Walky Love

Walky Love
Part 35~ Ryan?



Vero pun berhenti menangis walau sesegukan nya belum hilang.


Sesampainya di dalam rumah


Mereka pun naik ke lantai atas, saat sampai Marven pun meletakkan Vero di atas kasur, "Tidur." singkat Marven.


Saat marven ingin pergi Vero menarik lengan baju marven, "ya Tuhan! kenapa lagi." ucap Marven dengan nada tinggi, "aku ingin tidur bersama mu." ucap Vero dengan senyuman nya, "maaf nona, kita kan belum resmi menjadi suami istri." Ledek Marven, "aaa Marven tadi pagi aku hanya bercanda kok, aku minta maaf kalau perkataan itu membuat mu marah." "Tcih diam, bilang saja kalau kamu ini jijik kan ngeliat aku, haha udah deh kalau kamu memang tidak mau menikah dengan ku, sebelum terlambat kamu bisa bilang ke mereka sekarang untuk dibatalkan acara pernikahan nya, dengan begitu,kamu bisa berduaan dengan Ryan." ucap Marven dengan nada dingin,


"Ma-marven bukan begitu, aku ingin menikah dengan mu, aku tidak ingin membatalkan nya. lalu apa hubungannya dengan Ryan." ucap Vero dengan nada kesal, "Berisik,lebih baik kamu tidur sana." ucap Marven seraya berjalan menuju keluar kamar 'Brak'


Batin Vero: kenapa dia jadi begini,kurasa perkataan ku terlalu melukai nya. juga kenapa dia menyebut nama Ryan, ada yang tidak beres, aku harus menemui Ryan.


Ia pun bergegas mencari Ryan, tak lama kemudian ia melihat Ryan yang sedang berduduk santai di halaman rumah bersama Gabriel Dion dan Ellis


"Ryan!" teriak Vero, "eh ada apa tumben sekali mencari keberadaan aku." tanya Ryan dengan senyuman nya, "kamu ngomong apa ke marven. " ucap vero dengan kesal, "Aku? heh aku ngomong apa memang nya." ucap Ryan dengan senyum menyeringai nya , Dion Gabriel dan Ellis hanya bisa mendengarkan percakapan mereka. "Ck, jangan berbohong, tadi marven marah kepadaku dan bilang ingin membatalkan pernikahan nya, dan dia juga juga bilang agar kita berdua bisa bersama, maksud nya apa, pasti kamu bilang aneh aneh kan ke dia." ucap Vero, "wah dia beneran mau batalin? syukur deh, aku jadi ada peluang buat dekat sama kamu." ucap Ryan. "Bro kok lu begitu sih." timpal Dion, Seketika Vero pun menampar pipi Ryan , "Egois banget sih lu, walaupun dengan cara begitu,gw ga bakal mau Deket sama lu, karena Marven adalah cinta pertama gw." ucap vero dengan nada kesal nya, "Kenapa? kesal?, percuma deh,mending Lo sama gw aja, bentar lagi paling dibatalin acara nya sama marven." ucap Ryan dengan senyum menyeringai nya, Karena vero tidak tahan dengan air mata nya, ia pun pergi meninggalkan tempat itu. "ck ck ck gw ga nyangka sama lu yan, lu udah ngebuat kebahagiaan Kaka gw hancur." ucap Ellis dengan nada dingin, Gabriel pun mengelus punggung Ryan, "Lu kalo suka sama dia kejar sampe dapet, tapi kalo dia udah milik orang lain jangan dikejar lagi,dan jangan ngerusak hubungan orang tersebut, lu terlalu egois yan,gw kecewa sama lu." ucap Gabriel kesal, "terus gw harus gimana, gw udah terlalu cinta sama dia El." ucap Ryan dengan nada bergetar, Dion pun memukul kepala Ryan, "tolol, ga gitu juga caranya, lu kan bisa cari perempuan lain yan, kan ga harus dia,liat aja sekarang dia udah kecewa sama lu, cara lu buat ngedapatin perempuan salah Yan." ucap Dion yang kemudian pergi meninggalkan tempat itu, Kepergian Dion disusul oleh Ellis dan Gabriel, sekarang Ryan hanya meratapi nasibnya sendiri.


Di kamar


Vero menangis dikamar nya, ia takut jika pernikahan nya dibatalkan, "hiks jahat." ucap Vero sesegukan


"Aku harus apa." ucap Vero, dan di pikiran nya, ia berencana untuk bertemu dengan marven lalu menjelaskan nya, tanpa berpikir panjang, ia langsung mencari marven diseluruh ruangan, saat di lantai bawah ia bertemu dengan bi Anni dan bi Dyana. "Loh nona kamu kenapa, kemari duduk." ucap bi Dyana, "aku mencari Marven." ucap vero, "Mencari tuan?, kok kamu sampai nangis begini,ada masalah ya? cerita sama bibi sini." ucap bi Anni yang sedang berusaha menenangkan Vero., "Marven mau membatalkan pernikahan bi, jadi hiks sekarang aku mau menemui dia untuk meminta maaf." ucap vero


"Ya ampun yang benar saja?!" ucap Dyana, "bibi tau ruangan marven dimana?" tanya Vero, "oh dia ada di ruang kerja nya, yang paling ujung dan gelap itu non, ini ambil kunci ini buat masuk kedalam ruang itu." ucap bi Anni, Vero pun mengambil kunci tersebut, "terimakasih bi." ucap nya seraya berlari, "iya,semangat nona!" teriak kedua orang tersebut.


