When I With You

When I With You
When I With You 2



Rinai hujan masih membasahi kota. Seorang gadis beranjak dari tempat duduknya, berdiri, menatap naas wajah pria di hadapannya.


“Aku ikut”, ucap gadis itu lirih.


Dengan senyum manis, pria itu beranjak mengambil sepeda motornya. Mempersilahkan gadis itu untuk menaiki motor, lalu bergegas melajukan sepeda motornya. Menyusuri jalanan kota yang becek karena air hujan, melawan dinginnya malam yang terasa menusuk tubuh, hening dan tak ada sedikitpun suara yang keluar dari keduanya.


*****


Tibalah mereka di suatu rumah yang megah. Halaman luas dengan tatanan indah masih nampak dikala malam. Lampu taman remang – remang menghiasi sekeliling rumah itu. Nampak pula seorang wanita paruh baya keluar dari rumah dengan wajah yang tampak kesal.


“Rey,, sekalian aja gak usah pulang kamu”, ucap wanita yang tengah berdiri diambang pintu.


“Hehehe.. maaf bundadariku. Aku telat karena ada urusan sebentar”, pria itu cengengesan mendekati ibunya dan merayu supaya ibunya tidak marah.


“Hmm, mah aku membawa seseorang”


Mendengar ucapan anaknya, wanita itu menoleh dan mendapati seorang gadis manis yang tengah bersembunyi di belakang tubuh anaknya. Melihatnya seperti itu, ibu dari pria itu tersenyum ramah menghampiri gadis itu. Merangkul dan membawanya masuk ke dalam rumah.


“Nah duduk dulu di sini, biar saya bikinin kamu teh hangat dulu ya”, ucap wanita itu dengan senyuman. Kemudian ia beranjak dari tempatnya menuju dapur untuk membuatkan teh.


“Nih pake”, pria itu menyodorkan sehelai handuk.


Gadis itu menoleh dan mengambil handuk yang di berikan pria itu.


“Oh ya, kenalin aku Reynaldi. Kamu bisa panggil aku Rey. Nama kamu siapa?”, kini pria yang bernama Rey itu memberanikan diri untuk lebih dekat dengan gadis yang duduk di hadapannya, untuk menghancurkan dinding kecanggungan di antara mereka.


“Aini.”


“Kalau boleh tau kenapa kamu ada di luaran malam-malam begini?”


“Reyy.. biarkan dia istirahat dulu”, tegur ibunya yang datang dari arah dapur membawa secangkir teh hangat di tangannya.


“Habiskan tehnya ya. Setelah itu kamu bersih-bersih dan istirahatkan dulu”, ucap wanita itu sambil menyodorkan secangkir teh.


“Rey, jangan banyak tanya dulu. Nanti antarkan dia ke kamarnya, mamah akan siapkan pakaian untuknya nanti”


“Hmmm iya mah”


*****


Aini dan Rey berjalan beriringan menaiki anak tangga di rumah megah itu. Dengan wajah yang polos, Aini melihat sekeliling dinding yang penuh dengan hiasan unik. Merasa takjud dengan apa yang ia lihat, namun tidak ia ungkapkan.


“Nah, ini kamar kamu Aini. Mamahku sudah menyiapkan pakaian untukmu di dalam. Segera bersih –bersih lalu beristirahatlah”


“Terima kasih”, ucap Aini dengan suara lembutnya. Kemudian ia meraih gagang pintu hendak segera masuk ke kamarnya.


“Ehh tunggu Aini”, Rey meraih tangan gadis itu. Membuat gadis itu menoleh dengan penasaran.


“Hmm.. Kalau sudah santai, obati luka di wajahmu itu ya. Ada P3K di laci meja. Di dalam kamu juga bisa menikmati panorama kota dari balkon kamar. Kalau saja tidak sedang hujan, disana kamu akan melihat banyak bintang menghiasi kota ini”, terang Rey.


“Hmm benarkah?”, tiba – tiba saja Aini menjadi antusias. Bola matanya membesar, raut wajahnya menerangkan kalau ia penasaran dengan apa yang dikatakan Rey. Melihat ekspresi seperti itu, Rey merasa senang. Setidaknya ia bisa membantu gadis itu agar lebih baik.


