
Singkat cerita mereka pun sampai di supermarket, "Vero tetap berada disamping ku." ucap marven, "ah baiklah." ucap vero seraya tersenyum,
saat mereka masuk banyak sekali orang yang sedang berbelanja, Vero pun bersembunyi dibelakang marven
"Haha hey tenang saja, asal kamu berada disisi ku kamu aman." ucap marven seraya tersenyum, marven pun menggenggam lengan Vero, tapi Vero menepis nya, "maaf." ucap vero "Tidak apa pegang saja jaket ku,jangan sampai lengah." ucap marven.
Mereka pun mencari bahan makanan
"Marven marven, bagaimana jika kita beli keju aku ingin memasak nanti malam." ucap vero seraya menarik jaket marven, "baiklah ambil secukupnya." ucap marven
"Aku ambil 2 saja ya hehe." tawa Vero dengan pelan, mereka pun berkeliling lagi, dan pandangan Vero teralih ke sebuah gelas yang berbentuk koala,
FYI :jadi bentuk gelas nya itu biasa bulet gitu, dan pegangan cangkir nya berbentuk koala. Vero pun menghampiri gelas itu.
Namun saat ia ingin mengambil nya ada seorang laki laki yang mengambil nya terlebih dahulu, "eh" ucap vero dengan nada terkejut, dia pun menoleh ke arah seseorang yang mengambil cangkir itu, saat Vero menglihat wajah orang tersebut, Vero pun memundurkan langkahnya, siapa pria yang dilihat oleh vero, ya dia adalah jord, "tch kita bertemu disini lagi nona." ucap jord. ia pun memegang tangan Vero dengan keras. dengan kekuatan nya Vero berusaha untuk menepis nya dan Yap berhasil, dia pun berlari dan menoleh ke kanan dan ke kiri berharap menemukan marven, tetapi lama kelamaan pandangan Vero pun pudar, dan seperti mengingat jord and memori yang berada di otak Vero pun seperti kembali, tapi ia sangat pusing dan tidak berhasil untuk mengingat lebih banyak, dan samar samar vero mendengar seseorang yang memanggil nya, Perlahan lahan pandangan nya pun kembali, "Vero Vero hey bangun jangan pingsan."
ucap marven dengan panik, "marven aku tidak apa apa hehe, kepala ku hanya sedikit pusing." ucap vero,
"yasudah kalau begitu, ayo kita bayar ke kasir, aku tadi melihat mu dikejar oleh jord, kamu mengingat nya." ucap marven seraya memapah Vero,
"Tidak." jawab nya dengan singkat
Kali ini Vero tidak memberontak saat dipegang oleh marven, ia merasa aman saat berada di dekat marven,
"Hey jangan melamun, beli lah cemilan untuk di makan dirumah." ucap marven.
Mereka pun pergi ke tempat rak Chiki
"Apa aku boleh mengambil satu?"tanya vero, "tidak boleh, kamu harus mengambil nya lebih banyak." ucap marven dengan nada sedikit kesal, Vero pun tersenyum lalu menarik marven ke rak yang berisi permen, "sudah berani menarik tangan ku ya" ucap marven dengan jahil, seketika muka vero pun ngeblush, "ih apaansi, aku kan hanya ingin aman." ucap vero, "iya iya, aku juga tadi bercanda kok" ucap marven seraya mengelus rambut vero, Vero pun mengabaikan perkataan marven dan fokus memilih permen, marven tidak seperti Vero, marven malah menaruh semua permen ke keranjang nya, mereka pun sudah berbelanja, dan memilih untuk segera membayar di kasir
Diperjalanan pulang
"Vero." ucap marven, "hm ada apa." tanya vero seraya memakan permen,
"orang yang sudah mengejar mu tadi sudah ditangkap oleh bodyguard ku." ucap marven, "ohhh begitu ya, aku sangat sangat berterimakasih kepada mu marven." ucap vero,
"haha iya, oh ya cangkir yang kamu inginkan, aku sudah membeli nya sekotak." ucap marven seraya tersenyum, "wah serius?" tanya vero,
marven hanya menjawab nya dengan anggukan, "aaaa terimakasih marven aku benar benar sangat senang hehe, ternyata benar ya kata onnet kalo semua laki laki itu ga jahat." ucap vero dengan tersenyum manis, "ya begitulah, aku juga senang kalo kamu senang hehe, oh ya aku mau permen nya dong." minta marven, "ini ambil." ucap vero ia pun menyodorkan sebungkus permen ke arah marven
"ck, aku ini sedang menyetir tau, suapi aku." ucap marven dengan senyum menyeringai, Vero pun menuruti perkataan marven dan menyuapi nya, Vero merasa hanya marven lah pria yang membuat vero merasa nyaman dan aman, jika kepada pria lain Vero masih, berpikiran buruk dan takut dirinya dilecehkan, namun sebaik baik nya marven, Vero tetap waspada
Sesampainya dirumah
Vero pun membantu marven membawa belanjaan nya dan meletakkan nya di dapur, "Eh kak Ellis masih ada disini." ucap vero.
