
Malam itu semesta yang di hiasi bintang – bintang menjadi saksi bisu Rey mencium pipi Aini dengan lembut. Angin yang berhembus seakan ikut andil di dalamnya, menggerakan kedua tubuh itu untuk saling memeluk.
“Aini jangan menangis lagi. Aku gak bisa melihat kamu seperti itu. Hatiku terasa ikut merasakan lukamu. Mulai sekarang bilang padaku apapun itu, jangan kamu pendam sendirian. Okeh?”, ucap Rey melepaskan pelukannya dan menyingkap helaian rambut Aini yang menghalangi wajahnya karena hembusan angin.
“Iya, Rey. Tolong bantu aku agar selalu tersenyum”
Rey menggangguk dan mengajak Aini untuk duduk di ujung bukit itu.
“Pakai ini Aini, anginnya lumayan kencang”, ucap Rey seraya meringkukkan jaketnya di pundak Aini.
Keduanya duduk di tepian bukit, mengarah pada pemandangan kota dari jauh. Untuk beberapa lama keduanya hanya diam seribu bahasa.
“Rey maukah kau mendengarkan ceritaku”, ucap Aini tiba – tiba membuat orang yang ia panggil menoleh padanya.
“Tentu saja Aini. Katakanlah!”
“Rey apa mamamu sangat perduli padamu? Lalu bagaimana dengan papamu? Waktu aku ke rumahmu ia tak ada di sana”, Tanya Aini sebelum memulai cerita hidupnya.
“Hmm.. mama sangat baik. Dia menjadi ibu sekaligus papa untukku. Dan papa, dia sudah meninggal semenjak aku kecil karena kecelekaan”
“Beruntung sekali kamu Rey memiliki seorang ibu yang benar – benar melakukan tugasnya untuk menjagamu”
Rey bingung dengan pendapat Aini, baginya hidup Aini lah yang beruntung karena kedua orang tuanya masih ada bersamanya.
“Kau ingat Rey saat kemarin aku di Rumah Sakit, mama bilang tak sempat menjengukku karena suaminya ulang tahun. Ia bilang sudah mempersiapkan semuanya dan tak mungkin mengecewakan suaminya. Tapi dia melakukan hal yang mengecewakanku”, ucap Aini.
Matanya menengak, memandang kilauan bintang, menahan air yang ingin menerobos terjatuh dari matanya. Rey masih memperhatikannya tanpa menyela perkataan Aini. Ia hanya menunggu Aini melanjutkan pembicaraannya.
“Haaahhhhh....”, Aini hanya menghembuskan nafasnya, mencari ketenangan dalam jiwanya, berharap ia bisa mengikhlaskan semua luka itu.
“Lalu bagaimana dengan papamu Aini?”, Rey memberanikan diri untuk bertanya.
“Papa pergi dari rumah dan aku gak tau dimana dia sekarang. Mama dan papaku sudah lama berpisah, namun keduanya masih saling bermusuhan. Papa yang tak rela mama menikah dengan pria lain, dan mama yang sudah tak mencintai papa, keduanya benar – benar membuatku menderita Rey. Sekarang mama hanya mementingkan pria itu, dan papa hilang untuk mencari cara membalas dendam pada mama. Aku sudah tak tahan lagi dengan sifat mereka. Aku merasa, hikss hikss hikss”, ucapan Aini menggantung karena isak tangisnya.
Melihat hal itu Rey merangkul bahu Aini dan menyenderkan kepala Aini di bahunya.
“Menangislah Aini, jika itu bisa membuatmu merasa lebih lega. Tapi menangislah di saat bersamaku, biarkan aku yang menghapus air matamu”
“Terima kasih Rey. Kamu selalu membuatku merasa nyaman. Kau tahu? Rasanya aku ingin mati saja jika harus seperti ini selamanya. Aku lelah dengan semuanya, tak ada yang berjalan sesuai keinginanku. Semua yang aku sayang kini entah kemana, mereka sudah berubah. Dan mereka yang bersamaku selalu orang – orang palsu yang berniat untuk memanfaatkanku”
“Jangan bodoh Aini. Kau harus bangkit, dan tunjukan pada mereka kalau kamu bisa meskipun tanpa mereka”
“Aku butuh mereka untuk berbagi di saat aku senang, sedih dan merasa khawatir. Aku benar – benar sendirian Rey, dan aku benci itu. Sakit, sangat sakit harus melewati kehidupan ini sendirian”, derai air mata sudah tak bisa ia tahan lagi, di biarkannya butiran bening itu berjatuhan membasahi pipinya.
