
2 Bulan pun berlalu
Vero menghadapi hari hari dengan selalu sabar menghadapi ibu tirinya dan Kaka nya yang selalu menganiaya Vero, dan tentu saja itu menyebabkan luka memar yang berada di bagian seluruh tubuh Vero seperti tangan, paha, leher, bagian tubuh belakang, di perut dll. Tapi disisi lain ia bahagia karena ia mulai dekat dengan keluarga marven dan setiap pagi nya ia selalu bersama marven.
Pagi hari pun tiba.
Vero saat itu sudah bersiap siap dan memakai pakaian seperti biasanya,
ia pun memutuskan untuk pergi ke kantor, saat vero sedang memakai sepatu nya ibu tirinya datang menghampiri nya, "Vero hari ini jangan pulang terlambat." ucap si ibu tiri, "ada apa memangnya Bu." tanya Vero, "tunangan Kaka mu akan menginap disini, jadi kamu pergi memasak untuknya." ucap si ibu tiri,
"oh baiklah akan ku usahakan." ucap Vero dengan tersenyum, "ngomong ngomong ibu sering melihat kamu pergi pagi pagi, kamu sebenarnya kemana." tanya si ibu tiri dengan selidik, "aku pergi bekerja kecil kecilan Bu disebuah toko kue" ucap Vero berbohong, "oh yasudah kalau begitu sana berangkat." ucap si ibu tiri, Vero pun hanya menjawab dengan mengangguk kan kepala nya dan melambaikan tangan kepada ibu nya.
Sesampainya di kantor
Seperti biasa Vero selalu menyapa semua orang, ia juga tidak lupa untuk menyapa Luna Yora, dan saat ia ingin menaiki lift, Vero melihat Gabriel dan Ryan, ia pun menyapa nya, "selamat pagi pak Gabriel dan pak Ryan." ucap Vero dengan tersenyum, "oh selamat pagi juga." ucap kedua orang itu
Mereka pun menaiki lift bersama,
"nona kamu ingin pergi ke lantai berapa." ucap Ryan, "ah tidak kalian saja dulu, aku sedang tidak terburu buru kok." ucap Vero, "kami juga tidak sedang terburu buru, nona apa kamu tau pribahasa ladies first." ucap Gabriel dengan senyuman smirk nya,
"haha iya, baiklah aku tekan tombol nya ya." ucap Vero, ia menekan tombol lantai 4. "Nona bolehkah saya bertanya?" tanya Ryan, "ya tentu saja." jawab Vero, "apakah kamu tahan menjadi asisten pak marven." ucap Ryan secara tiba tiba. Saat vero ingin membalas perkataan Ryan, Gabriel memotong pembicaraan nya, "ah sudahlah Ryan, pasti marven menjaga asisten nya dengan baik,kenapa kamu menanyakan nya." ucap Gabriel dengan nada santai, "tapi kamu tau sendiri kan sifat nya, dia itu cuek dan kejam terhadap orang dan-" ucap Ryan namun sebelum ucapan nya selesai, Vero pun membentak Ryan, "cukup! pak marven bukan orang yang seperti kamu bilang, jika kamu menjadi orang terdekat nya,kamu akan tahu sifat dia." bentak Vero, "aku dekat dengan dia, dia itu cuek kejam dan selalu menganiaya orang." ucap Ryan dengan santai,
"bro sudahlah, ucapan Vero ada benar nya juga, kita hanya sebatas teman nya." ucap Gabriel menenangkan kedua orang itu.
Lift pun sampai di lantai 4,
Vero pun segera pergi meninggalkan mereka berdua, "Sudahlah ayo kita pergi." ucap Gabriel yang sedang menekan tombol lantai 2. "yan cara mu mengambil hati perempuan tidak boleh seperti itu." ucap Gabriel dengan nada dingin, "lalu aku harus bagaimana, sifat marven bukannya seperti itu, kamu tau sendiri kan riel." ucap Ryan dengan nada kesal, "yah, tetapi Vero selalu bersamanya mungkin dia lebih mengetahui nya." ucap Gabriel. Dan ia pun berjalan keluar lift, Ryan hanya bisa menutup mulut dan mengikuti Gabriel.
Di ruangan marven
Vero pun masuk kedalam ruangan marven seraya menghentakkan kakinya dengan keras, dan menaruh tas nya, ia pun melipatkan tangan nya di dada nya. Marven yang melihat hal itu sedikit terkejut, dan ia menanyakan nya, "ada apa nona,seperti nya mood kamu terlihat buruk." tanya marven, Vero hanya mengabaikan perkataan marven, saat itu posisi Vero menutup mata nya.
