
Vero yang sedang makan pun tersedak melihat seorang perempuan yang wajah nya sangat
ganteng + cantik. Dan Dyana yang mengetahui kalau itu marven pun tertawa dengan pelan, marven pun berjalan menghampiri mereka berdua. dan mata Vero seakan
terpaku oleh marven, "k-kamu siapa?" tanya vero. "Aku onnet." kata marven, "wahh kak onnet wajah mu cantik sekali." kata vero dengan mata berbinar binar. "Benarkah terimakasih nona, oh ya ngomong ngomong kamu sudah selesai makan belum, aku ingin mengajak mu main di taman rumah." ucap marven dengan nada cewe [suara paksaan๐ญ], "aku sudah selesai kok." ucap vero dengan senyuman nya, "oh ya onnet mengapa suara mu seperti laki laki?" sambung vero dengan wajah bingung nya, "oh ini karena aku sering berteriak di gym jadi ya suara ku berubah." jawab marven, Vero hanya mengangguk pelan, Dyana yang menyaksikan pun hanya bisa tertawa cekikikan. "yasudah ayo kita main di taman." ucap marven [onnet], "heem ayo." Vero pun menggandeng tangan marven seraya diayunkan.
Sesampainya di taman
"Wahh bagus sekali ya pancuran air ini" kagum Vero, "Ya begitulah ..."ucap marven seraya menghela nafas nya,
"oh ya, Vero kita berfoto yuk." ajak marven, "Kamu memanggil ku?" Tanya vero. "Iya nama mu kan Vero." Sebelum Vero menjawab perkataan marven, ia sudah mengajak nya. "Cepat ayo." Mereka pun banyak mengambil foto. "haha kak onnet lucu sekali." ucap vero seraya tertawa. "Hehe iya." marven hanya bisa menyengir, "Kak, kok Kaka wajah nya bisa cantik sih, Kaka nga takut didekati pria?" tanya vero seraya memeluk lengan Marven, "Buat apa aku takut hehe, kan tidak semua lelaki jahat." ucap marven. "Iya sih,tapi kaka harus waspada juga." ucap Vero. "Iya aku juga selalu waspada kok, juga aku selalu dijaga oleh seorang laki laki, jadi aku tidak perlu takut." ucap marven dengan lembut.
"Wah Kaka punya pacar ya?" Tanya vero. "Ya begitulah hehe".
Mereka pun mengelilingi halaman rumah
"Vero, kamu mengingat marven tidak." ujar Marven secara tiba tiba.
"Aku tidak mengenal nya, tapi saat aku terbangun dia memelukku, jujur saja aku tidak nyaman." ucap vero,
"oh begitu, kamu menyukai nya tidak?" tanya marven, "menyukai ya, seperti nya tidak, aku kan tidak mengenal nya." Jawab vero dengan polos. "Oh begitu, setau ku Kaka ku baik kok." Kata onnet, "apa? dia Kaka mu?" tanya vero, "iya, jujur aku kaget saat mendengar dia memeluk mu,kurasa dia menyukai mu," ucap marven. "Ah tidak, tidak ada satupun pria yang menyukai ku, aku juga terlalu takut kepada pria jadi kurasa tidak ada yang akan mendekati ku." ucap Vero, saat marven ingin menjawab perkataan Vero, hp nya berbunyi, "ah sebentar ya." ucap marven, saat ia melihat hp nya, ternyata itu telepon dari Ellis, ia pun mematikan panggilannya dan hanya mengirim pesan kepada Ellis agar menunggunya beberapa menit, "vero maaf nih aku harus pergi gym bersama teman teman ku." ucap marven, "yah...,apa kita bisa bertemu lagi?" tanya vero, "tentu saja!, oh ya kudengar dari Kaka ku bahwa kamu harus periksa kondisi ya?, kuharap kamu bisa pergi berduaan
dengan nya." ucap marven terburu buru, "tapi aku takut." ucap vero seraya menundukkan kepalanya,
"jangan takut jika dia berbuat sesuatu yang membuat mu tidak nyaman, beritahu aku dan aku akan segera memukul nya, sudah ya dah." ucap marven, "baiklah sampai jumpaaa nanti ya." teriak Vero. Marven hanya mengacungkan jari jempol nya, dan berlari menuju ruang rias.
Sesampainya di ruang rias
Marven pun segera melepaskan wig nya dan membersihkan make up nya, "aku harus tampil tampan di depannya." ucap marven, dyana yang mendengar nya pun tertawa pelan, saat itu kebetulan Dyana sedang melewati ruang rias jadi dia mendengar nya.
Di taman
"Bagaimana ini .... ,aku takut kepada laki laki." gumam Vero, tak lama marven pun datang seraya berlari.