"Yoi aku mau nginep beberapa hari" ucap Ellis, "ouhhh emang ga ada pasien kak?" tanya vero, "aduh please deh kan aku jadi dokter kalo lagi gabut aja haha, sisanya itu pekerjaan karyawan aku." ucap Ellis seraya memakan popcorn, "oh gitu ya hehe maaf aku ga tau"
Marven yang menyaksikan pembicaraan kedua wanita itu hanya bisa menghela nafas kasar
"Oh ya kalian habis kemana say?" tanya Ellis, "habis beli Bahan
makanan"singkat marven, "ih gw ga nanya sama lu bang." ucap Ellis malas, "tch." decih nya, "ayo Vero kita main di taman belakang aja, ngobrol sama dia ga ada selesai nya." ucap marven seraya menarik tangan Vero,
Vero yang ditarik pun hanya bisa mengikuti marven,
"sialan, ditinggal lagi ditinggal lagi, dasar bucin." ucap Ellis dengan nada malas nya.
Sesampainya mereka di taman
Marven sengaja mendekorasi taman belakang nya menjadi tempat yang sama pada hari pertama Vero kerja. FYI:ingat ga yang hari pertama kerja tapi pulang nya Vero diajak makan bersama, nah dekorasi nya sama kayak hari itu.
"Bagaimana cantik kan." ucap marven dengan lembut, "heem aku merasa tidak asing dengan tempat ini." ucap vero, "ohhh gitu ya, kamu pernah melihatnya?" tanya marven supaya ingatan Vero sedikit kembali
Di saat mereka sedang asyik mengobrol Gabriel dan Dion datang dengan berlari, dan berhenti tepat di depan Vero. "Vero kamu sudah sembuh belum." ucap Gabriel dengan nafas tersengal. Saat Gabriel ingin memegang tangan Vero, Vero segera menghindar dan bersembunyi di belakang marven, "oh mau main petak umpet ya." ucap Dion, "nga, udah kalian jangan ganggu dia." ucap marven dengan nada dingin, "ck, pelit." ucap Dion, "bukan begitu, dia terkena amnesia dan trauma terhadap laki laki." ucap marven dengan nada dingin, "what the, kok lu ga kasih tau sih." ucap Gabriel dengan nada kesal, "ck bohong buktinya kenapa dia bisa Deket sama lu." ucap Dion, "ga tau, mungkin karena gw ini ganteng." ucap marven dengan percaya diri.
Tak jauh dari sana, Ellis tampak sedang berlari juga, dan berhenti di tempat mereka, "aduh cape gw,minum dong minum." ucap Ellis,
"ambil di dalem." ucap marven,
"ck dasar, oh ya kak rumah lu gede banget sih berasa lari 10 meter gw" kata Ellis, "lebay banget si loe, lagian siapa yang nyuruh lu lari." kata marven dengan nada kesal, "ga ada sih, cuma tadi gw ngejar 2 kelinci ini nih dikasih tau ngeyel."ucap Ellis seraya menunjuk Gabriel dan Dion.
