When I With You

When I With You
When I With You 14



Hujan sedang membasahi kota ini. Dinginnya malam berpadu dengan dinginnya hujan semakin menguat. Di lain tempat sekumpulan anak geng motor berkumpul di basecamp untuk menghangatkan diri dengan bercanda gurau. Sedangkan gadis itu, kini hanya membalut tubuhnya dengan selimut tebal. Mengurung diri di kamarnya seperti biasa.


“Sepertinya Rey sedang sibuk”, batin gadis itu.


“Arghhh kenapa dia selalu menghilang di saat seperti ini”, gerutu Aini sambil bangkit dari tidurnya.


Ia raih ponsel yang ia letakan di atas bantal di sampingnya. Ia tatap layar ponsel itu. ‘Rey ♥” itulah nama yang tertera di layar ponselnya.


‘Kamu kemana aja seharian ini Rey, aku rindu’, ucap Aini dalam hatinya sambil memandang pesan yang tak kunjung mendapat balasan.


Aini keluar dari kamarnya untuk mendapatkan beberapa makanan. Ia sudah bisa berjalan tanpa kruk sekarang dan mengarah ke dapur.


Namun saat ia melewati ruang tengah, betapa sialnya Aini karena harus berpapasan dengan pria jahat yang menyandang sebagai papa tirinya. Aini menoleh sekejap, lalu kemudian berpaling ke lain arah.


“Hey, kau berpura – pura tak melihatku ya?”, Tanya pria itu.


Aini tak menjawab dan melanjutkan langkahnya. Pada saat akan berbalik ke kamarnya, sontak Aini terkejut dengan sosok papa tirinya yang sudah menunggunya di dekat tangga.


“Mau apa sih lo ganggu gue terus?”


“Mamamu masih lama pulang, apa sebaiknya kita bersenang – senang dulu”, ucap pria itu dengan tatapan jahatnya.


Aini terkejut dengan apa yang dia katakan. Matanya membulat, tangannya bergetar, kakinya perlahan melangkah mundur. Namun sayang, langkahnya terhenti karena ada lemari di belakangnya.


Pria itu semakin mendekat. Tangannya mulai jail meraba tubuh Aini. Aini ingin berteriak namun mulutnya tiba – tiba saja kelu, tak bisa mengeluarkan sekatapun.


Keringat dingin mulai bercucuran, rasa takut dengan apa yang akan dilakukan pria di depannya tak bisa dipungkiri. Aini meraba apapun benda di sekitarnya.


“Ahhhh..”, teriak Aini sambil melayangkan sesuatu di tangannya.


Brakkkk...


Tanpa sadar Aini memukul papa tirinya dengan vas bunga yang ada di depan lemari untuk melindungi dirinya. Ia terjatuh ke lantai tepat saat ibunya baru saja pulang bekerja.


“AINI, KAU APAKAN PAPAMU?”, teriak mama Aini dari arah pintu masuk.


Aini ketakutan saat melihat papa tirinya sudah tergeletak di lantai dan meringis kesakitan. Darah keluar dari pelipis kepala papa tirinya yang terhantam vas bunga. Kakinya melemas saking terkejut dengan apa yang baru saja terjadi, tangannya mengepal menahan gemetaran, mamanya terus memaki sambil berusaha membantu suaminya berdiri dan pergi ke rumah sakit.


Aini terduduk di sudut lemari. Matanya mulai mengeluarkan butiran bening. Hatinya penuh ketakutan. Pikirannya melayang entah ke mana. Matanya memandang lurus dengan tatapan kosong.


‘Aku lelah Tuhan’, ucapnya dalam pikiran.


*****


Aini menghubungi Rey dan menceritakan semuanya. Rey yang merasa khawatir segera menyusul Aini ke rumahnya. Kini keduanya sedang di perjalanan untuk ke rumah sakit.


Aini berlari kecil menelusuri lorong rumah sakit, Rey terus berjalan cepat mengikuti langkah Aini.


“Ma bagaimana keadaannya?”, tanya Aini dengan nada cemas.


Plaakkk..


Tanpa menjawab pertanyaan dari putrinya, ia malah menampar Aini begitu keras. Tangannya mengepal menahan emosinya, dan wajahnya memerah penuh kebencian.


“Awwhhh...”


Aini melongo karena perlakuan mamanya, ini bukan pertama kali ibunya menampar Aini. Namun ia tak menyangka akan melakukan hal ini di depan Rey. Aini yang merasa perih, memegangi pipinya.