"sudah siap?" tanya marven dengan nafas tersengal, "jangan mendekat." ucap vero dengan nada gemetar.,Marven pun menatap vero, lalu membuka hp nya, Vero Hanya menatap marven tetapi ia juga waspada kepadanya, "Ini liat, adik ku mengajak mu berenang sehabis dia pulang dari gym." ucap marven dengan nada dingin, Vero pun mengambil hp marven untuk memastikan nya, dan muncul lah senyuman dari wajah Vero, "hehe ayo cepat kita berangkat." ucap vero dengan senyuman nya, Walaupun dihati nya masih takut dengan pria,tapi dia mempercayai kata kata onnet.
Sesampainya mereka di parkiran
Vero pun berjalan mengikuti marven dari belakang, mereka pun sampai di mobil yang ingin di naik in oleh marven, namun Vero menghentikan langkahnya dan dan malah tidak ingin menaiki nya, "kenapa?" tanya marven. "aku takut." jawab vero seraya mengepalkan tangannya, "tidak apa, aku akan berjaga jarak dengan mu kok." ucap marven, namun Vero pun terdiam dan malah memalingkan wajahnya, "ck jika tidak percaya ambil ini." kata marven seraya melempar cutter ke arah Vero, "jika aku berbuat macam macam, tusuk aku pakai itu." sambung nya, Vero pun berusaha memberanikan dirinya dan akhirnya ia pun naik.
Di perjalanan
"Sepertinya tidak asing." gumam vero, "Kenapa." tanya marven, "oh ini, aku merasa pernah menaiki nya." ucap vero dengan gugup. Marven pun mengabaikan perkataan Vero, dan terjadi lah keheningan lagi, tiba tiba marven membuka laci mobil dan memberikan gantungan kunci.
FYI:gantungan kunci berbentuk kelinci, tapi kelinci nya kayak berpasangan gitu, dan di tengah nya memegang hati dan dipinggir nya kayak dikasih berlian.
"Tidak jangan menyentuh ku, aku baik baik saja." ucap vero seraya menutup kedua kuping nya.
Marven pun mencoba fokus dengan mobil nya, namun ia terus terusan menoleh ke arah Vero.
**Sesampainya di rumah sakit**
Vero dan marven pun turun dari mobil dan segera menghampiri Ellis yang sudah menunggu di luar, "maaf aku terlambat." ucap marven dengan nada malas nya, "kak Ellis!"teriak vero dengan tersenyum, "haii, ayo cepat masuk dulu." ucap Ellis, "ck lagi lagi diabaikan." kata marven dengan nada kesal. Vero pun masuk ke dalam ruang pasien, saat marven ingin masuk dirinya ditahan oleh Ellis "hey kau tunggu disini saja, aku ingin memeriksa nya dengan fokus." ucap Ellis dengan nada dingin, ia pun menutup pintu dengan keras
"dasar, pantas saja tidak ada yang ingin menikahi nya." ucap marven dengan pelan.
Setelah selesai diperiksa
Ellis pun keluar sendiri tapi dia tidak menutup pintu ruangan itu.
"Bagaimana? dia benar benar trauma?" tanya marven,
"iya, kau harus mengembalikan ingatan nya dan juga menghilangkan trauma nya." ucap Ellis seraya menggaruk kepalanya, "tapi bagaimana caranya?" tanya Marven.
"Kau harus mengulang kembali kejadian yang pernah Vero alami bersama kau." ucap Ellis, Marven pun terdiam, dan Ellis pun langsung memanggil Vero untuk keluar dari ruangan itu, "kak hari ini aku bertemu kak onnet, dan hari ini dia mengajak berenang, Kaka mau ikut dengan kita nga." ucap vero dengan bersemangat, "hm boleh saja, aku juga tidak sibuk, ayo berangkat." ucap Ellis, mereka pun bergandengan tangan, Marven hanya bisa menghela nafas nya lalu mengikuti mereka berdua.
Sesampainya di rumah
Vero tidak melihat keberadaan onnet, lalu ia pun mencoba memberanikan diri untuk bertanya kepada marven, "per-permisi, adik mu belum pulang ya?" tanya vero dengan gugup, "panggil aku marven saja." ucap marven dengan nada malas nya,
"oh begitu baik ma-marven, jadi dia ada dimana?" tanya vero, "dia didalam perjalanan kamu ganti baju saja." ucap marven, Vero pun menganggukkan kepalanya dengan bersemangat, saat Marven ingin menaiki tangga, Vero memanggil nya, "mar-marven, kamu tidak ingin ikut berenang dengan kita?" tanya Vero, "tidak kalian saja, aku harus mengurus pekerjaan ku." ucap marven seraya tersenyum,
"bersenang-senang lah." sambung nya. Vero pun membalas senyuman marven dan menunggu kehadiran onnet di kolam renang bersama Ellis.
BERSAMBUNG ๐บ
Rela jadi cewe demi ayang wkwkwk
Hope you enjoy and don't forget to vote ๐
Sampai jumpaaa ๐