When I With You

When I With You
When I With You 5



“Dew seperti biasa, lanjutkan pengintaian lu. Dan lu Reno, coba terus sadap markas mereka. Sisanya kita persiapkan siasat”


“Oke Rey”


*****


“Hmm.. ini? Ahh tidak! keliatan seperti emak – emak. Apa yang ini? Arghhhh.. warnanya tak cocok”, gerutu Aini yang sedang memilih baju dan kemudian ia lemparkan ke sembarang arah karena merasa tak ada yang cocok untuknya.


Drrrtttt... drrrrttttt... drrrtttt...


“Ya hallo”


“Aini kamu udah siap belum?”


“Ahh tunggu sebentar Rey, 20 menit lagi aku beres”


“Oke kalau gitu kabarin lagi kalau udah siap”


“Hmm iyah. Tunggu ya aku tutup dulu teleponnya”


Tuutt.. tuutt.. tuutt..


Dengan segera Aini menutup telepon dari Rey dan membanting hp nya ke kasur. Ia berlari kecil ke arah lemari dan mengambil dress selutut tanpa lengan berwarna cream. Baju yang pas di tubuhnya dengan riasan natural membuatnya terlihat elegan.


Setelah selesai bersiap – siap, Aini menelpon kembali Rey untuk menjemputnya. Ya, hari ini Aini dan Rey berencana untuk sekedar berjalan – jalan, makan, menonton di bioskop, dan hal lainnya.


“Mau pergi kemana lagi kamu?”, ucap seorang wanita yang berdiri di ujung anak tangga menunggu Aini yang sedang menuruni anak tangga.


“Keluar sebentar Mah”


“Hmm ya sudah sana”


“Mah. Boleh aku minta uang untuk keluar?”


“Aini. Yang harusnya memenuhi kebutuhan kamu itu ya papa kamu, bukan mama. Kamu minta sana sama papa kamu. Enak banget dia gak ngeluarin sepeserpun buat biaya hidup kamu. Buat biaya mama sehari – hari aja masih kurang, dan sekarang kamu mau nambah beban mama lagi?”


“Kalo mama gak mau ngasih tinggal bilang aja ENGGA. Gak perlu berbelat belit bawa bawa papa segala”, ucap Aini dan langsung pergi karena merasa kesal.


“Heyy, cemberut aja. Entar cantiknya ilang lohh”, goda Rey yang sudah siap di depan rumah Aini.


“Ehh Rey bisa aja kamu”


“Yuk buruan naik. Keburu siang entar gak bisa lama – lama mainnya”


Kedua insan itu pun melaju cepat dengan sepeda motor berwarna merah milik Rey. Dengan ragu Aini memegang pinggang Rey karena takut di bawa ngebut sama Rey.


“Udahh peluk aja”, ucap Rey sambil mengarahkan tangan Aini untuk memeluknya erat agar tak jatuh.


Tanpa sadar Aini tersipu dan senyuman manisnya terukir di sudut bibirnya. Rey yang menyadari hal itu dari pantulan kaca spion ikut tersenyum. Saat itu entah kenapa rasanya mereka ingin sekali memperlambat waktu dan memperpanjang perjalanannya. Keduanya tampak senang dan menikmati perjalanan.


*****


Sesampainya di tempat tujuan


Mata Aini membulat, bahkan tak berkedip saking takjubnya dengan apa yang ia lihat saat ini. Bahkan saat turun dari motorpun ia hampir saja tersandung, namun Rey selalu sigap melindungi Aini.


Taman yang indah, dengan hamparan bunga – bunga berwarna – warni, gunung yang menjulang tinggi serta danau berwarna biru jernih menyamai langit yang cerah, tampak persis di depan mata Aini.


Perlahan ia berjalan mendekati tepi danau. Di sana ada beberapa kursi dan meja yang sengaja di persiapkan. Dengan tatanan minuman segar dan bunga – bunga yang sengaja di rangkai begitu indah.


“Waahhh.. Rey, apakah ini nyata?”, ucap kagum Aini yang masih tak percaya ada pemandangan seindah ini.


“Kamu suka Aini?”, Tanya Rey yang bangga karena bisa membuat Aini senang.


“Ya. Suka. Suka sekali Rey”


“Yuk duduk di sana sambil menikmati pemandangan”, ajak Rey sambil menyodorkan tangannya untuk menggandeng tangan Aini.


“Kamu cantik Aini. Saat sedang tertawa lepas seperti ini kamu semakin cantik”, ujar Rey tiba – tiba sambil menatap lembut wajah Aini. Membuat sang empunya merasa malu dan tersenyum kecil.


“Hari ini adalah pertama kalinya aku melihat sisi berbeda kamu dari sebelumnya. Jika kamu bisa tersenyum manis seperti ini, kenapa kamu sembunyikan saat kemarin – kemarin bersamaku”


“Karena kamu yang merubahku Rey”, ucap Aini mantap sambil membalas pandangan mata Rey.