Sesampainya di ruang kerja Marven


Vero pun buru buru membuka pintu tersebut dan kembali mengunci nya,ia pun langsung menaik kasur yang ditiduri oleh marven, dan memeluk marven, "Marven!" ucap Vero seraya menangis, Marven yang mendengar suara menangis pun terbangun.


"Hey kenapa, kenapa kamu bisa ada diruangan aku." ucap Marven yang masih mengantuk, "aku minta maaf! aku tidak pernah berhubungan dengan Ryan." ucap vero dengan nada sesegukan, "Ck bahas hal itu lagi, sudah lah keluar sana." ucap Marven, "Tidak mau, tolong jangan batalkan pernikahan nya." bujuk Vero


"Terlambat, aku sudah membatalkan nya, jadi besok tidak perlu bangun pagi." ucap Marven seraya mengusap leher nya dengan pelan, Mendengar hal itu Vero pun semakin menangis dengan keras, "Hey sudah sudah diam, berisik tau, mengganggu orang tidur saja." ucap Marven seraya menggaruk garuk kemenangis.


Namun Vero tidak mendengarkan perkataan marven dan malah terus menangis. Beberapa menit kemudian marven mencoba untuk menenangkan Vero tetapi tidak berhasil dan marven pun memutuskan untuk memeluk Vero.


"diam, sudah Jangan berisik, nanti mereka semua terbangun." ucap Marven seraya mengelus elus rambut Vero, "aku tidak mau dibatalkan." teriak Vero, "ck kamu sudah terlambat, bukankah kita sudah tidak ditakdirkan bersama lagi?" ucap marven. "Tidak tidak tidak mau." rengek Vero, "diam dong, atau aku cium sampai nafas kamu berhenti nih." ancam Marven, Vero pun perlahan lahan berhenti menangis.


"Nakal ya, kalau tidak mengerti berciuman jangan asal mencium


" ucap marven dengan senyum menyeringai nya, Tanpa lama marven pun mencium balik, Perlahan lahan marven membuat Vero terbaring di kasur,vMereka berkiss cukup lama,dan pada akhirnya Vero ingin kehabisan nafas, dan tautan pun terlepas, "kamu sungguh ingin membuat ku meninggal ya?"vucap vero seraya menutup bibir nya


"Tidak." singkat marven. Marven kali ini berbeda, dia menggigit kuping Vero, "Ugh marven."


"Kenapa?" ucap marven dengan nada menggoda, "aku, aku tidak punya hubungan apa pun dengan Ryan." ucap Vero dengan nada pelan,


"kamu sepertinya sangat ingin menikah dengan ku ya?" tanya Marven. Vero pun mengangguk pelan, "tenang saja aku tidak membatalkan nya kok." sambung Marven, "hah serius? tadi bukannya kamu bilang ..." "Aku hanya bercanda haha,aku hanya ingin melihat reaksi mu, dan ternyata reaksi mu benar benar berlebihan." ucap marven seraya tersenyum, Vero yang merasa malu pun memutar badannya kesamping, "Ngambek ya?, maaf ya,tapi soal Ryan itu beneran kok, dia yang menyatakan nya kepada ku, saat pagi tadi." ucap Marven


"Hah dia menyatakan apa." tanya Vero penasaran, "kok kamu penasaran sih, jangan bilang aja kamu suka sama dia."


Sekarang Marven yang membelakangi Vero, Vero yang melihat hal itu seketika memeluk Marven dari belakang


"Gemes banget sih."


"Aku tadi hanya ingin tau sebenarnya dia menyukai aku atau tidak." sambung Vero, namun marven hanya mendecih, Vero sekarang merasa bersalah lagi, ia pun menggerakkan badannya untuk berbisik kepada marven, karena marven lumayan tinggi jadi Vero hanya bisa sampai di dada nya , "aku minta maaf." ucap Vero, "tidak semudah itu nona, sudah sekarang ayo kita tidur, besok malam aku akan menghukum mu." ucap Marven seraya memeluk Vero dengan erat.


BERSAMBUNG 🌺




...3/4 eps lagi mau tamat ,agak sad sih,tapi gimana lagi alurnya cuma sampai sini, aku males bikin adegan dewasa nya :D (tidak baik)...



Soo ya hope you enjoy and don't forget to vote 💕


Sampai jumpaaa 👋