“Dasar anak kurang ajar, tak berguna. Apa sebenarnya masalahmu Aini, sampai kamu menjadi orang jahat seperti ini? Kau selalu saja menyusahkanku”, maki ibu Aini.


Aini terdiam, ia tak bisa berbicara untuk membela diri. Hatinya sakit, perasaannya hancur, air mata terus mengalir membasahi pipinya yang sudah memerah karena tamparan mamanya. Sekejap ia menoleh pada Rey, lalu kemudian berlari pergi meninggalkan Rey dan mamanya karena merasa malu.


“Aini kamu mau kemana?”, ujar Rey seraya berlari mencoba menyusul Aini.


*****


Satu – satunya tempat ternyaman dan teraman dari jangkauan orang lain. Baginya hanya di sini dia bisa menjadi diri sendiri dan tak perlu berpapasan dengan orang asing.


“Ahh.. tinggal beberapa bulan lagi Ar, lo bisa terbebas dari tempat ini”, ucap Arya pada dirinya sendiri.


“Tapi tunggu, setelah ini gue tetep harus masuk kuliah dan mengawasi seseorang”, ujarnya sembari terbangun dari tidurnya.


“Argghhh sialll”, gerutunya yang masih berbicara sendiri.


Hiksss hiksss hiksss..


Arya celingukan ke segala arah, mencari sumber suara orang menangis. Namun pandangannya terhenti tat kala melihat seorang gadis sedang menangis sesegukan di tepi atap.


Perlahan Arya bergerak dan menghampiri gadis itu. Ini adalah aksi pertama kalinya Arya perduli pada seseorang.


“Lo mau lompat dari sini?”, tanya Arya dengan dingin sambil berdiri di samping gadis itu, kedua tangannya ia masukan ke dalam saku celananya dan memandang lurus dengan gagah.


“Hikss.. hikss.. lo siapa?”, tanya Aini sambil menoleh karena mendapat pertanyaan aneh dari seseorang.


“Hmm, tunggu, lo orang yang waktu itu nyelamatin gue kan?”, tanya Aini setelah sadar kalau dia pernah bertemu pria itu.


“Ahh kita pernah bertemu sebelumnya?”


“Lo gak inget?”, Tanya Aini sambil bergerak untuk berdiri.


“Gue gak punya waktu buat memikirkan hal gak penting”


“Wahh, bukannya menyelamatkan nyawa seseorang itu penting”


“Gue udah tebiasa jadi gak ada yang istimewa”, ucapnya dengan nada arogan.


“Sombong sekali”, gerutu Aini dengan nada pelan.


“Kalo lo mau mati dengan cepat, lo bisa minta bantuan gue?”


Aini melongo mendengar tawaran dari pria di sampingnya ini. Ia tak menyangka pria ini malah memanasinya untuk bunuh diri, bukan mencoba merayu untuk tak melakukan hal bodoh.


“Apa lo psykopat?”


Aini menengakan wajahnya untuk memandang pria itu karena dia lebih tinggi dari Aini. Aryapun menoleh sambil membuka kaca matanya.


“Gue cuma mau ngasih tau lo, meskipun lo mati bunuh diri sekarang, dunia bakal tetap berjalan seperti biasanya. Gak akan ada yang perduli, gak akan ada yang mengenang, dan mereka yang menangisi lo saat ini akan melupakan lo nanti”


Aini hanyut dalam setiap kata yang di ucapkan pria di hadapannya. Ia merasa apa yang orang itu katakan ada benarnya juga. Namun, ia benar – benar sudah merasa lelah untuk menjalani kehidupan yang menyakitkan ini. Menurutnya, dengan kematian dia bisa tenang tanpa orang yang menyakitinya lagi.


“Apa menurut lo orang seperti itu tak layak untuk hidup?”


Sebelum Arya menjawab pertanyaan Aini, terdengar suara langkah kaki berlari menaiki tangga. Nama Aini terus saja menggema di ruangan itu. Terdengar dari suaranya orang itu tengah khawatir dan mencari sosok Aini.


Arya membulatkan matanya saat mendengar suara teriakan seseorang memanggil nama Aini. Ia malas berhadapan dengan orang lain lagi dan memilih untuk pergi.


“Haaahhhhhhh..”, Aini tiba – tiba saja berteriak keras membuat Rey yang tak jauh darinya mempercepat laju larinya.


“Aini hentikannnn..!!”


Bersambung...


Like komen fav dan vote yahh biar semangat 😊


Terima kasih pada yang sudah membaca 🤗