“Iyah. Sepertinya kamu menyukai bintang?”, Tanya Rey dengan senyuman manis andalannya.


“Hmm.. aku suka bintang. Dan juga malam”


“Kalau begitu sana masuk, beristirahatlah, dan nikmati waktumu”, tangannya melayang, menggapai puncak kepala gadis itu. Tanpa ia sadar ia mengelus kepala gadis dihadapannya sambil mengucapkan selamat malam.


“Selamat malam, Aini”


*****


Gelap malam mencekam. Tak ada satupun bintang di atas sana yang menerangi gelapnya malam. Udara dingin terasa memeluk tubuh indah seorang gadis yang sedang menatap langit malam. Yang ia lihat adalah gelap. Yang ia rasa adalah sepi. Yang ia ingat adalah luka.


Tanpa sadar butiran bening mulai jatuh dari matanya. Ia menangis, tanpa suara. Tangannya mulai menggapai dada. Menekan, menahan, dan memukul kecil untuk menguatkan hatinya.


Hidupnya adalah bertahan. Bertahan tanpa memperjuangkan apapun yang ia inginkan. Namun dalam hati kecilnya, ia berharap seseorang mampu meraih tangannya, menggenggam, memeluk, dan menuntunnya untuk menemukan cahaya.


*****


Tok tok tok…


“Boleh aku masuk?”


Suara dari balik pintu membangunkan Aini. Segera ia bangun dari tempat tidur dan membuka pintu.


“Hai, pagi”, seru Rey dengan senyuman manisnya.


“Hmmm”, Aini hanya membalas dengan senyuman.


“Mamahku sudah membuatkan sarapan. Turun yu kita makan dulu”


“Eh iya aku cuci muka dulu”


“Baiklah. Aku tunggu di bawah”


“Rey??”, suara Aini menghentikan langkah Rey yang hendak pergi hingga membuatnya harus membalikan badan.


“Terima kasih”, ucap Aini begitu lembut diiringi dengan senyuman.


“Untuk?”


“Semuanya..”


Rey masih berada di tempatnya berdiri, memandang gadis manis di depannya. Sambil tersenyum ia kembali menghampiri Aini.


“Jangan berterima kasih Aini. Aku senang bisa membuatmu tersenyum”, ucap Rey seraya mengusap puncak kepala Aini. Mengelusnya dengan lembut dan lontaran senyuman manisnya yang terus tersungging di sudut bibirnya.


“Aku turun duluan ya. Kamu cuci muka dulu”


“Hmm baiklah”


Setelah Rey kembali ke bawah, bukannya bergegas untuk segera sarapan, namun Aini malah melamun di ambang pintu. Entah ia terpana dengan sikap manis Rey, atau justru ia merasa takut akan kembalinya masalah dalam kehidupannya.


“Apakah dia cahaya yang aku cari selama ini?”, Aini bergumam sendiri.


Tak menyangka akan ada orang asing yang peduli padanya. Namun hatinya masih dilema, apakah Rey orang yang ia cari untuk membantunya, atau mungkin Rey hanya orang biasa yang sekedar hadir membantu Aini semata.


“Bagaimana jika aku terbuai oleh perhatiannya? Bagaimana jika aku jatuh hati padanya? Bagaimana jika nanti ia meninggalkanku? Bagaimana jadinya diriku kalau seandainya tak ada Rey malam itu? Apakah semuanya akan baik-baik saja?”, banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya. Banyak hal yang ia khawatirkan, dan hatinya masih takut akan kekecewaan lagi.


Bersambung..


Bunga yang gugur tidak akan harum lagi


Tapi akan tetap indah dengan bantuan angin


Akan kembali subur dengan bantuan air


Akan kembali tumbuh dengan bantuan cahaya mentari


Akan kembali mekar dengan bantuan kumbang - kumbang


Akan lebih kuat dengan bantuan tanah


Hingga pada akhirnya nanti


Ia dapat kokoh menopang ketika badai menerjang


Menahan, menerima, dan mengikhlaskan ..