kamu adalah bintang dari setiap kegelapanku, dan kamu adalah orang yang aku cari di setiap suka dan dukaku. Terima kasih kau memberiku harapan yang sudah lama aku lupakan. Terima kasih sudah mengembalikan impian yang sudah lama aku tinggalkan. Tetaplah di sini meskipun takdir tak memihak kita”
“Tak akan ku biarkan waktu memisahkan kita, tak akan aku biarkan keadaan melemahkan cinta kita, tak akan aku biarkan takdir mengambilmu dari genggamanku. Kamu hanya milikku dan selamanya akan seperti itu”
Keduanya saling memandang sambil bergandengan tangan. Senyuman manis terlukis di bibir keduanya. Seperti ucapan Reynaldi, bahkan alampun tak bisa melakukan apapun selain menjadi saksi kisah keduanya saat ini.
*****
Setelah kejadian hari itu, Aini tak lagi kembali ke rumahnya. Awalnya ia tinggal di rumah Rey untuk sementara waktu, setelah itu ia berpindah ikut bersama Dewi, dan kemudian Aini menetap di villa milik keluarga Rey yang tak jauh dari kediaman Rey.
Alasan Aini betah tinggal sendiri di villa milik keluarga Reynaldi, karena ibunya Rey selalu datang ke sana dan menemani Aini, ia sudah menganggap Aini seperti anak kandungnya sendiri. Selain itu panorama alam di sana begitu indah, sudah pasti Aini akan suka dengan hal itu. Dan juga ia bisa menyaksikan langit senja serta malam berbintang dari balkon kamar yang memang di setting untuk melihat itu.
‘Kenapa orang asing terasa seperti keluarga sendiri dan keluarga sendiri malah terlihat seperti orang asing’, pemikiran itulah yang sering terlintas dalam benak Aini. Mengingat betapa perdulinya orang – orang di sekitar Aini saat ini, di bandingkan mereka yang bersama Aini sejak kecil.
Flashback off
*****
“Kamu ngelamunin apa sih sayang? Sepanjang jalan kamu malah diem aja gak ngomong – ngomong. Kamu masih kepikiran apa yang aku bilang tadi”, tanya Rey membuyarkan lamunan Aini.
“Ahh engga ko Rey. Aku gak mau ngebayangin apapun yang menyakitkan”, ucap Aini sambil membuang muka ke arah jendela untuk menutupi raut wajahnya yang sedih dan air mata yang menetes.
“Good. Anak pintar jangan banyak pikiran yahh hehe”, goda Rey seraya mengacak ngacak rambut Aini yang tergerai.
“Argghhh Reynaldi nyetir yang bener jangan malah jail”, ujar Aini sambil mengerucutkan bibirnya karena merasa kesal atas tindakan Rey.
“Ehehehe jangan bete gitu dong, ntar cantiknya ilang. Senyum sini”, bujuk Rey yang kemudian memegang dagu Aini agar menoleh padanya dan menunjukan senyumannya.
“Kau ini ada ada saja hahaha”
Rey dan Aini selesai makan di restoran dekat supermarket, keduanya kini sedang menuju ke basecamp tempat biasa untuk berkumpul. Setengah perjalanan Aini habiskan untuk mengenang masa lalunya dan setengahnya lagi ia nikmati sambil bercanda bersama Rey.
*****
"Hari ini benar - benar menyebalkan. Arghhh...", gerutu seseorang yang berjalan keluar dari Supermarket.
"Mana besok gue harus masuk kuliah, terus sekarang mood gue hancur gara - gara tuh cewe aneh. Kadang gue heran sama profesi gue, bukannya mengamankan negara malah di suruh jadi mahasiswa", Arya masih terus menggerutu setelah keluar dari Supermarket tadi.
Ya, hari ini Arya dengan sangat terpaksa harus membeli beberapa barang dan makanan untuk masuk kuliah besok. Meskipun Arya di tugaskan khusus memasuki universitas, tetap saja dia harus bersikap normal layaknya mahasiswa baru dan mengikuti prosedur yang ada.
Di luar itu, tugas Arya adalah menyelidiki seorang mahasiswa yang di duga pelaku *******. Kabarnya sudah terdengar sejak dulu, namun sampai saat ini belum ada gerak gerik mencurigakan dari orang tersebut. Selain itu, atasannya sengaja memasukan Arya kuliah agar bisa beradaptasi dengan orang lain dan belajar menghormati orang lain agar dia bisa memimpin tim nya dengan baik nanti kala sudah menjadi kapten.
Namun sayang, sampai saat ini Arya belum berubah. Masih menyendiri, tak perduli lingkungan sekitar, dan tak suka orang asing. Satu - satunya orang yang menarik perhatian Arya hanyalah wanita yang ia temui dulu di atap rumah sakit.
'Kak, apa gue bisa menggantikan lo nanti? Apa gue mampu menyandang tanggung jawab yang lebih besar? Gue gak perduli dengan bahaya yang semakin ngeri nanti, tapi gue gak mau ngerasa menyesal atas kehilangan lagi', ucap Arya dalam benaknya.
Untuk beberapa saat ia masih melamun sambil menyetir, membayangkan sosok kakak yang ia banggakan. Sosok kakak yang kini telah tiada.
Bersambung...
"Tetaplah berdiri tegak dengan mata tajam. Sampai raga bersatu dengan bumi, jangan pernah meninggalkan kehormatan.."
~ Arya Gio Nugraha