"Makasih loh udah nyebut kita kelinci." ucap Gabriel seraya mengedipkan mata nya, Ellis yang melihat nya pun seketika jijik dan memalingkan wajahnya, "Marven kalau gitu kita pulang dulu ya, hari ini gw harus pergi sama keluarga maaf ga bisa lama lama jenguk nya." ucap Dion "Ya gapapa." jawab marven.
Dion dan Gabriel akhirnya pun pulang, dan marven Vero dan Ellis memutuskan untuk masuk ke dalam.
Sesampainya di ruang tamu
Mereka pun duduk di sofa ruang tamu. "Vero jangan takut itu teman aku kok." ucap marven ia mencoba untuk menenangkan diri Vero,
"Iya ver, gausah takut dia juga kenal kak onnet, nanti kalo mereka macem macem sama kamu, Kak Ellis langsung bilang ke kak onnet." ucap Ellis seraya memegang tangan Vero yang sedari tadi gemetaran,
"Ta-tapi mereka tadi asal sentuh aku,aku ga nyaman kak Ellis." ucap vero dengan nada sendu, "utututu sini Kaka peluk." ucap Ellis seraya memeluk Vero, Marven pun menghela nafas panjang, dan tiba tiba marven mengalihkan pembicaraan ke masak. "Vero kamu bilang kamu mau masak, mau masak apa kira kira." tanya marven, "hm ituu aku berpikir untuk memasak mie dengan lelehan keju hehe." ucap vero,
"wah ide bagus, bagaimana jika kita memasak pizza juga." ucap Ellis,
"pizza ya Hem boleh." ucap vero.
Mereka pun beranjak dari duduknya dan pergi ke dapur untuk memasak, dan marven hanya duduk melihat mereka di meja dapur.
Di dapur
"eh mie yang kamu mau masak itu spaghetti atau mie instan." tanya Ellis
"Spaghetti kak." jawab vero, "wahh pasti enak, ayo kita rebus spaghetti nya dulu." ucap Ellis, setelah selesai merebus mereka pun menyiapkan bahan bahan untuk membuat pizza.
Mereka pun membuat adonan nya.
Tiba tiba saja Vero mencolek tepung dan menaruh nya di pipi marven.
"Haha badut." ucap vero dengan tawa nya, "Nakal ya." marven pun membalas Vero, "aduh nasib jomblo gini amat ya." ucap Ellis dengan suara yang agak kencang, "makannya cari pacar." ucap marven dengan nada dingin, "ha nemu nemu bang." kata Ellis, marven pun mengabaikan perkataan ellis, dan lebih memilih untuk memerhatikan Vero, dan Ellis juga di beri tepung oleh Vero,
"biar adil hehe." ucap vero dengan senyuman nya, Ellis pun membalas senyuman Vero, Mereka pun masak dan masak.
Selesai memasak
"Kak marven coba makan punya aku dulu enak nga, tadi aku ngasih saus tomat nya kebanyakan." ucap Vero dengan nada sendu, "jangan sedih, aku coba ya." ucap marven. ia pun melahap makanan yang dimasak oleh Vero, "hm enak, asin nya pas,nih coba kamu rasain." ucap marven seraya menyuapi Vero, Vero pun membuka mulut nya, "yumm betul enak, ayo kak Ellis makan hehe aku jadi Percaya diri lagi." ucap vero seraya tersenyum, Mereka pun makan bersama sama.
Setelah selesai makan mereka pun memutuskan untuk tidur
Marven pun mengantarkan Vero sampai depan kamar, "tidur yang nyenyak ya, oh ya jangan lupa buka kado terakhir aku ya." ucap marven seraya menepuk puncak kepala Vero dengan pelan 'Pat Pat Pat', "iya, yasudah kalau begitu aku mau tidur dulu ya dah." ucap vero melambaikan tangannya. Marven hanya membalas dengan senyuman dan juga lambaian tangannya.
BERSAMBUNG πΊ
Maaf telat update hari iniπ
Hope you enjoy and don't forget to vote π
Sampai jumpaaa π