Marven pun menghampiri nya,dan duduk disebelah Vero, "hey kamu kenapa, ada masalah?"tanya marven,
"tidak." jawab vero dengan singkat,
"lalu kenapa kamu terlihat kesal?" tanya marven. "Aku hanya tidak senang ada seseorang yang menjelekkan mu" ucap vero, saat itu ia langsung menatap mata marven.lalu Marven mendekat ke arah Vero,dan bibir nya tepat berada di kuping nya, "siapa yang menjelekkan ku katakan." ucap marven dengan nada dingin. Saat itu Vero bisa merasakan nafas marven yang begitu hangat, tapi ia segera menghindar, namun ditahan oleh marven, hanya kepala Vero yang bisa memutar dan menatap marven, dan itu kedua kali nya mereka bertatapan dengan jarak dekat, "jika aku memberi tahu mu,kamu akan melakukan apa." ucap Vero tersenyum, "memecat nya? membunuh nya?" Ucap marven dengan senyum smirk, "Cepat beritahu siapa orang yang
menjelekkan bos mu." sambung nya,
ia sudah tahu pasti Vero tidak akan memberitahu nya, "aku." ucap vero mengalihkan mata nya, Marven pun semakin mendekat kan wajah nya dan Vero pun mundur, tiba tiba marven menekan tangan Vero itu membuah vero merintih karena ditangan nya terdapat luka memar,marven pun segera kembali ke posisi semula. "Kenapa?" ucap marven khawatir, "tidak apa apa kok." ucap Vero kesakitan, "biar aku cek tangan mu." ucap marven, Vero mencoba menarik tangan nya namun ditahan, dan setelah marven membuka lengan baju Vero ia terkejut karena banyak luka memar ditangan nya, Marven pun terdiam dan beranjak dari duduk nya dan keluar dari ruangan, Vero lagi lagi merasa bersalah karena telah membohongi marven, setelah beberapa menit marven pun kembali ia membawa seorang suster perempuan. "tolong periksa seluruh tubuh asisten saya." ucap marven dengan nada dingin, "baiklah, sebelum itu, pak marven silakan menunggu diluar." ucap suster, "harus ya ck." ucap marven berpikir, "iya karena saya harus memeriksa seluruh badan nya." ucap si suster gugup, "cih baiklah." ucap marven yang kemudian ia pun keluar dari ruangan, suster pun menatap vero dan berjongkok "ayo kita periksa." ucap si suster dengan lembut
"baiklah." ucap Vero, Setelah selesai di periksa, si suster pun keluar dari ruangan itu, ia juga tidak lupa untuk mengoleskan krim (obat), di badan Vero. "Pak ini gejala yang di derita nona Vero." ucap si suster ia pun memberikan selembar kertas, Marven pun membaca kertas selembaran itu, ia pun terkejut
"tiga puluh luka?, yang benar saja kau pasti berbohong." ucap marven dengan marah ia pun mencekik leher suster itu, "pak saya bisa jelaskan tolong turunkan saya dulu." ucap si suster ketakutan, "baiklah cepat jelaskan." Marven pun melepaskan cekikan nya. setelah mendengar penjelasan marven pun paham.
"Baiklah kau boleh pergi, aku akan memanggil mu setiap 1 hari sekali." ucap marven, suster pun membungkukkan badan nya dan pergi.
Marven pun balik ke dalam ruangan
Marven pun menghampiri Vero, "aku tidak suka dengan orang pembohong." ucap Marven dengan nada kesal,
"maaf" ucap vero gugup, ia pun meneteskan air mata nya, Marven pun segera duduk di sebelah Vero dan mengelus rambut vero dengan lembut, "jangan mengulangi nya lagi." ucap Marven, "Hiks hiks baiklah." ucap Vero sesegukan, Marven pun memeluk Vero untuk pertama kalinya. Sebenernya marven mengetahui identitas keluarga Vero,namun dia memilih untuk diam,dia merasa belum saat nya untuk bertindak.
BERSAMBUNG 🌺
maaf kalo cerita nya kepanjangan 🙏,karena kalo kedikitan, bersambung nya jadi sedikit tidak nyambung
Author berharap kalian enjoy sama cerita yang aku buat
Dan jangan lupa untuk vote \>\_•
'saya dan kamu?'
'aku dan kamu?'
'kau dan kamu?'
Bingung harus pake yang mana, dan yang sering aku pake sih saya kamu hwhwhwh