“Boleh aku menceritakan apapun padamu Rey?”


“Hmm, tentu saja Aini. Katakan, apapun yang ingin kamu katakana”


“Rey, menurutmu akankah dunia ini lebih indah tanpa orang sepertiku di dalamnya?”


“Tidak! Aku rasa dunia ini akan kehilangan keindahannya kalau kamu gak ada”


“Jangan menyanjungku seperti itu Rey. Kamu malah terlihat seperti sedang menggombal. Aku hanyalah beban bagi siapapun yang bersamaku. Mana mungkin hidup mereka akan indah jika aku ada di sana”, jelas Aini sambil menatap kea rah langit yang membiru.


“Semua orang memang memiliki beban. Tapi kamu tau? Mereka yang mengganggap seseorang adalah beban baginya adalah orang – orang yang tak mensyukuri ciptaan tuhan. Termasuk kamu Aini. Kamu adalah salah satu ciptaan tuhan yang dihadirkan dalam hidup mereka, yang seharusnya mereka syukuri”


“Kamu salah Rey. Keluargaku tak bisa berfikir sepertimu. Mereka selalu mengeluhkan tentangku. Apapun yang aku lakukan selalu salah, dan apapun yang aku ingin dapatkan dari mereka selalu mereka abaikan. Aku... “, ucap Aini menggantung karena tanpa ia sadari butiran bening dari matanya sudah berjatuhan dan membuat suaranya kian menghilang.


“Sutttt.. cukup Aini”, dengan sigap Rey menghentikan Aini berbicara, tangannya menggapai pipi Aini, menghapus air matanya lembut, dan hatinya terasa ikut merasakan luka yang Aini rasakan.


“Cukup Aini. Jangan lanjutkan kalau itu akan membuatmu terluka lagi. Aku bisa mengerti perasaanmu saat ini. Ceritakan padaku nanti saat kamu udah siap, okeh?”, ujar Rey sambil tersenyum agar Aini merasa lebih baik.


“Nah sekarang kita pergi dari sini dan makan dulu di restoran, setelah itu kita nonton, okeh? Jangan nangis lagi ya”, ujar Rey sambil mengelus pucuk kepala Aini.


*****


Hari sudah mulai menggelap. Cahaya mentari mulai sembunyi di ufuk barat. Aini dan Rey memutuskan untuk pulang sebelum malam tiba. Keduanya masih menikmati waktu dengan mengobrol seru sepanjang perjalanan mereka.


“Sana masuk, langsung mandi yah biar gak bau keringat hehehe”, canda Rey.


“Apaan sih, gak bau juga”, ujar Aini yang tak terima dengan candaan Rey membuat keduanya saling tertawa.


“Istirahatlah Aini. Aku pulang dulu”


“Iya. Makasih Rey, untuk hari ini”, ucap Aini tersenyum dan segera meninggalkan Rey untuk masuk ke rumahnya.


Rey menyalakan motornya setelah melihat Aini masuk ke dalam rumah dan melajukan sepeda motornya. Ia bergegas ke basecamp untuk bertemu teman – temannya.


Di sisi lain, Aini kembali keluar karena ia baru saja bertengkar dengan ibunya soal Aini yang tak memberi salam pada suami ibunya yang tengah duduk di ruang tamu. Ia berjalan menyusuri malam sendirian. Langkahnya kini menuju supermarket yang tak jauh dari rumahnya.


Aini memilih membeli banyak makanan ringan untuk pengganjal perut. Lalu tiba – tiba terdengar keributan di dalam supermarket. Terlihat banyak pria bertubuh kekar memblokir pintu masuk, dan menyandera para pembeli dan petugas supermarket.


Aini yang berada di balik rak makanan mencoba untuk bersembunyi. Tangannya gemetaran saking takutnya, sehingga menjatuhkan beberapa barang.


Suara berat langkah kaki mulai terdengar jelas. Membuat jantung Aini berdetak lebih cepat, tangannya semakin gemetar, mulutnya kelu tak bisa mengatakan apapun, dan hatinya terus berdoa agar tak terjadi apa – apa padanya.


“HEY.! JANGAN ADA YANG BERANI MACAM – MACAM”, teriak seseorang dari luar supermarket.


Aini yang masih meringkuk di tempatnya semakin takut, karena terdengar suara keras dari pintu yang sepertinya di dobrak.


“Ya Tuhan.. siapa lagi mereka?”, ucap Aini lirih dan semakin merasa takut.


Apa yang sedang terjadi?


Siapa mereka sebenarnya?


Terus ikuti kelanjutan “When I With You” untuk menemukan jawabannya.


Bersambung..


“Jangan menangis. Air matamu terlalu berharga untuk sekedar menangisi masalahmu”


~ Reynaldi Alvaro