“Kau ada aku sekarang Aini. Aku selalu bersamamu. Aku akan berada di belakangmu untuk mendorongmu lebih semangat, aku akan berada di sampingmu untuk menggenggam tanganmu, dan aku akan berada di depanmu untuk melindungimu”
Aini tersentuh dengan ucapan manis Rey. Ia mendongak menatap wajah Rey. Begitu menyejukan dan menenangkan hatinya. Tanpa sadar ia berhenti menangis dan malah tersenyum sambil memandang wajah Rey. Rey yang menyadari hal itu membalas pandangan Aini.
“Nah, seperti ini. Tersenyumlah Aini, kita lewati semua masalah dengan senyuman maka semuanya akan baik – baik saja”, ucap Rey seraya menepuk – nepuk pundak Aini.
“Untuk pertama kalinya aku memiliki seseorang yang bisa di ajak untuk berbagi. Untuk pertama kalinya aku bisa percaya dan bergantung pada seseorang. Untuk pertama kalinya ada seseorang yang dengan suka rela memberikan bahunya untukku bersandar. Terima kasih Reynaldi”, ucap Aini dalam benaknya.
Aini kemudian bangkit dari sandarannya. Menoleh pada Rey dengan tatapan penasaran.
“Ada apa?”, Tanya Rey karena Aini menatapnya dengan aneh.
“Rey kau ingat kejadian di Supermarket kemarin? Rasanya aku melihatmu di sana. Apa aku hanya berhalusinasi saja. Dan juga bagaimana bisa Dewi dan Rani tiba – tiba ada bersamaku”, ujar Aini sambil mengerutkan dahinya.
“Apa kamu pernah mendengar tentang Black Tim?”, Tanya Rey dengan nada serius dan Aini hanya menggelengkan kepalanya.
“Akan aku beritahu padamu rahasiaku Aini, tapi berjanjilah kau tidak akan menceritakannya pada siapapun”
“Orang – orang di sekitarku hanyalah orang – orangmu Rey, bagaimana mungkin aku menceritakannya pada orang lain”
“Hahaha.. Apa kau sedang bercanda Rey? Apa kau tentara? Atau kau sedang bermain sinetron? Kau mengarang cerita ya?”, Tanya Aini sambil terus tertawa karena tak percaya akan ucapan Rey.
Rey menghela nafas, ia paham betul kenapa Aini tak mempercayainya.
“Aini, aku tau kamu pasti tak akan percaya, tapi itulah yang sebenarnya”, kali ini Rey menatap mata Aini dengan serius sehingga Aini berhenti tertawa.
“Kalau begitu apa tugas Black Tim? Apa itu illegal?”
“Dulu tugas kita hanya membantu orang – orang yang kita kenal, tapi kini kita kerap mendapat tawaran dari orang – orang tertentu untuk menyelesaikan masalahnya. Termasuk peristiwa di Supermarket kemarin, kita sudah di bayar untuk menghentikan kejahatan mereka”
“Wahhhh..”, mulut Aini melongo, matanya membulat, baginya rahasia Rey masih tak bisa di percaya.
“Kau masih tak percaya?”
“Hmmm.. Jadi yang kemarin orang – orang berseragam hitam itu adalah kamu dan teman – teman yang lain?”
Rey mengangguk membenarkan pertanyaan Aini.
“Wahhh kau benar – benar keren Rey”, sanjung Aini sambil bertepuk tangan.
“Yaa, tapi terkadang ada hal yang harus kita ikhlaskan, yaitu antara melihat teman kita terluka atau kita sendirilah yang terluka”
Aini tiba – tiba saja terdiam. Matanya menatap dengan sedih. Rey benar, ia mungkin terlihat keren namun pekerjaannya sangat berbahaya.
“Jangan khawatir Aini, tak akan terjadi sesuatu padaku ataupun yang lainnya. Aku janji”, Rey mencoba menenangkan Aini dan mengusap pucuk kepalanya.
Aini tersenyum, kemudian memeluk Rey dengan erat seolah ia tak ingin melepaskannya, membuat Rey terkejut dengan tingkah Aini.
“Jangan terluka Rey, jangan pergi, tetaplah seperti ini, bersamaku. Aku membutuhkanmu”
*****
Tanpa mereka sadar hari sudah semakin malam. Keduanya terlalu asik berbincang dan menikmati pemandangan malam. Hal penting yang mereka sadari bagi keduanya hari ini adalah ‘Kita tak sendiri. Terkadang tanpa kita sadar seseorang yang perduli pada kita ada di samping kita’.
Bersambung..
Bau alam
Dengan udara yg segar
Dengan irama tiupan angin
Serta merdunya kicauan burung
Menikmati keindahan alami dari dunia ini
Yang tercipta karena anugrah-Nya
Sungguh,
Aku bersyukur Tuhan
Masih bernafas di tempat ini
Hingga nanti,
Aku akan berpulang di tempat ini jua